Cerita Misteri Hantu Payung Berdarah

Cerita Misteri Hantu Payung Berdarah Ini Diangkat Dari Kejadian Nyata Tepat Di Depan Rumah Mbah

Ini kisah misteri hantu Payung Berdarah kediannya pada tahun 2005. waktu itu mbah masih kelas satu SMA. mbah ceritakan oleh kakak kelas mbah yang bernama tipah yang sudah kelas 2 SMA. Katanya neneknya sering melihat hantu tersebut.

Didesa pematang baru kec martapura timur. Tepatnya di RT 02 pas di depan halaman rumah mbah yang biasanya dijadikan sarana bermain teman-teman yang ada pohon besar dan tinggi. Orang-orang memberikan nama pohon itu adalah pohohn jingah. Nah dari pohon jingah tersebut berhubungan langsung bersama dengan danau yang tidak luas. Jadi do seberang danau itulah rumah neneknya kakak kelas mbah. jadi pohon jingah tersebut yang berada di depannya ada sebuah danau tadi berada di antara rumah mbah dan rumah neneknya kak Tifah dan juga neneknya.

Suati malam nenek dari kak tipah ada keperluan keluar rumah tepat pada jam 01:30 dini hari neneknya kak tipah tersebut membuka pintu belakang rumahnya lalu langsung turun ke halaman belakang rumah untuk menimba air yang digunakan berwudhu. Karena belum adanya pompa air waktu kejadian tersebut jadi neneknya kak tipah membawa 2 buah ember guna untuk mengambil air di dalam sumur. Ketika kedua ember sudah terisi neneknya kak tipah langsung segera pergi dari sumur dengan membawa 2 ember .Tapi ntah kenapa tiba-tiba saja mata nenek nya kak tipah tersebut langsung memandang kearah pohon jingah yang berada tepat didepan rumah mbah. Dan betapa terkejutnya karena waktu neneknya kak Tifah waktu pandangan dirinya langsung tertuju kebawah pohon Jingah yang berada tepat disebrang danau tempat beliau mengambil air di dalam sumur. Dibawah pohon Jingah tersebut  terlihat sosok yang sangat berpakaian seperti menggunakan jubah putih, akan tetapi menggunakan payung berwarna hitam. Awalnya neneknya kak tipah mengira hal tersebut ialah bapak H.kani yang baru pulang dari mesjid. Tapi kok ada yang janggal dipikiran nenek yang kira2 berumur 60an itu.

Knp jadi tengah malam bnr aji Kani tu buliknya?(llah…kok pak haji Kani tengah malam banget pulangnya tumben?”kata neneknya tipah terheran.

 

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

70 78 75 30 38 35 37 28 25 27

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

49 45 48 79 75 74 78 29 25 28

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

50 57 51 10 17 13 60 67 61 63

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

92 90 96 82 80 86 89 50 50 56

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

24 20 26 74 70 76 54 50 56 52

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

05 02 03 06 75 73 76 35 32 36

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

07 05 02 08 97 95 92 27 25 28

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

69 62 63 61 19 12 13 41 42 43

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

09 08 05 02 69 68 65 28 25 29

SELENGKAPNYA

Eh maka kaga ujan kenapa pake payung tengah malam? eh bukan nya ini gak hujan ya ngapain dia pakai payung tengah malam begini?

Setiba neneknya kak tipah sangat merasa merinding oleh pikiran yang tidak enak telah merasuki beliau.

Dikarenakan kurangnya cahaya dimalam hari sosok itu tidak terlihat terlalu jelas. Karena penasaran neneknya kak Tipah terus saja mengamati sosok yang berada tepat dibawah pohon jingah itu. Lalu pelan-pelan sinar bulan mulai menerangi area dibawah pohon jingah tersebut sampai sangat terlihat jelaslah sosok yang sedang berdiri di daerah danau tersebut.

betapa terkejutnya karena neneknya kak Tifah waktu melihat sosok yang dikira H.kani tersebut bukanlah seorang manusia melainkan seorang mahkluk halus. Berjubah putih dan berpayung hitam karena payung itu biasanya mengantar jenazah. Saat makhluk itu mengangkat misteri hantu Payung Berdarah hitamnya yang meneteskan banyak darah tersebut .

Terlihatlah wajah yang sangat menyeramkannya. Wajahnya hanya berwujud seperti tengkorak yang hampir putus dari lehernya .Ternyata sejak tadi kakinya tidak memijak ditanah melainkan melayang diudara .Jelas hal tersebut bukanlah seorang manusia. Makhluk itu terus saja menatap tajam kearah nenekya kak Tipah. 2 ember air penuh yang dibawa di daerah kedua tangan beliau jatuh begitu saja dari tangan dia dan tumpah langsung ditanah. Karena saking takutnya karena ketakutan beliau langsung masuk kerumah dan langsung segera kekamar menutupi diri dengan selimut. Sesudah diceritakan oleh kak Tifah waktu pulang sekolah saya jadi takut melihat lagi kearah pohon jingah yang berada didepan rumah mbah namun ayah mbah selalu bilang selama kita gak bikin masalah jadi jangan takut pada makhluk astral seperti itu .dan alhamdulillah sampai sekarang saya tidak pernah bertemu dengan mahkluk itu walau kadang mbah pulang kerja terlalu larut malam.

Sekian cerita tentang misteri hantu Payung Berdarah yang mbah ceritakan diatas, cerita diatas merupakan kejadian nyata yang terjadi di depan rumah mbah.

Sumber: Waatpad

Cerita Misteri Deso Gondo Mayit Bagian 3 (Tamat)

Cerita Misteri Deso Gondo Mayit Bagian 3 (Tamat)

Kali ini gua akan lanjutkan cerita Deso Gondo Mayit bagian ke 3 (Tamat) tidak usah menunggu lama lagi langsung saja baca cerita di bawah ini, dan jangan lupa lihat sekliling kalian dulu mungkin kalian tidak sendirian baca cerita ini.

“Kate nang ndi to le”

(mau kemana nak?)

Mas Damar lah yang pertama maju. “Mbah, ngapunten. kulo bade mantok mbah” (mbah, mohon maaf, kami mau pulang)

“Muleh nang ndi” (pulang kemana?)

“Ten griya kulo mbah” (ke rumah saya sendiri mbah)

Si mbah awalnya hanya berdiri, namun perlahan-lahan, tubuhnya tertekuk, lalu membungkuk menatap mereka dengan senyuman paling mengerikan yang pernah mas Erik dan mas Damar lihat seumur hidup.

“Penyakitmu wes waras le?” (penyakitmu sudah sembuh kah nak?)

Mas Damar cukup terdiam lama, disini, mas Erik yang kemudian maju.

“Mbah, panjenengan sinten asline?” (sebenarnya anda itu siapa?)

Saat itulah, senyuman buruk rupa itu menjelma menjadi suara tawa yang membuat mas Erik dan mas Damar menggigil karena ngeri, bulukuduk mereka langsung berdiri, dan dada mereka berdetak sangat kencang.

Deso Gondo Mayit” (Desa perenggut nyawa) kata si mbah, dengan langkah tertatih mendekati mas Erik dan mas Damar yang beringsut mundur, “sopo sing wes melbu Deso iki, ra bakal isok muleh le, wes, nurut’o omong si mbah”

(Saipa saja yang sudah masuk ke desa ini, tidak akan bisa keluar nurut saja sama ucapan saya)

Di tengah keheningan itu. Suara ayam yang lirih itu terdengar semakin sering, “krungu suoro iku le?” (kalian mendengar suara itu nak?)

