Merinding! Cerita Misteri Padusan Pituh Bagian 2

Dijamin Kalian Bakalan Susah Tidur Setelah Baca Cerita Misteri Padusan Pituh

Cerita Misteri Padusan Pituh bagian ke 2. Sudah lebih dari 6 jam Mira duduk di gerbong, sudah puluhan orang datang dan pergi, waktu berlalu begitu cepat, membuat Mira sendiri bertanya-tanya, apa yang dirinya cari selama ini, dan perlahan semua terungkap namun matanya menangkap seorang wanita tua, dirinya duduk sembari mengawasi

sejak tadi, wanita itu tak kunjung pergi, dirinya mengenakan gaun lawas cokelat, dengan belanjaan tas sayur di samping kakinya, Mira berusaha mengabaikannya, namun aneh, Mira merasa wanita tua itu terus melihat dirinya, tak sedetikpun dirinya berpaling, ekspresinya sangat dingin merasa ada yang salah dengan si wanita, Mira berdiri, dirinya berniat untuk pergi, Mira mengangkat tas punggungnya, tapi si wanita ikut berdiri, membuat Mira semakin yakin ada yang salah dengan dirinya.

Mira melangkah pergi, sesekali dirinya melihat si wanita mulai berjalan mengikuti, di gerbong lain, Mira melihat banyak sekali orang menatapnya sangat aneh, Mira berjalan tenang berusaha membaur dengan mereka, dirinya menoleh namun tak di dapati si wanita tersebut, belum, sampai si wanita melangkah masuk mendekatinya, Mira kembali berjalan berusaha menjaga jarak,

Mira memilih berhenti, dirinya duduk di salah satu kursi paling sudut, sesekali dirinya melihat si wanita, aneh sekali, kali ini si wanita hanya berdiri diam, mematung. Mira mencoba tenang, dirinya terus meyakinkan dalam dirinya tak ada yang salah, tak ada yang salah, berulang-ulang kali, di jendela hujan deras sangat turun, langit mendung, sementara kereta mulai memasuki area persawahan, Mira merapalkan jaket, memeluk tas punggung, sembari sesekali mengawasi, si wanita yang masih berdiri tapi anehnya, tak ada satupun orang yang merasa terganggu dengan kehadirannya.

Seorang lelaki yang duduk di depan Mira juga bersikap aneh, saat mata mereka bertemu, dirinya langsung membuang muka seakan melihat sesuatu yang mengerikan, Mira menatapnya lekat-lekat tangannya gemetar hebat sembari mencengkram koran,

“Pak” tanya Mira, si lelaki tersentak kemudian pergi, kepergian lelaki tersebut membuat Mira semakin bingung, dirinya menatap ke tempat di mana wanita tersebut berdiri, ia masih di sana, namun sesuatu mulai terjadi hening, Mira tak bisa mendengar apapun, bahkan suara hujan di luar jendela pun tak bisa dirinya dengar, si wanita mengangkat tangan menunjuk saat itu juga, fenomena tersebut terjadi, semua orang yang ada di dalam kereta berdiri, menatap Mira semuanya.

Mira bersiap, dirinya mengenggam rapat tas punggungnya, si wanita melangkah mendekatinya, semakin dekat, semakin dekat, dan, “Nduk”

Mira menghantam kepala si wanita dengan tas

Mira mendudukinya terus memukul-mukul kepala si wanita, Mira begitu kalap, teriakan si wanita membuyarkan semuanya, dirinya terus meminta-minta tolong dan Mira baru sadar, di sekelilingnya orang-orang berkerumun untuk memisahkannya, yang terjadi berikutnya Mira terguncang bingung

“Ini minumnya mbak” kata seorang lelaki petugas stasiun, Mira duduk di dalam ruangan tersebut di mintai penjelasan “nyapo to, ngantemi ibuk- koyok wong kesurupan” (kenapa sih, anda memukuli ibu- kaya orang kesurupan) kata si lelaki,

“Maaf pak, saya juga tidak tau” kata Mira menunduk.

Si petugas melihat kawannya, dirinya memberikan gestur tangan “STRESS!!” Mira menoleh, si petugas tampak tidak enak hati tersenyum sebelum melihat ke tempat lain

“Saya ndak stress pak”

Si petugas setuju, karena yang seharusnya stres mungkin ibuk yang di pukuli, di siksa di dalam gerbong

“Sebenarnya kamu beruntung, dia gak nuntut, kamu boleh pergi, tapi sebelumnya, buku apa ini?”

Mira menatap buku yang di bawa, buku itu tampak begitu usang bila di perhatikan lagi.

“Itu adalah peninggalan keluarga saya pak”

Si petugas percaya dan mengembalikannya, “kamu mau kemana?”

Mira mengambil buku, dan membuka lembaran di dalamnya, menunjuk kepada si petugas, ketika si petugas melihat gambar itu, dirinya menatap Mira, melotot sebelum memanggil kawannya, wajah mereka tampak begitu sangat panik sebelum mengatakan

“Mbak boleh pergi sekarang!!” kata si petugas tiba-tiba, “monggo”

Hujan masih turun, Mira melangkah menembus jalanan, masih terasa sangat aneh, karena di setiap Mira melangkah, semua orang yang berpapasan dengannya seakan-akan melihat dirinya sangat dingin, begitu membuat Mira tenggelam dalam kengerian yang dirinya ciptakan sendiri.

“Mas, bisa anterin kesini” tanya Mira kepada seseorang yang duduk berteduh, Mira menunjuk tulisan dalam bukunya, namun seperti yang lain, mas-mas tersebut tiba-tiba pergi meninggalkan Mira seorang diri,

“Asu” ucap Mira lirih, sudah lebih dari 10 kali dirinya di perlakukan seperti ini, tanpa dapat satu-pun orang yang mau membantunya, Mira terpaksa tidur di stasiun, saat itu dirinya bertemu lagi dengan si petugas, “Mbak yang tadi toh”

Mira berdiri menatapnya, “Saya ndak dapat tumpangan pak”

Si petugas kemudian duduk, dirinya menatap Mira, “ya sudah, saya antar saja ya”

Hujam sudah reda, namun mendung belum juga pergi, si petugas stasiun memberi Mira helm sebelum mengeluarkan motor buntut tahun lama ini, Mira menaikinya, perlahan motor berjalan pelan sebelum akhirnya menembus jalanan, di sana dirinya bercerita, bercerita tentang desa tersebut.

“Terakhir saya kesana itu sudah lama mbak” dirinya melihat Mira dari kaca spion, “Kalau mbak bingung kenapa banyak orang menolak sebenarnya karena sesuatu mbak”

“Sesuatu?”

“Iya. katanya, di sana” si petugas menelan ludah tampak ragu, “Ada Brangos”

“Brangos itu apa pak?”

Si petugas diam tidak ingin menjawab.

“Saya ndak bisa ngasih tahu lebih jauh, katanya Brangosnya muncul juga baru beberapa tahun ini, saya belum pernah lihat, saya juga penasaran sebenarnya”

“Muncul? maksudnya?”

“Ya muncul mbak”

Motor mulai memasuki area jalanan tanah, di kiri kanan jalan banyak sekali tumbuhan bambu

Belum pernah Mira merasakan perasaan setakut ini, namun, setiap motor melaju, ketakutan tersebut terus menumpuk, pelan, pelan sekali, seperti sesuatu berbisik-bisik di telinganya, Mira mulai melihatnya.

Kerumunan orang berjalan bersama-sama, si petugas menghentikan motornya.

“Mohon maaf mbak, saya pikir saya berani loh tadi, ternyata ciut juga nyali saya” dirinya menunjuk kerumunan orang itu, “Mereka warga desa di sana, mbak ikuti saja mereka, Ngapunten saya harus balik” (minta maaf saya harus kambali).

Meski aneh, Mira melangkah turun, setelah berterimakasih, Mira mendekati kerumunan orang-orang tersenit langsung memandang Mira dari kejauhan,

Meski ragu, Mira berjalan mendekati, di depan gapura desa Mira bisa melihat pohon besar, salah satu dari mereka mendekati Mira, bertanya kedatangannya kesini, Mira menurunkan tasnya bersiap mengambil buku itu, namun, dirinya ingat Bila dirinya menunjukkan buku tersebut, Mira takut mereka akan bereaksi sesuatu yang tidak di inginkan, lantas Mira mengatakannya bahwa dirinya adalah jurnalis yang datang untuk meliput desa ini

Pandangan orang-orang tersebut tampak tidak senang, tak ada satupun yang tersenyum, namun Mira melihat sesuatu di salah satu rumah, Mira menatap banyak sekali anak-anak kecil perempuan, mereka berlarian di depan sebuah rumah, tak beberapa lama, anak-anak perempuan tersebut menatap Mira sebelum tersenyum kepadanya.

Mira merinding melihatnya, karena setelahnya, seseorang mendekatinya, berbicara dengan si lelaki yang mendatangi Mira, “Pak, sampon sedo” (pak, dia sudah meninggal) meski orang itu masih tidak senang dengan kehadiran Mira, namun akhirnya mereka membiarkan Mira begitu saja, anak-anak perempuan tersebut lenyap sesaat kemudian.

Mira baru saja mengetahui setelah dirinya mencuri dengar, bahwa kedatangan orang-orang ini adalah menjenguk salah satu dari mereka yang tengah sakit, dan sekarang orang tersebyt sudah meninggal, mereka berkerumun di rumah duka, Mira masih mengawasi dari jauh, bertanya-tanya kenapa tak seorangpun bersahabat dengan kedatangannya. Mira semakin tidak mengerti bagaimana dirinya mencari semua ini, bila tak ada satupun yang mau membuka mulut, Mira berdiri masih menatap rumah duka, dirinya melihat orang-orang itu yang menggendong mayat sebelum meletakkanya di ruang tengah, orang-orang mulai mengelilinginya.

Mira masih menatap si mayayt, dengan kain kafan putih dirinya berbaring di atas tikar, sesuatu tiba-tiba berbisik di telinga Mira, berbisik lirih sebelum terdengar jelas, sesuatu seperti, “Tangi” (Bangun)

Tiba-tiba, entah bagaimana semua ini terjadi, Mira dan semua orang yang ada di sana menyaksikannya secara langsung, mayit yang sudah di kafani tiba-tiba terbangun, dirinya duduk menatap Mira dari dalam rumah.

“Brangos!!” batin Mira, jantungnya seperti berhenti saat melihatnya.

Orang yang ada di dalam rumah seketika menutup pintu, sedangkan orang-orang yang ada di luar rumah berkerumun mencari tahu apa yang terjadi, dari semua pemandangan tersebut, Mira yg paling penasaran, fenomena apalagi yg ia lihat ini.

“ada apa ini pak?” tanya Mira,

“berangos mbak, mayit sing urip maneh mergo onok pakane Rinjani nang kene!!” (mayat yang hidup lagi karena mencium makanan Rinjani)

“Opo?”

Si bapak geleng kepala, malas menjelaskan, mereka masih berkerumun mencari tahu, Mira semakin merinding

“Wes suwe loh gak kedaden ngene lah kok isok” (sudah lama loh gak kejadian Cerita Misteri Padusan Pituh begini, kok bisa muncul lagi) kata seorang lelaki pada temannya, Mira hanya mendengarkan, sesekali dirinya ingin melihat, namun rumah duka tertutup rapat

Tak beberapa lama, seorang anak kecil laki-laki berjalan mendekat, dirinya mengenakan pakaian serba putih sebelum dirinya masuk, anak lelaki itu berhenti menoleh melihat Mira.

Mira tertegun menatap anak itu, karena saat dirinya mendekat semua orang menunduk kepadanya, anak itu melangkah masuk ke dalam rumah duka, Mira mendekati orang di sampingnya bertanya perihal siapa anak itu,

“Anda tidak tahu beliau siapa?”

Mira menggelengkan kepala, “Beliau adalah Kuncen mbak”

“Kuncen” ucap Mira,

“Kuncen di desa ini”

Pintu terbuka, seseorang melangkah mendekati Mira sebelum memintanya untuk ikut masuk, awalnya Mira ragu namun dirinya akhirnya mengikuti, yang pertama Mira lihat saat melangkah masuk ke dalam rumah itu adalah mayat di depannya berdiri dengan kapas yang masih di hidung, matanya menatap Mira.

anak lelaki tersebut tengah duduk, matanya mengawasi Mira, “wes suwe ket kapan kae, pakane Rinjani mampir nang deso iki” (Sudah lama sejak makanan Rinjani terakhir mampir ke desa ini)

Mira menatap anak lelaki itu, dirinya tahu dia sedang berbicara dengannya,

“Ngapunten, asmone kulo, Ara” (maaf sebelumnya, kenalkan nama saya, Ara)

“Saya Mira” ucap Mira sembari masih mengawasi mayat yang terus berdiri di sampingnya, tak sedikitpun Mira takut, justru dirinya begitu tertarik,

“Bagaimana bisa seperti ini?” tanya Mira,

Ara menunduk sebelum mengatakan kepadanya, “Itu karena kamu menginjak kaki di tanah ini, tanah milik Rinjani”

Mira terdiam, banyak pertanyaan di dalam kepalanya, namun tampaknya anak lelaki itu sedang tidak ingin bicara banyak, yang terjadi selanjutnya, si mayat di ikat,

Sebelum di masukkan paksa ke dalam keranda

“Melok aku Mir, tak duduhno opo sing mok goleki” (kut aku Mir, akan ku tunjukkan apa yang kamu cari)

Mira dan rombongan itu berjalan masuk ke dalam kebun, banyak sekali pohon-pohon besar tinggi di kanan kiri, setelah menempuh jalan yang cukup jauh, mereka berhenti di salah satu rumah tua, Mira mengenal rumah tersebut, itu adalah rumah yang ada di dalam foto,

orang-orang mengeluarkan mayat mengikatnya dengan tali tambang, Mira bingung melihat pemandangan tersebut, karena yang terjadi selanjutnya, tali si mayit di tarik di gantung di atas pohon, di sana Mira tercekat menyaksikannya, tepat di atas sana, Mira bisa melihat ada 7 mayit yang sudah gantung di dahan-dahan pohon tersebut

Mira tak bisa berkomentar, dirinya shock menyaksikan pemandangan gila tersebut,

Belum berhenti sampai di sana, Mira harus melonjak kaget saat satu persatu mayit-mayit yang di gantung tersebut mulai bergerak, menggeliat satu sama lain,

“Mereka hidup” batin Mira,

“Wes ngerti bahayane ilmu-mu”

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

10 18 17 14 70 78 74 40 48 47

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

23 21 26 29 63 61 69 93 91 96

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

37 31 32 38 27 21 28 87 81 82

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

SELASA DAN JUMAT LIBUR

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

36 39 35 38 56 59 58 86 89 85

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

24 21 27 29 74 71 79 91 94 97

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

83 87 81 86 13 17 16 63 67 61

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

67 60 69 61 17 10 19 97 90 91

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

96 94 98 97 46 48 47 86 84 87

SELENGKAPNYA

“Monggo” (silahkan)

Mira melangkah masuk di dalam sebuah ruangan besar, dari luar rumah ini memang begitu megah, terlalu megah untuk di miliki seseorang di desa ini, namun yang bisa Mira nilai dari rumah ini adalah bahwa rumah ini sudah di tinggalkan

Ada hal yang membuat Mira sadar dirinya tidak pernah di sambut di sini, tak seorangpun terlihat senang terutama saat tahu siapa dirinya, namun hanya anak lelaki ini yang tampak begitu tenang, sesekali dirinya tersenyum dengan wajah polosnya namun Mira tahu, ada seseorang di balik raganya ini.

“Wes suwe aku ngenteni kowe, sing ragil sing paling janjeni” (sudah lama saya nunggu kamu, yang paling muda, yang paling menjanjikan)

Ruangan tersebut sangat pengap, tak seorangpun di ijinkan masuk, orang-orang desa menunggu di luar rumah, anak lelaki bernama Ara itu terus berbicara,

“Ragil?” ulang Mira, “tapi saya anak pertama”

“Ora” kata Ara, “Awakmu ragil, aku wes tahu ketemu ambek kabeh pakane Rinjani, koen sing terakhir” (saya sudah pernah bertemu dengan makanannya Rinjani dan kamu adalah yang terakhir)

Mira tak mengerti, anak tersebut masih memandanginya,

Mira menurunkan tas punggungnya, mengeluarkan buku tua, dirinya membuka lembar perlembar sampai di gambar wanita dengan rambut panjang itu, Mira menunjukkan gambar tersebut pada anak lelaki itu dan wajahnya seketika berubah, dirinya memalingkan wajah, “Nduk” katanya seraya berpaling,

“Ojok pisan-pisan kowe wani nduduhno aku Rinjani!!” (Jangan sekali-sekali menunjukkan kepadaku Rinjani!!) ucap Ara,

“Apa itu Rinjani?”

Ara meminta Mira memasukkan kembali bukunya sembari dirinya menata duduknya, sebelum dirinya mulai mengatakannya,

“Rinjani adalah ingon milik Codro!!”

“Aku kenal karo bapakmu nduk” (saya mengenal siapa ayahmu) ucap Ara, “dia orang baik, sekaligus abdi kuncen yang bisa di percaya, dia jaga tempat itu karena memang tidak boleh sembarang orang yang mendekatinya”

“Kuncen Padusan pituh”

“Suatu hari ada dayoh datang ke tempat itu” Ara diam, dirinya mencoba mengingat kembali kejadian itu “dayoh itu adalah poro benggolo, mereka datang menyampaikan pesan bahwa tuan mereka akan datang kesini untuk mengambil sesuatu yang menjadi miliknya. kamu tahu apa itu?”

Mira menggelengkan kepala,

“Rinjani”

Mira tidak mengerti maksud dari Ara, namun Ara seperti bisa membaca pikiran Mira,

“Rinjani dulu manusia, terlalu kuat tapi justru karena kuatnya dia, Codro ingin menjadikannya ingon miliknya”

“Simbol warna dalam budaya jawa hanya ada dua, hitam dan juga putih” Ara menjelaskan, “Untuk menguasai putih seseorang harus benar-benar hitam terlebih dahulu, Rinjani benar-benar hitam, sudah ratusan orang melihat kengerian yang dirinya ciptakan”

“Setiap Rinjani datang ke desa-desa, anak-anak pasti menangis, selusin orang akan mati, Rinjani seperti penyakit, namun suatu hari entah apa yang terjadi dengannya, mungkin karena terlalu kuat atau apa, dirinya mengurung diri di sana, tempat akhirnya bapakmu mau jadi sebagai kuncennya”

“Rinjani ingin menjadi putih, dirinya sudah melalui jalan sehitam itu, namun sayangnya, Codro tak membiarkannya, dirinya ingin Rinjani tetap hitam, malam itu adalah malam yang paling gelap, ternak banyak yang mati, gagal panen di mana-mana, tapi Codro ingin Rinjani”

“Setiap hari, Codro kirim anak-anak ke tempatnya, Rinjani suka anak-anak, terutama anak perempuan, dirinya suka membelai rambut mereka, namun rasa suka itu perlahan menggerogoti isi kepalanya, Rinjani mulai berubah, dirinya mulai mencabut sehelai demi sehelai rambut anak-itu, sampai mati!!”

“Setiap hari, selalu ada anak perempuan yang masuk ke tempatnya dan tidak pernah keluar lagi, Kuncen yang semula menjaganya karena ingin Rinjani berubah, mulai ragu, mereka tidak mau lagi menuruti perintah Codro memberi Rinjani anak lagi”

“Saat itulah untuk pertama kalinya Rinjani menampakkan dirinya, dirinya keluar dari tempatnya bertapa, kulitnya tirus pucat, tangan dan kakinya kurus kering, namun rambutnya begitu panjang, dirinya menatap semua Kuncennya lalu bersumpah, anak pertama dari mereka akan menjadi makanannya”

“Maksudmu makhluk itu ingin saya?” tanya Mira, dirinya tidak begitu percaya dengan ucapan Ara, anak kecil yang di rasuki oleh sesuatu yang seperti ingin menggiringnya,

“Bukan itu yang saya ingin sampaikan” Ara menatap Mira, “Kau tahu, bapakmu benar-benar orang yang hebat!!”

“Paling hebat, karena dari 7 Kuncen yang memiliki anak, hanya bapakmu yang berhasil menangkal kutukan Rinjani untuk mendapatkanmu, setidaknya membiarkanmu hidup sampai sejauh ini. Karena itu, aku manggil kamu Ragil, paling muda di antara mereka”

“Tapi” Ara menatap Mira aneh, “setahun yang lalu, muncul dua orang perempuan yang datang ke desa ini, dia juga bisa menjadikan mayat hidup lagi sama sepertimu, namun aku tidak tahu siapa dirinya, pengetahuanku terbatas, dia hanya bertanya di mana Rinjani sekarang”

“Tapi salah satu dari mereka bukan sembarangan orang aku tahu” kata Ara,

Mira tiba-tiba membuka kembali lembaran-lembaran di bukunya, dirinya menatap Ara sebelum menulis sesuatu di atasnya, dirinya menunjukkan pada Ara saat itu juga,

“Sengarturih dan Bonorogo!!”

“Benar” kata Ara, “Salah satu dari mereka di ikuti oleh makhluk itu, bagaimana kamu bisa tahu?”

“Entahlah” kata Mira “Aku hanya menulis sesuatu yang kau ceritakan!! untuk apa mereka mencari Rinjani?”

“Aku tidak tahu, sepertinya akan terjadi sesuatu yang sangat buruk!!”

“Lantas, aku kesini dengan satu pertanyaan”

Ara mengamati Mira, dirinya tahu apa yang akan di katakan oleh Mira,

“Jangan nduk, bapakmu sudah susah payah ngelepasin kamu dari Rinjani, jangan kau tukar nyawamu dengan darah dagingnya Codro, Kuperingatkan kau!!”

“Aku juga harus mencari Rinjani!!” ucap Mira,

“Bangsat!!” teriak Ara, “kau tahu berapa lama aku nunggu kamu di sini untuk menyampaikan permintaan bapakmu langsung, kalian benar-benar sama, bodoh dan juga nekat!! Rinjani tak akan pernah bisa di ajak bicara, setidaknya itu yang terjadi dengan kepala keluarga Codro terakhir!! dia mati di tangan Rinjani!!”

“Codro mati?!” tanya Mira,

“Benar, sekarang keturunannya lah yang sekarang bersembunyi, dia menunggumu mematahkan sumpah bapakmu sendiri!!”

“Aku tetap harus ke tempat Rinjani, ada yang harus di benarkan” ucap Mira,

Mira menatap Ara, dirinya diam lama, sampai akhirnya anak lelaki itu menyerah, “bila memang kau memaksa dan aku harus melanggar sumpahku juga, akan aku lakukan”

Dua orang lelaki desa melangkah masuk ke ruangan

Satu dari mereka menarik rambut Mira, membuatnya menatap ke langit-langit, sementara yang lain memegang tangan Mira, menahannya, Ara berdiri di atas meja menatap wajah Mira, sebelum memasukkan tangan kecilnya ke dalam mulutnya.

“Ini akan sakit sekali, tahan!!”

Mira tercekat, tubunya mengejang saat anak lelaki itu menarik sesuatu di dalamnya,

“Ini adalah sumpah bapakmu Mir, sumpah yang tidak pernah dia buat dengan yang lain, namun untukmu dia harus mengorbankan nyawanya!!”

Mira menatap rambut di pintal di tarik terus mnerus dari mulut Mira panjang, sangat panjang sekali, Mira terus meronta, isi perutnya seperti di tarik, sementara Ara terus berujar, “ingat sekarang, ingat Mir”

Sekelebat bayangan neneknya muncul, Mira mengingatnya, mengingat saat neneknya merawatnya, piring berisi makanan yang Mira makan selama ini rupanya sepiring rambut panjang yang masuk ke dalam tubuhnya.

MJata Mira berair, rasa sakit itu menyeruak masuk ke dalam tubuhnya, sementara dari tenggorokannya rambut yang di pintal terus keluar, panjang, sangat panjang sekali

Setelah Ara berhasil mengeluarkan rambut panjang itu, Mira memuntahkan isi perutnya, “Sejak kapan!! sejak kapan!! mbahku melakukan itu”

Ara menatap Mira, di tangannya rambut itu tersulur panjang, “ini adalah rambut Rinjani, untuk mendapatkannya, bapakmu sampai harus mati!!”

Seseorang melangkah masuk, Ia berteriak, “Mayite wes mati, mayite wes mati!!” katanya, salah satu dari lelaki di ruangan menatap Ara, “yo mati to, wes dadi mayit!!” (ya iyalah sudah mati namanya juga mayit)

Saat itu, Mira menyadari Cerita Misteri Padusan Pituh, dirinya sudah kembali, namun dari jauh bisikan itu datang, bisikan yang selalu membuat Mira dulu senantiasa di tegur oleh neneknya, suara yang memanggil-manggil namanya. “sepertinya, dia memanggilku” Mira menatap Ara, sebelum menoleh, matanya menerawang jauh ke pemandangan di luar jendela, “Rinjani memanggilku”

Sumber: Threader

Cerita Misteri Lemah Layat, Dijamin Bikin Tegang

Cerita Misteri Lemah Layat, Sebuah Peristiwa Kelam Dan Hitammnya Dunia

Cerita Misteri Lemah Layat. Riuh. Suara motor dan angkot bersahut-sahutan, tidak ada yang mau mengalah, dari kursi penumpang angkot biru laut, dua lelaki paruh baya menatap jalanan, ekspresi wajah mereka khawatir. “jancuk” sahut salah seorang dari mereka, “isok telat iki” (bisa terlambat ini)

Lelaki yang satunya menoleh, dirinya mengkerutkan dahi, menatap kawannya, “mbok pikir koen tok sing gopoh” (kamu kira, cuma kamu seorang yang khawatir)

“Halah” “wes mlayu ae, gak nutut iki nek nuruti ngene iki” (lari saja yuk, gak sempat ini kalau kita nungguin ini)

Mereka sepakat,

Lantas, mereka langsung melompat dari dalam angkot, mulai berlari menuju jalanan stasiunt, berjibaku dengan orang lalu lalang, mereka abaikan keringat didahi, menembus lautan orang yang sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing, satu yang mereka harus tuju, kereta yang akan membawa mereka pergi.

“Goblok koen Gus, mene nek kate onok urusan, ojok tambah ngejak maen gaplek” (bodoh kamu gus, kalau besok ada urusan seharusnya gak kamu ajak aku maen gaplek)

Agus, lelaki gondrong dengan kumis tipis itu tertawa sembari menghela nafas panjang, dirinya merasa geli atas apa yang terjadi

“Halah. nyocot! sing penting kan menang, oleh duwek akeh” (bacot, yang penting kemarin menang kan, dapat duit banyak) ucap Agus, gemas, dirinya jitak kepala Ruslan, kawan yang akan menemaninya

Sebelumnya, Agus dan Ruslan setuju, daripada nganggur, lebih baik mereka ikut kawan, meski hanya sebagai kuli bantuan, tapi setidaknya, dari sana mungkin hidup mereka akan mulai berubah, tidak lagi harus mendengar kiri kanan tetangga yang mengecap mereka sebagai pengangguran yang gak punya masa depan. Kereta melaju, jauh. Meninggalkan kota kelahiran Agus, disini, kehidupan baru bagi Agus dan Ruslan, akan dimulai.

Agus yang pertama turun, diikuti Ruslan, mereka melihat sekeliling, harusnya, kawan mereka akan menjemput di stasiun ini, namun, dirinya hanya melihat orang lalu lalang, tidak ada tanda kawan mereka sama sekali.

“Asu arek iki Gus, dibelani adoh-adoh gak disusul” (anj*ng, anak ini, dibelain jauh2 eh, gak dijemput)

Agus mengangguk setuju, lantas, dirinya duduk, mengeluarkan sebatang rokok yang dirinya simpan di kantung celana, sial. gumamnya, hidupnya sulit, sebatang rokok yang bengkok pun, terpaksa dirinya hisap, kini, jadi kuli terdengar masuk akal baginya, seenggaknya, dirinya bisa makan nasi lagi

Ruslan hanya melihat orang-orang, lebih tepatnya, melihat perempuan-perempuan yang cantik yang lalu lalang, tidak ada rokok untuknya, jadi, daripada melamun, Ruslan tahu bagaimana memaksimalkan kemampuannya untuk menikmati pemandangan

Tak beberapa lama, terdengar suara teriakan familiar, ia datang

“Ayok”

Agus dan Ruslan mengikuti. “Numpak opo iki” (naik apa kita) ucap Ruslan,

“Numpak bis lah, iki jek adoh ambek nggone” (naik bus lah, ini tempatnya masih jauh soalnya)

Agus tidak banyak komentar, dirinya sudah diberitahu, kerjaan mereka tidak jauh dari kuli untuk bendungan, disepanjang perjalanan, Agus hanya melihat jalanan, mereka menaiki Bus antar kota, menjelaskan setidaknya kemana mereka akan pergi.

Koco, kawan yang mereka kenal dari warung kopi memang tidak banyak memberitahu soal pekerjaan ini, kecuali mereka butuh tenaga tambahan, bahkan, Koco tidak memberitahu, bahwa nanti, Agus dan Ruslan, tidak akan tinggal di Mes tempat para kuli resmi tinggal, Agus dan Ruslan, hanya tahu, bahwa ada rumah yang siap menampung mereka, selama mereka bekerja di tempat ini.

“Gratislah” kata Koco, “wes kere mosok jek dijaluki duwik, wes santai ae” (gratislah, masa kalian sudah susah, masih dimintai duit untuk tinggal, santai saja)

Ruslan hanya menatap Agus, bila ada yang gak beres dari suatu pekerjaan, adalah sesuatu yang berbau “gratis”

Agus nyengir, buang air saja bayar, ini, tinggal di rumah orang masa gratis. kalau gak rumah setan, ya rumah orang gak waras. tapi dilain hal, Koco meyakinkan Agus, bahwa rumah itu gratis karena sudah dibayar setahun penuh, dan pekerja sebelumnya sudah pamit pulang.

“Pamit pulang kenapa mas?” tanya Agus.

“Gak eroh” (gak tau) kata Koco, “isterine ngelahirno, jarene” (isterinya melahirkan, katanya) Koco mengangkat bahu, tanpa sadar, Bus memasuki daerah yang semakin malam, semakin sepi, sunyi, Agus masih tidak yakin, “sing liane” (yang lainnya?)

“Muleh pisan” (pulang juga) “gak kerasan” tutur Koco, dan kemudian, dirinya berdiri. “wes totok” (sudah sampai)

Ruslan dan Agus, mengangkat tasnya, mengikuti Koco yang sudah melangkah turun, pertama kali melihat Desa itu, Agus hanya melihat sebuah desa biasa saja, tidak ada yang aneh, kecuali, Koco.

Koco menunjuk sesuatu, sebuah jalanan lurus, setelah memasuki desa, Koco mengatakannya

“Omah sing bakal mok nggoni, lurus ae yo, wes ra usah menggak menggok, gampang kok ancer-ancere, yo” (rumah yang nanti akan kalian tinggali, lurus saja ya, gak perlu belak-belok, mudah kok posisinya) sahut Koco, sebelum menyalakan sebatang rokok, melipir pergi ke sudut desa lain, Agus dan Ruslan hanya saling menatap bingung, sebelum, bersama, mereka pergi.

Agus menelusuri jalan setapak, gelap, tentu saja. Ruslan tetap mengikuti dibelakang, tidak ada bedanya sama jalanan di desa Agus, hanya saja, mungkin karena tempat asing, suasana tersebut, membuat mereka merinding. “Koco Asu” umpat Ruslan, Agus setuju.

Saat mereka sampai diujung jalan, Agus dan Ruslan tidak lagi melihat ada jalan setapak, kecuali, rumput setinggi mata kaki, didepannya, ada kebun pohon jati yang menjulang tinggi, Agus dan Ruslan melihat disana-sini, tidak ada jalan, lelah bila harus kembali, Agus menembus masuk ke kebun jati seorang diri. Tak beberapa lama, Ruslan mengikuti.

Dibawah pohon jati, Agus menahan diri, sejak kecil, dirinya memang biasa dengan tempat seperti ini, namun Ruslan berhati-hati, pekerjaan yang sempat membuatnya bersemangat tiba-tiba seperti mati rasa, perasaannya tidak enak, tapi selama ada Agus, Ruslan merasa semua akan baik-baik saja.

Baik-baik saja, sebelum, Ruslan melihat tempat tinggal mereka, sebuah rumah yang ada dibalik kebun jati. Rumah kayu, berdiri sendiri, dengan petromaks yang sudah menyala, pintunya terbuka, Agus, mendekatinya.

“Gus, Rumah setan pasti gus” ucap Ruslan,

“Iya, rumah siapa lagi yang kaya gini kalau gak rumah setan” Agus menimpali, tapi dirinya, tetap mendekati, di pintu rumah, tercium aroma makanan, Ruslan semakin yakin, sampai, dari dalam, muncul si pemilik rumah

“Wes tekan ya, monggo” (sudah datang ya, silahkan), mata Agus bertemu dengan mata seorang wanita, usianya mungkin lebih tua dari pada Agus, sosoknya ramah, dirinya mengangguk saat Agus berdiri di depan pintu, dirinya melewati Agus, Ruslan melangkah masuk, mengamati makanan yang tersaji di meja, namun, Agus mengatakannya secara tiba-tiba.

“Saya mencium lemah layat dari makanan itu”

Si wanita menoleh, menatap Agus, dirinya tersenyum, mengangguk, sebelum pergi, Agus baru tahu, ada Rumah lebih besar, tidak jauh dari tempat dirinya berdiri.

Agus menutup pintu.

“Gak usah dimakan Rus, biarin aja” ucap Agus, dirinya memandangi rumah besar disebrang dari jendela, Ruslan mendekati. “prosoko gak onok omah iku loh gus mau” (perasaanku tadi, gak ada rumah loh disitu)

“Rumahe demit” kata Agus tertawa, membuat Ruslan kesal

“Goblok” sahut Ruslan, “aku eroh awakmu ngelmu, tapi yo ojok ceplas ceplos ngunu, awakmu nantang iku jeneng’e” (aku tahu kamu dulu suka ngilmu, tapi jangan begitu ngomongnya, itu kaya kamu nantangin dia) sahut Ruslan, khawatir

“Iya, Rus, paham aku, aku cuma mau lihat reaksinya”

“Itu makanannya gimana”

“Biarin aja, besok juga udah dimakan ulat” Agus menutup tirai jendela.

“Berarti temenan gak beres omah iki” (berarti bener rumah ini memang gak beres ya)

Agus duduk, sembari melihat makanan didepannya. Dirinya melihat Ruslan yang masih penasaran.

“Guk omahe sing gak beres, tapi lemahe iki sing gak beres” (bukan rumahnya yang gak beres, tapi tanah tempat rumah ini berdiri yang tidak beres)

“Lemah” (tanah) sahut Ruslan,

“Omah iki ngadek gok ndukure, lemah tapal” (Rumah ini, berdiri diatas tanah Tumbal)

Agus berdiri, dirinya berkeliling rumah, sebenarnya, daripada rumah, tempat ini lebih terlihat seperti gubuk kayu reot, hanya ada 2 kamar dan satu dapur, selebihnya ruang tamu dan pekarangan, namun, ada rumah yang lebih besar persis didepannya, rumah itu, bukan rumah demit, seperti yang Agus katakan, namun, rumah tersebut adalah rumah manusia. Agus pun mengatakannya pada Ruslan agar dirinya tidak bertanya lagi, “Perempuan tadi, itu Gundik’colo”

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

21 23 26 26 61 63 69 91 93 96

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

50 59 56 58 60 69 68 80 89 86

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

34 36 38 32 84 86 82 24 26 28

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

98 92 90 97 08 02 07 78 72 70

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

20 21 29 27 10 19 17 70 71 79

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

23 25 29 26 53 59 56 63 65 69

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

96 91 93 92 16 13 12 21 26 23

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

31 32 34 37 41 42 47 71 72 74

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

08 02 04 07 49 42 47 79 72 74

SELENGKAPNYA

Ruslan kaget bukan main saat mendengarnya. “masa, masih ada perempuan seperti itu”

“Iya” agus mengangguk, “kelihatan”

“Dari aroma dan cara dia berjalan kelihatan sekali dia Gundik’colo”

Ruslan geleng kepala,

“Serem juga ini tempat, pergi gak kita ini” sahut Ruslan,

“Gak usah, yang penting, hati-hati aja sama tuh perempuan” batin Agus, matanya melihat sudut dapur,

“Lihat apa”

“Pocongan”

“Matamu” kata Ruslan,

Agus hanya geleng-geleng kepala,

“Ada berapa?”

Agus menatap Ruslan, “masih 7 sih Rus, kayaknya nanti malam keluar semua” Agus pun menutup pintu dapur, “biarin lah” Agus melipir ke kamar, diikuti Ruslan, “Asu” umpatnya berkali-kali

Malam itu, masih awal dari segalanya. manakala Agus sudah terlelap dalam tidurnya, Ruslan mengintip dari jendela kamarnya, disana, jauh ditempat rumah tempat perempuan tersebut tinggal, dirinya tengah berdiri tepat di jendelanya, tengah menatap tempat Ruslan mengintip.

“Asu koen Gus, gara-gara lambemu, aku gak isok turu” (Anj*ng kamu gus, gara-gara mulutmu, semalam gak tidur aku) sahut Ruslan mengejar Agus yang sudah menyampirkan tasnya, bersiap menemui Koco yang sudah menunggu diluar rumah, beberapa kali Agus melirik Ruslan, senyumannya mengembang.

“Sing ngongkon awakmu gak turu iku sopo” (yang nyuruh kamu gak tidur itu siapa) sahut Agus, cengengesan, sampai didepan, Agus membuka kain yang dirinya gunakan untuk menutupi makanan, ketika kain dibuka, Ruslan melompat, melihat makanan semalam, dipenuhi belatung yang memakan saripatih, bau busuk langsung menusuk hidung Agus dan Ruslan.

“Bosok” (busuk) ucap Agus, “Ayo wes, kawanen” (yasudahlah, kesiangan kita)

Agus dan Ruslan melangkah keluar, tepat di depan rumah, tiba-tiba, mereka berhadapan dengan perempuan itu lagi, dirinya menunduk, mengucap “monggo”

Agus ikut menunduk, kemudian, melewatinya.

Ruslan yang sedari tadi memperhatikan, melihat gelagat mata perempuan itu yang mengikuti sosok Agus yang terus berjalan cepat, di sudut bibirnya, perempuan itu tersenyum, namun, Agus tidak tahu akan hal itu.

“He, gus, wong iku mau ngguyu loh ndelok awakmu, gak wedi ta” (gus, orang tadi senyum loh lihat kamu, gak takut)

“Tresno paling ambek aku” (suka kali sama aku) sahut Agus, tertawa-tawa

“Gak wedi di senengi ambek ngunu iku” (gak takut kamu di sukai yang seperti itu)

“Gak, iku ngunu jek menungso kok” (gak lah, bagaimanapun, dirinya itu masih manusia kok)

Lama mereka berjalan di bawah kebun pohon jati, sampailah mereka di jalanan setapak, menuruni jalan utama, sebelum melihat Koco dan semua teman-temannya, Agus dan Ruslan bertegur sapa sebelum memulai pekerjaannya.

Ruslan masih kepikiran ucapan Agus semalam, semuanya berputar dalam kepalanya, mulai dari tanah layat, pocong sampai Gundik’colo, semua itu, tidak asing baginya, kecuali, masih ada perempuan seperti itu di jaman sekarang.

Seujujurnya, dirinya takut sekali, namun Agus, aneh, hari mulai petang, Agus dan Ruslan kembali, manakala dirinya mau melewati jalan ke pohon jati, kebetulan, mereka berpapasan dengan seorang lelaki tua pencari rumput, lelaki itu, melihat Agus dan Ruslan bergantian.

“Kalian yang tinggal di rumah Lastri”

“Iya” kata Agus,

“Kalian sudah tahu, ada apa disana” ucap lelaki tua itu lagi, dirinya kali ini hanya melihat Agus,

“Iya bapak, saya tahu” sahut Agus,

“Yowes” katanya, “Jangan sembrono yo le” si lelaki tua pergi, melewati Agus,

Dari jauh, siluet hitam perempuan itu terlihat di ujung jalan

Ruslan yang pertama melihatnya, manakala saat Agus melihatnya, perempuan itu berjalan pergi, Agus dan Ruslan hanya berpandangan, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah.

“Aneh gak seh” (aneh gak sih) kata Ruslan, “wong iku koyok golek molo” (perempuan itu kaya cari masalah sama kita)

Agus hanya mendengar Ruslan bicara, saat sampai di tanah terbuka, Agus melirik rumah besar itu, meski sama-sama terbuat dari kayu, namun, kesan ngeri saat melihatnya tidak dapat dikesampingkan, hal yang sama, seakan setiap hari, rumah itu menunjukkan tajinya kepada Agus.

Agus membuka pintu, dirinya tidak lagi melihat makanan diatas meja, semua sudah di bersihkan

“Aku adus dilek yo” (aku mandi dulu ya) ucap Agus, dirinya menuju dapur, dibelakangnya ada pintu lagi, disana ada sumur tua, Ruslan, memilih merokok di teras, rokok yang dirinya rampas dari Koco

Manakala ketika Ruslan menikmati kepulan asap rokok di teras rumah, Ruslan melihat sesuatu mengintip dari balik kebun pohon Jati

Ruslan mendelik, dirinya tidak salah lagi, yang mengintip itu pocong,

“Jancok!!” ucap Ruslan, melipir masuk ke rumah, menuju tempat Agus mandi

kebetulan, Agus baru selesai, dirinya melihat Ruslan, rokok dimulutnya mengepul tanpa dirinya sentuh

“Pocongan ya” kata Agus, sembari mengeringkan rambutnya “itu di kamar mandi ada dua”

Ruslan mengikuti Agus, “Pindah ae loh Gus, gak sreg aku nang kene” (pindah aja yuk, gak tenang aku)

Saat itulah, Agus mengintip Rumah besar itu dari jendela, matanya seperti tengah mengawasi,

“Gini, Rus” kata Agus serius, dirinya tidak pernah seserius ini, “Tanah tapal biasanya dipakai oleh orang kaya atau gak orang berpengaruh, sekarang pikir, kira-kira ada apa ya di rumah itu”

“Ya mungkin dulunya tanah ini tanah tapal, tapi belum di bersihkan, ya kali, dikira aku gak tau, ngebersihan tanah kaya gini sih gak sembarangan dan jarang orang mau, bahkan orang ngilmu kaya kamu, gak bakal mau bersihin kan” jelas Ruslan, dirinya masih melihat Agus yang masih mengawasi.

“Tau aku maksudmu Rus” jelas Agus, sekarang dirinya duduk, “Gunanya perempuan itu apa coba” “udah di tanah tumbal, eh di jaga sama Gundik’colo lagi, aku penasaran, yang punya siapa ya, aku jadi pengen tahu” Agus mengedipkan mata melihat Ruslan, saat itu Ruslan menyadarinya..

“Cok” kata Ruslan yang baru sadar arah pembicaraan Agus, “Koen kate nyolong opo sing gok jeroh omah iku ya” (kamu mau mencuri barang yang ada di dalam rumah itu kan) “Gila kau, itu perempuan gak sembarangan ya, cari mati kamu” Ruslan tak sanggup bicara lagi,

“Bukan aku, kita”

“Matamu gus” “awakmu dewe ae, pantes, ket pertama wes disuguhi barang gak bener ambek sing nduwe omah” (Matamu, kamu aja, pantas, dari awal, sudah dikasih sesuatu yang gak masuk akal sama yang punya rumah)

“Halah” Agus tertawa, “Gak lah, aku yo gak gendeng” (aku juga gak segila itu)

“Aku itu cuma penasaran aja, kerjaan itu perempuan jagain apa, atau gak, ngapain dia, kalau pocongan yang dibelakang kamu kan, cuma bisa ngelihatin kita, gak bakalan ngapa-ngapain, nah, masalahnya tuh perempuan juga ngawasi kita, pasti ada sesuatu” sahut Agus,

Ruslan, diam.

“Gus boleh tanya” Ruslan mencoba untuk tenang, Agus mengangguk, “Kata orang, tanah tumbal kalau dijaga pocong, tanahnya, ditanami kain kafan dari orang anyg meninggal, itu betul?”

Agus mengangguk,

“Dan kain kafan yang meninggal’pun gak sembarangan, harus jumat kliwon, betul?”

Agus mengangguk lagi,

“Berarti, berapa banyak, kain kafan yang ditanam di dalam tanah ini?” Ruslan menunggu Agus bicara

Agus tampak berpikir, “seratus kayanya”

Ruslan menelan ludah, “ada seratus pocong disini gus”

“Iya” kata Agus, “di luar, masih banyak yang berdiri lihatin kita”

Ruslan berdiri, dirinya menyesap rokok, tinggal 2 batang lagi, saat Agus meminta sebatang, Ruslan menolak, “Matamu, aku yo penasaran dadine, opo yo sing onok gok jeroh omah iku” (Matamu, aku kok jadi penasaran juga, apa ya yg disembunyikan disana)

“Mau lihat gak” sahut Agus,

“Oke”

Agus membuka pintu, diikuti Ruslan, “Loh loh, kok sak iki, gak engkok rodok bengi tah” (Loh loh, kok sakarang, gak nanti lebih malam tah)

Agus tetap berjalan, Ruslan kebingungan, mereka sampai di depan pintu, Agus mengetuknya, dan perempuan itu muncul, melihat Agus dan Ruslan

“Daripada saya penasaran, saya mau tanya sama kalian, kalian ini jaga apa sebenarnya?” kata Agus, Ruslan hanya melongo melihat kawan baiknya yang sudah hilang otak,

Perempuan itu tersenyum, mengangguk, lalu berujar lirih, “mongg mas,” (silahkan masuk mas)

Agus, melangkah masuk

Ruslan mengikuti dibelakang, dirinya melihat perempuan itu yang masih menunduk, memberi hormat pada mereka, setelah Agus dan Ruslan duduk, dirinya menutup pintu, menguncinya

“Saya kebelakang dulu untuk mengambil makanan, terima kasih, saya tidak perlu melakukan hal buruk pada kalian”

“Goblok” ucap Ruslan, “kamu gak bilang maksudnya lihat itu begini, aku kira nanti malam kita sembunyi buat lihat sendiri”

Agus hanya diam, dirinya tidak menggubris mulut Ruslan, tiba-tiba, perempuan itu muncul, “mas Agus benar, bila kalian datang sembunyi-sembunyi, kalian bisa celaka!!”

“Mbaknya tahu namanya Agus darimana?” tanya Ruslan,

“Saya pun tahu, nama anda Ruslan” perempuan itu meletakkan dua gelas kopi, tangannya begitu telaten, termasuk saat menghidangkan jajanan pasar itu, Ruslan tidak lagi bicara, dirinya fokus pada ekspresi perempuan itu yang datar.

“Saya sudah sering melihat petaka dimulai dari ketidaktahuan dan rasa penasaran, sejujurnya, hal itu memang bersifat lumrah dan dimiliki oleh setiap orang, termasuk anda, jadi, apakah semua sudah jelas mas Agus”

Aagus hanya diam, keningnya berkeringat, Ruslan baru menyadarinya

Agus tidak banyak bicara, dirinya meraih segelas kopi, menyesapnya perlahan, kemudian melirik Ruslan, “Kopinya aman Rus, diminum saja”

Ruslan pun merasa canggung, dirinya tidak mengerti, perempuan itu duduk, dan tidak memandang mereka, matanya kosong melihat tempat lain dengan perlahan, perempuan itu menengok pada Agus dan Ruslan, “kalian masih ingin tahu ada apa disini?”
Agus dan Ruslan diam saja, tidak ada pembicaraan lagi, saat Agus kemudian mengatakannya, “terimakasih suguhannya, saya pamit mbak Lastri” Agus berdiri, perempuan itu mengangguk.

Ruslan merasa aneh, dirinya tahu, Agus tiba-tiba berubah semenjak dirinya melewati pintu, seperti ada sesuatu yang tidak dapat dirinya katakan, manakala mbak Lastri sudah membuka pintu, Agus dan Ruslan melangkah pergi, ketika tiba-tiba, Ruslan tercekat, di luar rumah mbak Lastri, berjejer pocong

Agus dan Ruslan bergegas pergi, dirinya mencium aroma busuk yang membuat Ruslan menutup hidung, meski Agus berjalan biasa saja, dirinya seperti melamun, matanya kosong, Ruslan segera menutup pintu, dirinya melihat pocong-pocong itu menatap rumahnya, disana, perempuan itu masih berdiri di pintu

“Ada apa gus sebenarnya?” tanya Ruslan, Agus hanya bengong, matanya benar-benar kosong

Karena lelah menunggu Agus menjawab, Ruslan memberikan sebatang rokok dimulut Agus, beberapa saat kemudian Agus seperti baru sadar, “Cok, minggat yok” (pergi yuk)

Ruslan, heran

Agus masuk ke kamar, memasukkan semua bajunya ke tas secara serampangan, Ruslan yang masih kebingungan lantas, mendorong Agus bertanya dengan kesal “Onok apa sakjane” (ada apa sih sebenarnya) “Koen mau loh gak ngene, opo gara-gara kopi mau” (kamu tadi loh gak papa, apa karena kopi)

Agus menggeleng, “kopinya gak papa Rus, tapi” Agus menelan ludah, seperti lidahnya keluh,

“Kamu sih bodoh, ngapain nyamperin ke rumahnya, jadi gini kan sekarang” Ruslan menatap Agus kesal, “Itu pocong pasti sengaja biar aku lihat kan, sialan si Lastri”

“Aku kasih tahu ya Rus” kata Agus, “ini adalah tanah tumbal, kamu dengar sendiri kan, gimana ucapannya kalau kita sembunyi-sembunyi cari tahu, dia ngancam itu sebenarnya, satu yang harus kamu ingat dalam kepalamu, kalau kamu niat buruk ke tanah tumbal, nasibmu bisa tragis”

“Jadi karena itu, kamu datangin dia langsung” tanya Ruslan,

“Iya, buat minta ijin, kalau dia ngasih tahu”

“Trus, dia sudah ngasih tahu apa yang dia lakukan” Ruslan melihat gelagat Agus berubah, Agus membelakangi Ruslan, “dia perempuan yang gila rus, aku, mencium aroma darah disana”

“Darah apaan?” “darah pocong kali yang kita lihat tadi” sahut Ruslan

“Gak gak gak!!” sahut Agus” aku pernah cium aroma kaya gini, ini bukan darah karena luka, ini darah, apa ya” Agus tampak berpikir,

“Darah yang baunya amis sekali, darah perjanjian” Agus langsung sadar, “perjanjian”

“Tumbal maksudmu, pocong tadi” Ruslan masih bingung,

“Goblok kamu ya Rus,” “Tumbal itu gak harus manusia” kata Agus mulai kacau, “tanah Tumbal, itu maksudku, tanah ini di tanami bermacam-macam tumbal, ada kain pocong, rambut yang punya rumah pun bisa jadi tumbal, tumbal binatang”

“Orang dulu, terutama mereka yang punya nama, menggunakan bermacam-macam tumbal, agar tidak ada yang punya niat buruk bisa mencelakainya, tumbal pocong untuk menakut-nakuti saja, sama halnya dengan tumbal rambut si pemilik rumah, siapapun yang punya niat buruk, dirinya akan lihat si pemilik rumah terus menerus, tumbal binatang, bahkan, tumbal rempah-rempah, seperti cabai, bawang merah dan putih, semua itu bisa jadi tumbal, asal, ada mantra perjanjiannya, tumbal manusia jarang digunakan untuk menjaga rumah, tapi, saat aku masuk ke rumah itu.

“Ada sesuatu yang gak beres, sesuatu, yang gak bisa aku lihat, hanya tercium aroma amis darah itu, menyengat sekali, sampai membuatku ketakutan, ini gak biasa, ini, diluar apa yang aku tahu, perempuan ini, dirinya sesuatu yang sangat hitam, ancuk lah” sahut Agus, dirinya semakin kacau, tiba-tiba, terdengar suara pintu di ketok dengan keras,

“Tok!! Tok!! Tok!!”

Agus dan Ruslan, berpandangan satu sama lain.

Agus berjalan keluar kamar, Ruslan memandang dari dalam, dirinya mengintip, siapa yang mengetuk pintu, saat Agus membuka pintu, Ruslan melihat mbak Lastri, dirinya membawa piring dengan jajanan pasar, terdengar dirinya berbicara dengan Agus,

“Makanannya tadi belum dimakan mas”

Lastri, melirik..

“Tenang saja, makanannya saya beli dari pasar, jadi, gak ada lemah layatnya”

Agus hanya mengangguk, sementara Ruslan masih mengawasi, terjadi percakapan antara Agus dan mbak Lastri, namun, Ruslan tidak bisa mendengarnya,

“Saya tunggu jawabannya mas”

Mbak Lastri pergi.

Agus meletakkan begitu saja piring itu lantas menatap Ruslan,

“Ada apa gus?”

“COK!!” ucap Agus, dirinya kemudian duduk, dan menutupi wajahnya, tidak ada yang mau dirinya bicarakan sama Ruslan, namun, Ruslan tahu sesuatu, mereka belum boleh pergi.