“Eroh artine?” (tahu artinya)

Mas Erik dan mas Damar masih menjaga jarak dari langkah si mbah,

“Mayit” (Pocong)

Setelah mengatakan itu, seolah ada sesuatu yang membuat perasaan mas Erik dan mas Damar tidak enak.

Benar saja. tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba terdengar suara pintu di banting dengan sangat keras sekali, masalahnya, adalah setelah suara bantingan tersebut.

Gubuk yang terbuat dari bambu itu, serempak terdengar suara gebrakan di semua sisi, si mbah tertawa semakin keras, nyali mas Erik dan juga mas Damar benar-benar di paksa sampai ke titik frustasi, karena tidak ada yang bisa mereka lakukan.

Seolah-olah kejadian ini seperti mimpi belaka. Suara-suara itu mengisyaratkan satu hal, di sekeliling rumah pasti ada sesuatu. Si mbah yang awalnya membungkuk, kemudian mulai terjatuh, terjerembab di atas tanah, dengan mata mendelik, melotot ke arah mas Erik dan juga mas Damar, si mbah mulai merangkak.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

18 17 15 58 57 51 28 27 25 21

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

14 15 12 19 34 35 39 84 85 89

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

69 67 64 65 19 14 15 49 47 45

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

01 06 09 81 86 89 80 51 56 50

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

16 14 18 15 56 54 58 76 74 75

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

72 70 79 75 52 50 59 42 40 49

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

48 45 46 47 28 25 26 85 86 87

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

12 19 18 10 32 38 30 02 09 08

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

73 71 79 75 63 69 65 21 29 25

SELENGKAPNYA

Kedua kaki si mbah seperti lumpuh, dirinya merangkak hanya menggunakan tanganya, dengan bibir yang komat-kamit entah apa yang di ucapkanya. si mbah terus mendekat.

Mas Damar sudah mulai melantunkan doa, meminta agar sesiapapun bisa menolongnya, mas Erik, hanya terdiam sembari meracau

“jancok!! jancok!!”

Saat itulah, tercium aroma familiar yang seolah menyadarkan mas Erik dan mas Damar, aroma itu adalah aroma Sembujo.

Aroma itu sangat menyengat. Semakin menyengat, suara ramai yang sedari tadi menciutkan nyali mas Erik dan mas Damar perlahan sirna.

“Gok mburi onok lawang rik” (di belakang ada pintu Rik) teriak mas Damar, mereka bergegas lari, dan si mbah masih berusaha mengejar

Di lihatnya kotak yang mas Damar lihat tadi, namun segera dirinya tepis pikiran-pikiran yang masih menyimpan tanda tanya, apa maksud dari kain kafan itu, yang dirinya lihat pertama dari halaman belakang rumah adalah berpetak-petak tanaman singkong.

Aroma sembujo masih tercium menyengat, anehnya, hanya mas Erik yang menciumnya.

“Melok aku Mar” (ikut aku Mar)

Entah terjepit atau apa, mas Erik merasa, aroma ini seperti memberinya jalan, Benar saja, langkah mereka perlahan menuju ke tanah hutan, pepohonan yang sedari tadi menjadi penanda perjalanan mereka kini mulai mereka telusuri. Mas Erik meyakinkan mas Damar, Desa itu di huni oleh Mayat.

Pertanyaanya adalah, kenapa mayat harus di kuburkan lagi.

“Kain kafan Rik. opo onok hubungane?” (kain kafan Rik, apa ada hubunganya?)

Mas Erik terlihat bingung.

“Gok kotak sing nang pawon, akeh kain kafan di tumpuk” (di kotak yang ada di dapur, ada banyak kain kafan)

Mas Erik dan mas Damar masih berpikir, sampai, ia baru sadar, di tempat mereka berdiri. mereka tidak sendirian lagi, dari balik pohon, banyak sekali sepasang mata yang mengawasi, dan setelah di perhatikan lagi, itu adalah sosok pocong, tidak hanya satu pocong namun hampir ada puluhan bahkan ratusan pocong, mas Damar dan mas Erik, terdiam mematung sendiri-sendiri

Mas Damar lah yang mendengar suara-suara mereka, “Tali pocong” “Tali pocong”

“Krungu ora Rik” (dengar apa tidak rik)

“Lrungu opo?” (dengar apa?)

“Tali pocong” (Tali mayit)

Setelah mendengar itu, mas Erik baru paham. “kuburan.” “kuburan mar,”

“Mayit’e tali pocong’e ”

(Tali pocong di mayatnya) “rung onok sing di bukak” (belum ada yang di bukak)

Mereka pun berlari, membiarkan pocong-pocong itu mengikuti, dan yang mengerikan, pocong pocong itu terbang di atas mereka.

“Kuburan’e nang ndi?” (kuburanya dimana?)

“Nang kono” (disana)

“Itu ngapain pocongnya ngikutin gitu mas?” tanya saya yang penasaran.

Mas Damar menatap saya, mencoba berpikir sebelum bilang. “Ini cuma asumsi sih, tapi kayanya ada hubunganya sama mbah mbah yang kami temui” jelas mas Damar,

Mas Erik seperti mengiyakan ucapan mas Damar, di tengah gelapnya hutan, mas Damar dan mas Erik gak berhenti berlari, alasanya, manusia normal mana yang gak ketakutan di ikuti hampir selusin atau lebih kain kafan terbang ke kiri dan kanan sembari mendengar mereka mengatakan tali pocong-tali pocong di sepanjang perjalanan.

Setelah menembus rimbunnya semak belukar dan naik turun di tanah menanjak, mas Erik menunjuk sebuah gubuk satu-satunya. mas Erik tau, gubuk itu penanda kuburan kembar tersebut.

Kenapa di sebut kuburan kembar, rupanya, ada 2 pemakaman yang sejajar dan hanya terpisah oleh pagar bambu.

Pasak yang di gunakan untuk setiap makam pun hanya pasak kayu, yang kebanyakan sudah lapuk tanpa ada penanda sesiapa saja yang di makamkan disana.

Disini keanehan terjadi. pocong yang sedari tadi terbang di atas mereka, tidak ada satupun yang terlihat lagi. Mereka lenyap, meski begitu. Suara ayam yang pernah mereka dengar dari jarak yang jauh, kini terdengar sangat dekat sekali. dekat sekali sampe mas Erik berasumsi, suara ayam itu kemungkinan berasal dari pemakaman ini. Masalahnya, dimana ayam itu sekarang.

Lain hal mas Damar, kini, dirinya bisa menciumnya, aroma sembujo yang hanya tercium di hidung mas Erik, kini tercium juga di hidung mas Damar. “Wangi” kata mas Damar, sembari melihat kesana-kemari, hingga, mas Erik menunjuk sesuatu, gundukan tanah, tempat pemakaman yang pernah mas Erik lihat.

“Gok kunu, mayit sing di kubur mau”

Semakin dekat, suara ayam terdengar semakin jelas, dan benar saja, dari jauh, terlihat seseorang sedang menggaruk-garuk tanah, di sekitarnya, banyak sekali di kelilingi ayam berwarna hitam legam.

“Ayam cemani” kata mas Erik, mereka melihat dari jauh apa yang siluet asing itu lakukan.

“ASU!!” teriak mas Erik saat siluet itu melihatnya. “Lah iku lak si mbah” katanya.

Bukan takut lagi, tapi mas Erik langsung lari, meninggalkan mas Damar yang baru sadar yang di katakan mas Erik benar sekali. si mbah yang sedari tadi tersaruk-saruk, mengejar mereka.

Di tengah kepanikan itulah, aroma Sembujo yang misterius itu tercium lagi, lebih kuat dan mereka berdua bisa menciumnya, sangat jelas sekali, “Jembot!! onok opo seh ambek alas iki” (ada apa sih dengan hutan ini)

Disitulah entah karena kepepet atau apa, mereka malah mendekat, mendekat ke sumber aroma sembujo itu yang padahal mereka berdua tau bahwa itu adalah aroma dari..Wanggul. Namun, setidaknya aroma itu benar-benar membawa mereka ke jalanan yang tidak asing lagi. Mas Damar yang mengikuti mas Erik dari belakang, hanya mendengar, sekelibet suara, suara meraung, keras sekali seperti suara macan. Tanpa memperdulikan apapun dan bagaimanapun, tiba-tiba mereka sudah sampai di tempat yang mereka cari selama ini.

Pos ke dua, disana mereka bisa melihat pagar besi, tempat dimana cagar satwa beroperasi, dengan keringat dingin Mereka mendekat, ada sumber cahaya di dalam, di gedorlah pintu dan keluar pemuda setengah baya, memandang mereka dengan tatapan curiga.

“Sampeyan-sampeyan yang ninggalin KTP di pos 1 yo” (kalian yang ninggalin KTP di pos 1)

Mereka pun mengangguk. Saat itu juga, si petugas melapor. Tidak ada yang tau satupun dari mereka bila bukan karena si petugas yang mengatakan sudah 2 hari sejak pencarian mereka dimulai.

“Goblok. nek kate nggok Purwokerto lapo lewat kene? lewat Mojokerto lak isok seh” (Bodoh!! kalau mau naik ke Purwakarta kenapa lewat sini, kan bisa lewat Mojokerto)

Sudah 2 jam mereka di ceramahi oleh pemuda paruh baya itu, wajahnya tampak sangar seperti sudah lama menahan luapan amarah, mas Erik dan mas Damar hanya diam mengangguk. pasrah. bingung, tidak tau harus mengatakan apa.

Setelah beberapa saat, barulah terdengar suara motor mendekat, dan yang masuk kemudian adalah seorang pria, yang mungkin 10 tahun lebih tua, dirinya hanya mengenakan kaos kutang dengan sarung di lilitkan di tubuhnya.

Wajahnya tidak kalah sangar, dirinya menatap mas Erik dan mas Damar. Kalimat pertama yang dirinya ucapkan bukan luapan amarah seperti penjaga di pos 2, tapi hanya pertanyaan yang membuat mas Damar dan mas Erik diam lama.

“Isih urip to awak awak iki?” (masih hidup ya kalian-kalian ini)

dirinya meneguk kopi di meja, kemudian duduk bersila di depan mereka.

“Wes ceritakno kabeh, nang ndi ae awak awak iki 2 dino iki?” (sudah ceritakan saja, kemana kalian selama 2 hari ini)

“Pak.” kata mas Damar, “Onok Deso yo pak nggok kene” (ada desa ya pak disini)

Terlihat 2 penjaga itu saling melihat satu sama lain.

“Onok” kata si bapak. (ada)

Si bapak terdiam lama, sementara penjaga yang lebih muda tampak bingung, sembari berbisik ia bertanya.

“nang ndi onok deso pak, nek Vila akeh nang kene?!” (dimana ada desa pak, kalau disini Vila banyak pak) kata si penjaga yang lebih muda.”

Sembari menghisap rokok, wajah si bapak tampak tegang. “Opo bener, awak-awak mek wong loro sing munggah liwat kene?” (apa benar kalian cuma berdua saja waktu mendaki disini?)

Mas Erik dan mas Damar mengangguk bersamaan.

“Syukur” kata si bapak. “alas Tr**** iki, pancen angker”

“Biyen, wes terkenal akeh sing tau eroh bahwa nang alas iki, onok enggon sing di arani jeneng’e Petuk Sewu, wit sing keramat, sing kabare onok Deso nang jero’ne kunu, jenenge deso iku. Deso Gondo Mayit”

(Dulu, sudah terkenal bahwa banyak yang pernah lihat kalau ada tempat yang-

Namanya, Seribu Pintu, pohon keramat, yang kabarnya bila di lihat ada desa di dalamnya, desa ini namanya adalah desa Gondo Mayit)

Hembusan asap rokoknya, membuat semua orang yang ada di ruangan terdiam mendengarkan, wajah mereka semua tegang.

“Masalahe, ra onok sing eroh nang ndi wet iki” (masalahnya tidak ada yang tau dimana keberadaan pohon ini)

“Untung’e awak-awak gak keblobok nang deso iki ambi nggowo awak ganjil, sampe iku kedaden, biasane, siji ra isok muleh” (untungnya, kalian tidak terjebak di desa ini, dengan membawa jumblah orang ganjil, kalau sampe itu terjadi, biasanya hanya satu yang tidak akan bisa pulang)

Mas Erik dan mas Damar saling memandang satu sama lain.

“Sak iki aku takon, opo sing mbok rasak’ne sak iki?” (sekarang aku tanya, apa yang kalian rasakan sekarang?)

Disini mas Damar awalnya bingung, apakah dirinya harus bercerita soal kondisi tubuhnya, dan akhirnya dengan bantuan mas Erik, mas Damar menunjukkan area dimana dirinya mendapat musibah.

Si bapak hanya diam, tampak tidak terkejut sama sekali, seperti pernah melihat ini sebelumnya.

Si Bapak menginstruksikan agar mas Damar tidur terlentang, sementara jari-jari kakinya di tarik satu persatu, kurang lebih hampir setengah jam si bapak memijit kaki mas Damar, ajaibnya, Testisnya yang membesar perlahan kembali normal.

“Mene ojok nguyuh sembarangan nggih”

(Besok-besok jangan kencing sembarangan lagi ya)

Setelah percakapan itu, mas Damar dan juga mas Erik berpamitan pulang, saat fajar mulai menyingsing. mas Damar yang pertama pergi, ketika mas Erik akan beranjak, dirinya kembali menemui si bapak, bertanya dengan wajah penasaran.

“Pak, kulo tandet, neng Deso niku, enten si mbah wadon, sing sempet ngejar kulo bade rencang kulo, niku sinten nggih” (pak saya mau tanya sekali lagi, ada wanita tua yang sempat mengejar saya dan teman saya, itu siapa ya)

Wajah si bapak tampak berpikir, kmudian berucap. “Sartih”

“Sartih” kata mas Erik mengulangi.

“Sampeyan tau, kalau pocong itu sebenarnya bisa di ikat sama ilmu hitam, nah Sartih itu hanya sebuah gelar, Pocong bisa di kirim untuk mencelakai siapapun, bisa di gunakan untuk menganggu bisnis orang, nah, Desa tersebut, di miliki oleh si mbah ini”

“Si Mbah niki menungso toh pak?” (si mbah ini manusia dong pak)

Si bapak hanya diam sembari menggeleng, dirinya tidak bisa melanjutkan ini lebih jauh. Sekarang, dari informasi ini, mas Erik mengambil kesimpulan, cara mengikat pocong berarti dengan memegang tali pocongnya.

Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah, berapa banyak pocong yang sudah di ikat, dan kenapa eksistensi Desa ini masih sering muncul.

Sebenarnya, cerita tentang pesugihan pocong bukanlah hal yang baru, banyak cerita tentang pesugihan pocong, mulai dari sebagai pelaris makanan, hingga pembawa balak atau musibah bagi keluarga yang tidak di suka, apapun itu, mungkin ujung dari cerita ini berhubungan satu sama lain dengan desa ini. yang menjadi poin penting disini adalah, jauh di luar akal sehat ini, memang hal-hal ghaib kerab kali menyembunyikan misterinya sendiri.

malam itu. setelah selesai mendengar cerita tersebut, satu yang saya pelajari, pengalaman yang menimpa mereka bener-bener buat saya harus senantiasa waspada dimanapun kita berada, ibarat pepatah. “Dimana bumi di pijak. disitu langit di junjung”

akhir kata, saya mau pamit dan senang sekali bisa berbagi cerita Deso Gondo Mayit dengan kalian. mohon maaf bila ada salah-salah kata dan pengetikan, atau jam ngaret yang kadang saya lakuin karena kesibukan.