Agus benar-benar tidak mau bicara lagi, lantas dirinya masuk ke kamar lalu tidur, Ruslan pun mengikuti, meski seranjang, Ruslan merasa pasti mbak Lastri mengatakan sesuatu, apa itu, entahlah,

Malam kian larut, baru saja Ruslan memejamkan mata, dirinya mendengar lagi, suara pintu di ketok

Anehnya, suara pintu diketuk tidak terdengar dari pintu depan, melainkan, dari pintu belakang, Ruslan beranjak dari ranjang, ia ingin membangunkan Agus namun, dirinya merasa tidak enak,

Keluar dari kamar, Ruslan, berjalan menuju pintu belakang, dirinya terdiam, di depan pintu. ragu untuk membuka semakin lama, ketukan pintu semakin intens, Ruslan akhirnya membuka pintu, saat dirinya melihat, seorang anak muda, anak muda yang usianya masih 20’an, anak itu menatapnya, ekspresinya ketakutan dengan keringat di bajunya,

“Mas tolong, mas, ijinkan saya masuk, tolong”

Ruslan, diam

“Ngapain malam-malam kamu kesini” tanya Ruslan, si anak lelaki sempat bingung, bibirnya gemetar, namun, kembali dirinya meminta tolong, dan meminta Ruslan mengijinkannya masuk,

“sopo Rus?” (siapa Rus?) tanya Agus tiba-tiba muncul, dirinya menatap anak muda itu, ekspresi wajahnya berubah

Agus mendekat dengan cepat, mencengkram baju anak itu, menariknya masuk, kemudian menutup pintu, wajah Agus terlihat panik

“GOBLOK!! kamu maling di tanah tumbal? cari mati kau!!”

Ruslan baru sadar apa yang terjadi, dirinya menatap anak lelaki itu yang kini ketakutan, Ruslan ikut panik belum selesai pembicaraan Agus, tiba-tiba, pintu depan di ketuk,

“Tok tok tok”

Ruslan dan Agus, menatap pintu, mereka terhenyak, Agus mendorong masuk anak itu ke kamar, menyembunyikannya di bawah ranjang,

Ruslan membuka pintu, dirinya melihat mbak Lastri, berdiri dengan parang, wajah mbak Lastri, melotot, dengan senyuman segaris nyaris seperti menahan luapan amarah, di tangannya, mbak Lastri mengenggam parang

“Ada apa lagi ya mbak” kata Ruslan, dirinya melihat gelagat mbak Lastri yang kemudian matanya menyapu isi dalam rumah, meski kakinya belum beranjak

“Ndelok Tekos kebon gak” (kamu lihat tikus kebun), mata mbak Lastri masih mencoba melihat-lihat isi rumah, namun, Ruslan menghalangi, wajah mbak Lastri semakin tidak enak untuk dilihat,

“Minggir, ben tak pedote sikile” (minggir, biar ku potong kakinya) sahut mbak Lastri

Mbak Lastri mendorong Ruslan, dengan langkah kaki cepat dirinya menyibak tirai kamar tempat dimana Agus dan Ruslan biasa tidur,

Jantung Ruslan rasanya mau copot, terutama, ketika sorot mata mbak Lastri menatap tajam Ruslan setelah dirinya melihat isi kamar,

“Mati aku” batin Ruslan

Mbak Lastri berbalik, tapi sebelum melewati Ruslan, dirinya mengingatkan, “Kancamu asline wes eroh, nek iku bakal mati kok, cuma sampekno, ojok jeru-jeru nek melu urusan sing gak dingerteni” (sebenarnya temanmu sudah tahu, dia akan mati kok, cuma sampaikan jangan terlalu ikut campur)

Ruslan mondar-mandir sepanjang malam, jantungnya terus berdegup kencang, tidak ada Agus dan bocah itu dalam kamar, rokok pun habis, kepala Ruslan seperti ditusuk-tusuk, dirinya gelisah, berjam-jam, Agus dan bocah itu hilang, “kucur” (sensor)(kemana manusia-manusia itu)

Pintu terbuka, Agus melangkah masuk, nafasnya tersenggal, badannya bermandikan keringat, dirinya langsung meneguk air dalam ceret sampai habis sebelum membantingnya

“GOBLOK!!” umpatnya saat melihat Ruslan, “Mati arek iku” (pasti mati anak itu)

Ruslan teringat ucapan mbak Lastri, ada apa sebenarnya

Ruslan mendekati Agus, ucapan mbak Lastri dan Agus nyaris sama persis, namun, hanya dia yang belum memahami situasi, dirinya tampak berpikir, namun isi kepalanya sudah mentok, dengan pelan, Ruslan mengatakannya kepada Agus,

“,aksudmu opo” (maksudmu apa)

Agus, mendelik menatap Ruslan,

“Aku bar ngekekno cah iku gok Lastri, ben arek iku isok urip” (aku mau memberikan anak itu kepada Lastri, biar dia bisa hidup), “Tapi cah kui, malah mencolot gok jendelo” (tapi anak itu malah melompat lewat jendela), “langsung ae tak kejar, ben uripe jek dowo, kan eman”-

(langsung saja, aku kejar, sayang hidupnya masih panjang)

Ruslan yang mendengarnya langsung bereaksi, “Stress koen Gus, sing onok, cah iku bakal di bacok ambek Lastri” (gila kamu ya, yang ada, anak itu bisa di potong sama Lastri)

“Justru iku” “paling derijine tok sing dipedot”

(Justru itu, paling hanya jari-jemarinya yang dipotong)

Ruslan, semakin bingung. namun Agus mengerti, Ruslan belum mengerti, lantas, dirinya mengulangi ucapan yang pernah dia katakan itu lagi, agar, Ruslan ingat.

“Jangan membuat masalah, diatas Tanah Tumbal, apalagi, untuk mencuri”

“Gimana gimana” kepala Ruslan seperti dibenturkan ke tembok, ucapan Agus terlalu berbelit

Lantas, Agus duduk, dirinya memandang Ruslan, wajahnya tidak bisa dibaca, bahkan oleh Ruslan sekalipun, yang sudah mengenal Agus luar dalam

“Nduwe rokok gak?”(punya rokok gak)

“gak” ucap Ruslan

“Aku tadi ngejar anak itu, kenceng banget larinya udah kaya kijang, dari situ aku jadi yakin, pasti ada apa-apa dari anak ini” Agus diam “Anak ini disuruh oleh orang untuk melakukan sesuatu disini, hal yang paling bangs*t! adalah, anak itu tidak tahu, tanah apa yang sebenarnya ada disini”

“Dia ada yang nyuruh” sahut Ruslan, Agus mengangguk,

“Anak itu sudah ketahuan, pantas saja, itu pocong sampe ngumpul kaya tadi, ternyata, mereka nungguin anak ini” “Masuk ke tanah tumbal, gak bisa seenaknya kaya gitu, harus dapat ijin yang punya, sedangkan, yang punya bukan Lastri”

“Lalu, hubungannya Lastri bawa parang apa?!” ucap Ruslan,

“Dia mau nolong anak itu, kalau anak itu mau selamat, dia harus minta ijin sama yang punya tanah ini, tapi itu kan gak mungkin, jadi, Lastri akan ambil apa yang harus di ambil dari anak itu, yaitu, jari-tangannya”

“Kalau Lastri gak melakukan itu” Ruslan menatap Agus, dirinya melihat Agus menatap kosong apa yang ada didepannya, lantas dirinya berdiri, lalu masuk ke kamar

Ruslan langsung sadar, dirinya teringat dengan maksud kedatangan Lastri tadi, sekarang dirinya tahu, alasan kenapa mereka belum boleh pergi, pagi itu, berjalan seperti biasanya.

Agus tidak banyak bicara seperti sebelumnya, dirinya sudah bersiap menuju tempat kerja, Ruslan hanya mengawasi, dirinya tidak mau membahas kejadian semalam.

Agus melihat sebungkus nasi di meja “Aku yang bungkusin makanan itu subuh tadi gus” kata Ruslan,

Setelah mendengar kata Ruslan, Agus baru mau membuka makanan itu, aneh. Agus yang sekarang dilihat Ruslan, seperti bukan Agus yang biasanya

“Kenapa tadi diam, takut makanannya dari mbak Lastri, biasanya kan, langsung tau dari aromanya” canda Ruslan, yang tidak ditanggapi sama Agus

Seusai Agus makan, mereka bersiap berangkat bersama, Agus masih tidak banyak bicara, namun, seperti tersentak, manakala baru keluar dari pintu, Mbak Lastri berdiri di teras rumah, di tangannya, dirinya tengah memegang gagang sapu.

Dirinya berdiri, tersenyum, menyapa mereka

“Ngeri” batin Ruslan, dilihat darimanapun, wajah mbak Lastri tidak memiliki emosi, matanya besar, hidungnya mancung, kulitnya sawo matang, dengan rambut disanggul, karismanya, membuat Ruslan sadar, Gundik’colo rupannya memang gila seperti cerita-cerita yang tersebar.

Ruslan menunduk baru juga Ruslan melewati mbak Lastri, Agus tiba-tiba diam berdiri di depan mbak Lastri, Ruslan ikut berhenti, dirinya menatap mbak Lastri yang memberikan sesuatu kepada Agus, namun, Agus buru-buru memasukkannya kedalam saku, seakan menyembunyikannya dari Ruslan, sorot mata Agus kaget

“Dia ngasih apa Gus” tanya Ruslan,
Agus hanya menggeleng, dirinya tetap berjalan, seakan mengabaikan Ruslan, kesal, Ruslan menarik tangan Agus, memintanya bercerita, terpaksa Agus mengambilnya dari saku celananya, dirinya, mengeluarkan setangkai bunga kamboja, Ruslan melotot menatap Agus

Koco sudah menunggu bersama yang lainnya, dirinya membagikan jatah rokok hari ini kepada Agus dan Ruslan, namun, Koco merasa hari ini ada yang berbeda dengan dua kawannya

“Onok opo toh iki, raine gak mbois blas” (ada apa sih ini, kok mukanya pada gak enak)

Ruslan melewati Koco “Nyocot”

Agus dan yang lainnya segera naik ke mobil pick up yang akan mengantarkan mereka ke tempat kerja, melewati rumah-rumah warga dari semua orang yang ada disana, hanya Koco yang juga merasa Agus jadi aneh, dirinya melihat Ruslan, memberi isyarat

“Kenapa sih Agus” namun Ruslan tidak perduli.

Jalan menuju lokasi kerja harus melewati jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu mobil, disamping kiri ada perkebunan warga, disamping kanan tebing rumput, dengan sungai beraliran deras,

Ruslan merokok sambil melirik Agus, pikirannya kosong, disenggol beberapa kalipun, Agus tidak peduli, tiba-tiba, terdengar ramai orang tengah berkumpul disana, semua orang lantas berdiri di atas mobil pick up, mencari tahu ada apa, termasuk Agus dan Ruslan, mereka melihat warga menuruni tebing,

Koco yang saat itu dekat dengan satu warga yang mendekat langsung bertanya

“Onok opo cak” (ada apa pak)

“Onok cah mati nang pinggir kali mas” (ada anak kecil meninggal di sungai)

Ruslan menatap Agus, lantas, mereka semua langsung ikut turun untuk melihat.

Warga sudah ramai. “anak kecil dia bilang gus” kata Ruslan, “yang semalam kan anak gajah, sudah gak masuk anak-anak itu” bukannya tertawa, Agus justru ikut turun, melewati kerumunan warga, Ruslan yang merasa harus lihat juga terpaksa ikut Agus, ketika Ruslan berhasil, Agus mematung

“Cok” Ruslan tertunduk, menyaksikan sosok yang ditarik itu adalah pemuda semalam

Dirinya menarik Agus namun, Agus menolak, Koco rupannya dari tadi memperhatikan, dirinya ikut menarik Agus, dan akhirnya mereka pergi.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kalian” kata Koco, “Harus tak sampein kayanya”

Baru pertama kali, muka Koco tampak serius, sepanjang perjalanan, Koco tampak seperti mau bicara namun dirinya menahan semuanya, Ruslan dan Agus apalagi, mereka, sepanjang perjalanan tidak ingin bicara, pikiran mereka berdua, melayang-layang teringat wajah pemuda itu.

Turun di lokasi kerja, Agus tidak perduli dengan apa yang mau disampaikan Koco, dirinya memilih untuk mulai mengaduk semen bersama yang lainnya, hanya Ruslan yang mendengar Koco,

“Ngene, koyok’e omah sing mok panggoni angker yo” (gini, kayanya, rumah yang kamu tempati itu angker ya)

Ruslan, diam. dirinya tidak tahu harus menanggapi apa yang baru Koco ucapkan.

“Orang yg sebelumnya tinggal disana, itu mereka cerita kalau setiap malam, ada yang suka ngelihatin mereka” Koco tampak berpikir,

“Pocong sih katanya”

Ruslan masih diam.

“Mah, sebelum mereka pergi, satu dari empat orang yang tinggal, dia kaya si Agus begitu, diem aja” jelas Koco

“Terus” Koco tampak berpikir, lalu meminta Ruslan mendekat, saat Koco berbisik, Ruslan melotot menatap Koco, “Goblok. Wes eroh koyok ngunu, aku ambek Agus ber mok kongokon nang kunu, Edan koen cok!!”

(bodoh, sudah tahu kaya gitu, aku sama Agus malah disuruh tinggal disitu, gila!)

“Loh aku juga cuma ngikutin peraturan, udah gak ada kamar di mes, rumah itu sudah dibayar setahun penuh” Koco mencoba membela.

“Ya tapi, kamu gak bilang kalau ada kejadian begitu, tau tidak, perempuan depan rumah itu, Gundik’colo” sahut Ruslan,

Koco langsung diam.

“Jangan ngawur kamu Rus” kata Koco “mana ada perempuan begitu jaman sekarang!! fitnah Rus, fitnah!!”

“Agus yang bilang, kalau kamu gak percaya, tinggal sama aku saja, masih ada satu kamar” kata Ruslan,

“Matamu!! gak mau aku” Koco menolak, “yakin, dia Gundik’colo, sakti dong!!”

“Iya. sakti” kata Ruslan, “kalau dia mau, dia bisa gorok lehermu dari rumah”

Koco tidak bicara, ia seperti ingat sesuatu, tapi enggan mengatakannya, “Gini Rus, si Agus, awasi dia ya, kalau ada aneh-aneh, bilang sama aku, aku kenalin sama seseorang” kata Koco,

“Asu koen cok!!”

Semenjak Ruslan tahu sesuatu, setiap diriinya sampai di rumah, Ruslan mengunci pintu, dirinya sering melihat ke jendela, matanya mengawasi rumah itu.

“Gus, kapan yang punya ini tanah datang”

“Nanti Lastri ngasih tahu” ucap Agus,

“Kamu sih nantangin perempuan itu” kata Ruslan,

“Rus, aku mau ngomong, kalau aku pergi, kamu di rumah aja, jangan kemana-mana ya” jelas Agus

“Piye gus” tanya Ruslan, saat itu juga, suara pintu diketuk, Ruslan terhenyak sesaat menatap pintu

Agus, berdiri, dirinya membuka pintu, tepat disana, ada mbak Lastri, Agus menutup pintu

Ruslan hanya bisa diam, ketika Agus melangkah lebih dulu, dibelakang, mbak Lastri menunduk memberi salam pada Ruslan, tepat di tangannya, dirinya mengenggam pisau kecil yang biasa digunakan untuk memotong ari-ari,

“Saya dulu, mas Ruslan” ucap Lastri, dirinya mengikuti Agus masuk rumah

Ruslan langsung lari, dirinya menembus kebun Jati, dirinya harus mencari Koco, menyampaikan apa yang dirinya lihat, tepat seperti apa yang Koco ceritakan siang tadi,

Manakala, Ruslan berlari, dirinya mencium aroma kentang, sekeliling kebun Jati, dipenuhi pocong

“Mas, tolong, bukake tali kulo” (mas, tolong, bukakan tali saya)

Satu diantara mereka mendekati Ruslan, dirinya melayang hanya beberapa senti dari atas tanah, Ruslan gemetar, dirinya tidak mau melihat muka yang hancur dan berbau kentang itu,

Ruslan, lanjut lari. Syukur, Ruslan tahu dimana biasa anak-anak nongkrong, Koco sedang main kartu, saat Ruslan menceritakan Agus, Koco menelan ludah, dirinya buru-buru pinjam motor, mengajak Ruslan menemui seseorang,

Selama diperjalanan, Ruslan hanya kepikiran dengan sorot mata Lastri, licik,

“Agus iku ngilmu tapi loro” (Agus itu ngilmu tapi sakit) “Kalau tahu ada Gundik’colo, ya mending ngalah, gak usah ngelawan gitu to, wong pintar aja pikir-pikir kalau adu ilmu sama yang model begituan” sahut Koco, dirinya menambah kecepatan motor, menembus rumah warga

Sesampainya disana, Koco buru-buru mengetuk pintu, namun, si pemilik rumah sepertinya tidak ada, rumah kayu itu ditutup rapat, Ruslan menatap kesana kemari, kepalanya sakit sekali, Agus seperti dipelet terang-terangan sama mbak Lastri, tapi apa ya bisa, Agus kepelet semudah itu

Koco terus memanggil, namun, tetap tidak ada jawaban, Ruslan yang sudah tidak sabar ikut mengetok pintu, saat, dibelakangnya, terdengar seseorang “Cari siapa le” (mencari siapa dek)

Koco dan Ruslan berbalik, dirinya melihat lelaki tua dengan sak berisikan rumput, menatap mereka Ruslan ingat dengan lelaki tua itu, dirinya suka mencari rumput di kebun jati, tapi, bila di ingat lagi, cari rumput kenapa harus malam seperti ini, apalagi, rumput yang dia ambil dari kebun jati tempat Ruslan melihat.

“Malam pak” Koco memberi salam, mencium tangannya, Ruslan, diam

Koco menceritakan semuanya, lelaki tua itu hanya berdiri di ambang pintu, dirinya mengintip ke jendela, “pirang atus pocong iki sing ngejar awakmu le” (ini berapa ratus pocong yang ngejar kamu nak)

Koco ikut melihat jendela namun dirinya tidak melihat apapun, namun Ruslan, melihatnya..

“Kamu pulang saja, teman kamu sudah gak bisa ditolong” sahut lelaki tua itu kepada Ruslan, namun, Koco mencoba bilang, “Tapi mbah, yang dulu juga mbah kan yang nolongin”

“Beda kasus itu le” kata si lelaki tua, “kalau yang ini, temanmu sejak awal disukai sama cah gendeng iku”

“Cah gendeng mbah?” tanya Koco,

“Apalagi kalau gak gendeng tuh bocah, aku tau perjalanan hidupnya sampai dia jadi begitu, saya sih bisa kalau adu ilmu, tapi ya, Gundik’colo ini” lelaki tua itu tertawa, dirinya melempar pocong yang Ruslan lihat dengan tulang ayam, “saya bisa mati”

“Lalu bagaimana mbah?” tanya Koco,

“Temanmu itu ilmunya juga lumayan, dia pasti ada alasan kenapa mau, kalau dipelet sih, gak yakin aku, pasti ada yang dia sembunyikan” kata si mbah, sekarang, dirinya melempar apapun kearah pocong diluar rumah, Ruslan bingung, seperti dirinya sengaja. Koco sudah tidak bicara lagi, namun kemudian, Ruslan mengatakan apa yang seharusnya dirinya katakan dari tadi.

“Mbah bilang tadi tahu perjalanan hidupnya, mbah kenal sama mbak Lastri?”

Setelah Ruslan mengatakan itu, lelaki tua itu berhenti bermain sama pocong di depannya, dirinya diam.

“Ia saya kenal dia” lelaki tua itu kini duduk, dirinya menutup pintu setelah meludahi pocong yang mau masuk ke rumah, “Guru saya yang membantunya menjadi Gundik’colo seperti sekarang, namun hal tersebut semua, atas dasar keinginannya sendiri”

“Lastri, sebenarnya, seusia sama saya”

“Kalian ada rokok” sahut lelaki tua tersebut,

Ruslan memberi tanda pada Koco, Koco langsung tahu maksud Ruslan, dirinya meraba saku celana, mengeluarkan sebatang rokok, memberikannya pada lelaki tua itu, dirinya menghisap rokok sebelum mengatakannya

“Lastri bukan yang pertama di kampung ini”

“Maksudnya mbah” tanya Ruslan,

“Lastri bukan Gundik’colo pertama di sini, karena, dulu, sudah ada Gundik’colo juga sebelum Lastri”

Koco beringsut mundur, Ruslan apalagi, lehernya meremang, merinding, satu Gundik’colo saja sudah gak waras, ini, malah sudah ada sebelumnya

“Lalu, bagaimana akhir Gundik’colo sebelumnya mbah?” Tanya Ruslan, Koco hanya bisa menelan ludah, di rumah kayu itu, mendadak, hening, sepi sekali, bahkan, api petromax bergoyang tidak normal, lelaki tua itu tampak berpikir sebelum

“Lastri ada di depan, sebaiknya kalian kembali”

Lelaki tua itu berdiri, dirinya membuka pintu, jauh di sana, mbak Lastri berdiri di teras rumah, matanya kosong melihat kearah pintu, lelaki tua itu menatap Ruslan dan Koco,

“Saya tidak bisa membantu banyak, temanmu, dia sudah ada di rumah, masalah ini, coba selesaikan dengannya”

Ruslan melirik ketika dirinya berpapasan dengan Lastri yang kemudian masuk ke rumah lelaki tua itu, dirinya mendengar Lastri menggumamkan sebuah nama, “Pornomo”, jadi, nama lelaki tua itu adalah Pornomo, untuk apa, Lastri masuk ke rumahnya, apakah ada sesuatu yang mau mereka bicarakan,

“Edan!! aku jek gak percoyo, Gundik’colo jek onok, mese onok 2 pisan nang deso iki, gendeng” (Parah!! aku masih gak percaya, Gundikcolo masih ada, malah ada 2 lagi di desa ini, Gila) kata Koco di atas motor,

Ruslan, hanya berucap “nyocot!!”

Koco diam,

setelah Koco mengantar Ruslan, ia kembali ke rumah itu, melewati kebun jati sendirian, dari jauh, rumah itu sudah bisa dilihat, pintunya terbuka, tepat ketika Ruslan melewati pintu, ia melihat Agus, tengah duduk seperti menunggunya..

“tekan ndi?” (darimana?)

“cari rokok gus”

Agus hanya mengangguk, seakan tidak mau mendebad Ruslan, ia masuk ke kamar, sebelum masuk, Agus mengatakannya, “awakmu turu nang sebelah yo, aku kepingin turu ijen” (kamu nanti tidur di kamar sebelah ya, aku ingin sendirian)

Ruslan tidak menjawab, Agus berbeda,

berjam-jam sudah berlalu, Ruslan masih belum bisa memejamkan matanya, lantas, ia tiba-tiba merasa harus tahu, apa yg ada di dalam rumah itu, apa yg di jaga sampai yg jaga harus perempuan seperti itu,

Ruslan beranjak dari ranjang, lantas, ia berpikir untuk memeriksanya saja,

ia melewati kamar Agus, berjalan pelan-pelan, saat, Ruslan merasa ada yg salah, ia kembali, membuka gorden yg menutupi kamar Agus, disana, Ruslan terhenyak, melihat Agus duduk bersila di atas ranjang, di depannya, darah berceceran,

Agus memuntahkan darah dengan mata terpejam

“he cok koen lapo cok” Ruslan mendekati Agus, menepuk2 pipinya, namun, Agus seperti tidak sadarkan diri,

Ruslan kebingungan, lantas ia buru-buru mengambil segelas air ke dapur, meminumkannya pada Agus, namun, ia terus memuntahkannya, tiba2, terdengar suara Lastri berteriak,

Agus belum juga sadar, namun diluar, pintu depan digedor-gedor dengan keras, suara Lastri berteriak seperti orang tengah marah

Ruslan mendekati pintu,

“BUKAK!!” “BUKAK GOBLOK!!”

Ruslan pun membuka pintu, Lastri langsung masuk, ia berjalan pincang, dengan tangan menyeret parang

Ruslan langsung menyusul Lastri, namun, Lastri keluara dari kamar dengan sendirinya, menyeret Agus, ia menjambak rambutnya yg panjang, Agus masih muntah darah, Ruslan mencoba menahan Lastri, namun, tatapan matanya, membuat Ruslan ngeri sendiri, “Mundur koen!!” (mundur kau!!)

“mbah isok diomongno apik apik mbah, gak usah gowo parang nggih” (mbah bisa dibicarakan baik baik mbah, tidak perlu pakai parang ya) ucap Ruslan,

Lastri berhenti, ia menatap Ruslan, menghunuskan parangnya, “mbah”

“mbak maksud kulo, mbak” (maksud saya mbak)

Lastri menyeret lagi

sampai di pintu rumah, Lastri melemparkan Agus, menyeret kakinya sampai ke perkarangan antara rumah Lastri dan rumah tempat tinggal mereka

Ruslan yg tidak tahu harus apa dengan situasi ini, lari masuk rumah, ia mengambil pisau di dapur, ia kembali, melihat Lastri sudah menghunus

parang yg Lastri pegang, terhunus di leher Agus,

Ruslan sudah gemetar, kalau sampai Agus di gorok, ia akan buat perhitungan, namun, rupannya, Lastri menjambak rambut gondrong Agus, lalu memotongnya dengan parang, Agus terjerembab jatuh ke tanah, ia berhenti muntah darah

Ruslan mendekati Lastri, menatap segumpal rambut yang dirinya pegang.

Sumber: ChirpStory

Bikin Tegang! Cerita Misteri Padusan Pituh Bagian 1

Jangan Baca Sendirian, Cerita Misteri Padusan Pituh, Dijamin Bikin Tegang

Cerita Misteri Padusan Pituh. Saya inget, malam itu, saya lagi mau tidur. lampu kamar udah saya matikan, di luar turun hujan gede” “tiba-tiba.. saya denger suara pintu kamar di buka, karena saya penasaran, saya turun dari tempat tidur, saya jalan sampe pintu kamar, pas saya intip, ternyata ada nyokap saya, wajahnya.. kaya orang bingung gitu.

“Saya udah mau buka pintu kamar, tapi.. tiba-tiba, nyokap saya masuk ke kamar itu” “awalnya saya pikir selesai, toh dia berdiri di kamar adik saya, namanya.. Lindu” “pas saya mau balik ke tempat tidur, tiba-tiba, saya denger suara Lindu teriak kenceng!!” “nyokap mau bunuh anaknya sendiri!!”

“Saya lari, di ikuti orang serumah” “lo tau apa yang terjadi disana?” wanita itu menatap semua orang yang melihatnya bercerita.

“Nyokap cekik anaknya, iya, anaknya yang masih umur 7 tahun!!” wanita itu tertawa sembari bercerita, membuat semua yang mendengarnya merasa tidak nyaman.

“Nyokap saya sakit!! SAKIT BANGET!! padahal, dulu dia gak pernah begitu, sebelum kedatangan yang kata nenek saya, rumah saya kedatangan Dayoh Rencang!!” wanita tersebut menunggu, dirinya melihat ekspresi semua orang, namun, tampaknya tidak ada yang mengerti maksud ucapannya. Dirinya masih menunggu. Cerita Misteri Padusan Pituh

Seorang lelaki berewok lantas bertanya pada wanita yang masih tenang duduk tersebut, senyumnya ganjil. “Dayoh rencang itu apa? bahasa jawa ya?”