Sumber: Threader

Cerita Misteri Desa Gondo Mayit Bagian 2

Cerita Misteri Desa Gondo Mayit Bagian 2, Dijamin Bikin Tegang

Kali ini mbah akan melanjutkan tentang Desa Gondo Mayit yang sebelumnya pernah mbah cerita, tidak usah menunggu lagi langsung baca saja cerita di bawah ini.
Umumnya, memang sering terdengar kabar, bahwa penghuni atau kasarnya, penunggu-penunggu di dalam hutan adalah korban-korban kecelakaan atau bencana-bencana yang tidak umum, kini setelah melihatnya dengan mata kepala sendiri, Erik akhirnya tau, bahwa mereka itu memang nyata, Damar sudah kembali, mereka pun melanjutkan perjalanan, rencananya sendiri, mereka harus sudah menempuh setengah dari jalur pendakian, yang menurut Damar bila di lihat dari lama jam mereka berjalan, tidak jauh lagi.
Erik lebih sering diam. hal ini membuat Damar mulai penasaran.  Asap rokok mencoba mencairkan suasana, namun Erik lebih memilih diam, sesekali dia mencuri pandang ke belakang yang jelas-jelas tidak ada siapapun kecuali Damar.

“Onok opo Rik?” (ada apa Rik?)”Gak onok” (gak ada)

Damar tahu, Erik sedang berbohong.  Barulah, ketika sampai di tanah lapang, yang artinya pos kedua atau tempat yang biasa di gunakan sebagai penakaran satwa sudah mulai dekat, Erik baru membuka suara.

“Onok kuntilanak Dam”Kaget, namun Damar tidak mencoba menanggapi, ia hanya melihat Erik lebih pucat.  Seteguk air dalam botol setidaknya mampu menenangkan hati Erik, setelah di rasa cukup dan Erik menjadi lebih tenang, seusai cerita bagaimana dirinya melihat makhluk tersebut.

Damar yang sekarang memimpin, disinilah, keanehan itu terjadi. Pos yang seharusnya tidak jauh dari tanah lapang, tidak ada 
hampir 2 jam, Damar dan Erik hanya berada di area itu dan itu terus, hal ini, membuat mereka akhirnya berpikir buat menginap disana, terlepas dari apa yang mereka alami malam ini, mereka memutuskan untuk pasrah, sampai terdengar suara langkah kaki menghentak, dan sontak mereka langsung terjaga  di ikutilah suara ramai itu. disanalah, Erik dan Damar melihatnya.
Orang-orang berjalan berjejeran, seolah ada sesuatu yang sedang mereka kerjakan, sampai mata Erik dan Damar tertuju pada barisan yang paling depan, disanalah mereka baru sadar, ada Perkuburan mayit.  Untuk apa, orang-orang menguburkan jenazah pada malam buta seperti ini. setidaknya itu yang Damar dan Erik pertama kali pikirkan. Sampai baru mereka sadar.
“Bagaimana mungkin ada penguburan jenazah di tengah hutan?”
 
Keganjilan itu sebenarnya sudah di rasakan sedari awal masuk ke dalam hutan, mas Damar dan juga Erik hanya diam sembari memandangi rombongan itu semakin jauh, hingga akhirnya, kehadiran mereka benar-benar lenyap di telan kegelapan hutan. Di tengah perasaan campur aduk itu, tiba-tiba mas Damar mengeluh kesakitan, sebenarnya sedari tadi mereka berjalan menempuh medan berat itu, di bagian selangkangan mas Damar terasa nyeri namun dirinya mencoba menahanya, puncaknya, ketika mas Erik mengajak untuk lanjut, tiba-tiba mas Damar mengeluh tidak bisa melanjutkanya, di ceritakanlah kondisinya, dan ketika di periksa apa yang terjadi, mas Damar gak tau lagi harus ngomong bagaimana kondisinya ke mas Erik.

“Yo opo Mar, isok lanjut ora?” (gimana Mar, bisa lanjut apa tidak?)

Mas Damar memanggil Erik, memintanya mendekat sembari menceritakan keluhanya, dan ketika dia menunjukkan kondisinya saat itu, mas Erik hanya bisa melotot gak percaya atas apa yang dia lihat.

“Jancok, kenek opo koen?” (sialan, kenapa dengan kamu ini?) tanya mas Erik, matanya fokus melihat sesuatu yang ganjil tersebut.

Mas Damar hanya diam, wajahnya sudah pucat, jangankan menjawab pertanyaan Erik, kapan dan bagaimana ini terjadi saja, mas Damar saja tidak tahu.”Gak eroh Rik” (gak tau Rik) 

Melihat kondisi mas Damar seperti itu, mas Erik akhirnya menyuruh mas Damar bersandar di pohon, pikiranya fokus ke rombongan yang tadi lewat, jin atau bukan, mas Erik harus memanggil mereka, agar mas Damar dapat segera tertolong.

Tidak hanya itu, hal seperti ini baru pertama kali mas Erik hadapi, bagaimana bisa terjadi hal-hal seperti ini, padahal mereka tidak lupa berdoa agar di lancarkan semuanya, tapi, kok bisa testisnya si Damar membesar seperti itu, besarnya sendiri nyaris sama seperti kepalan tangan yang menggenggam.

Mas Erik cuma berpikir satu hal, pasti Jin gunung yang melakukanya.
Mas Erik pun meninggalkan mas Damar seorang diri, dirinya berlari menembus semak belukar, menuju ke rombongan yang sudah hilang lenyap di tengah kegelapan. Ada hal yang aneh dan entah mas Damar dengar atau tidak tapi mas Erik yakin, tadi ketika mereka mengintip rombongan itu, dirinya mendengar suara gamelan yang di dengungkan. Hal itulah yang membuat mas Erik tidak berani bicara, karena fokus mendengar alunan dari gamelan yang di pukul.

Tidak hanya itu, ekspresi wajah dari iring-iringan itu, tidak satupun menunjukkan wajah sedih atau bersimpati, sebaliknya, wajah-wajah itu, sumringah seperti sedang mengadakan pesta.

Lalu, keranda mayit yang di pinggul pun asing, biasanya di tutup dengan kain hijau tua, namun yang mas Erik dan Damar lihat, keranda mayit itu di tutup dengan kain hitam lengkap dengan bunga melati terajut sebagai pengiringnya.

Hal-hal itu yang di jadikan mas Erik patokan, semoga dirinya masih bisa mendengar iring-iringan musik gamelan, dan semoga mereka memang manusia berlari kurang lebih 10 menit dan semakin jauh lokasinya dari mas Damar yang masih menahan nyeri, Mas Erik sadar, rombongan itu sudah lenyap, menyisahkan tanda tanya, bagaimana bisa mereka berjalan santai dengan gendong mayit di medan yang naik turun seperti ini.
Putus asa, mas Erik akhirnya menelusuri jalanya lagi, kembali, ke tempat dimana mas Damar tak berdaya. Dirinya berharap segera selesai dan keluar dari area belantara ini. Rupanya ketika kembali, mas Erik kaget saat di hadapanya, mas Damar tidak sendirian, di depanya, ada nenek-nenek tua, di punggungnya, dirinya memanggul kayu bakar. Desa Gondo Mayit
Terlihat dari jauh, mas Damar tampak mengobrol dengan sosok asing itu, membuat mas Erik bertanya-tanya, ragu, lalu mendekat 

saat itulah baru di ketahui nenek itu adalah warga lokal, dirinya tinggal di desa tidak jauh dari tempat mereka berada, nenek itu menawarkan tempat persinggahan, sekaligus memberitahu bila apa yang terjadi pada mas Damar adalah akibat dari “Weltuk”

“Nopo niku?” (apa itu?) tanya Erik disitulah si nenek yang mengaku bisa menyembuhkan mas Damar bercerita, Weltuk itu adalah Demit (lelembut) penunggu sungai yang marah sama mas Damar karena tanpa sengaja, mas Damar sudah mengencinginya.

Akibatnya, mas Damar di selentek (di keplak) area kemaluanya, ragu dan khawatir awalnya, ketika si nenek yang di panggil mbah dok itu menawarkan mas Erik dan juga mas Damar untuk mengikutinya ke desa tempat dirinya tinggal.
Tapi karena keadaan saat itu benar-benar darurat, memaksa mas Erik akhirnya setuju, di boponglah mas Damar, dengan kondisi itu 
selama perjalanan, si nenek bercerita banyak hal, salah satunya menjelaskan permisi kalau mau buang hajat atau apapun, mereka tidak terlihat bukan tentu tidak ada, meskipun hanya sekedar ijin dengan suara berbisik pun, mereka bisa mendengar, termasuk Wanggul yang sekarang mengikuti mas Erik.

Kaget. mas Erik kemudian bertanya dengan muka ngeri. “Wanggul apa mbah?”Si nenek berhenti, melihat jauh ke belakang, disana dirinya menunjuk.

“Hantu wanita yang mati karena kecelakaan, lehernya patah, dan dari tadi dirinya ngikutin kamu. Wangi apa yang kamu cium?”

Mas Erik pun mengatakanya. “sembujo”

Si Nenek mengangguk. “ra popo nek sembujo, gorong ambu batang yo kan, nek iku baru bahaya” (tidak apa-apa kalau wangi sembujo, kalau bau bangkai, nah itu baru berbahaya)

(Sebenarnya, kata mas Erik, bahasanya si nenek ini jawa halus, tapi karena saya gak bisa, pake bahasa jawa halus, pake bahasa suroboyoan aja ya. mohon maaf)

“Trus yok opo mbah, sampe kapan kulo bakal di tut’i” (lalu bagaimana mbah, sampai kapan saya akan di ikuti)

“Bar engkok ngaleh dewe” (biarkan saja, nanti juga pergi sendiri) jelas si mbah.

Benar rupanya, di depan, terlihat sebuah desa, namun, desanya ini, tidak terlalu besar rumah-rumahnya terbuat dari anyaman bambu, pokoknya, sangat jauh berbeda dengan kondisi rumah jaman sekarang yang di bangun dengan bata dan jiuga semen.

Tepat di sudut rumah paling ujung, gentingnya terbuat dari ranting dengan di tutup daun kelapa kering, si mbah mempersilahkan masuk.

“Turokno kunu sek kancamu” (tidurkan dulu temanmu disitu)

Si mbah masuk ke ruangan dalam, sedangkan mas Erik dan Damar di tinggal di teras rumah, ada bangku besar untuk merebahkan badan mas Damar, mas Erik masih gak habis pikir, hanya karena kencing bisa jadi seperti ini.

Selidik demi selidik, mas Erik melihat kesana-kemari, tatapanya menyapu dari rumah ujung ke ujung, hanya ada 13 atau kurang rumah disini, dan sebelumnya dirinya tidak pernah dengar di daerah ini ada sebuah desa.

Namun, tengah malam seperti ini, desa ini sunyi dan sepi, cukup membuat ngeri si mbah keluar, di tanganya, ada kendi, “Ngumbi iki, trus pas ngumbi ngadep kidul ben penyakite minggat nang kidul yo le” (minum ini lalu pas minum nanti menghadap ke arah selatan, biar penyakitnya pergi ke selatan ya nak)

Berusaha keras untuk berdiri, mas Damar menenggak air tersebut

“Sak iki mlebu ae nang omah, ojok metu sek, ben balasado’ ne ngalih disek,” (sekarang masuk rumah, jangan keluar dulu, biar bencananya bisa pergi)

Mas Erik tidak paham maksud si mbah saat mengatakan balasado, namun mas Erik mengiyakan tawaran tersebut, kali ini mereka yakin, mbah yang menolong mereka mungkin memang manusia asli.

Di dalam rumah, persis seperti yang di bayangkan mas Erik, rumah desa yang benar-benar seperti pedalaman, tidak mungkin ada listrik, bahkan peralatanya semua benar-benar sangat lawas, mas Damar sudah tertidur lelap setelah di persilahkan untuk istirahat, saat itulah, kaget bukan main, mas Erik mendengar suara gamelan tersebut.
Sekarang mas Erik baru paham, mungkin rombongan itu adalah rombongan orang-orang desa ini, namun, kenapa musik gamelanya seperti dekat sekali si mbah menuju ke pintu dan membukanya, di depanya ada anak kecil, wajahnya sangat pucat, dan ekspresinya tidak menyenangkan, semakin di pandang, membuat hati mas Erik jadi gelisah sendiri.
Si mbah tampak mengobrol lama, mencoba mencuri dengar, mas Erik hanya mendengar kalimat patah-patah 

kalimat yang di dengar mas Erik hanya. “wayahe. sedo, Bolo, Randak” (giliran. Mati, Saudara, Ilmu)

Habis itu, pintu di tutup, si mbah kembali masuk dan mengambil kain, lalu menutup kepalanya dengan kain itu, disana, mas Erik pun bertanya.

“Bade pundi mbah?” (mau kemana mbah?) 

Saat itulah si mbah menawarkan mas Erik apakah mau ikut atau tidak. Tawaran itu awalnya membuat ragu mas Erik, karena dirinya harus menjaga mas Damar, tapi ada keinginan besar yang membuat penasaran, terutama bila melihat wajah anak pucat tersebut.

Seperti ada sesuatu yang ganjil, mas Erik pun ikut, setelah lama menimbang-nimbang keputusan. Rupanya, mas Erik di bawa di sebuah rumah, di depanya banyak orang yang sudah menunggu.

Benar dugaanya, ada gamelan yang di tabuh di antara kerumunan itu, tidak beberapa lama, pandangan mas Erik menuju ke pintu rumah, keluar 4 lelaki setengah baya, mereka mengangkat keranda mayit, yang membuat mas Erik tidak nyaman. dalam pikiranya dirinya bertanya-tanya. Tadi bukanya sudah melakukan prosesi pemakaman, kok di adakan pemakaman lagi.
Disanalah, si mbah yang memimpin, dirinya berjalan di barisan depan.  Karena sudah setengah jalan, mas Erik pun terpaksa mau tidak mau harus ikut. Di sepanjang perjalanan yang naik turun, tampak wajah-wajah itu menunjukkan ekspresi sumringah.
Hal-hal ganjil seperti itu yang membuat mas Erik gak habis pikir. Namun dirinya mencoba menahan diri.  Sampailah mereka di sebuah tempat, ada 2 tanah lapang yang kesemuanya sama, pemakman kembar, setidaknya itu yang terlihat. si mayit sudah di turunkan dan ketika keranda di buka, mas Erik hanya diam bengong melihat sesiapa yang akan di makamkan hari ini.

rupanya, yang akan di makamkan malam ini adalah, bocah yang tadi berdiri di depan pintu si mbah.