Wanita itu tersenyum “saya dari jawa, tapi saya gak bisa bahasa jawa, tapi.. kata teman jawa saya, itu istilah kuno, bukan bahasanya namun”

Wanita itu seperti tidak mau melanjutkan ucapannya, namun ekspresi penasaran semua orang yang menunggu cerita itu di lanjutkan masih bertanya-tanya, “Dayoh Rencang memiliki makna simbolis yang sudah lama tidak pernah disebut lagi, makna filosofis dari datangnya, hantu anak-anak!”

“Hantu anak-anak, maksudnya?!” tanya salah satu pendengar,

“Nyokap saya mendapat pesan dari hantu anak-anak itu, dia bilang, Lindu itu” “ANAK SETAN!!” “mereka datang, buat jemput Lindu”

“Sekarang bayangin ekspresi nyokap lu ngatain SETAN sambil nyekik darah dagingnya sendiri”

“Tapi satu yang saya inget!!” “nenek saya pernah mengatakan sesuatu yang bener-bener ganggu pikiran saya sampe saat ini”

“Apaan?” tanya lelaki berewok itu lagi.

“PADUSAN PITUH” “karena selepas kejadian tersebut, nyokap saya langsung di pasung, sampe akhirnya mati karena gigit lidahnya sendiri”

“Diakhir hidupnya, dia menulis sebuah nama. CODRO BENGGOLO dan ANGGODO kudu nerimo ROGOT NYOWO!!”

“Cuk!!” bisik seorang lelaki, “ngedongeng teros, ibuk mateni anak lah, ibuk mati bunuh diri lah, pancen seneng nggarai wong keweden!! Mir, Mira” (dongeng terus, ibu bunuh anaknya lah, ibu bunuh diri lah, memang paling suka bikin orang takut ya kamu!! Mir, Mira)

Mira, nama itu memang sudah hampir terkenal di kalangan anak-anak yang bekerja di kantor ini, salah satu dari pencerita paling ngawur namun memberi esensi horror lain yang membuat semua temannya tidak bosan mendengar ceritanya, Mira menatap Riko, lelaki di depannya, dirinya tersenyum.

“Gak semua ceritaku karangan!! ada beberapa yang nyata, dan kalau aku ngasih tau kamu mana yang asli, kamu bakal lupa caranya kencing di kamar mandi!!”

Riko tidak peduli. ” nama terakhir itu, apa.. ROGOT NYOWO!! aku kayak pernah dengar, tapi apa ya? itu ngarang juga?”

Mira, diam. “Mir, saya minta file kasus orang bunuh diri itu, kirim ke email ya!!” teriak seorang perempuan dari seberang meja, Riko langsung menanggapi, “Gak usah ikutan ngomong saya lo, kamu orang jawa, pakai aku aja, dulu pertama kesini malah pake saya kamu!!”

“Iya” jawab Mira
Riko yang entah karena memang senggang, tiba-tiba melihat sebuah jurnal di atas meja Mira.

Mira yang kembali menatap layar monitornya membuat Riko secara sembunyi-sembunyi mengambilnya, disana, Riko membuka jurnal tersebut, didalamnya banyak sekali sobekan dari koran-koran tua untuk apa Mira menyimpan potongan koran tua tersebut, Riko membuka lembar per lembar, semua tidak ada yang dimengerti oleh Riko, sampai Riko terhenti di salah satu halaman dengan headline “satu keluarga kaya tewas satu persatu akibat Santet kuno” Riko menatap Mira yang belum menyadari di samping potongan koran ada kertas kosong, tertulis disana sebuah tulisana yang di coret-coret dengan pena, Riko menatap tulisan itu yang terbaca, “JANUR IRENG!!” sebelum Mira sadar dan menatap sengit Riko dan merebut jurnal tersebut.

“ASU KOEN, MINGGAT!! usir Mira,

Riko pergi. Jam makan siang, seseorang memanggil Mira, dirinya mendekat lalu duduk, di hadapannya ada Riko dan Stella, salah satu atasannya.

“Riko cerita, kamu masih nyelidiki kasus itu? kasus lama yang bahkan sampe jadi semacam cerita legenda gitu, apa itu?” Stella menatap Riko.

“JANUR IRENG”

“yes. JANUR IRENG!!” kata Stella, “Gak ada gitu sesuatu yang bikin kamu tertarik, ya maksudku bukannya ngelarang, tapi kasus itu sampe sekarang gak ada yang tahu, bahkan apa yang terjadi saja gak ada buktinya, lagian dapat nama JANUR IRENG darimana?” anya Stella.

“Lindu” jawab Mira, Stella tampak berpikir, dirinya menatap Riko dan Mira bergantian sebelum, “ada 3 orang yang pernah terlibat dalam koran di jurnalmu!!” Stella mengamati sekeliling, “satu orang mati!! satunya gila!! dan satunya” Stella menyesap rokok, “jadi kaya melintir!!”

“itu kasus paling aneh Mir!!”

Mira membuka pintu rumah, dirinya berjalan menelusuri ruang tamu, dari salah satu pintu kamar, Mira membukanya, di dalam sana, dirinya melihat ibunya tengah sholat

Mira kembali menutup pintu, namun tiba-tiba, dirinya melihat Lindu berdiri di depannya “ibuk gak boleh sholat!!” Mira diam,
Mira melihat tangan Lindu, jemarinya berdarah-darah, “sudah pulang nak” sahut ibunya membuka pintu kamar, “anak itu sudah keluar, tadi ibu kunci dia di gudang bawah”

“Anak sekecil ini kenapa di perlakukan seperti itu buk” jelas Mira,

“Karena anak ini adalah Benggolo!!” sahut ibu \

Sudah ratusan kali Mira mendengar nama “Benggolo” entah dari almarhumah neneknya sampai ibunya, seakan nama tersebut adalah hal terburuk, namun setiap di tanya apa itu Benggolo tak ada satupun yang ingin menjawabnya.

Mira menggandeng Lindu masuk ke kamarnya, sejak awal, hidup Mira hanya melihat ibuk dan juga anak seolah-olah ingin saling bunuh membunuh.

Rumah ini terasa seperti neraka. Mira membantu adiknya membersihkan luka di tangannya, “kamu nyakarin pintu lagi” tanya Mira,

“Iyo mbak” Lindu tersenyum, “Mbak, ibuk ojok oleh sembayang maneh, engkok, dayohe teko maneh” (kak, ibu jangan dibolehin sholat nanti tamunya datang lagi)

“Dayoh sopo seh Ndu, sembahyang kan kewajiban” (tamu siapa yang datang, sholat itu kewajiban)

Lindu lantas berbisik lirih, “Umur’e ibuk wes gak dowo mbak, aku mau ndelok onok Dayoh teko” (umur ibuk gak panjang, tadi aku lihat tamunya sudah datang)

Mira menatap adiknya ngeri, Lindu menarik tangan Mira, membawanya ke jendela kamar, menyibak tirai itu, lantas Mira bisa melihat halaman rumahnya, namun, tidak ada siapapun disana.

“Iku mbak, onok sitok sing longgoh nang nisor wet pencit” (itu kak, ada satu yg lagi duduk dibawah pohon mangga)

Mira bingung, Lindu melambai, membuat Mira akhirnya menutup tirai, dirinya memeluk adiknya.

Hening, sunyi, sebelum, “MIRAAAA!!” teriakan ibunya membuat Mira tercekat dan pergi menuju kamar ibunya, disana, ibunya mencakar kelopak matanya sendiri, menariknya seakan dirinya ingin merobek wajahnya, Mira menjerit. Butuh waktu bagi Mira untuk sadar sebelum dirinya mengkekal tangan ibunya agar berhenti melakukan hal itu, darah keluar dari kelopak matanya, “onok opo buk!!” (ada apa buk)

Ibu Mira menunjuk jendela, Mira perlahan-lahan, mengintip jendela ibunya saat dengan mata kepala sendiri, Mira-
melihat, seorang anak perempuan, tidak, lebih dari ratusan anak perempuan dengan pakaian lusuh, mereka bertelanjang kaki berdiri memenuhi halaman rumah Mira.. mereka serempak mengatakannya, “Balekno Benggoloku!!” (kembalikan Benggoloku!!)
Mira kembali menutup tirai, saat itu dirinya melihat ibunya kembali.

“Onok opo asline buk!!” (ada apa sebenarnya buk)

Ibu Mira tampak diam, namun Mira terus mencoba membuat ibunya bicara, sampai, Lindu masuk ke kamar dan melihat Mira dan ibunya..

“Anak itu milik seseorang”
“Anak orang gimana buk, aku lihat ibuk yang melahirkannya!!”

Ibu Mira menatapnya” dia bukan saudaramu!! CODRO, ingat nama itu nduk, nama yang pernah disebut nenekmu. Lindu anaknya”

“Kenapa dengan Codro? dan siapa dia?”

Lindu tiba-tiba mengatakannya, “ROGOT NYOWO mbak”
“Iya, Rogot nyowo” kata ibu Mira, “Dia butuh Lindu, untuk melindunginya dari Rogot nyowo”

“Aku gak ngerti buk.. Lindu bukan saudaraku bagaimana, jelas-jelas ibuk yang melahirkannya?”

“Codro meniduri setiap janda, saat bapakmu mati, ibuk..” ibu Mira mulai menangis,
Lindu mendekati Mira dan ibu, “nek aku metu, Dayohe bakalan ngaleh” (kalau aku keluar, tamu yang datang akan pergi)

Mira menatap adiknya, mencengkram tangannya, “jangan!! ibuk belum menjelaskan semuanya” “apa itu Rogot nyowo dan apa hubungannya?”

“Rogot Nyowo iku sumpah wong pitu nang persekutuan keluarga, ben keluarga nduwe ingon lan kutukane dewe-dewe, sak iki, onok balak sing nggarai getih pituh kepecah, kabeh keluarga podo masang awak kanggo ngindari sumpah Rogote dewe-dewe”

(Rogot nyowo adalah sebuah sumpah dari 7 orang yang bersekutu, keluarga besar, yang semuanya punya peliharaan dan kutukannya sendiri-sendiri, sekarang, bencana yang membuat 7 darah terpecah, membuat semua keluarga pasang badan untuk menghindari sumpahnya mereka sendiri-sendiri).

Mendengar penjelasan itu dari ibunya, Mira lantas memeluk Lindu, “tetap saja, dia ini anakmu, gak seharusnya di serahkan” saat Mira mengatakan itu, dirinya ingat, anak-anak perempuan di luar rumahnya, jangan-jangan, Lindu menatap Mira, dirinya mengangguk “mereka milik Codro mbak”

Mira memeluk ibu dan adiknya, menjaga mereka dari teriakan yang terus menerus memanggil “Benggolo!!” sampai tiba-tiba suara mereka hilang, lenyap.. semuanya, menjadi hening, sunyi. Sebelum, Lindu menggigit lengan Mira hingga robek, dan mencengkram kepala ibunya yang masih mengenakan mukenah, membenturkannya ke meja sembari berteriak keras-keras, “Wedokan goblok!!” (perempuan bodoh!!)

Mira meringis, melihat adiknya terus menerus menghantamkan kepala ibunya suara Lindu terdengar berat layaknya suara seorang lelaki tua, dirinya terus menerus menghantamkan kepala ibunya sebelum Mira menarik kerah bajunya, menghantamkannya ke lantai dan mencekik leher Lindu, dirinya melihat adiknya meronta-ronta, namun Mira terus mencekiknya
butuh waktu sebelum Mira benar-benar sadar atas apa yang dirinya perbuat, dirinya melepas Lindu, berlari keluar rumah dan berteriak keras sampai tetangganya berkumpul dan menyaksikan semua itu..

Mira beruntung, malam itu, tidak ada yang meninggal meski ibunya tidak sadarkan diri..
“Aku gak percaya sih sama cerita begitu” kata Riko, dirinya datang setelah Mira menelponnya

“Codro!!” “itu nama samaran atau bagaimana? banyak orang yang punya nama itu?” sahut Riko mengingatkannya,

Mira hanya diam, dirinya masih terbayang adiknya.. sampai Riko mengatakannya,
“Adikmu sejak dulu aneh kan” “gimana, kalau adikmu di ruqiah saja. Aku kenal orang yang bisa bantu, itu kalau kamu mau, sekaligus, menghindarkan adikmu dari ibumu?”

Mira menatap Riko, sebelum mengangguk, esok hari, saat semuanya kembali normal, Lindu harus dibawa
sebelum Mira pergi dan melihat kondisi rumahnya yabg penuh dengan tetangga yang membantu, Riko kembali memanggilnya, “Mir, Rogot nyowo yang kemarin aku tanyakan, aku sudah ingat”

Mira berhenti untuk mendengarkan, dirinya melihat Riko,

“Dulu aku punya kenalan yang pernah sebut Rogot nyowo”
Riko menatap Mira, “namanya, Dela Atmojo, tapi sudah lama aku gak pernah melihatnya lagi. nanti kalau ketemu dia, aku akan tanyakan maksud kalimat itu”

Mira diam, dirinya mengulangi nama itu “Dela Atmojo” darah di lengan Mira masih mengalir, dirinya menutupnya dengan potongan kain yang dia temukan, rumah masih ramai dengan tetangga yang berkumpul. Mira menatap ke sekeliling, menemukan Lindu yang di ikat seperti pencuri di pasar-pasar, “buk” kata Mira menatap ibunya, “Lindu biar ku bawa”
Mira melepas ikatan Lindu, menggendongnya paksa, semua tetangga menatap khawatir anak itu, “gak papa” kata Mira menenangkan semua tetangganya, tatapan mereka khawatir, ibuk hanya mengawasinya, dirinya tahu apa yang akan di lakukan anaknya

“Nduk” katanya, saat Mira mulai pergi,
“Koen bakal nyesel gowo iblis iki” (kau akan menyesal kalau membawa iblis ini)

Semua tetangga menatap Mira dan Lindu, “lalu gimana, mau di bunuh saja, ambilkan parang di dapur biar ku gorok di sini darah dagingmu!!” ancam Mira, tak ada yang berani berkomentar, sebelum Riko masuk
“Sudah Mir, ndak enak didelok wong akeh” (sudah Mir, gak enak di lihat orang banyak) bujuk Riko meraih Lindu dari tangan Mira, “Buk, biar tak bawa Lindu, mungkin ada cara biar dia tidak seperti ini” bujuk Riko yang hanya di tanggapi sinis oleh ibuk

“Terserah” sahut ibuk tak peduli Riko sudah pergi, ketika Mira berbalik berniat pergi, ibuk merengkuh anaknya, memeluknya sembari berbisik lirih, “Iki bapakmu nduk sing salah sak jane, ibuk melakukan ini biar kamu hidup” (ini semua salah ayahmu aku melakukan ini biar kamu bisa hidup)

Mira terlihat bingung,
“Maksudnya apa buk?” tanya Mira,

“Ibuk ndak bisa ngomong, Ibuk sudah janji sama mbah-mu, katanya kelahiranmu itu pertanda akan terjadinya Rogot nyowo!! ibuk takut Mir, takut kalau apa yang di bilang mbahmu kejadian”

“Rogot nyowo” Mira masih bingung, dirinya tak mengerti apapun itu
“Rogot nyowo itu apa buk”

“Ndak, ndak bisa, ibuk ndak mau bicara, ibuk sudah janji, kamu istimewa Mir, rogot nyowo di tentukan oleh tanganmu sendiri, ibuk tidak boleh mengobrak abrik takdir, kamu sudah di ikat oleh”

“oleh siapa buk?” paksa Mira,

namun, ibuk memilih diam,
“Terserah buk, Mira sudah besar tahu apa yang terbaik untuk Mira sendiri” Mira pergi,

Malam itu adalah malam terakhir Mira melihat ibunya, setidaknya itu mungkin menjadi yang terakhir kali, karena setelah itu, semua di mulai dari titik ini, Padusan pituh sudah menunggu Mira. Malam itu dingin, Mira duduk di depan di samping Riko yang tengah menyetir, dirinya menatap perempuan itu tampak muram, Lindu tengah tidur, malam ini begitu berat bagi mereka, hening, sebelum Mira berbicara, “Ibuk bilang lagi, dia nyebut Rogot nyowo lagi, aneh kan?”

Riko hanya diam,  “kadang orang tua memang begitu Mir, mungkin karena ibukmu dulu kejawen seperti ceritamu, mbahmu juga gitu kan, dan bapakmu?” Riko melirik Mira menunggu reaksinya, Mira selalu sensitif mendengar bapak,
“Aku gak pernah lihat bapak, udah lama mati sejak masih kecil
“Gak satupun aku ingat tentang bapak, seharusnya untuk anak seusiaku, pasti ada ingatan tentang bapak walaupun samar, tapi semakin keras aku coba inget tentang bapak semakin aku gak tau” Mira tersenyum sinis, menertawai hidupnya, “mungkin keluargaku ini di kutuk kali”. Mobil Riko terus melaju, malam semakin larut, Mira tak tahu kemana Riko akan membawanya, yang dirinya ingat Riko akan mengantarkannya menemui seseorang,
Seseorang yang bisa merawat Lindu, setidaknya melihat apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu, anak yang selalu di sebut iblis oleh ibuk tanpa terasa, 8 jam mereka sudah berkendara, setelah berhenti di beberapa titik, Riko masuk ke dalam sebuah desa, desa yang masih terlihat sangat kuno, dengan beberapa wanita yang masih mengenakan jarik, Riko berhenti di salah satu rumah berbentuk Joglo dengan banyak pohon pisang, “kita sampe Mir” ucap Riko mengangguk, dirinya lantas membangunkan Lindu, anak itu terbangun dari tidurnya namun ekspresi wajahnya tampak tidak senang,
“Kamu kenapa ndu?” tanya Mira khawatir,
“Lindu gak mau turun, ini tempat apa? tempat ini gelap sekali”

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

27 23 26 29 37 36 39 37 36 39

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

01 03 08 31 30 33 38 81 80 83

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

79 73 72 75 29 23 25 59 53 52

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

37 31 36 35 17 16 15 57 51 56

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

10 12 19 15 90 92 95 50 52 59

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

23 24 26 29 43 46 49 93 94 96

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

83 82 84 87 23 24 27 43 42 47

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

93 98 97 73 78 79 28 23 29 27

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

34 32 39 38 94 92 98 84 82 89

SELENGKAPNYA

“gelap?” batin Mira, dirinya menatap Riko yang menggeleng bingung, tak beberapa lama, seorang ibuk mendekati mobil mereka, dirinya membawa tali di tangannya, Riko melangkah keluar, “wes teko le,” (sudah datang nak)

Riko mengangguk,

“Bawa kesini anaknya, biar kami urus”

“Urus bagaimana maksudnya buk?” tanya Riko dirinya bingung, sebelumnya bahkan dirinya belum memberitahu apapun kepada mereka semua, tapi seakan-akan mereka tahu bahwa Riko akan datang membawa sesuatu,

Terlalu lama, si ibuk itu mendekati mobil, menarik kaki Lindu dari kursi belakang, 

wanita itu tampak sangat murka, beberapa kali dirinya menyebut “penyakit” dan hal itu membuat Mira marah, Mira mencoba menghentikan perlakuan kasar wanita itu, namun, dirinya menatap Mira sengit lalu berujar, “nyowo adekmu, opo nyowomu?” (nyawa adikmu apa nyawamu?)

Mira baru sadar, di sekeliling mobil sudah di penuhi wanita yang menatapnya marah, Riko hanya menggeleng pada Mira, dirinya tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini,

“Koen wes di enteni ambek Baduh, mbak Mira” (kamu sudah di tunggu Baduh di dalam, mbak Mira) 
Mira melangkah turun, semua wanita mendekati mobil memaksa Lindu keluar dari sana, sedangkan Mira mengikuti satu di antaranya, dirinya berbicara kepada Mira “Semalam Baduh mimpi, katanya yang akan membawa bagebluk akan mampir ke rumah ini” ucap si wanita, “namanya Mira”
“Bagebluk?” tanya Mira, dirinya mengangguk mengkoreksi kalimatnya “bencana mbak maksudnya”
Mira menatap pintu joglo dan saat itu juga dirinya merasakan perasaan paling tidak enak, ada sesuatu yang benar-benar gelap di sana, dada Mira terasa sangat sesak, “ini baru pembukaan mbak, kamu lebih sakti”
“Aku? sakti?” wanita itu mengangguk, “nanti baduh yang akan jelaskan semua, alasan kenapa mbahmu sampai melakukan ini, tapi sudah waktunya, dari timur angin sudah gelap, ada yang akan terjadi, saya saja sudah gak tidur selama berhari-hari, darah sudah di teteskan di timur” ucap si wanita
 
Mira mengikuti si wanita, masuk ke dalam rumah, aroma lumpur tercium dari setiap sudut, banyak pintu kayu terlihat di depan Mira, si wanita menuntun sementara Mira semakin merasa nyeri, kepalanya seperti di tekan dengan keras, “sedikit lagi, di tahan mbak” katanya.
 

Mira menelusuri lorong rumah, dirinya di tuntun perlahan- namun Mira selalu mendengar jeritan dari setiap kamar, suara memekikkan mereka membuat Mira semakin merasa terbebani, “Ndak usah di dengar” kata si wanita,

“Tempat apa ini”

“Omah Ruwut” (rumah tenung) Mira berhenti di salah satu kamar, dirinya penasaran dengan apa yang terjadi di dalamnya, tak ada apapun di sana kecuali sebuah ranjang kosong dengan seorang lelaki yang tengah duduk membelakangi pintu, Mira tertuju pada sosok lelaki itu, dirinya hanya diam, diam, sebelum perlahan tubuh lelaki itu bergerak, dirinya memutar tubuhnya perlahan-lahan, Mira memekik ngeri menatap tubuh lelaki itu berputar, menatapnya kosong, seketika pintu di tutup si wanita melihat Mira, “sudah tak bilang, ini omah ruwut mbak”

Mira mengangguk, wajah lelaki itu masih terbayang jelas di dalam kepalanya. “di sini mbak tempatnya”
Mira menatap sepasang pintu, guratan kayu di pintu tampak begitu usang, berbeda dengan pintu-pintu yang lain di dalam rumah ini, tidak hanya itu, pintu ini sengaja di rantai seakan tidak sembarang orang bisa memasukinya,”Baduh” katanya sembari menyeringai 

“Monggo” katanya seraya menunduk mempersilahkan, Mira melangkah masuk, yang dirinya dapati di dalam ruangan itu adalah sebuah kamar tertutup dengan alas tanah, di setiap sudut Mira melihat gabah padi tergantung, tak hanya itu, Mira juga melihat tebu yang saling di ikat, ruangan ini lebih terlihat seperti gudang pangan di bandingkan sebuah kamar, wanita tersebut menutup pintu sebelum merantainya, Mira hanya menatap kesana-kemari sebelum matanya melihat sesuatu di balik tembok lusuh, ada ruangan lain dengan ranjang bertirai transparan, di dalam ranjang bertirai itu, Mira melihat, seseorang di dalamnya.
“Ayok mbak” ucap si wanita, menuntun agar Mira mendekati ranjang misterius itu, “Sudah waktunya kamu tahu semuanya” 

ruangan tersebut sangat pengap, sejauh mata memandang Mira hanya melihat tumpukan hasil bumi yang seperti tidak pernah di sentuh, di letakkan begitu saja memenuhi ruangan ini,

“Ini semua ucapan terima kasih dari orang-orang” kata si wanita, “Ndak usah di perdulikan” 

Mira berdiri menatap sosok di balik tirai tersebut, dirinya berselimut karung gabah, seakan sedang bersembunyi membuat Mira begitu penasaran dengan sosok di baliknya

“Silahkan duduk mbak” ucap wanita itu, meletakkan kursi kayu di depan ranjang sebelum mendekatinya seperti tengah menguping 

“Beliau bilang, selamat datang nduk” kata si wanita seakan menerjemahkan sosok misterius itu, “Wes wayahe awakmu menuhi janji bapakmu ambek padusan pituh” (sudah waktunya kamu memenuhi janji bapakmu dulu pada pemandian ketujuh)

ia kembali berbisik, dan wanita itu mengangguk,  “wes suwe mbahmu matusono nggarahi awakmu lali, sak iki, aku takon, awakmu purun ngelakoni Sirat nang kene” (sudah lama nenekmu membisiki dirimu membuatmu lupa dengan semuanya, sekarang aku tanya, kamu mau saya membuka ingatanmu)

Mira menggelengkan kepala, bingung  “nenekmu” kata si wanita, “Dia yang membuatmu lupa semuanya, dia melakukan itu dengan alasan yang hanya dia sendiri yang tahu, sekarang Baduh mau bantu kamu kembalikan sowok yang di tanam” “pertanyaanya, kamu mau atau tidak?”
“Saya di sowok oleh nenek saya sendiri?”Ia mengangguk  Mira menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dia dengar, “Nenek saya sudah lama meninggal, sejak saya masih kuliah”

“Begitu” si wanita tersenyum, “Jadi karena itu, sebenarnya, aku akan memberitahumu sesuatu dan mungkin ini menganggumu, ingat di mana kamu tinggal dulu?”  tiba-tiba Mira tersadar, dirinya melupakan sesuatu, benar, rumah, dirinya tidak ingat apapun tentang rumah
“Kenapa?” wanita itu mendekati, “Kamu lupa?”Mira menatap si wanita, “Bahkan kamu tidak akan bisa menjawab pertanyaanku yang ini,” “Alasan apa kamu tetap membayar kost-” 

“Tempatmu tinggal dulu, padahal, kamu sudah lama tidak tinggal di sana?”

Mira teringat dengan tempat itu, “kost?”

“Iya, kenapa?”