“Jancok lah” batin mas Erik, seolah gak percaya apa yang dirinya lihat, semakin di lihat, wajahnya semakin sama persis dengan apa yang mas Erik saksikan.

Tidak mungkin ia salah lihat. Sata yang dengar mas Erik cerita menatap bingung. “maksude yo opo mas, cah sing di kubur iku podo mbek cah sing nggedor lawang mbah iku?” (maksudnya gimana mas, anak yang di kubur itu sama persis sama anak yang gedor pintu itu kah?)

Mas Erik menghisap rokoknya, lama, lalu, mengangguk

“Ra mungkin” (gak mungkin) kata saya mencoba berkilah, namun sanggahan saya hanya di jawab dengan wajah murung mas Erik, gak cuma itu, mas Damar yang terkenal realistis pun hanya diam, matanya tertuju pada segelas kopi yang mulai dingin.

Malam melanjutkan ceritanya. Mau tidak mau, mas Erik menyaksikan prosesi pemakaman itu, di tengah pemakaman, mas Erik melihat gelagat yang sangat aneh, dimana, semua orang tampak sedang menari-nari, beberapa bernyanyi dengan nada gamelan mengalun-alun, yang lebih membuat mas Erik tidak bisa mengerti, adalah si bocah, di kubur dengan mata yang masih terbuka lebar.

Saya gak bisa bedain antara mau ketawa atau menahan ngeri mendengar cerita mas Erik.

“Piye maksude mas, cah iku wes mati opo durung asline” (gimana sih maksudnya, itu anak sudah mati apa belum sebenarnya?)

Mas Erik masih diam lama, kemudian mas Damar memotong cerita mas Erik.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

30 39 39 37 20 29 27 70 72 79

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

52 57 54 51 42 47 41 51 57 52

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

01 03 09 08 31 39 38 81 83 89

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

37 31 30 38 07 01 08 87 81 80

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

30 38 36 35 60 68 65 50 58 56

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

63 64 67 61 43 47 41 13 17 14

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

84 87 83 81 34 37 31 14 17 13

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

13 14 19 18 93 94 98 83 84 89

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

10 12 14 17 40 42 47 70 72 74

SELENGKAPNYA

Hening, sepi, sunyi, setidaknya itulah yang di rasakan mas Damar, dirinya terbangun meski mata masih terkantuk-kantuk. Di lihatlah kesana-kemari, ia baru ingat, ia baru saja terlelap di atas ranjang rumah seseorang.

Seorang wanita tua yang menawarkan rumahnya. Di carinya mas Erik namun tidak di temukan kawan seperjalananya ini.

Maka, dengan tatapan kebingungan sekaligus penasaran, kemana semua orang pergi. mas Damar, mencoba memanggil-manggil mas Erik, namun tak kunjung ada jawaban, begitu juga dengan wanita tua itu. Dengan keadaan masih linglung, ia melihat kondisinya, ukuran Testisnya yang belum normal, namun jauh lebih baik di bandingkan beberapa saat yang lalu.
Mas Damar berdiam diri sebentar, di lihatnya langit-langit dari teras rumah, masih gelap. ucapnya dalam hati. artinya, 1 malam belum terlewati.

Mas Damar pun kembali masuk ke rumah yang lebih terlihat seperti gubuk itu. sampai, dirinya merasa penasaran dengan ruangan dalam milik si wanita tua tersebut.Dengan perlahan, mas Damar mendekat, di dalam rumah, mas Damar mencium bebauan yang familiar, rupanya itu adalah bau dari daun sirih yang di gunakan wanita tua itu. bagaimana mas Damar tau bebauan itu, karena rupanya, mas Damar sudah sering menciumnya di rumah mbah buyutnya yang juga menggunakan itu tuk pembersih gigi tangan mas Damar cekatan memeriksa rumah itu. Meski tidak sopan, rasa penasaran mas Damar begitu besar, matanya sibuk mengawasi ini itu, sampai, pandanganya menangkap sebuah kotak dengan ukiran majapala, sebuah ukiran khas jawa, mas Damar pun, mendekat.

Pelan, pelan, pelan. Rupanya, kotak itu tidak di kunci, dengan leluasa mas Damar pun mengangkatnya, namun, perasaan mas Damar mendadak tidak enak, bebauan yang awalnya di dominasi bebauan daun sirih tiba-tiba lenyap begitu saja, berganti menjadi bebauan seperti kentang atau umbi kayu yang sudah di bakar semua orang tau, bebauan itu bebauan apa. Biasanya, ketika mencium bebauan lenguh seperti itu maka artinya, tidak jauh dari tempatmu berdiri, ada makhluk familiar yang sudah terkenal sedang mengawasimu. pocong.
Namun, mas Damar belum tahu akan hal ini, dirinya nekat membuka kotak itu 

begitu kotak di buka, mas Damar menatap heran, karena yang dirinya lihat hanya tumpukan pakaian bernuansa warna putih, tertumpuk berantakan begitu saja, maka mas Damar bersiap menutupnya lagi, namun, tiba-tiba dia curiga dengan pakaian itu.

Di ambilah satu helai pakaian, dan ketika pakaian itu terangkat di tanganya, ia memeriksa dengan seksama, sampai ia yakin dan menatap ngeri pakaian itu. Rupanya itu adalah kain kafan yang sudah di ikat sedemikian rupa, membentuk sampul untuk mebungkus mayat.

Mas Damar sontak melempar pakaian itu begitu saja. Tiba-tiba, ketika mas Damar bersiap untuk pergi dari tempat itu, matanya tercekat, menatap sosok yang tengah berdiri tepat di depanya. Matanya hitam dan wujudnya sangat mengerikan.
Kini ada sosok pocong tengah berdiri tepat di depanya. Ingin segera pergi, namun kaki mas Damar malah kaku tak mau di gerakkan, sementara si pocong masih berdiri memandanginya.
Bila ada satu permintaan yang bisa mas Damar minta, mungkin dirinya akan meminta untuk jatuh pingsan. Sungguh, peristiwa itu benar-benar peristiwa tak terlupakan di situlah, akhirnya mas Damar mendengar suaranya.

Lirih, namun membuat bulukuduk berdiri, si pocong mengatakanya. “tali pocong” “tali pocong”Mas Damar masih mematung, ketakutan benar-benar mengeraskan syarafnya, hingga, suara pintu terbanting membuat mas Damar tercekat panik di lihatnya si mbah sudah kembali dengan wajah marah dan memaki, entah apa yang terjadi, dirinya melihat si mbah mencengkram ujung kain kafan si pocong, menyeretnya dengan tangan kosong lalu melemparkanya tepat di kebun belakang rumah gubuk itu.

Kejadian yang baru saja terjadi, membuat mas Damar tidak habis pikir.
Wanita itu menatap mas Damar dengan tatapan dingin sembari berujar “nek ra eroh opo opo, ojok grusak grusuk yo le, nyowo onok regane” (jika kamu tidak tahu apa apa, jangan sembarangan ya nak, nyawamu ada harganya) 
Kalimat itu masih terbayang di pikiran mas Damar bahkan hingga saat ini. Mas Erik baru sadar, sedari tadi, si mbah tidak kelihatan, padahal dirinya ikut karena si mbah yang menyuruhnya, di tambah rasa penasaran kenapa memakamkan seseorang saja sampai ambil waktu selarut ini, disinilah mas Erik di buat kaget.
“Loh, tali pocong’e rung di buka iku loh” 

(loh, kenapa tali pocongnya belum di buka?)

Namun, tak seorangpun mendengarkan peringatan dari mas Erik, mereka tetap menutup lubang kubur dengan tanah, disinilah mas Erik merasakan firasat teramat buruk.

“Desa Edan” (desa gila)

Maka, ia segera meninggalkan tempat itu. 

sampai di rumah si mbah, mas Erik melihat mas Damar, mata mereka saling menangkap satu sama lain.

Disini, mereka curiga.

Desa ini, mungkin bukan Desa manusia, namun ada hal yang lebih besar dari semua itu. Ada misteri apa yang di sembunyikan di desa ini. Di tengah kebingungan, langkah kaki si mbah mengejutkan mereka, wajahnya yang sempat mengeras ketika melihat mas Damar kini sudah berubah seperti sedia kala, seperti saat pertama kali mereka bertemu dengan si mbah.

“Le, kamar’e wes si mbah siapke” (nak kamarnya sudah disiapkan) 
Mau tidak mau, mereka pun masuk ke sebuah kamar yang asing, tidak ada hal yang menarik selain ranjang dengan lasa(tikar anyaman) sebagai alasnya, namun, mereka sepakat, keganjilan semua peristiwa ini seperti mengerucut pada sesuatu. Namun, belum ada yang berani menarik kesimpulan sampai, di tengah keheningan ketika mereka sudah saling merebahkan tubuh untuk sekedar membuang lelah. Terdengar suara yang tidak asing lagi di telinga mereka.

Suaranya riuh, namun sangat tipis, seperti dari tempat yang jauh.Itu adalah suara pitik (ayam) yang pernah terdengar. Mas Erik lah yang pertama bangun, ia melihat kesana kemari untuk memastikan sesuatu sampai, mas Erik akhirnya menggoyangkan badan mas Damar, dirinya baru sadar, wajah mas Damar terlihat sangat pucat, seperti menyembunyikan sesuatu.

“Mar, krungu ora?” (Mar, dengar apa tidak?) 
Mas Damar masih diam, mencerna setiap kalimat mas Erik, sampai akhirnya ia mengatakan “Rik, awakmu percoyo, pocong ora?”
(Rik, kamu percaya gak sama Pocong?) 

Kalimat itu mengingatkan mas Erik dengan peristiwa yang baru saja dirinya alami, matanya menatap tajam mas Damar, ia tidak tau harus menceritakanya darimana.

“Aku tau krungu, jare’ne, suara pitik, iku nunjuk’ke nek onok pocong gok sekitar kene” (aku pernah dengar, katanya, kalau dengar suara ayam, artinya ada pocong di dekat sini)

“Mar” akhirnya mas Erik menceritakan kejadian yang menimpanya. “Deso iki gak beres, ayok minggat ae, ndok mu wes gak popo toh” (Mar, desa ini gak beres, ayo pergi saja, testismu sudah gak papa kan)

Mendengar itu, mas Damar kemudian juga mengatakanya.

“Rik. koyok’e si mbah iki” 

(Rik sepertinya si mbah) belum selesai melanjutkan kalimat itu, tetiba mata mas Damar menatap ke jendela kamar yang hanya tertutup gorden, disana, ia melihat wajah mengintip.

“Rik. minggat ae tekan kene” (Rik ayo kita pergi saja dari sini)

“Opo to, onok opo?” (ada apa?) 

“Gok cendelo, gok cendelo!!” (di jendela!! di jendela!!) mas Damar menunjuk ke arah jendela, “gok cendelo onok si mbah!!” (di jendela ada wajah si mbah)
 
Kaget, saat itu juga mas Erik langsung mengemasi barang bawaanya, di ikuti mas Damar, mereka bergegas keluar dari rumah itu, namun, baru saja membuka pintu kamar, di depanya, si mbah berdiri, wajahnya menatap mas Damar dan mas Erik bergantian. Desa Gondo Mayit

Cerita Misteri Pintu Belakang Rumah

Cerita Misteri Pintu Belakang Rumah Ini Diangkat Dari Kisah Nyata

Misteri pintu belakang rumah ini tuh bermula asal seorang gadis yang masih umur 15 tahun bernama Shea pulang ke rumah waktu sudah tengah malam, dan orang tuanya tersebut sudah tidur. Dan dirinya memutuskan untuk membuka sendiri pintu belakang rumah dirinya dan juga dibiarkan terbuka untuk kakaknya yang masih belum balek ke rumah.

Kesalahan yang sangat besar yang dirinya perbuat ialah membiarkan pintu dibelakang rumah tersebut dalam keadaan terbuka lebar. Waktu tersebut sudah tengah malam, gadis tersebut pun terbangun dan jugaw merasakan sesuatu yang sangat dingin dan menekan di daerah lehernya. Pertamanya, dirinya sangat berpikir hal tersebut ialah sebuah lelucon dari kakak kandungnya tersebut yang masih baru pulang kerumah. Waktu itu terjadi kamar gadis itu dalam keadaan sangat gelap gulita dan dirinya tidak dapat melihat apapun di dalam kamar yang sangat gelap. Kemudian dirinya merasakan tangan yang sangat besar menutupi hidung dan juga mulut dirinya, dan ia tidak bisa bernapas. Dirinya pun mendengarkan suara yang sangat aneh, waktu itu suaranya sangat berat dan juga serak sepertinya hal tersebut bukanlah suara dari kakaknya, suara tersebut berkata, “Jika kau berteriak, aku akan membunuhmu sekarang!”.

Waktu matanya telah terbiasa dengan melihat di dalam suasana gelap, dirinya pun bisa melihat sesosok figur seorang pria yang sedang membungkuk tepat di atas badannya. Pria tersebut menutupi wajah dirinya dengan sebuah alat penutup wajah yang masih berwarna hitam, dan itu hanyalah terlihat sepasang mata yang sangat besar melotot dan juga memandang ke arah dirinya. Pria tersebut memegang satu buah pisau dan menempelkanya tepat di leher dirinya. Orangtuanya sedang tertidur di kamar sebelah, gadis tersebut mencoba untuk membuat suara sebanyak yang dirinya bisa, tetapi tangan pria tersebut telah menutup jeritannya dan dirinya merasakan sesuatu aroma yang sangat tajam dari tangan pria tersebut, aroma ini pun sangat tercium seperti bau amis darah. Waktu itu ia sangat mencoba untuk bangkit dan juga menendang kakinya, mencoba untuk menggedor dinding kamar orang tuanya sampai mereka akan mendengarkan dirinya.

 

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

03 05 08 01 53 58 51 13 15 18

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

13 18 19 15 83 89 85 53 58 59

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

84 80 86 89 64 60 69 04 06 09

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

40 47 49 70 74 79 10 17 14 19

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

07 09 05 04 97 95 94 47 49 45

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

15 12 19 18 25 29 28 85 82 89

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

30 38 35 37 50 58 57 70 78 75

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

18 12 15 16 58 52 56 68 62 65

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

23 21 29 25 93 91 95 53 51 59

SELENGKAPNYA

Di kamar sebelah itu misteri pintu belakang rumah, kedua orang tuanya sedang tertidur nyenyak. Tiba-tiba, beberapa dari suara-suara aneh sudah terdengar dan langsung membangunkan mereka. Mereka sangat memutuskan untuk memeriksa putri mereka yang ada di kamar sebelah, dan berpikir dirinya hanya sedang mengalami mimpi buruk. Waktu orang tua gadis tersebut membuka pintu kamar anaknya, mereka dihadapkan oleh pemandangan yang sangat-sangat mengerikan. Yang mereka bisa lihat di dalam ruangan gelap tersebut, hanya suatu orang berbadan besar yang sedang memegang pisau dan membungkuk di atas putri mereka, dirinya sedang memegang pisau ke arah leher anaknya tersebut, dan itu ialah seorang penyusup. Begitu dirinya melihat gagang pisau, Ayah anak tersebut langsung melompat menuju ke atas penyusup itu dan langsung berjuang untuk meraih pisau ditanga nya tersebut. Ketika itu Ibunya langsung berlari dan juga meraih pergelangan tangan pria tersebut dan berhasil mengambil pisau dari tangannya. Ayahnya sudah berhasil menghajar pria tersebut dan langsung membuatnya tertidur lemas dilantai.