“Entahlah, karena aku suka tempat itu” jawab Mira,  si wanita tersenyum, dirinya mendekati sosok bernama Baduh tersebut, mendengar saat dia kembali berbisik, “kata Baduh, kamu menyembunyikan sesuatu di sana, sesuatu yang teramat penting, sehingga nenekmu sampai melakukan itu”

Mira menatap sengit mereka, “Apa tujuan kalian sebenarnya?”  “menuntunmu nak, menuntunmu menuju takdir besarmu, takdir di mana kamu akan bertemu dua dari mereka, Codro dan..” Sebelum wanita itu bicara, sosok itu tiba-tiba berteriak sangat keras,
“OJOK SEBUT JENENGE IBLIS-IBLIS IKU” (JANGAN MENYEBUT NAMA IBLIS-IBLIS ITU) si wanita diam.
“Uripmu bakal abot nduk” (hidupmu akan sangat berat) kata sosok itu, dirinya mengulurkan tangan melambai meminta Mira mendekat, Mira tercekat menatap tangan sosok itu begitu kecil, begitu kurus, begitu pucat, makhluk apa yang ada di depan Mira ini, Mira belum bisa melihat wajahnyanya “mreneo nduk, mrene” (kesini nak, kesini)
Mira menatap si wanita, dirinya mengangguk seakan mengatakan kepada Mira tidak akan ada yang terjadi, Mira pun mendekat, dirinya merasakan tangan mungil itu membelai rambutnya, Mira bisa melihat satu bola mata kecil di wajahnya, 

“ngelawan siji ae sewu nyowo gak cukup, opo maneh koen nduk, sing bakalan ngadepi loro menungso rai iblis model ngunu” (melawan satu saja seribu nyawa gak cukup, apalagi kamu nak, yang akan melawan dua dari mereka, manusia berwajah iblis seperti mereka)

Mira hanya diam mendengarkan, Rasanya dingin, saat tangan kecil itu menyentuhnya Mira gemetar, sesuatu perlahan-lahan kembali, dirinya ingat dia pernah menulis sesuatu, tidak hanya satu namun berlembar-lembar kertas, sesuatu yang perlahan menyeruak naik,

“Wes iling?” (sudah ingat?) tanya sosok itu, 

“Di bawah ubin Kost saya, di sana semua di tanam” ucap Mira,

Di bantu si wanita sosok itu perlahan membuka karung gabah, dan Mira melihatnya, wajahnya hancur seperti korban kebakaran, kakinya jauh lebih kecil di bandingkan badan dan kedua tangannya yang semuaya kurus kering, 

dia menatap Mira iba,

“Hitam?” kata si wanita, “inilah akibat bila manusia kalap dengan warna hitam”

“Beliau dulu adalah satu dari orang yang pernah menjaga padusan pituh, meskipun ia tidak mengenal bapakmu karena memang setiap tahun beregenerasi, tapi satu yang beliau tahu” 

“bapakmu tidak memenuhi janjinya sebagai seorang Kuncen”

“Kuncen?”

“Setelah ini, hidupmu akan semakin berat nak, sangat-sangat berat sampai kamu ada di titik ingin mati, dan saat hari itu datang, pilihan itu akan muncul dan di sana takdir kami di pertaruhkan”  “tinggalkan adikmu di sini, kami yang akan menjaganya, pergilah ke tempatmu tinggal, cari apa yang harus kamu cari, lalu pergi” kata si wanita,

“Tak jogone adikmu nduk, tujuanmu siji, golekono Rinjani””Rinjani?” tanya Mira,

“Pergi” sahut si wanita, Mira meninggalkan tempat itu, 

Mira menemukan Riko tengah duduk, saat dirinya melihat Mira dia mendekatinya, “Lindu gak papa, dia ada di kamar sedang tidur”

“Antarkan aku” kata Mira,
“Kemana?”
“Ke tempat kost’ku, aku mau ambil sesuatu di sana”

“Apa?” Riko tampak penasaran,

“Takdirku” jawab Mira, Malam itu, mobil Riko menembus kabut, belum pernah Mira memaksa dirinya sampai seperti ini, tak ada yang tahu apa saja yang Mira dengar karena setiap kali Riko bertanya, Mira seakan tidak ingin membahas semua itu, dirinya hanya bilang ada sesuatu yang harus dirinya pastikan di tempat kost itu.

“Kenapa gak nunggu besok aja, lagian butuh waktu buat sampe di sana” kata Riko setengah hati, Mira hanya diam dirinya lebih banyak melamun, “Mir, denger gak sih omonganku!!” sahut Riko namun Mira tetap diam, dirinya tertunduk sebelum, “Rinjani sudah mulai” ucap Mira seperti berbisik,
“Rinjani” kata Riko mengulangi, “kamu gak papa Mir” sahut Riko menyentuh bahu Mira, mobil melaju tenang, jalanan tampak sepi namun ada sesuatu yang membuat Riko merasa ganjil saat mendengar nama itu, Mira tetap tak menjawab, dirinya masih menunduk sembari terus bergumam aneh, gumaman Mira terdengar mengganggu, Riko terus menggoyang badan Mira, namun gadis itu tetap menunduk.
Dirinya terus menerus bergumam sebelum, hening, hening sekali hingga Riko bisa mendengar nafasnya sendiri, Riko tampak merasa aneh, sesuatu telah terjadi, dan itu benar-benar mengerikan tak beberapa lama Riko melihatnya, sekelebat bayangan putih sebelum menjalar membuat Riko tersadar, di sepanjang jalan tepat di samping ketika mobil melaju, berbaris anak-anak perempuan berambut panjang, berdiri mematung sejauh mobil terus melaju, Riko menoleh pada Mira, namun, Mira sudah melotot menatapnya, tersenyum menyeringai layaknya bukan Mira yang dirinya kenal.
Dirinya mencengkram tangan Riko, membanting setir sebelum mobil terpelanting hebat, Mira berteriak dengan suara paling memekikkan, “OJOK GOWO CUCUKU!!” (jangan bawa cucuku!!) 

Untungnya Riko masih mampu mengendalikan mobil, dirinya menghantam kepala Mira dengan sikunya, meski mobil sempat keluar jalan Riko berhasil menginjak rem kuat-kuat, dirinya menatap Mira pingsan dengan darah di kening,

“Asu!! meh mati aku!!” (Anj*ng!! hampir saja aku mati!!)

Riko melangkah keluar dari dalam mobil, dirinya menatap ke sekeliling, tak di temui lagi sosok anak kecil yang menatapnya di tepian jalan, Riko tampak bingung, kejadian yang baru menimpanya benar-benar kacau, dirinya mendekati kursi Mira, membuka pintunya, mencoba memastikan keadaannya,
“Mir, Mir” panggil Riko, namun perempuan itu tak menggubrisnya, Riko semakin bingung, tiba-tiba Mira membuka matanya mencekik leher Riko, Riko tercekat kaget sebelum memukul wajah Mira hingga perempuan itu benar-benar tak sadarkan diri, “Mati arek iki” (sial, mati anak ini) batinnya, saat itu juga Riko masuk lagi ke dalam mobil, tanpa membuang waktu dirinya meninggalkan tempat itu
dirinya tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya, dan itu semua sepertinya berhubungan dengan tempat yang akan dirinya tuju, apapun itu, Riko harus mencari tahu ada apa di sana.
 
Pagi sudah datang, sepanjang malam Riko tak beristirahat, meski pertanyaan itu masih berputar di dalam kepalanya dirinya berusaha sesekali melirik Mira yang masih terlelap dalam tidurnya, ketika jalanan sudah mulai ramai, Mira membuka mata, hidung dan keningnya nyeri, dirinya menatap Riko, “kenapa?” tanya Mira, dirinya mengelap darah di hidung dan keningnya, “ada yang terjadi sama aku?”
Riko menatapnya sesekali sebelum tersenyum kembali memandang jalanan, “gak ada kok. semua aman”Mira mengangguk,  “ini tempatnya” kata Riko setelah memasuki sebuah gang,

Mira mengangguk, mobil perlahan mendekat, Mira bisa melihat pagar besi yang dulu sering ia lewati saat malam ketika ia belum selesai menyelesaikan tugas di kampus, dirinya masih ingat tempat ini namun dirinya tidak ingat ada apa disini Mira melangka4h turun dari dalam mobil, Riko mengikuti, perlahan mereka berjalan mendekati tempat itu, sesekali Riko menatap ke sekeliling, tidak ada yang aneh dari tempat ini, Mira menyalakan lonceng, seorang ibu-ibu mengamatinya dari jauh, “neng Mira ya” katanya seraya mendekat,

Mira tersenyum menatapnya, dirinya membuka pagar, pandangan Mira langsung tertuju di kamar mana tempat dulu dirinya tinggal, tiba-tiba perlahan ingatannya kembali, namun samar-samar

“Saya kira kamu ndak akan kesini, ibu itu bingung, kenapa kamu masih bayar kost padahal sudah ndak di sini” 

Mira hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa, dirinya melewati ibu itu yang masih menatap Mira heran,

“Mungkin Mira suka dengan tempat ini buk, jadi dia gak rela kamar bersejarahnya di tempati orang” sahut Riko, si ibuk tampak tidak puas,

“Kuncinya mana buk?” tanya Mira tiba-tiba  “oh iya” sahut si ibuk, dirinya memberikan kunci pada Mira dan perempuan itu langsung menuju ke sana, Riko segera menyusul, meski si ibuk masih mengawasi namun Mira tak peduli, harga sewa di sini setidaknya cukup untuk membayar ganti rugi ingatannya, “di sini tempatnya” kata Riko, hal pertama yang dirinya rasakan saat masuk ke dalam kamar kecil ini adalah aroma debu yang menusuk, tak hanya itu, tempat ini benar-benar buruk untuk jadi tempat tinggal, Mira melihat Riko lantas dirinya bertanya “linggisnya mana?”

Riko menatap heran, “Linggis” 

Riko kembali dengan 2 linggis di tangan, dirinya cepat-cepat mengunci pintu, “mau hancurin lantainya, kalau ketahuan, bisa di polisikan kita”

Mira tak menggubris, dirinya sedang asyik memeriksa lantai keramik, seakan sedang mencari sesuatu Riko menatap ke sekeliling tiba-tiba dirinya tertuju pada papan tulis di tembok. aneh, pikir Riko, untuk apa papan tulis itu di balik, Riko tersadar saat Mira memanggilnya, dirinya sudah ada di dapur, meminta Riko memberikan Linggis sebelum dirinya menghantamkannya di lantai, Riko pucat sudah lebih dari setengah jam Mira menghantam lantai-lantai keramik, Riko terus mengawasi pintu, bukan tidak mau membantu, sejak tadi di luar ibu kost mondar-mandir membuat Riko yang semakin pucat, dan semua terbayar saat Mira mengatakannya, “di sini!!” Riko mendekat,  “Ini apaan?” hal pertama yang Riko katakan saat melihat sebuah kotak kayu di simpan di dalam lantai berkeramik,

“Gak tau” kata Mira,”Lamu yang tanam!! hebat betul nanam beginian di sini, yang ngeramik kamu juga”

Mira tak peduli, dirinya membuka kotak itu, dan di sana ia menemukannya lembaran foto-foto tua saat Mira masih kecil, di belakangnya ada seorang lelaki berkumis yang di tenggarai adalah bapak, Mira membuka lembar-per lembar, bapak mengenakan pakaian adat putih seakan menasbihkan dirinya benar-benar seorang kuncen, Mira terus mengamati sampai, dirinya berhenti di sebuah foto, bapak bersama 6 orang lain dengan pakaian yang sama berpose di sebuah tempat dengan rumah tua di belakangnya, di depannya ada seorang lelaki mengenakan pakaian hitam duduk di depan sendirian, foto orang itu di coret dengan spidol hitam,

“Siapa Mir?” Riko merebutnya namun Mira hanya diam,

Riko mengamati foto itu sebelum menaruhnya lagi, “Untuk apa kamu ngubur ini semua”

Mira terus menggeleng, ia tidak tahu harus menjawab apa, semuanya masih samar. 

Riko mengambil sebuah buku tua dari kotak itu, namun Mira justru berdiri, matanya tertuju pada papan tulis terbalik di tembok, “Bantu aku angkat papan ini” katanya, Riko tidak mengerti namun ia setuju membantu Mira,

saat mereka membalik papan itu, Riko tercengang melihatnya, 

“Sejak kapan kamu buat ini?” kata Riko mengamati setiap detail yang ada di dalam papan,

Mira mencoba mengingat-ingat, samar -samar semuanya kembali, setiap malam Mira mengerjakan ini, namun dirinya sendiri tidak tahu menahu kenapa mengerjakan hal-hal seperti ini, Riko mendekati, dirinya masih takjub mengamati setiap coretan dan kertas-kertas yang tertempel, ada banyak sekali tulisan yang Riko tidak mengerti, salah satunya adalah Padusan pituh dan, “Rinjani”

“Apa itu Rinjani?”Mira menoleh menatap buku, mengambilnya, membuka lembar per-lembar, sebelum sampai di satu titik halaman, Mira menunjukkan pada Riko, di sana dirinya melihat coretan gambar dari tangan, seorang wanita berambut sangat panjang tengah duduk meringkuk di kelilingi gambar gadis kecil, di atasnya tertulis jelas “RINJANI” meski hanya sebatas coretan, Riko bisa merasakan sensasi tidak mengenakan saat menatap gambar itu, dirinya merasa merinding, Mira menatap papan lagi, menunjuk satu persatu titik yang di hubungkan dengan benang-benang itu, lalu berbicara pada Riko, “Istilah ini semua apa ya artinya?”

Riko menoleh ikut mengamati, banyak istilah yang di tulis dengan aksara jawa di bawahnya Riko hanya membaca beberapa hal yang tidak dirinya mengerti seperti,

“Gundik-colo” “lemah layat” “sewu dino” “janur ireng” namun anehnya, semua benang mengarah pada satu titik,
titik terakhir, ROGOT NYOWO?

“Mir, aku ngerasa gak enak sama semua ini, kayanya kamu harus berhenti”

“Sebentar” Mira merobek salah satu sobekan kertas di papan, dirinya menatap Riko sembari menunjukkan, “satu keluarga di bantai di malam pernikahan, inget gak sih ini tentang apa?”

“Janur ireng?”

Mira mengangguk 

“Sepertinya aku mengumpulkan sesuatu, tapi aku lupa ini apa!!” Mira tampak berpikir keras namun semakin keras dirinya mencoba mengingat, rasa nyeri itu kembali, “mungkin gak sih semua ini pernah terjadi? maksudku di belahan lain ada hal ini, koran ini misalnya, untuk apa ku robek?”  Mira mengambil buku itu lagi, melihat lembar per lembar, hingga terdengar suara pintu di ketuk, Riko dan Mira tercekat,
“Tunggu di sini” kata Riko, dirinya mendekati jendela, mengintip siapa yang sudah datang, rupanya ibu kost, Riko bersiap membuka pintu tapi tiba-tiba Mira menariknya dirnya menyeringai lagi, melotot menatap Riko, “Ojok di bukak” (jangan di buka) katanya,
Riko terdiam, pintu terus menerus di ketuk, sementara Riko tidak mengerti apa yg terjadi, “nduk bukak nduk” (nak buka nak) teriak ibu kost,Mira hanya diam berdiri melotot menatap pintu, 

Riko bergerak mundur, sementara pintu terus menerus di ketuk, dirinya tak pernah merasa ada kejadian sejanggal ini, sebelum, hening

Riko menelan ludah, dan pintu di buka perlahan, hal pertama yang Mira lakukan adalah menerjang wanita itu, dirinya mencengkram lehernya, berusaha membunuhnya 

“Putuku ra melok urusan iki, culno ben aku ikhlas ra onok nang dunyo iki!!” (cucuku tidak ikut urusan ini, lepaskan biar aku ikhlas tidak di dunia ini lagi)

Namun wanita itu tertawa, tawanya begitu aneh, suaranya seperti seorang lelaki, “Ra isok, aku butuh putumu” (tidak bisa) 

(aku membutuhkan cucumu)

Mira berteriak keras sekali, namun wanita itu tertawa semakin keras, Mira mencengkram terus menerus lehernya, Riko yang awalnya diam, menarik Mira mencoba melepaskan cengkraman itu, “Edan!!” (gila) “bisa-bisa mati nih orang” 

namun Mira terus melawan, semua kejadian gila itu membuat semua orang berkerumun sebelum memisahkan mereka,

“Mari iki, suwe ta gak, putumu bakal marani aku dewe, ben dek ne sing milih” (sebentar lagi, lama atau tidak cucumu sendiri yang akan mendatangiku, biar dia yang pilih) 

wanita itu tersadar, dirinya menatap semua orang sebelum bertanya apa yang terjadi, Mira pun sama, dirinya tidak tahu kenapa semua orang berkerumun di sini, hari itu juga Riko membawa Mira pergi,

“Nanti ku jelasin apa yang terjadi” kata Riko, 

Riko sudah meletakkan papan itu di dalam rumahnya, dirinya masih tidak dapat berkomentar bagaimana Mira bisa mengumpulkan semua ini, “Pantas kamu di terima jadi jurnalis, lha wong ngumpulin ini saja kamu bisa”

Mira tak perduli, dirinya terus menerus membaca buku tua itu, 

“Dulu ibuk pernah bilang, ada ilmu yang namanya rogo sukmo, dan nenekku katanya bisa itu” jelas Mira,

“lha tapi nenekmu sudah lama mati kan?” kata Riko “Dia sudah gak butuh ilmu itu lagi, dia bisa masuk sewaktu-waktu”

“Bukan nenekku, tapi yang merasuki ibuk itu, dia pasti bisa” 

“Kadang aku mikir” kata Riko, “Ini semua ilmu kejawen ya”

“kayaknya iya”

“Bagaimana kamu bisa mengumpulkan ini semua?”

“Entahlah” ucap Mira, lembar perlembar sudah Mira baca, semua itu menceritakan Rinjani yang tinggal di sebuah gunung di jawa, namun bukan gunung Rinjani Mira berdiri mengangkat tas’nya, “Kayanya aku harus pulang ke kampungku, ada yang mau aku cari”

“Eh goblok” sahut Riko, “Gak dengerin aku tadi ngomong apa?”Mira hanya diam, “Dia bilang nanti kamu sendiri yang akan mencari dia, lebih baik jangan Mir, firasatku gak enak” 

Mira tidak perduli, dirinya mendekati sahabatnya itu “Aku titip Lindu, sampein ke mbak Stela juga, Aku cuti”

Riko tetap tidak setuju, dirinya mencengkram tangan Mira, namun perempuan itu menatapnya sengit, “Ini penting, lepasin”

“Aku ikut” kata Riko,

Mira menggeleng menjawab “Gak!!”  “Kalau ada apa-apa kabarin saja” kata Mira, dirinya melangkah ke luar rumah, sudah lama Riko tidak melihat mata Mira seserius ini, Mira memang perempuan yang keras namun justru hal itu yang membuatnya berbeda di antara yang lain, Riko mencoba mengerti, dirinya melihat bayangan perempuan itu pergi stasiun sangat ramai, sembari menunggu kereta datang Mira duduk sembari beberapa kali dirinya membolak balik lembaran dalam buku itu, mencoba mengingat detail yang dirinya lupakan, namun sayangnya tak ada yang bisa di ingat, Mira tersadar saat ada seorang lelaki mendekatinya, bertanya kepadanya,

“Mbak punya korek ndak?” kata lelaki itu, “buat ngerokok”

Mira melihat lelaki itu sengit, tak menjawab pertanyaanya,
Si lelaki beringsut mundur takut, dari jauh lelaki lain berambut gondrong memanggilnya, “Rus, ayok, bis e wes tekan” (Rus, bisnya sudah datang) si lelaki menatap kawannya sebelum dirinya menatap perempuan itu lagi “Jangan galak-galak mbak, ndak dapat jodoh nanti”

“Ruslan asu!! telat kene” (Ruslan Anj*ng!! nanti telat kita)”Iyo Agus Asu!!” kata lelaki itu, dua orang aneh itu perlahan pergi, Mira menatap kereta sudah datang, 

Mira melangkah masuk ke gerbong, dirirnya menatap pemandangan itu untuk terakhir kalinya, ia siap dengan semua yang sudah menunggunya, dirinya harus mencari tahu siapa Lindu dan dia di kampung halamannya. Cerita Misteri Padusan Pituh
Sumber: Threadreader

Jangan Baca Sendirian Inilah Cerita Makam Kemangi Kendal

Cerita Makam Kemangi Kendal Yang Sangat Terkenal Dan Juga Sangat Angker

Cerita Makam Kemangi Kendal. Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah sampai di kota Weleri Jawa Tengah tepat nya di tempat wisata sekucing, telisik punya telisik banyak masyarakat sekitar menceritakan tentang kejadian aneh di wilayah pantura, selain di Selamaran Pekalongan hingga batang, yang terkenal yaitu Dewi Lanjar sang pengusa pantai laut utara, tapi di sini saya posisi dalam perjalanan berpetualang di wilayah Weleri, dan cerita ini tidak kalah angker nya dengan cerita misterinya Dewi lanjar, yaitu di Kemangi, maka ku ayunkan kaki ku menyusuri pantai utara dari sekucing Weleri hingga sampai tiba di Desa Jungsemi kecamatan Kangkung, tidak sengaja saya berhenti di pemakaman umum dan termenung sendirian di makam umum ini, dalam hati saya bergumam mana makam yang angker itu…..? dan dalam ketermenungan tiba2 saya di kejutkan kedatangan salah seorang Bapak, dan menegor ku, Mas dari mana……? jawaban saya dari semarang Pak……..?

Bapak itu bertanya lagi kenapa sampai di sini Mas….? lalu kujawab lagi…saya adalah se orang pengelana Pak, dan dengar tentang misteri-misteri makam kemangi, lalu Bapak itu mengernyitkan alisnya, dan memandangi dengan tajam, lalu kami berkenalan, berjabatan tangan Bapak itu menyebutkan nama nya Saturi atau dengan sebutan Kyai Saturi, juru kunci makam Kemangi, lalu aku memperkenalkan nama ku Gustaaf Adolf Akiaar, Bapak Saturi terkejut dengan nama ku yang kelihatan asing, dan tidak umum di jawa lalu aku ceritakan tentang geografi saya, bahwa saya kakek dari Ambon sedang Nenek saya dari keturunan cina, dari Kudus jawa tengah, lalu Bapak saya nikah sama orang jawa solo Pak.

Baru Bapak tersebut memahami nya, kemudian saya bergantian Bertanya Pak di mana letak makam Kemangi….? Bapak juru kunci tersebut menjawab dengan tenang nya, ini Mas di sini lah Makam yang Mas cari lalu aku begumam dalam hati apa yang angker…..? lalu Bapak tersebut menceritakan kejadian-kejadian nyata yaitu salah se orang sopir Daeler Mobil mengantarkan pesanan Mobil, di Desa Kemangi aneh nya sopir tersebut tidak pernah kembali, lalu menanyakan pada sang kepala desa, dan ditunjukan rumah kepala desa dan kisah anak kepala desa, tapi dengan heran dan terkejut kepala desa tersebut.

Menceritakan bahwa anak nya telah meninggal sudah beberapa tahun yang lalu, dengan bantuan masyarakat serta juru kunci, memohon pada sang penguasa makam kemangi dengan adat kejawen nya, serta tak ketinggalan dengan mantera-matera atau doa-doa secara islami, dan beberapa lama sopir tersebut kembali ke alam nyata atau alam manusia, lalu sopir tersebut menceritakan bahwa di alam goib hampir sama dengan alam nyata bahkan lebih mewah dan enak di alam goib, kata nya di sana semua serba mewah, lalu sang juru kunci menceritakan lagi lebih terperinci lagi tentang sejarah-sejarah Kemangi pada masa kerajaan di tanah jawa. Cerita Makam Kemangi Kendal

Jika kita telisik lebih awal, asal nama Kendal merupakan berasal dari nama sebuah pohon, yakni pohon kendal. Di masa Kerajaan Demak atau pada 1500 – 1546 Masehi.

Tepatnya disaat Sultan Trenggono berkuasa, Pohon kendal ini  sudah sangat di kenal di kalangan masyarakat. Pohon ini memiliki ciri yaitu berdaun lebat dan rimbun. Atas keindahan dan kerindangan pohon kendal, membuat Sunan Katong terpana melihatnya.

Sejarah Kendalsari
Alkisah, atas keterpanaanya melihat pohon kendal nan “Sari” itu, beliau berkata sambil memandangi pohon tersebut bahwa nantinya daerah itu akan di sebut sebagai “Kendalsari”.

Pohon raksasa itu juga di sebut Kendal Growong. Yang mana jika di perhatikan pohon tersebut memiliki batang yang berlubang. Atau jika orang jawa mengatakan Growong (Berlubang).

Selain sejarah pohon kendal tersebut, juga ada peninggalan lain di kendal yang kisah sejarahnya tak kalah mengesankan, Petilasan ini di kenal oleh Masyarakat sebagai Petilasan Makam Kemangi yang mana berada di wilayah Weleri, Kendal.
Saat di temui, Kyai Saturi, yang merupakan Juru Kunci Makam Kemangi menuturkan, dahulu sebelum menjadi kuburan, di sana memiliki nilai sejarah yang kental dengan Serangan Sultan Agung ke Batavia. Sultan Agung merupakan Raja Mataram Islam.

Kyai Saturi bercerita bahwa dulunya tempat tersebut merupakan lokasi pertemuan antar tokoh-tokoh, yang mana para tokoh ini rapat untuk mengatur strategi yang mana di tujukan untuk penyerangan ke Batavia.

Kemudian Kyai Saturi melanjutkan bahwa pada waktu itu sesaat setelah Sultan Agung membuat keputusan untuk berperang melawan Belanda di Batavia, Sultan memimpin dan memanggil semua para pembesar seperti tumenggung, adipati dan tokoh-tokoh dalam kerajaan Mataram.
Hasil rapat dan masukan dari para adipati menghasilkan keputusan Final yaitu Perang melawan Belanda harus di laksanakan.

“Pimpinan perang pun diputuskan, dan juga panglima perangnya, yaitu Tumenggung Bahurekso, Adipati Kendal, dan Gubernur Pesisir Laut Jawa,” cerita kyai saturi.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

41 74 72 76 47 42 46 61 67 62

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

92 91 97 94 72 74 71 42 41 47

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

89 84 81 87 19 14 17 79 74 71

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

69 67 64 62 49 47 42 29 27 24

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

30 39 37 34 70 79 74 40 49 47

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

04 08 02 05 24 28 25 54 58 52

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

93 95 91 98 51 53 58 81 83 85

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

28 26 25 24 68 65 64 48 46 45

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

04 06 05 08 54 56 58 84 86 85

SELENGKAPNYA

Pada waktu itu, Bahurekso mengambil keputusan bahwa segala macam persiapan pertempuran melawan Belanda tidak di laksanakan di pendopo kabupaten. melainkan di suatu tempat yang mana tempat tersebut dekat dengan Pantai.

Peserta rapatpun bersepakat untuk merahasiakan tempat pertemuan tersebut. Yang mana akhirnya hasil kesepakatan tersebut memilih lokasi di tengah hutan, di bawah pohon nan rimbun, yang mana saat ini di kenal oleh masyarakat sebagai Pohon Kemangi.

Pohon tersebut saat ini berada di pemakaman atau di tengah tengah persawahan. Hingga pada akhirnya pemakaman ini terkenal akan kekeramatanya yang terletak di wilayah Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung

Kisah Nyata Mistis
Berbagai macam hal mistis dan ganjil banyak di temukan di sini, yaitu di petilasan kemuning. Hal ini yang membuat pasangan suami istri dari desa lain penasaran.

Pasangan suami istri ini akan membuktikanya sendiri keangkeran Makam Kemangi. Mereka belum tahu lokasi makam tersebut namun mereka tetap bersemangat untuk mencari lokasi tersebut.

Ia sesekali bertanya kepada warga sekitar sontak saja orang-orang yang mereka tanyai kaget bukan kepalang. Mereka menjawab dengan kata-kata saja dan tidak berani menunjukan jari atas arah lokasi tersebut.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan atas arahan warga. 100 Meter sebelum jalan mengarah makam tersebut mereka bertemu dengan 3 anak kecil. Anak kecil tersebut menanyakan apakah mereka akan kekuburan kemangi ? sontak saja mereka menjawab Iya.

Pada akhirnya 3 anak tersebut mengantar pasangan suami istri ini ke kuburan kemangi, setelah smpai di makam mereka menoleh kebelakang, berharap akan mengucapkan terima kasih, namun sangat mengagetkan dan membuat mereka merinding ke tiga anak tadi menghilang tak berbekas.

Banyak keganjilan di sana. Sering sekali anak kecil hilang di sana yang kemudian di temukan berada di tengah sawah di sekitar kuburan kemangi. Anak-anak tadi bercerita bahwa mereka berada di sebuah kota yang bangunanya indah banget.

Dan bahkan ada juga kejadian yang sangat mencengangkan, yang mana ada kiriman semen yang katanya akan di pakai untuk membangun Masjid. Semen tersebut 1 tronton penuh.

Namun setelah di terima dan di lihat pengirimanya, ternyata penerimanya tadi adalah orang yang pernah hilang di sekitar kuburan kemangi dan sudah dianggap meninggal dunia,…….inilah Realita cerita Bapak Saturi sebagai Kyai/juru kunci Makam yang angker ini yaitu Kemangi……..anda suka dengan mistik dan misteri2 silah kan mencoba di sini dan buktikan, kira nya cukup sekian, Wabilahhi walaitofiq walhidayah Wasalam Mualaikum Warahmatullahhi wabarakatuhu……….#sonrove colection……putrakelana…….
foto2 ini makam kemangi dan Pak Juru kunci. Cerita Makam Kemangi Kendal

Sumber: SonRove

Kisah Misteri Pasar Setan Gunung Lawu Yang Mengerikan

Kisah Misteri Pasar Setan yang beara di Gunung Lawu. Gunung Lawu yang terletak di antara provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur tentu sudah tidak asing lagi bagi kalangan pendaki. Saat ini, status gunung api tersebut sedang beristirahat. Keindahan alam Gunung Lawu menjadikannya salah satu tujuan pendakian.

Gunung Lawu setinggi 3.265 mdpl ini sering dikaitkan dengan sejumlah kisah misteri. Selain menjadi tujuan pendakian, gunung ini kerap didatangi masyarakat untuk melakukan kegiatan supranatural. Ada berbagai kisah menarik tentang gunung yang dijuluki sebagai pakunya Pulau Jawa ini.

Ada beberapa jalur pendakian yang bisa dilalui untuk sampai ke puncak Lawu, yakni Cemoro Kandang, Cemoro Seru, dan Candi Cetho. Jalur pendakian melalui Candi Cetho menyimpan suatu misteri yang cukup populer, yakni pasar setan.

Kisah mistis tentang pasar setan itu viral lewat foto unggahan akun Instagram @jelajahsolo, Rabu (30/1/2019). Menurut keterangan akun tersebut, posisi pasar setan berada di sekitar pos lima jalur Cemoro Kandang. Saat pendaki melintas, setan akan bertanya, “beli apa dik?” Kisah Misteri Pasar Setan

Konon, jika mendengar pertanyaan tersebut pendaki Gunung Lawu harus menjawab seolah hendak membeli barang yang ada di sekitar. Seperti tanah, daun, air, atau batu. Setelah itu, lemparkan uang ke arah datangnya suara tersebut.

Warganet yang pernah mengalami kejadian mistis saat melintasi pasar setan di Gunung Lawu berbagi pengalaman melalui kolom komentar. Mereka mengaku sangat ketakutan mendengar suara aneh tersebut.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

13 10 17 16 03 07 06 63 60 67

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

20 24 28 27 40 48 47 70 74 78

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

61 64 63 69 31 34 39 91 94 93

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

50 56 51 59 10 16 19 90 96 91

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

29 25 26 28 69 65 68 89 85 86

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

72 73 76 79 32 36 39 92 93 96

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

20 24 29 26 40 49 46 90 94 96

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

23 21 28 29 13 18 19 83 81 89

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

23 26 29 28 93 96 98 83 86 89

SELENGKAPNYA

“Aku juga pernah ngalamin. Dipanggil dari arah belakang, terdengar suara, hai jomblo mampir sini. Seketika saya langsung nangis di tempat,” terang @ahmadardyanto.

“Waktu turun lewat Cemoro Kandang, memang ada peristiwa aneh. Seperti ada yang mengikuti langkah kaki. Suka tiba-tiba terdengar sekumpulan orang banyak, seperti pasar. Tetapi dicari tidak ada orang. Memang angker,” sambung @danielgunawan.

“Kalau aku dulu pas di Lawu cuma dengar suara ribut. Pas lewat pos lima itu. Ribut banget mirip suasana pasar gitu,” imbuh @alishah_diarygram.

Kamis (31/1/2019), pasar setan berada di jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho. Jalur ini memang cukup terjal dan sulit dilalui karena sering ditutupi kabut. Ada banyak cekungan yang sering membuat pendaki bingung hingga tersesat.

Kisah Misteri Pasar Setan sebenarnya merupakan sabana di jalur pendakian Candi Cetho di Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Di tempat itulah sejumlah pendaki mengaku pernah mendengar suara riuh layaknya di pasar. Bahkan, ada yang menawarkan barang-barang. Konon, jika mendengar suara itu, pendaki harus membuang apa saja layaknya sedang bertransaksi jual beli di pasar.

Sumber: JituNews

Mengerikan! Cerita Horor Pabrik Gula Bagian Terakhir

Dijamin Bikin Merinding Dan Tegang Cerita Horor Pabrik Gula Bagian Terakhir

Nah, sesuai janji saya kali ini saya akan menceritakan Cerita Horor Pabrik Gula bagian ke 3 atau yang terakhir. Semoga kalian suka dengan cerita horor ini. Yuk tunggu apa lagi langsung aja di baca dan jangan lupa share ke teman-teman kalian.

Hal yang gak banyak orang tau adalah, saya tidak bisa lihat secara langsung tapi, saya bisa memvisualisasikan sesuatu dari cerita orang lain. lalu bagaimana saya tau tentang gadis kecil yang menunggu pohon beringin?

Endah lah yang memberitahu saya pertama kali akan sosok ini. Sosok yang akan saya ceritakan. Kita balik jauh ke belakang saat saya masih TK disini.

TK ini, di bangun sama persis di samping lahan kosong, bila di lihat dari denah lokasinya cukup jauh dari lapangan tenis, namun, jaraknya cukup dekat dengan pohon beringin.

Nah, pohon beringin inilah yang akan jadi fokus cerita kita sebelumnya, saya mau kasih tau. Sampai sekarang, tanggal 6 maret 2019, pohon beringin ini masih berdiri, termasuk lahan kosong itu yang memang tidak ada yang berani menyentuhnya. jujur, saya pengen ambil gambarnya, biar kalian bisa lihat, tapi, saya harus urungkan. Saya tau, mereka gak suka. Lanjut ke cerita. Ketika saya TK, pohon beringin tersebut memang seringkali mencuri perhatian saya, entah kenapa ada energi negatif yang bikin saya gak bisa mengalihkan pandangan tiap saya melewati halaman sekolah.

TK saya sendiri adalah bangunan peninggalan Belanda, sehingga desainya cukup seram banyak kisah mistis yang simpang siur selama saya bersekolah di TK ini. Salah satunya adalah sosok yang tinggal di pohon beringin tua tersebut, konon kabarnya, ada kuburan anak-anak disana, namun, belum ada bukti bahkan sampai Cerita Horor Pabrik Gula ini saya tulis. jujur, sekarang saya merinding. Namun, kisah lain juga tidak kalah mengerikan, satu yang selalu di ceritakan turun temurun, dahulu beredar cerita bahwa pondasi yang di gunakan untuk bangunan sekolah adalah kuburan kuda.

Jadi, dulu ini adalah tempat penjagalan kuda, dimana kepala dan tubuh binatang tersebut tersebar disini sehingga, setiap malam, Pak abut si penjaga sekolah seringkali mendengar suara kuda meringkih. Ngomong soal suara kuda, Kisah ini berkaitan dengan suara yang di dengar mas Hendra, jadi yang jelas, zona utara adalah zona dimana seringkali di temui suara kuda bergentayangan. Balik lagi ke gedung TK. ada 3 kelas yang selalu di gunakan, yaitu kelas untuk anak 5 tahun yang di sebut nol kecil. sedangkan 2 kelas untuk anak 6 tahun yang lebih di kenal dengan nama nol besar.

Selain 3 kelas tersebut, ada lagi beberapa ruangan, seperti ruangan guru. lalu, ruangan musik, ruangan musik jarang sekali di gunakan bila tidak ada pak Mamat, guru pengajar musik. Namun, banyak beredar cerita yang selalu menarik perhatian saya, di sudut kelas musik, ada sebuah piano kecil, piano tersebut kadang di gunakan pak mamat untuk mengajar. Mengerikanya adalah, seringkali lantunan nada piano di mainkan bahkan di siang bolong sekalipun, yang menjadi masalahnya adalah, setiap kali di lihat siapa yang memainkanya, tak seorangpun duduk di kursi memainkan piano, seolah2 piano tersebut bermain dengan sendirinya.

Gua sendiri belum pernah mendapat pengalaman tersebut, jadi saya anggap itu hanya rumor kosong, termasuk rumor, anak kecil yang suka menunggu di kamar kecil. Tapi, ada satu rumor yang gak bisa saya katakan sebagai omong kosong karena, rumor ini pernah saya buktikan dengan sendirinya. Rumor tentang gadis yang menghuni pohon beringin.

Kisahnya, di mulai ketika saya melihat Endah. Endah adalah tetangga saya, sejujurnya kita sama-sama tidak menyukai satu sama lain, namun, ayah kami memiliki ikatan yang erat sehingga akhirnya saya mencoba bersikap baik dengan dia. Namun dirinya, gk bisa di baca dari luar, sifatnya lebih tertutup dari anak-anak pada umumnya. Disaat anak-anak akan menghabiskan waktu untuk bermain dan bersama teman-temannya. Endah, hanya akan duduk memandang satu titik yang paling saya benci di tempat ini.

Itu adalah pohon beringin di belakang pernah beberapa kali Endah tidak mengikuti kelas hanya karena dirinya terlalu asyik melihat pohon tersebut, sampai guru kami, bu Etik menegurnya beberapa kali. Namun tetap saja, anak itu bertingkah sangat aneh.

Suatu hari, saya begitu penasaran, jadi saya putusin mendekatinya. Saya mencoba mengulik apa yang dia lihat selama ini.

“Opo seh seng mok delok?” (apa sih yang kamu lihat?) kata saya

“Awamu eroh wit ringin iku?” (kamu lihat pohon beringin itu?)

“Iyo” kata saya lagi.

“Onok arek cilik seng ndelok kene sak iki” (ada anak kecil yang melihat kita saat ini)
mendengar itu, perlahan saya bisa memvisualisasikan ucapan Endah menjadi sebuah bayangan.

“Cah wedon” (anak perempuan?) kata saya tiba-tiba

Endah akhirnya melihat saya “isok ndelok tah?” (bisa melihat juga tah?)

Saya langsung pergi, karena entah kenapa, firasat saya langsung gak enak. Itu adalah pengalaman satu-satunya yang saya inget tentang makhluk ini, namun rupanya makhluk ini adalah makhluk yabg sering maen ke desa saya. Karena apa yang terjadi berikutnya, dia merasuki salah seorang warga.

Kejadianya sendiri di mulai siang bolong, ketika saya sedang maen dengan anak-anak, saya denger baru saja terjadi sebuah kehebohan, banyak warga yang mendekat, dan beramai-ramai memenuhi rumah. Penasaran, saya pun mendekat. Rupanya mbah Bun, salah satu wanita tua yang halamanya seringkali saya pake maen, dirinya berteriak-teriak nyaris histeris. suaminya Mbah nang, mencoba menenangkanya berkali-kali, namun, mbah bun rupanya masih terus menjerit-jerit, saya yang sedari memperhatikan gelagat aneh itu akhirnya sadar, mbah bun kesurupan masalahnya adalah, mbah pun terus berteriak dia minta pulang.

“Aku tak muleh, aku tak muleh” (aku mau pulang, aku mau pulang)

Mbah nang akhirnya yang pertama kali bertanya perihal itu. “muleh nang ndi” (pulang kemana?)
“nang omahku” (ke rumahku) jawabnya.

“sopo koen?” (siapa kamu?) tanya mbah nang.

Namun sosok itu melotot, tidak mau menjawab lalu menjerit kembali. Pergolakan itu terus terjadi sampe akhirnya Om saya datang. de no yang merupakan juru kunci di desa saya. Sekali lihat, de no langsung tau, siapa yang merasuki mbah Bun.

“Lapo koen nang kene?” (ngapain kau disini)  tanya de no ketus.

“Aku kate muleh” (aku mau pulang) jawabnya sambil melotot.

“Muleh, tapi koen gowo rogone wong” (pulang, tapi kamu di dalam raga seseorang)

Terjadi perdebadan yang panjang intinya, mkhluk tersebut tidak sengaja kesedot tubuh mbah bun ketika beliau sedang melamun. Untuk itu, saya cuma mau berpesan, hat-hati bila melamun, pikiran yang kosong membuka diri kita utuk lebih muda di masuki.

Setelah terjadi tawar menawar bagaimana makhluk itu keluar, rupanya, dia mau syarat dia mau keluar hanya saja nanti, de no harus mengantarnya dengan cara di gendong di punggung.

De no pun menyanggupi permintaanya, bila di lihat dengan mata kosong, de no seperti berjalan dengan posisi menggendong, namun bagi mereka yang bisa melihat, ada sosok gadis kecil disana sampai saat ini, gadis tersebut masih ada disana, hanya saja, sekarang dirinya tidak lagi suka berjalan-jalan ke desa saya lagi, entah kenapa.

Sekarang, kita menuju ke bangunan gereja 200 meter dari gedung TK, disana terkenal dengan satu Hantu wanita warga menyebutnya dengan.. hantu wanita yang menangis. Namanya adalah Suparlan, biasa di panggil wak parlan, beliau adalah orang tua yang rumahnya berada persis di depan gereja tersebut, kiri kanan rumahnya hanya tanah kosong, disana di tanami berbagai macam tanaman kebun, Ubi, pisang, cabai dan sebagainya. Pernah, beliau bercerita, bila gereja di depan rumahnya memiliki aura mistis yang tidak biasa, bila hanya kuntilanak, pocong atau yang lainya, wak parlan sudah biasa, karena dulu, beliau adalah salah satu pekerja pabrik yang sudah lama pensiun.

Namun, gereja ini lain dari yang lain. Suatu malam, godaan menganggu tidurnya, dirinya di bayangi oleh sosok wanita yang meminta tolong. Cantik, nan menggugah adalah bahasa yang dirinya pakai untuk menggambarkan ayunya wanita ini. Sehingga dirinya terbangun dari tidurnya, kemudian, rintihan menangis menelusup telinganya. Halus nan lembut suara tersebut seolah menghipnotisnya, karena tanpa dirinya sadari, dirinya sudah berdiri di pagar gereja jawi wetan.

Tidak sulit membuka pintu pagarnya, karena memang beliaulah yang di beri mandat untuk menjaga gereja ini. Kini, dirinya tergoda untuk tau, apa arti mimpinya. Di telusurinya lorong demi lorong, pintu-pintu besar dari kayu jati beberapa kali mencuri pandangnya, seolah di guratan yang terbuka itu ada sosok yang sedang mengintipnya, namun, takut bukan kawan baik seorang Parlan, yang konon memiliki ilmu kebatinan.

Rupanya, suara tersebut berasal dari gudang belakang, tempat dimana kursi dan meja rusak di susun ala kadarnya. Dengan gemuruh gelisah, Parlan merasa ada yang ganjil dari ruangan ini. Selama ini, dirinya ke gereja hanya untuk membersihkan rumput dan menyapu lahan dari dedaunan pohon randu. Sehingga, dirinya tidak tau menahu akan apa yang ada di dalam ruangan-ruangan ini.

Setengah hatinya berbisik untuk pergi dan angkat kaki, namun setengahnya lagi, berkata, ada rasa penasaran yang harus di lunasi. Tanganya tua, namun tegas, meski kaki gemetar menopang badan ringkih. Tak kala suara krieeet dari pintu tua terbuka, dirinya hanya melihat ruangan seukuran kamar tidurnya, tidak terlalu besar, namun bedanya, sangat berantakan. Cerita Horor Pabrik Gula

Tak di dengarnya lagi suara tangisan tersebut. Ketika tangan terpatri untuk menutup lagi, sudut mata parlan menatap ujung ruang. Seseorang tengah meringkuk disana, sudut nan gelap mengaburkan kehadiranya, parlah awalnya ragu. Mana ada seseorang disini, dini hari, meringkuk menyendiri.

Parlan mendekatinya, di tepis pikiran buruknya, mungkin dirinya terkunci, dan tidak ada yang mengetahui ucap hati kecilnya. Namun, kaki sudah melangkah, tak ada waktu untuk berbalik kembali.

“Mbak, nuon sewu, panjenengan sinten nggih” (Mbak mohon maaf, anda siapa ya)

Suara gemetar Parlan, menghentikan tangisanya, namun jawaban tak kunjung bersambut, dalam kengerian, ia terjebak di dimensi yang asing. Karena pertanyaan tak dapat jawaban, Parlan menyentuh tangan gadis misterius di depanya. Sampai, wajahnya terangkat, dan Parlan bisa melihatnya dengan jelas, wanita yang ada dalam mimpinya, menangis, merintih, kemudian, menjerit.

Parlan terjerembab, bukan karena jeritanya, namun bola mata gadis tersebut, tidak ada pada tempatnya.

Air mata di pipinya hanya tangisan merah dari darah yang mengalir dari 2 lubang kosong tempat seharusnya bola matanya berada. Yang Parlan ingat hanya dzikir kecil, berharap dirinya sadar dengan apa yang dirinya lihat. Namun, di tengah dzikir kecilnya, wanita tersebut menjerit semakin keras, seolah-olah ia marah, sangat marah, sehingga Parlan akhirnya berlari pergi, dirinya tahu, sedang dalam bahaya.

Setelah kejadian tersebut, Parlan memohon diri, dirinya tidak mau lagi menjaga gereja tersebut dari makhluk yang membuatnya tidak dapat menahan diri. Wanita yang menangis, begitulah warga desa memanggilnya. Malam ini,

Rencanaya, kita mau pergi ke timur, jadi dari zona utara, ke timur lalu baru selatan.

Dari sini saya bakal tulis semua yang paling ganas dan bersingungan dengan desa saya, karena Zona timur adalah tempat yang paling deket dengan desa saya. Di sebelah gereja ada sebuah gerbang besar, tempat masuk keluarnya Truk pabrik. Tahun 2006, 3 tahun pasca saya pernah di incar oleh salah satu penghuni di zona selatan. Saya gak pernah lagi pergi ke pabrik di bagian selatan lagi. Cerita Horor Pabrik Gula

Namun saya masih sering berkunjung di zona lain. Untuk apa?

Jawabanya, mengejar layang-layang. Jadi bila musim adu layang-layang, biasanya saya dan Endah, yang waktu tersebut kita sudah akrab, dan orangnya ternyata cukup menyenangkan. Kami berdua biasa ngumpul di gerbang timur ini. Karena begitu ada layangan yang putus, saya dan Endah siap buat masuk, masuk disini itu masuk ke pabrik.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

59 58 53 57 39 38 37 79 78 73

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

46 48 43 42 86 83 82 26 28 23

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

62 69 68 67 83 89 87 73 79 78

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

28 21 20 27 18 10 17 08 01 07

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

36 34 38 37 86 84 87 76 74 78

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

49 41 46 48 19 16 18 69 61 68

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

23 21 24 27 43 41 47 73 71 74

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

10 16 13 18 60 63 68 80 83 86

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

76 73 75 71 36 35 31 16 15 13

SELENGKAPNYA

Benar dugaan saya, Endah nunjuk ada satu layangan yang putus, tanpa pikir panjang, saya lompat ke pager di ikuti Endah. Buat kalian yang gak tau Endah, dia adalah teman TK sekaligus tetangga sya yang, bisa lihat hal-hal begituan. Kami langsung mengikuti layang-layang yang sesuai prediksi saya masuk ke dalam pabrik. Buat kalian yang bingung, kok tidak ada satpam yang berjaga, karena tahun 2006 adalah 2 tahun pasca pabrik ini akhirnya gulung tikar. Yaitu tahun 2004.

Saya dan Endah langsung berlari. Sialnya, layangan itu masuk ke dalam gudang baru. Di gudang baru, atapnya dulu adalah seng, tinggi sekali hampir lebih dari 40 meter, maklum ini salah satu bangunan peninggalan belanda, jadi gudangnya gak umum tingginya.

Hanya saja, seng-seng yang jadi atap sudah pada berlubang. Saya masih mencari-cari kemana layangan tersebut nyangkut. Saya terus dan terus menatap ke atap, sampai saya denger Endah mengatakan “Assalamualaikum”

Kaget saya waktu denger, karena disana, cuma ada saya, jadi, Endah ngasih salam ke siapa?!

“sopo to seng mok salami?” (siapa sih yg kamu beri salam)

“iki lo, mbah e” (ini loh mbah)

“mbah sopo? (mbah siapa)

Endah gak jawab, lalu ngajak saya jalan lagi, saya, tiba-tiba merinding.

“Metu ae yo” (keluar aja yuk) kata Endah tiba2.

“Lho lapo to, koyok keweden ngene” (loh kenapa sih, kok kaya ketakutan gini)

“seng nduwe nggon iki gak seneng ambek kene” (yang punya tempat ini gak suka sama kita}

Saya yang bisa lihat wajah panik Endah, bingung. Endah bisa takut juga? Akhirnya kami berlari kembali ke gerbang tempat saya masuk, tapi tiba-tiba, saya lihat seekor burung merah, emang dasar saya ini sampe tidak sadar saya ngejar itu burung dan kepisahlah sama Endah. Cerita Horor Pabrik Gula

Rupanya, hal ini membuat saya nyesel seumur hidup bahkan sampe sekarang. Karena Endah harus menanggung akibatnya. Saya ngejar burung itu sampe jauh masuk ke dalam pabrik. Bisa di bilang, di pusat pabrik, samping gedung besar atau bisa di bilang paling besar, di sisi bangunan itu ada cerobong asap pabrik yang paling terkenal.

Saya kaget waktu melihatnya. Saya nyari-nyari Endah, dan saya gak nemuin dia, akhirnya saya menelusuri jalan saya tadi. Namun, saya baru paham apa maksud Endah, di waktu siang bolong, saya merasa tidak sendirian, malah, seperti di pusat keramaian. Cerita Horor Pabrik Gula

Saya emang gk bisa lihat, tapi bila kalian jadi saya, rasanya seperti jadi tontonan saya mulai lari, tapi semakin saya jauh lari ngikutin jalan, semakin saya tersesat. Seolah jalanya ya emang cuma ini-ini aja.

Jantung saya rasanya tidak karuan. Dan saya tidak bisa bayangin seberapa marahnya bapak kalau tau anaknya yang badung ini masuk ke pabrik lagi tanpa beliau tahu yang jelas, ketika saya udah capek. Saya cuma nangis, Nangis di waktu saya udah SMP, sangat memalukan memang, tapi, saya udah di liputi perasaan campur, takut, khawatir, bingung, dan ketika saya nangis, tumpah aja semuanya.

Di tengah-tengah hal tersebut, saya denger Endah manggil saya. Rupanya, itu memang Endah. Dia langsung menggil saya, minta saya pegang bajunya, saya inget Endah cuma bilang. Cerita Horor Pabrik Gula

“wes, ojok delok mburi pokok’e” (sudah, jangan lihat ke belakang pokoknya)

Saya dasarnya emang gampang penasaran, saya, lihat ke belakang, tapi tidak ada apa-apa, kecuali
yang saya pegang, udah bukan baju Endah lagi, lebih ke seperti batang daun kelor, yang di bawa oleh pria tua.

Saya, otomatis kaget untuk beberapa saat, sampe saya bisa nguasai diri saya, karena sepertinya, beliau tidak menyakiti saya sama sekali, tapi lebih ke nunjukin jalan. Saya akhirnya ikut. Saya di bawa ke sebuah gudang baru lagi, disana, saya lihat Endah, tersungkur dengan memegang kakinya, saya yang lihat itu langsung nyamperin, betapa khawatirnya saya, Endah merintih nahan sakit, rupanya, waktu dia nyari saya, dia gk sengaja lompat dari “Bok” (pijakan) padahal, pijakanya tidak tinggi. tapi, kakinya Endah seperti di gebuk sama benda keras sekali. Yang saya inget, di tengah-tengah Endah nahan sakit, dia cuma bilang.

“Celuken mas Uji” (panggilkan saja mas Uji) Mas Uji itu kakaknya Endah, saya tidak paham maksudnya, jadi saya akhirnya lari ke gerbang, belum sampe gerbang, saya papasan sama Mas Uji yang buat saya bertanya-tanya, kenapa orang ini bisa ada disini.

Mas Uji manggil saya. “Loh nang ndi Endah, gak maen ambek awakmu tah?”
(Loh dimana Endah, bukanya kalian maen bareng?)

“Endah tibo mas, nang kono” (Endah jatuh mas, disana) teriak saya. akhirnya lari. Disana, kakinya Endah sudah bengkak sekali. Saya, udah gak lihat kakek-kakek itu lagi. Sesampainya di rumah, bapaknya Endah marah besar sama saya, sehingga hal ini sampe ke telinga bapak, saya di marahin habis-habisan, namun dari semua kejadian itu, banyak hal janggal terjadi. Yang pertama adalah salam dari Endah.

Sejak awal masuk ke gudang baru, rupanya Endah melihat kakek-kakek tersebut menyambut mereka, hanya saja, beliau mengatakan, jangan masuk lebih dari ini, daripada dia tahu. Yang di maksud dia adalah, yang punya tempat ini. Bila saya pikir kembali peristiwa ini, gudang baru hampir di pusat pabrik, dan itu tepat di samping bangunan utama samping cerobong asap, apakah maksud yang punya tempat ini adalah rajanya.

Yang kedua, rupanya ketika saya ngejar burung tersebut, Endah ngelihat saya kaya di rasuki cepat sekali karena ketika Endah berusaha ngejar, saua udah ngilang begitu saja.

Endah panik. akhirnya, dia nyari lebih ke dalam, nah, ketika dia masuk ke tempat ini, dia melihat Naga yang besar sekali, berjaga di bawah cerobong asap, disini Endah ketakutan dan lari meninggalkan tempat tersebut namun, karena begitu buru-buru, dia melompat di beberapa pijakan yang tingginya tidak seberapa, ada yang dari tadi mengincar Endah, sehingga akhirnya kakinya di pukul, Endah sendiri bilang, yang mukul itu, badanya Gemuk, bongsor, punya payudara kaya perempuan, tapi bertaring dan sangat menggerikan tapi, makhluk itu hanya melotot terus waktu Endah sudah tidak bisa jalan.

Yangg terakhir, bagaimana Mas Uji tiba-tiba tau Endah disana, kata mas Uji sendiri, dirinya di jemput anak-kata kecil, mereka bilang adiknya dalam bahaya, dan dia menunjuk ke pabrik.
Mas Uji yang tau dimana Endah biasanya berada segera menyusul, rupanya dugaanya benar, Mas Uji bertemu saya, dan anak-anak yang nunjukin jalan sudah lenyap.

Sekarang, Endah menjadi cacat, dia jalan dengan kaki terpincang-pincang, setiap saya ngelihat dia, saya masih ngerasa bersalah. Namun, Endah tidak pernah membahas hal itu lagi. Karena bisa keluar hidup-hidup darisana itu sudah patut di syukuri, di bandingkan dengan seseorang yang di temukan gantung diri di pohon waru di samping bangunan utama. Karena kata Endah, itulah nasib bagi mereka yang sudah melihat wujud rajanya. Cerita Horor Pabrik Gula

Sumber: Threadreaderapp

Bikin Merinding! Cerita Horor Pabrik Gula Bagian 2

Cerita Horor Pabrik Gula Bagian Ke 2 Dijamin Lebih Mengerikan Dan Pastinya Bikin Tegang

Nah, sesuai janji saya kali ini saya akan menceritakan Cerita Horor Pabrik Gula bagian ke 2. Semoga kalian suka dengan cerita horor ini. Yuk tunggu apa lagi langsung aja di baca dan jangan lupa kalau kalian baca cerita horor ini tidak sendirian.

Mas Hendra yang tidak tau apa-apa dan baru mengenal lingkungan ini jawab iya-iya saja, toh rumahnya besar dan nyaman. Sebelum om Ardi pergi, beliau berpesan.

“Nek awakmu krungu suara opo ae, gak usah metu. tinggal turu ae yo le”

(Kalau kamu denger suara apa saja, tidak usah keluar, di tinggal tidur saja ya nak)

Mas Hendra cuma magut-magut, beliau tidak bertanya lebih rinci suara apa yang di maksud, mungkin hanya pesan biasa saja. Pikirnya, rupanya, itu bukan sekedar pesan biasa, melainkan sebuah peringatan. Malam semakin larut. mas Hendra duduk di teras menikmati semilir angin malam, berkawan segelas kopi dan juga rokok beliau memandang ke kanan kiri, namun sangat sepi.

Om Ardi sendiri bilang, samping kiri kanan rumah ada penghuninya tapi, mas Hedra tidak pernah berjumpa sama sekali. “Mungkin sudah tidur” pikirnya mas Hendra,
Semakin larut, suara hewan malam terdengar semakin riuh, mas Hendra bersiap mau masuk rumah, namun, beliau di kejutkan oleh suara asing yang tiba-tiba melintas. “ngiriiikiiki” itu adalah suara kuda.Mas Hendra kaget. “Bagaimana bisa ada suara kuda di tempat seperti ini” namun, rupanya, tidak hanya sekali namun berkali-kali, jadi beliau mengambil senter dan jaket, mencari dimana sumber suara tersebut.

Tanpa mas Hendra sadari, beliau meninggalkan perumahan Dinas, melangkah melewati jalanan yang sangat sepi. penerangan di kawasan pabrik memang tidak terlalu bagus, berbekal cahaya bulan. mas Hendra menelusuri jalan, Dirinya bergerak menuju lapangan tenis, namun suara tersebut semakin jauh, rasa penasaran memenuhi isi kepalanya, mas Hendra tidak memikirkan apapun, lebih tepatnya belum curiga.
Rupanya, tanpa mas Hendra sadari beliau sudah memasuki perumahan Belanda, kali ini suara itu sudah lenyap dan mas Hendra seolah baru sadar, dirinya sudah berjalan sejauh ini. Berniat ingin kembali, mas Hendra mencium aroma yang sangat wangi. di hirupnya aroma tersebut, semakin lama semakin menyengat.
penasaran, mas Hendra mengintip perumahan Londo, dari balik pohon randu. di lihatnya dengan seksama apa yang ada di depan sana.

Kaget bercampur bingung. di salah satu rumah, ada sosok yang tengah berdiri, mengenakan gaun putih panjang sampai lantai, sosok tersebut menatap jalanan. Rambutnya pirang. posturnya tinggi, ramping dan berbau sangat wangi. Dalam kebingungan, mas Hendra baru sadar. bagaimana bisa ada orang di rumah tersebut, bukanya om Ardi mengatakan tempat itu kosong melompong.

Rupanya perasaan itu membuat sosok itu sadar tengah di intip. Sosok itu memandang pohon randu tempat mas Hendra bersembunyi. Mas Hendra berdiam diri, mencoba agar sosok tersebut tidak mendekati, rupanya, wewangian tersebut semakin menyengat seolah sosok tersebut mendekatinya. mas Hendra berbalik untuk mengintip kembali. benar saja dugaanya.
None belanda itu rupanya mendekatinya, tertawa nyaris cekikikan, yang bikin mas Hendra lari terbirit-birit, sosok itu mendekatinya terbang. kakinya tidak menyentuh tanah sama sekali.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

73 71 75 70 53 51 50 03 01 05

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

30 31 34 37 40 41 47 70 71 74

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

46 49 48 42 86 89 82 26 29 28

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

SELASA DAN JUMAT LIBUR

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

03 06 04 08 83 86 84 63 64 68

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

20 21 23 28 30 31 38 80 81 83

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

81 82 83 85 21 23 25 51 52 53

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

05 06 09 02 65 69 62 25 26 29

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

64 62 69 67 24 29 27 74 79 72

SELENGKAPNYA

Tak perduli kemana dirinya berlari, yang penting, menyelamatkan diri terlebih dahulu. Sampai akhirnya mas Hendra berhenti untuk mengistirahatkan kaki. baru sadar, Dirinya berlari jauh ke samping lapangan tenis. di bawah 2 pohon besar ASEM rupanya mas Hendra tidak sendirian. Dirinya, di temani oleh sosok yang sangat besar, yang di lihatnya nyaris seperti pohon Asem. Ternyata, itu adalah kakinya,

Saya yang denger mas Hendra cerita, cuma begidik dan terbayang-bayang.Tanpa pikir panjang mas Hendra kembali berlari, kembali ke Rumah dinasnya beberapa ratus meter lagi, ketika akhirnya beliau sampai di pintu. Mas Hendra langsung pergi tidur di kamar. Namun, rupanya. malam mengerikan ini belum berakhir, karena teror yang selanjutnya adalah puncak teror yang membuat mas Hendra angkat kaki dari rumah Dinas khusus Supervisor tersebut.

Teror pasukan POCONG yang mengerikan. Masih di malam yang sama, mas Hendra berusaha melupakan apa yang baru dirinya lihat. Seumur-umur dirinya belum pernah bertemu apa lagi melihat hal di luar logika karena sebelumnya dirinya hanya mendengar dari orang-orang. namun, jam 1 dinihari tidak membuat mas Hendra bisa tidur, sebaliknya, dirinya terus kepikiran wajah nona belanda rupanya benar-benar membuat mas Hendra kepikiran, wajahnya menakutkan ketika tersenyum terutama dirinya bisa terbang.
Bagaimana bila dia datang ke rumah ini. hal-hal seperti itu rupanya membuat mas Hendra semakin tidak nyaman. Dirinya berkali-kali kepikiran untuk pergi, tapi kemana rupanya, kecemasan yang merasuki mas Hendra mengabulkan sosok yang memanggil namanya dari luar kamarnya. Cerita Horor Pabrik Gula
Tepat di jendela, mas Hendra mendengar seseorang memanggil-manggil.”Mas. tolong, mas”

Kaget bercampur takut, mas Hendra masih menjauh dari jendela. Namun, suara tersebut semakin nyaring karena sepertinya tidak hanya satu suara melainkan sperti bersama-sama. Mas Hendra lari ke ruang tamu.

Di ruang tamu sama sekali tidak mengurangi rasa takut mas Hendra karena suara tersebut semakin terdengar. akhirnya, Mas Hendra memberanikan diri melihat, mas Hendra membuka selambu jendela ruang tamu yang menghadap halaman rumah, betapa terkejutnya mas Hendra rupanya di depanya, banyak sekali pocong menatap rumah mas Hendra. Tidak hanya ada satu, melainkan lebih dari 10 pocong mengelilingi rumah dinas tersebut.
Mereka terus meminta tolong semalam suntuk dan ketika adzhan subuh berkumandang, pocong tersebut akhirnya lenyap. Esoknya ketika om Ardi datang, dan melihat mas Hendra yang tampak shock, om Ardhi seolah-olah tahu.
“Koen kenek opo le?” (kamu kenapa nak?)

Mas Hendra segera menceritakan semuanya.

“Koen iku tuman, kan wes di penging” (Kamu itu ceroboh, kan sudah di larang)

Disni, om Ardi bercerita, bila kedatangan pocong tersebut kesini biasanya di karenakan mas Hendra sudah menganggu dayangnya, yaitu nona belanda ada keterikatan apa mas Hendra tidak mengerti namun, rupanya, ada beberapa kasta di dalam pabrik ini, sehingga bila melihat pengghuni satu biasanya akan mandatangkan penghuni lain, dan bisa di bilang, pasukan pocong tersebut merupakan kasta paling bawah di bandingkan nona belanda.

Jadi rupanya ada kasta di antara para penghuni di pabrik ini. Setiap tempat ternyata memang berpenghuni, hanya saja, kasta mereka berbeda-beda, ada yang paling kuat hingga yang paling lemah, ada yang paling ganas namun ada juga yang sekedar usil menampakkan diri. lalu, dimana yang paling kuat?

Jawabanya ada di lahan kosong di samping gerbang tidak terpakai di bagian Utara. tempat dimana rumputnya tidak pernah di potong.

Dahulu, sebenarnya lahan tersebut akan di alih fungsikan untuk parkir truk yang mengangkut tebu, jadi di lakukan pembabatan guna membebaskan lahan dari rumput liar pekerja pabrik mulai melakukan pembersihan, rumput di babat, sampai pohon mangga disana akan di tumbangkan. namun, rupanya, hal yang mereka lakukan membawa kemarahan yang besar bagi penghuninya.

Tepat setelah malam hari. Semua pekerja disana, jatuh sakit. Beberapa di antaranya bermimpi, di temui seorang wanita yang sangat cantik, wanita itu berpesan agar tidak melanjutkan apa yang akan mereka kerjakan. Karena bila di lanjutkan, akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkan
Beberapa percaya, dan beberapa nekat tetap melanjutkan. keanehan terjadi
gergaji mesin yang di gunakan untuk menumbangkan pohon disana, semuanya patah, seolah pohon-pohon tersebut terbuat dari besi, tidak hanya itu, beberapa kali mereka di ganggu oleh ular yang melintas tiba-tiba, namun, yang paling aneh, rumput yang di potong kemarin tumbuh seperti semula.
Seolah-olah mereka tidak pernah memotongnya sebelumnya. hal-hal tidak wajar ini, membuat para pekerja ketakutan. Terutama sang mandor, yang firasatnya menjadi tidak enak.

Akhirnya, pak mandor memutuskan menghentikan pekerjaan sementara sekaligus memanggil orang pintar. Ketika di terawang tempat tersebut, si orang pintar hanya berpesan. “Jangan lanjutkan. bila kalian tidak mau meregang nyawa”

Bingung, sang mandor bertanya, “Kenapa mbah?”Sang mandor menunjuk suatu tempat yang bisa di katakan, paling dalam di lahan kosong tersebut.

“Itu adalah rumahnya, tempat makhluk yang tidak pernah menerima kehadiran kalian disini”

“Apakah tidak bisa di usir mbah?” tanya sang mandor

Si orang pintar kemudian tersenyum kecut. “berani bayar berapa kamu dengan harga nyawaku?”

Si mandor terkejut. “nyawa mbah?”

“Iya nyawa, saya tadi sudah berbincang sama dia. dia bilang nyawa kalian-kalian ini yang jadi taruhanya. Itu pun gak akan bisa kalian babat lahan ini. Mau mati konyol kamu?” tekan si mbah.

Akhirnya si orang pintar bercerita. Pabrik tempatmu bekerja ini adalah sarang kerajaan demit

kaget bercampur bingung, sang mandor bertanya kembali “maksudnya mbah?”

“Ya ini pusatnya kerajaan demit. tau demit tidak?”

Jadi, rupanya, penghuni lahan kosong tersebut adalah seorang wanita cantik namun bertubuh ular hijau. selain hal tersebut, si ratu ular ini ibaratnya adalah panglimanya di setiap sudut pabrik, selalu ada yang terkuat dan menjaga wilayah teritorinya sendiri, termasuk di bagian utara yang di jaga oleh siluman ular.

Warga desa B ini, adalah seorang lelaki tua yangg keseharianya mencari rumput untuk pakan ternaknya, entah tidak ada yang memberitahu atau tidak, dirinya tergiur, tergiur dengan rumput liar yang tumbuh di lahan kosong. Tanpa berpikir panjang, dirinya memutuskan membabat rumput liar tersebut, tidak sampai setengah hari, karung yang dirinya bawa penuh dengan rumput untuk mengenyangkan hewan ternaknya.

Dirinya segera pulang dengan rumput-rumputnya, tanpa ia sadari, Dirinya juga membawa pulang malapetaka bersamanya.
Malamnya, dirinya terbaring sakit. badanya demam, panas, sudah di beri obat namun seperti tidak berpengaruh. tidak hanya itu, si lelaki tua meronta menahan sakit yang teramat sangat, seperti di siksa oleh sesuatu. Rupanya, ada orang yang tidak sengaja melewati rumahnya, ketika orang asing tersebut melewati rumahnya, dirinya kaget, karena di depan rumah lelaki tua, ada wanita bertubuh ular sedang menari-nari di depan rumah.
dalam hati, orang itu hanya berkata. “sebuah bencana ada di rumah ini”. keesokan harinya, orang asing tersebut bertamu. Dirinya di sambut sang isteri, bertanyalah orang itu dan akhirnya si isteri bercerita, dirinya meminta ijin untuk melihat lelaki tua tersebut.
Di luar dugaan, kondisinya sudah sangat parah. bahkan beberapa kali, lelaki tua itu untuk minta mati. Lewat usul orang asing itu, si lelaki tua di bawa ke guru spiritualnya, namun rupanya, semua sudah terlambat. Tarian yang di lakukan wanita ular tersebut adalah tarian kematian untuk si lelaki tua.
Namun, semua belum berakhir. di tubuh lelaki tua tersebut, di temukan sisik ular. Si isteri hanya menangisi jasad suaminya yang malang. Orang asing itu akhirnya memberi saran, agar pemakamanya di lakukan dengan tertutup untuk menghindari aib dan mulut orang-orang tak bertanggung jawab. namun, semua orang tau akan kisah ini dan tidak begitu terkejut ketika mendengarnya. Cerita Horor Pabrik Gula
Saya dan yang lainya akhirnya bergegas pulang, manakala hari sudah terik, dengan jambu biji sekresek, kita sepakat mau lewat gerbang utara, di samping lahan kosong tersebut. Rupanya, Udin benar, di dekat gerbang ada Kawat yang bisa di tarik sehingga kami bisa menerobos lewat. Jujur saya masih merinding tiap lihat lahan tersebut, auranya gelap dan mencekam. namun, saya masih inget pesan seseorang. “Asal kamu gak ganggu, dia juga gak akan menganggu. mereka butuh alasan untuk menganggu”
Saya berjalan menelusuri jalur utara, sampai saya melihat, gedung TK lama saya melihat gedung Tk sekolah saya mengingatkan akan peristiwa tersebut, waktu saya masih TK, dimana ada satu peristiwa yang gak bakal pernah saya lupain, peristiwa tentang.Saya, Endah, dan pohon beringin tua, di belakang gedung sekolah, tepatnya di samping lahan kosong tersebut.
Dimana, saya melihat ada gadis kecil yang menjaga pohon beringin tua tersebut? Sekian Cerita Horor Pabrik Gula bagian ke 2. Nah, gimana cerita horor ini kalau kalian masih mau lanjut jangan lupa untuk di share kepada temabn-teman kalian dan jangan lupa komentar kalau masih ingin saya lanjutkan cerita horor ini. Karena masih ada bagian ke 3 yang terakir yang lebib mengerikan dan pastinya bikin tegang.
Sumber: ThreadReader

Bikin Merinding! Cerita Horor Pabrik Gula Bagian 1

Cerita Horor Pabrik Gula Kerajaan Demit

Sebelum saya mulai Cerita Horor Pabrik Gula bagian pertama, gak ada salahnya kalau kalian melihat sekeliling kalian terlebih dahulu sebelum menikmati sajian cerita saya ini. Ingat, kita gak pernah sendirian.

Pabrik Gula S**M***O, adalah salah satu Pabrik gula terbesar di daerah ini. tidak hanya terbesar melainkan satu-satunya nya pabrik yang di bangun disini.

Berdirinya pabrik gula ini sendiri jauh sebelum saya lahir di dunia ini. Besar, megah dan sangat luas adalah hal yang membuatnya di kenal luas. Namun, jauh dari kalimat tersebut, ada dunia yang tidak bisa di lihat oleh mata telanjang. sesuatu yang akan membuat orang ngeri bila apa yang ada di balik nama besar pabrik tersebut adalah, adanya Kerajaan demit.

Banyak yang sadar atau tanpa sadar pernah mengalaminya, karena disinilah pusat kerajaan tersebut. Pabrik gula ini berdiri di tanah seluas ratusan hektar, saya gak tau seberapa luas, tapi bila di bandingkan dengan desa saya, bisa ratusan kali luas desa saya, padahal, desa saya di bagi menjadi 12 RT. So, bisa kalian bayangkan sendiri berapa luasnya. (tidak termasuk kebun tebu). Sebegitu besarnya luas Pabrik, sampai-sampai di buat 4 zona untuk menggambarkan keseluruhan pabrik ini.
4 Zona itu, disebut dengan zona Timur, Barat, Selatan dan Utara.Saya bakal ulas perlahan-lahan Cerita Horor Pabrik Gula, karena apa yang mau saya sajikan membutuhkan detail agar kalian bisa membayangkan berada di sini. Terlepas dari betapa luas dan besarnya pabrik ini, batas yang paling mencolok adalah, pabrik ini diapit oleh 2 Desa, sebut saja Desa A dan juga Desa B.

Desa saya adalah Desa A, kenapa saya mengatakan ini, karena semua ini, nanti berhubungan satu sama lain.

Pagi itu, udara sangat dingin. Saya baru aja selesai habis Sholat subuh di surah dekat rumah saya.

Setelah shalat, biasanya anak-anak desa akan ngumpul di depan surah.

“mumpung Minggu, ayo mlaku-mlaku (mumpung hari Minggu, ayo jalan-jalan)” kata temen saya Jamal.

semua temen-temen saya, bersahut-sahut-an, setuju. Saya, langsung tanya “gok ndi?” (mau kemana?)

“yo opo lek nang pabrik. bekne nemu bal tenis” (gimana kalau kedalam pabrik, kali aja nemu bola tenis)

ada hal yang selalu saya lakukan bareng anak-anak desa, yaitu, masuk ke pabrik gula di samping desa, alasanya, disana banyak hal yang saya dan temen-temen saya suka.

Salah satunya, bola tenis. jadi, tiap sabtu sore, para petinggi pabrik gula akan bermain di lapangan tenis di dalam pabrik. satu dari banyak fasilitas untuk pekerja yang suka dengan olahraga tenis, dan biasanya banyak bola tenis yang keluar lapangan dan menghilang di rerumputan liar yang tumbuh di samping lapangan tersebut bola itu lah yang nanti kita pungut, buat di bawa pulang. kenapa harus bola tenis?

Bola tenis selain mahal, bisa di pakai untuk berbagai permainan tradisional sehingga di mata saya dan anak-anak lain yang masih bocah, bola tersebut sama berharganya dengan mainan grade yang mahal. Selain bola tenis, alasan kami suka masuk ke dalam pabrik, karena suasananya, sejuk, di dalam lahan yang sebegitu luasnya, banyak pohon tua dan besar, sehingga meski siang hari, cahaya matahari tidak bisa menembus, menciptakan suasana damai dan sejuk.
Lalu apalagi? jawabanya. pohon Juwet, mangga, jambu, yang sama sekali tidak pernah di panen, di biarkan buahnya masak secara alami, karena, tidak ada orang yang tertarik dengan buah tersebut selain kami. Anak-anak desa. Berangkatlah kami menuju pabrik gula tersebut, jalur yang biasa kami lalui, adalah jalur Timur.

namun, kami terhenti ketika sampai di jalur Timur. “loh, kok di tutup” kata Andi.

Saya baru inget, hari minggu gerbang timur pasti tutup, karena hari minggu adalah waktu jemaat gereja untuk berkumpul.

Gerbang timur identik dengan pagar besi yang tinggi, di sampingnya ada gereja.

“gereja jawi wetan” itu yang saya inget. gerejanya tidak kalah tua sama pabrik, sudah berdiri sebelum saya di lahirkan.

Namun, konon, gereja ini terkenal cukup angker. tapi, sabar, nanti akan ada waktunya buat bahas gereja ini.

Saya dan yang lain, kebingungan. kayanya, bakal batal. Sampe si Udin nyeletuk. “yo opo nek liwat perumahan londo” (gimana kalau lewat perumahan belanda?”)

Saya, terdiam sebentar. mendengar nama perumahan londo, membuat saya begidik ngeri. karena, jauh di jalur Utara memang ada gerbang tua. Gerbang tersebut sudah lama di tinggalkan. Di sebelahnya, ada tanah luas, berpagar, disana, berjejer rumah besar yang megah, ada sekitar 6 sampai 7 rumah dengan gaya arsitek yang sama, arsitek khas Belanda.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

29 24 23 25 59 54 53 49 43 45

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

31 37 34 32 41 47 42 21 27 24

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

03 06 01 07 13 16 17 73 76 71

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

SELASA DAN JUMAT LIBUR

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

74 73 72 78 34 32 38 84 83 82

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

46 48 42 45 26 28 25 86 82 85

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

34 37 36 38 64 67 68 74 76 78

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

34 32 37 38 24 27 28 74 72 78

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

83 85 87 84 53 57 54 43 45 47

SELENGKAPNYA

Sejarahnya sendiri, rumah tersebut dulu memang bekas rumah orang-orang belanda yang memiliki jabatan di pabrik gula tersebut. Namun, yang bikin saya merinding adalah, semua rumah tersebut sudah kosong dan di tinggal bertahun-tahun tidak di tinggali lagi, bahkan hingga saat ini, dan cerita dari mulut ke mulut, kabarnya, banyak yg pernah melihat, seseorang berdiri di kaca rumah belanda tersebut, menatap kosong jalanan, ketika seseorang melintas, mereka, melihat. Orang Belanda lengkap dengan pakaian khas mereka. Tersenyum, menyambut siapapun yang lewat.

Alasan kenapa temen saya ngusulin tersebut, karena di perumahan londo, tepatnya di rumah paling ujung ada tembok pembatas, di salah satu bagian temboknya sudah runtuh beberapa bagian, jadi dapat di panjat oleh kami yang masih anak-anak.

Kami pun menuju jalur utara, jalan kaki menyusuri jalan

Sampai disana, satu demi satu kami memanjat, melompat dan sampailah di depan rumah megah yang berjejer. hal yang paling menganggu dari rumah ini adalah gaya desain rumah ini yang hampir sama semua.

Yang paling mencolok, kaca hitam besar di samping pintu. Setiap melewati rumah tersebut ane berusaha untuk tidak melihat ke dalam kaca tersebut, karena setiap melihat kaca tersebut, ane terbayang wajah-wajah belanda yang sering saya bayangin karena cerita-certia yang sudah tersebar.

Namun, saya selalu gagal. Saya selalu melihat ke arah sana, memang tidak ada apa-apa, tapi
bulukuduk selalu merinding setiap melihatnya. Teman-teman saya yang lain tampak biasa saja, berjalan tanpa beban, sedangkan saya, was-was, perasaan tidak enak ketika melewati rumah tersebut selalu muncul tiba-tiba.
Seolah-olah saya sudah di tunggu oleh mereka. mereka yang menghuni perumahan Londo ini. Akhirnya saya dan yang lain sampe di jalan kecil yang menuju ke kawasan pabrik tersebut, saya bisa lihat gerbang utara yang di kerangkeng dengan rantai di belakang, akhirnya saya menyusuri jalanan tersebut, di timur terlihat samar-samar bangunan tua sekolah TK yang di pisah dengan pagar kawat tinggi.
Ada satu hal yang bikin saya bertanya-tanya, sebuah lahan kosong yang ditumbuhi oleh pohon mangga, anehnya, di bawahnya rumput tinggi-tinggi setinggi lutut orang dewasa, dalam hati saya bertanya, “kenapa orang pabrik tidak ada yang mau motong rumput itu, biar bersih saja”
Namun rupanya ada alasanya, lapangan tenis sudah terlihat, di samping lapangan tenis ada 2 pohon Asem yang sudah berumur puluhan tahun. Besar sekali dan mencolok di bandingkan pohon-pohon lain, sehingga lapangan tenis begitu sejuk di tutupi rindangnya dedaunan pohon asem. Jauh di belakang lapangan tenis tepatnya di antara lahan kosong dan gedung TK tersebut, ada satu pohon lagi yang mencolok. yaitu, pohon Beringin. (sampe sekarang tahun 2019 pohon ini masih berdiri).
Saya gak pernah suka pohon itu. bahkan sejak saya bersekolah di TK saya masih inget jelas kenangan kenangan yang nanti akan saya ceritain secara perlahan. intinya, pohon itu berada di tempat yang terisolasi, butuh waktu untuk menembus tingginya rumput liar di samping lapangan tenis.

Akhirnya kami masuk ke lapagan tenis, ada pintu pagar kawat di sekelilingnya,

sangat tinggi pagar kawatnya, berguna agar bola tidak keluar dari lapangan, namun selalu ada saja bola yang berhasil keluar. Cerita Horor Pabrik Gula

disana, kami mulai mencari bola tenis yang mungkin masih ada sisa sabtu sore kemarin ketika petinggi pabrik bermain. Namun, mata saya tidak bisa fokus. Saya lebih tertuju pada 2 pohon asem yang bersebelahan sama besarnya entah disana ada apa, tapi, bulu leher saya selalu meremang setiap melihat pohon tersebut.

“Aku nemu bal kilo”(aku nemuin bola ini loh) teriak temen saya si Jamal.Saya dan Udin serta Dayat mendekat bola segera di amankan di saku milik jamal, kami akhirnya bermain-main  dahulu di lapangan tenis. tempatnya cukup adem dan bener-bener enak buat rebahan tidur, tapi, ada yang mengganjal pikiran saya, seolah-olah ada yang ngelihatin saya entah darimana. Dayat yang pertama usul. “Pumpung nang kene, ayok golek jambu, wes mateng koyok’e” (mumpung disini, ayo nyari jambu, sudah matang kayanya)

Bicara tentang jambu, ada satu tempat dimana kami bisa menemukan banyak pohon jambu biji. jawabanya, adalah Rumah Dinas Supervisor. Akhirnya kami pergi lebih ke barat, di samping kiri kami bisa melihat berjejer rumah besar, tidak sebesar permahan belanda yang tadi, namun rumah disini sudah cukup besar, karena rumah ini di khsuskan untuk para Suprvisor pabrik. sayangnya, setahu saya hanya 2 atau 3 rumah yang di huni
sisanya? di biarkan kosong tak berpenghuni, alasanya, karena ada cerita yang sangat mengerikan yang pernah saya dengar dari seseorang di tempat ini. kisah tersebut adalah, di datangi pasukan Pocong. Awalnya cerita ini saya denger dari Mas Hendra.
Mas Hendra ini dari luar kota, beliau dapat kerja di pabrik ini lewat pamanya, om Ardi yang kebetulan menjabat jadi supervisor juga di pabrik gula ini.Selama bekerja di pabrik ini. om Ardi dapat rumah dinas, dan di ajaklah mas Hendra menginap

mas Hendra nurut saja, karena memang beliau waktu itu masih muda, belum kepikiran ngekost apalagi punya rumah. singkatnya pada saat malam, om Ardi pamit, katanya beliau sudah urus cuti dan rencananya mau pulang kampung. disinilah mas Hendra akan di tinggal di rumah itu sendirian. Mas Hendra yang tidak tau apa-apa dan baru mengenal lingkungan ini jawab iya-iya saja, toh rumahnya besar dan juga nyaman.
Sekian dulu Cerita Horor Pabrik Gula yang bagian 1, di lain waktu saya akan menceritakannya kembali di bagian ke 2 nya.

Cerita Misteri Sang Abdi, Dijamin Bikin Merinding!!

Cerita Misteri Sang Abdi, Cerita Keluarga Yang Mengabdi Kepada Iblis

Cerita Misteri Sang Abdi ini di mulai bukan untuk menceritakan kematian perempuan tersebut, melainkan menceritakan teka-teki, dari seseorang yang menjadi saksi hidup, berbagai hal yang membingungkan, bahkan mengerikan yang dirinya temui, selama mengabdi pada keluarga Cipto, dan disini, saya akan memulai ceritanya.

Setelah kejadian tersebut, memang banyak desas-desus yang hampir di ketahui semua warga desa, tapi, tidak ada yang berani mencari tahu lebih jauh, dan perlahan-lahan, kejadian tersebut, lenyap seperti embun. menghilang begitu saja, dan kemudian, dilupakan.

Seseorang yang Cerita Misteri Sang Abdi ini adalah tetangga dari Cangah saya, sebut saja namanya, pak Budi, dulu, saat masih muda, setelah selesai menempuh pendidikan hingga SMP, beliau mengawali karirnya sebagai kernet sopir Truk.

Berbagai perjalanan sudah dirinya jabani, mulai dari rute antar kota sampai rute antar provinsi, semua pengalaman ini, memupuknya menjadi pribadi yang cukup tangguh, dan membuatnya menjadi salah satu orang yang bisa mengendarai, mulai dari mobil pick up, sampai truk gandeng.

Karena dirasa jalan hidup sebagai sopir ekspedisi tidak membuatnya menjadi pria yang mapan dengan segala tuntutan bahwa dirinya adalah anak pertama yang harus sukses, pak Budi pun berhenti menjadi sopir truk sebuah jalan terbuka, ketika tetangganya memberitahu, bahwa, keluarga Cipto semua tahu, siapa keluarga Cipto, terlepas dari desas-desus yang tersebar, pak BUDI nekat, melamar kerja, dan hari itu juga, dirinya di terima bekerja disana. karena saat itu, tidak banyak, orang bisa menyetir mobil seperti saat ini.

Meski mereka bertetangga, namun, ini adalah kali pertama, pak Budi, masuk ke kediaman keluarga Cipto, yang membuatnya berdecak antara kagum dan juga ngeri, sebegini besarnya rumah ini, namun, entah kenapa, ada perasaan tidak enak melihat semua perabotan dirumah ini, seolah dirinya di awasi.

Saat itu, yang mengantar pak Budi, adalah bu Asirih, wanita tua yang umurnya berkisar antara 50’an, namun masih terlihat cukup bugar, dirinya jarang berbicara dengan wanita ini, karena keseharian beliau adalah didalam rumah, tanpa sekalipun berbicara dengan tetangga.

Sebenarnya, ini bukan hal yang aneh mengenai keluarga Cipto, karena mereka seperti terasing, meski sudah lama tinggal di desa ini, bagi para tetangga, mereka terasa seperti tidak tinggal di dunia yang sama, seolah mengundang banyak sekali pertanyaan, termasuk para penghuninya.

“Monggo, mriki mas” (silahkan, kesini mas) kata bu Asirih lembut dengan logat jawanya. Selama di perjalanan, pak Budi melihat kesana kemari, menganggumi berbagai patung yang bentuknya cukup aneh yang dirinya temui, terpasang di beberapa sudut bagian rumah ini, gaya desainya, benar-benar masih kejawen.

Saat itulah, ketika pak Budi menikmati pemandangan tersebut, matanya teralihkan pada sebuah pemandangan mencengangkan. diujung matanya, dirinya melihat seorang anak kecil, seusia adiknya, sedang duduk, di tepi kolam ikan, dirinya melihatnya lama, dan kemudian teralihkan pada seorang wanita.

Wanita ini, berdiri tegap di belakang si anak. dan cara dia melihat pak Budi, benar-benar tidak mengenakan, karena dirinya melihat pak Budi masih dengan postur tubuh tegap, hanya bola matanya yang mengikuti kemana pak Budi pergi, di sudut bibirnya, ia seperti tersenyum menyeringai.

Ketika bu Asirih membuka pintu, melewati beberapa bagian dalam rumah, sampailah dirinya, di sebuah ruangan, terlihat seperti Gazebo (Paviliun) yang terbuat dari kayu jati, disana, ada seorang wanita yang sudah tua, lebih tua dari bu Asirih, dirinya duduk, di atas kursi goyang. Matanya terpejam.

namun, belum beberapa langkah bu Asirih mendekati si wanita, tiba-tiba dirinya bicara dan membuat pak Budi tersentak karena kaget. “Iki tah, sing bakal dadi sopirku sing anyar” (ini ya, yang akan jadi sopir baruku) bu Asirih mengangguk, tidak berbicara, kemudian mencium tanganya.

“Pak Budi, kenalkan, niki ndoro Sasri” kata bu Asirih, beliau berdiri tegap dan mengepalkan tanganya di depan perut, membuat pak Budi bingung, seakan-akan dirinya berbicara di depan seorang maharaja saja. setelah menjelaskan panjang lebar mulai dari gelar, sampai pemimpin keluarga,

Bu Asirih, mengantar pak Budi ke belakang rumah, disanalah nanti, dirinya akan tinggal. meski bertetangga, keluarga Cipto menginginkan pengabdian dari pak Budi selama 24 jam dan harus siap, untuk itu, dibuatlah kamar itu yang memang khusus untuk sopir yang bekerja untuk keluarga ini.

Disanalah, bu Asirih menjelaskan semua yang ada didalam rumah ini, mulai dari unggah ungguh, hingga apa yang tidak boleh di lakukan oleh pak Budi selama tinggal di kediaman keluarga ini.

Saat ini, keluarga Cipto, di pimpin oleh, ndoro Sasri, setelah kematian Eyang Sarwojo, yang meninggal karena sakit. penerusnya, yaitu anaknya, yang bernama Atmojo, dan isterinya Sekar, namun mereka sudah lama tidak tinggal disini lagi, namun ada 5 anaknya yang ada disini.

Kesemua anaknya adalah laki-laki, dan saat ini, mereka tinggal di kediamanya masing-masing, kediaman yang di maksud bu Sasri adalah sebuah kamar khusus, yang memang tidak bisa di masuki oleh sembarang orang mendengar itu, pak Budi hanya diam, yang dirinya pikirkan hanya satu. Pandhawa

Ada satu hal yang orang jawa percaya ketika sebuah keluarga melahirkan 5 anak lelaki atau 5 anak perempuan. Hal tersebut adalah kutukan pandhawa, dan itu masih di percaya sampai saat ini. maksud kutukanya adalah, konon, akan ada satu atau dua anak yang tidak bisa mengemban beban lebih.

Akibatnya, dirinya akan gila atau memiliki kekurangan mental yang benar-benar serius, dan biasanya yang paling umum di serang adalah, anak terakhir, namun, hal tersebut hanyalah mitos yang beredar, pak Budi saat itu, mencoba berpikir bahwa itu hanyalah mitos dari orang jaman dulu.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

90 97 94 93 70 74 73 40 47 43

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

13 12 14 15 23 24 25 43 42 45

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

10 14 18 17 80 84 87 70 74 78

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

67 65 60 63 07 05 03 37 35 30

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

01 09 08 04 81 89 84 41 49 48

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

94 93 98 97 34 38 37 74 78 73

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

67 63 61 60 17 13 10 07 03 01

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

87 84 83 82 37 34 32 27 24 23

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

51 57 53 54 31 37 34 41 47 43

SELENGKAPNYA

Namun, sepertinya, hal itu, juga berlaku pada keluarga ini. setidaknya itu, yang akan pak Budi lihat dengan mata kepala sendiri. Selain 5 anak yang tinggal dirumah ini, ada lagi yang pak Budi harus tahu, bahwa setiap anak memiliki penjaga khusus untuk mereka satu persatu, dan biasanya, mereka dipanggil dengan Dayang Abdi, dan setiap Dayang Abdi akan menjaga satu anak.

Kesemua Dayang abdi, adalah seorang perempuan. semua yang bu Asirih Cerita Misteri Sang Abdi, membuat pak Budi teringat dengan perempuan yang dirinya lihat tadi, apakah, anak kecil itu adalah salah satu dari 5 anak tersebut. Bila benar, maka, perempuan yang ada di belakangnya adalah??

Selain memberi penjelasan tentang itu, bu Asirih juga menjelaskan tentang hal lain, semua tempat, yang tidak boleh pak Budi datangi yang paling dekat dengan kamar pak Budi adalah sebuah tempat sanggar Cayang, sebuah bangunan yang hampir sama seperti gazebo, namun ada di seberang bangunanya bisa dilihat langsung dari kamar pak Budi, jaraknya tidak terlalu jauh, namun, setiap dipandang, entah terlihat sangat menakutkan sekali, seolah ada yang berdiri dipelataran gazebonya. Pak Budi mengangguk, pertanda dirinya mengerti, dan hari itu, bu Asirih pergi.

Ada satu hal yang membuat pak Budi merasa asing saat berdiri disini adalah, aroma entah sadar atau tidak, aroma bu Asirih, tercium seperti aroma Pandan. mengingatkanya pada sosok kuntilanak, yang sudah sering dirinya dengar di desa namun, mulai hari ini, dirinya akan sering bertemu beliau.

Saat malam, kondisi rumah itu, nyaris sepi, sunyi. penerangan rumah pun hanya ada dibeberapa sudut, pak Budi menghisap beberapa batang rokok, dirinya duduk di depan kamar, memandang persis Gazebo yang tidak boleh dirinya datangi bila tidak bersama bu Asirih.

Entah karena bosan atau apa, pak Budi berjalan, mau melihat keseluruhan rumah ini meski hanya dari luar rumah, tapi dirinya tahu, larangan itu tidak akan pernah dirinya langgar, jadi pak Budi menghindari Gazebo itu dirinya berjalan, menuju ke halaman rumah, tempat melihat anak lelaki kecil tersebut.

Dirinya menelusuri kebun, cahayanya temberam hanya dari lampu kekuningan. berbekal rokok, pak Budi mencoba membuang sepi. namun, rumah itu benar-benar bukan rumah yang sangat menyenangkan, sejak awal tiba disini, pak Budi masih merasakan bila dirinya seperti sedang di awasi.

Si abang seneng bukan main melihat si mbaknya muncul lagi, tanpa basa basi, di jajakkanya daganganya itu, namun malam itu, si mbak tidak seperti biasanya, wajahnya murung dan tatapanya terus menerus menunduk, tidak hanya itu, bahkan suaranya lebih serak.

“Mbaknya sudah kembali kesini, masih tinggal di rumah itu mbak” “mboten mas” (tidak mas) kata si mbak, kemudian, dirinya menunjuk sebuah kebun, disana banyak pohon besar, mulai dari mangga sampai jambu yang masih ada di tanah milik keluarga Cipto.

Si abang bingung. apa mungkin keluarga Cipto membangunkan rumah untuk si mbak di tanah itu? setelah mendapatkan baksonya, si mbak pergi, dan benar, dia tidak masuk ke gerbang rumah, tapi, menghilang di kebun tadi. Si masnya langsung kabur.

Sesampainya di rumah, si abang gak bisa tidur, terbayang wajahnya si mbak, selain itu, bulukuduknya mulai merinding, dan benar-benar gila, dari samping rumah si abang, ada suara perempuan menangis. namun, si abang tidak berani memeriksa, Dirinya terus berdoa dan berdoa, sampai tertidur.

Siang hari, setelah kulakan bahan untuk bakso nanti malam, si abang penasaran, kemudian dirinya tidak sengaja lewat jalan itu, tanpa pikir panjang, dirinya parkirkan sepeda onthelnya. lalu masuk ke kebun itu disana, rupanya hanya ada pohon-pohon yang di tanam campur aduk, tidak ada apa-apa

Tidak ada apa-apa, sampai, tercium aroma bangkai ketika si abang melihat ke atas pohon mangga, si abang terperanjat melihat si mbak, tergantung dengan mata terbuka lebar, lidahnya menjulur keluar, tatapanya, seakan-akan melihat si abang melihat itu, si abang teriak minta tolong tidak beberapa lama, warga sudah memenuhi tempat tersebut, termasuk polisi, dan si pemilik rumah, setelah di identifikasi rupanya, identitas si mbaknya adalah mbak Ratih, dirinya bekerja sebagai penjaga anak yang sudah hilang satu minggu lebih. pihak pak Cipto mengira Ratih pulang.

Tahu dimana kejanggalanya?? yang membuat si abang gaguk gak mengatakan apa-apa.

Selain semalam si abang melihat si mbak membeli bakso miliknya, waktu antara hilang dan di temukan meninggalnya tidak cocok, karena menurut pihak kepolisian, si mbak kemungkinan sudah meninggal antara kurun waktu 2-3 hari. jadi, kemana sisa 4 hari keberadaan si mbak berada?

Kecuali ada kebohongan tentang hilangnya si mbak. keluarga tersebut, menyembunyikan sesuatu. sesuatu, dari maksud 4 hari kemana si mbak berada?? dan tentu saja, pesan terakhir si mbak itu. namun Cerita Misteri Sang Abdi ini, akan di mulai, dari sini.

Sumber : threadreaderapp

Merinding! Cerita Desa Gondo Mayit, Yang Sangar Menyeramkan

Cerita Desa Gondo Mayit, Sebuah Desa Yang Menggandakan Manusia Kepada Iblis

Malam ini. ijinkan saya memulai sebuah cerita. Cerita Desa Gondo Mayit yang pernah di ceritain oleh seseorang, seseorang yang menurut saya spesial, karena saya sudah kenal dia lama. lama sekali, meskipun gak pernah satu sekolah, satu kampus, satu pekerjaan, tapi saya udah nganggap dirinya sebagai abang kandung. udah lama seinget saya buat maen ke kota pahlawan ini. salah satu kota yang jadi saksi perjuangan saya dulu buat nyari kerja serabutan, dan hari ini, saya balik lagi ke kota ini, buat ketemu seseorang. seseorang yang gak tau kenapa selalu bikin saya kangen, kangen wejengan beliau.
Namanya. adalah mas Damar.  Ngomong soal mas Damar, saya jadi inget sebuah cerita dimana beliau menceritakan salah satu cerita pengalaman beliau, yang menurut saya cukup menarik, terlepas dengan sebegitu ngerinya cerita itu, tetap saja, Cerita Desa Gondo Mayit ini adalah cerita yang selalu saya inget.
“Deso edan!!” (Desa Gila) jelas mas Damar, matanya masih menatap kesana-kemari seolah peristiwa tersebut membekas di ingatanya.

“Edan yo opo?” (Gila bagaimana?) saya bertanya. penasaran.

“yo opo gak Edan, bendino onok ae sing mati. nek gak mati, jarene tondo balak” 

(bagaimana gak gila, setiap hari selalu saja ada seseorang yang mati, kalau tidak ada yang mati, katanya justru mengundang musibah).

percakapan kami sahut menyahut. membuat saya semakin penasaran, sampai, pendangan saya teralihkan ketika motor Honda RC hitam, baru saja berhenti. 

Mas Erik. Sosok yang juga saya kenal cukup akrab, datang, duduk dan memesan kopi, disini, saya melihat mas Damar melihat mas Erik.

“Rik, iki loh, ceritakno cerito sing awakmu ambek aku jaman kuliah biyen, sing nyasar gok Desa gondo mayit” (Rik, ini loh, ceritakan cerita kamu dan aku yang jaman masih kuliah, waktu kita nyasar di sebuah Desa bernama Gondo Mayit), wajah tenang mas Erik tiba-tiba telah berubah, mengisyaratkan ketidakenakan, dan saya bisa menangkap raut ngeri tersebut dari alisnya.

“Jek di iling-iling ae, wes lalik’ke ae lah” (masih di ingat saja, sudah lupakan saja) 

mendengar hal tersebut, saya pun langsung memohon, sejujurnya, saya paling suka mendengar cerita-cerita seperti ini, toh saya sudah gak asing lagi dengan hal-hal seperti ini.

Awalnya, mas Erik tampak enggan menceritakan, berbekal bujukan bahwa saya yang akan bayar kopi di tambah rokok, untuk cerita 

Ini, saya pun, menyanggupi.

Disinilah, saya melihat mas Erik, menunjuk sesuatu. arah Utara dari kota pahlawan ini, saya mengernyitkan dahi.

“Eroh daerah T****S gok kidule gunung P*******N??” (kamu tau daerah ****** di utara gunung *********??)

Saya mengangguk.

“Yo, gok kunu Desone” 

(Disanalah Desa itu berada) dan disinilah. cerita ini di mulai.

Mas Damar baru saja di tunjuk untuk menjadi ketua Mapala periode tahun 2011-2012, di universitas t**** b**** a******, salah satu Universitas yang cukup ternama di kota ini.

menjabat menjadi ketua pada semester 6 bukanlah hal bijak, terlebih ketika ada agenda, bahwa bulan juli, 

akan ada projek untuk mendaki puncak Mahameru, dimana 4 universitas bersama Mapala mereka akan bergabung

Disinilah, mas Damar membuat suatu acara dadakan untuk mempersiapkan kesanggupan team mereka pada bulan juli, tetapi, tak satupun anggota sanggup, karena bertepatan dengan UTS karena minimnya persiapan, mas Damar pun berinisiatif untuk melanjutkan agendanya, meski bila harus seorang diri. mas Erik, dan ketua Mapala sebelumnya pun akhirnya ikut bergabung. karena toh ini untuk nama Universtas mereka, dan disinilah mereka dapat satu tempat yang sudah di rasa cocok.

“Alas T*****” salah satu tempat untuk melatih stamina karena medanya yang cukup menanjak dan juga tempat terbaik untuk mendapat momen dimana suhu tempat ini nyaris seperti suhu di puncak Mahameru.
Sebelum mas Damar dan mas Erik tau, apa yang sudah menunggu mereka disana. 
persiapan sudah di lakukan satu minggu sebelumnya, mulai dari ijin untuk mendaki sekaligus menyisir tempat yang akan di jadikan tujuan pendakian ini, meski jalur yang akan di tuju mas Damar dan juga Erik, bukan jalur pendakian pada umumnya, namun, mas Damar meyakinkan mas Erik, 
perjalanan sekitar 6 jam, terasa cukup singkat, terlebih di hari yang semakin petang, mas Damar masih memeriksa semuanya, kompas yang selalu di bangga-banggakan pun tak luput dari genggamannya.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

81 84 89 86 91 94 96 61 64 69

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

34 32 35 36 54 52 56 64 62 65

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

73 75 78 53 57 58 93 97 95 98

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

27 24 25 29 47 45 49 97 94 95

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

80 81 87 89 40 41 47 90 91 97

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

81 84 86 51 54 58 56 61 64 68

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

40 41 46 48 10 16 18 60 61 68

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

54 58 52 84 58 52 24 25 28 22

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

13 19 18 15 83 89 85 93 98 95

SELENGKAPNYA

mobil mereka berhenti di salah satu pos yang sudah tidak asing lagi bagi mereka. 

anehnya. malam tersebut. tidak ada satupun yang sedang berjaga, seharusnya, ada satu atau dua penjaga, karena meskipun ini bukan jalur pendakian resmi, ini adalah jalur yang seringkali ramai pengunjung, karena tempat ini adalah satu tempat objek wisata yang cukup terkenal. 

menunggu, setidaknya itu yang di lakukan mas Damar, karena bagaimanapun laporan tersebut sangat penting terutama untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak di inginkan.

Namun, satu-jam dua jam telah berlalu, dan masih belum ada satu batang hidung pun yang muncul, hal itu, membuat mas Erik gusar 

“Wes ngene ae loh Mar, tinggalen KTP gok kene, tulisen pesan, bahwa kita sudah melaporkan. toh gak onok sing eroh sampe kapan petugas’e gak onk kan?” (sudah, begini saja Mar, tinggalkan KTP disini, tulis pesan, bahwa kita sudah melapirkan, lagian kita gak tau kapan petusanya ada) 
Bimbang. itu lah yang mas Damar pikirkan. bukan sekali dua kali hal ini terjadi, namun satu yang mas Damar ingat.

Bimbang. itu lah yang mas Damar pikirkan. bukan sekali dua kali hal ini terjadi, namun satu yang mas Damar ingat.

Hal-hal seperti ini biasanya di iringi dengan petaka yang buruk di langkah selanjutnya, namun, Erik benar. tidak ada yang tau kapan petuas tersebut akan kembali. Nekat. mas Damar dan mas Erik pun akhirnya melangkah masuk ke dalam hutan, bersiap untuk menyambut Penghuni yang sudah menunggu mereka.  Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, seharusnya jalanan belum segelap ini, apalagi jalurnya sendiri masih tidak seberapa jauh dari pos pertama, tapi, malam itu lain, jalur itu lebih gelap dari seharusnya, yang lebih aneh, tidak terdengar satupun binatang malam yang ada di sekitar sana.  Medannya memang cukup menanjak, seperti bukit setapak yang bila di telusuri lebih tinggi, namun masih bisa di tempuh dengan santai. disini, Erik yang memulainya.

“Jare mbahku, Dam, nek gak onok suoro, biasane onok memedi” (Kalau kata mbahku, kalau gak ada suara, biasanya ada hantu) 

“Huss. di jogo lambene, gak apik ngomong ngunu” (huss, di jaga mulutnya, tidak baik ngomong seperti itu) kata Damar.

Ada yang membuat Damar sedari tadi sangat tidak tenang, berjalan di belakang Erik, seharusnya tidak ada lagi siapapun di belakangnya, namun, bulukuduknya berdiri dari tadi bukan kali pertama Damar merasakan ini, selama dia mendaki gunung dan masuk ke hutan-hutan seperti ini, bulukuduk atau leher meremang sudah menjadi makanan sehari-hari, namun, perasaan ini sangat berbeda, seolah-olah, yang ini jauh lebih mengintimidasi.

Namun, Erik tak merasakan apapun melihat Erik yang membuka jalan dengan parang di tanganya setidaknya memberi ketenangan pada Damar, sampai, dirinya akhirnya mendengar suara lain.
Damar berhenti, di susul Erik.”Rik, Rik” panggilnya. Erik mendekat, menatap Damar yang leluasa mencari-cari pandang.

“opo?” (apa)

“Pitik” 

“Pitik” (ayam) kata Erik mengulangi.

“krungu ora, onok suoro pitik” (denger tidak ada suara ayam)

Erik diam, mencoba mencuri dengar apa yang Damar dengar. namun, Erik menegaskan bahwa dirinya tidak mendengar adanya suara apapun kecuali angin yang berhembus di sela dedaunan.

“Ora onok” (gak ada) 

mereka berpandangan untuk sepersekian detik, kemudian, melangkah cepat-cepat.

Ada hal-hal yang tidak sepatutnya di ucapkan atau di dengarkan, salah satunya adalah suara ayam.

mendengar suara ayam seperti pertanda sial bagi siapapun yang mendengarnya, terlebih di tempat ini. 

Damar dan Erik memikirkan hal yang sama. “Kuntilanak” meski kalimat tersebut tidak di ucapkan, namun mereka sama-sama mengerti satu sama lain. yang menjadi pertanyaanya adalah, suara ayam yang di dengar Damar dan tidak di dengar Erik, menegaskan sesuatu.

Salah satu dari mereka, 

sudah di sawang (incar) sedari tadi.

Degup jantung dan suara nafas terengah-engah menegaskan bahwa mereka sudah berjalan lebih jauh, berfikir bahwa mereka sudah aman, Erik lah yang kemudian mengatakanya, “janc*k!! ambu sembujo” (sialan, bau bunga Sembujo)

Mereka bertukar tatap tidak ada yang tidak mengerti Erik seperti Damar, umpatan atau kalimat tidak pantasnya biasanya menegaskan perasaan ketakutan, dan itu cara Erik untuk menekanya. namun, terkadang Damar merasa hal tersebut bisa mendatangkan hal sebaliknya. kadang, dunia mereka, menangkap pesan berbeda benar saja. suara ayam, bebauan bunga, kemudian berujung pada sosok di balik semak belukar. Erik lah yang pertama tau, namun, keinginan untuk memanggil Damar yang ijin untuk membuang air kecil, mendatangkan rasa penasaran yang sangat besar.

Erik mengintip sosok asing tersebut. 

sosoknya tinggi, setinggi Erik. dia berdiri di bawah pohon rindang, berdiri begitu saja. mengenakan baju yang terlihat seperti kain. warnanya mencolok dengan kegelapan hutan. putih.

Erik terus melihat, tatapanya terkunci pada kepalanya, yang sedari tadi tergedek ke kiri dan kanan 

setelah beberapa saat, barulah Erik mengerti, kepalanya tergedek bukan karena tanpa sebab, melainkan, tepat di lehernya, rupanya menahan berat kepalanya, apalagi bila lehernya patah

Saat itu, Erik sadar, sedari tadi, dirinya melihat sosok kuntilanak yang sering dia dengar ada di hutanumumnya, memang sering terdengar kabar, bahwa penghuni atau kasarnya, penunggu-penunggu di dalam hutan adalah korban-korban kecelakaan atau bencana-bencana yang tidak umum, kini setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, Erik akhirnya tau, bahwa mereka memang nyata Damar sudah kembali, mereka pun melanjutkan perjalanan, rencananya sendiri, mereka harus sudah menempuh setengah dari jalur pendakian, yang menurut Damar bila di lihat dari lama jam mereka berjalan, sudah tidak jauh lagi. Cerita Desa Gondo Mayit