Sesudah semuanya berakhir dan keadaan pun menjadi tenang, gadis ini langsung berlari dan juga meraih ponselnya di atas meja dan juga berlari keluar rumah untuk menghubungi 911 untuk sangat meminta pertolongan. Orangtuanya tersebut masih terus menjaga sang penyusup di lantai kamar tidur sampai seorang polisi tiba dirumahnya. Sesudah hal tersebut terjadi, pintu kamar sudah terbuka dan polisi pun mulai berlari masuk langsung ke dalam kamar dengan memegang 1 buah pistol, kemudian polisi tersebut mulai memborgol si penyusup dan menyeretnya keluar dari rumah orang yang sudah menjadi korban itu. Polisi tersebut berkata padanya “Diam! Dan jangan banyak bergerak atau aku akan menembak kepalamu!”. Di luar rumah, polisi sudah menemukan sebuah truk kecil dan juga truk itu adalah milik seorang penyusup. Waktu polisi memeriksa truk pria tersebut, mereka sangat menemukan berbagai senjata api yang sangat lengkap bersama dengan peluru dan juga ada lagi beberapa pakaian berdarah di dalam tas diirnya. Sesudah polisi bertanya siapa pemilik pakaian bernoda darah tersebut, namun penyusup ini hanya berkata kalau pakaian tersebut ialah milik korban yang berhasil dia bunuh dan mengambil pakaianya untuk menghilangkan bukti apa yang sudah dirinya perbuat. Dari sisi lain keluarga itu tidak mengetahui hal apapun mengenai seorang penyusup ini. Akan tetapi masalah yang paling mengejutkan bagi mereka ialah mereka baru saja menangkap seorang pembunuh berantai.

Ini adalah kisah nyata dan juga benar-benar terjadi dialami oleh salah satukeluarga. Nama gadis tersebut adalah Shea McDonagh, kemudian nama dari penyusup dan juga sekaligus pembunuh ini ialah Adam Leroy Lane. Pria tersebut akan menghabiskan waktunya di dalam penjara selama 25 sampai 30 tahun lamanya.

Jadi pesan moral dari misteri pintu belakang rumah ini adalah selalu pastikan pintu belakang rumah kalian dalam keadaan terkunci. Tetap selalu waspada dan juga waspada, kalian tidak ingin menjadi korban dari kejadian ini bukan?

Sumber: Facebook

Cerita Misteri Aksara Kolojiwo, Dijamin Susah Tidur Habis Baca

Bikin Merinding Misteri Aksara Kolojiwo, Dijamin Bikin Tegang

Cerita Misteri Aksara Kolojiwo. Hujan, sebuah mobil pickup modifikasi tahun 90’an baru saja melintas. Sepanjang jalan, sopir tak henti-hentinya memandang jalanan berkelok, kiri kanan hanya terlihat pohon tinggi besar dengan kegelapan yang menyelimutinya, semua berjalan sangat lancar sampai terdengar suara gadis menangis.

Si sopir menghentikan mobil. Memandang kernet yang tengah asik tidur di sampingnya, “Jo, koen iku ojok turu ae, rungokno” (Jo, kamu itu jangan tidur aja, dengerin tuh)

“Apa toh cak, ra seneng ndelok aku turu tah” (ada apa sih mas, gak suka lihat saya tidur tah)

Sopir dan kernet saling memandang sengit, sebelum, rintik suara hujan yang mulai turun tak mengurangi suara syahdu yang membuat dua lelaki itu saling memandang

“Onok sing nangis cak?” (ada yang nangis mas?)

“Lah tadi aku wes ngomong, perikso” (kan aku udah bilang, cepat periksa)

Kernet melangkah turun, berbekal senter besar di tangan, dirinya menuju bak tertutup di belakang pickup, hujan masih turun deras sementara di samping kiri kanan tak di temui seorang manusia satu pun, kendaraan pun tampak sepi, meski di selimuti ngeri namun kernet tetap harus memeriksa.

Dengan cekatan dirinya membuka gembok, namun sekejap dirinya merasakan perasaan merinding berdiri di tempat ini, “asu!! mene nek aku dadi sopir, kernetku bakal tak sikso koyok ngene” (Anj*ng!! besok kalau aku udah jadi sopir, kernetku juga akan aku siksa kaya gini) gerutunya,

Suara tangisan tersebut memang berasal dari bak belakang pickup, tempat si kernet sedang membukanya, tiba-tiba “Piye, sopo sing nangis?” (gimana, siapa yang nangis?)

“Jancok! sek ta lah, iki tak perikso” (Sialan, bentar, ini lagi ku periksa) teriaknya melihat si sopir tiba-tiba muncul,

Pintu bak terbuka, si kernet mengarahkan senter ke dalam, di lihatnya pemandangan itu, mencari-cari sampai berhenti di satu titik, si sopir dan si kernet saling memandang, melihat seorang gadis kecil menangis di antara gadis-gadis kecil lain yang tengah terlelap dalam obat tidurnya

“Halo” kata si kernet, “sini.. kenapa nangis, takut ya, sama om aja ya”

Si gadis menatap dua lelaki di luar mobil bak, dirinya masih diam memandang bingung, “Namanya siapa, nanti om kasih permen”

“Mayang” ucapnya polos, si kernet tak menyerah, “mayang kalau takut sini..” bujuknya,

“Kesuwen jo” (kelamaan jo) kata si sopir tak sabar, dirinya melangkah masuk sebelum mengambil sapu tangan di saku, menekan hidung si gadis, tangannya mengelepar berusaha melawan namun perbedaan kekuatan membuat si gadis tak berdaya, ia akhirnya terjatuh, terlelap dalam mimpi buruknya lagi.

Si sopir melangkah keluar sembari menatap tajam rekannya, “Goblok, mene nek kerjo sing bener!!”(bodoh!! besok kalau kerja yg bener!!)

“Lah bos, aku wes nuruti lambemu, wes tak” (Lah bos, saya sudah nuruti mulutmu sudah tak) belum selesai bicara, si sopir berteriak

“Taek!! masuk”

Si sopir dan kernet masuk kembali ke dalam mobil setelah menutup bak belakang, mobil kembali melaju tenang, tanpa mereka sadari, di antara anak-anak itu ada satu yang masih terjaga, dirinya tahu apa yang terjadi bila dirinya menunjukkan dirinya dalam kondisi terjaga kemana mereka di bawa. Cerita Misteri Aksara Kolojiwo

Mobil berhenti di sebuah jalan setapak, sudah berkali-kali mereka bertemu dengannya namun tempat pertemuan selalu berubah-ubah, si kernet menatap si sopir, “cak, wes iki terakhir ae, ojok urusan ambek menungso model ngunu, sampeyan gak eroh arek iki bakal di apakno kan”

(mas, sudahi saja, jangan berurusan sama manusia kaya gini lagi, kamu gak tau kan mau di apakan anak-anak ini)

“Menengo, aku gak ngurus soal iku, sing penting duwike akeh” (diam saja, aku gak peduli soal itu, yang penting duitnya banyak)

Tak beberapa lama, terlihat seseorang muncul dirinya mendekati mereka dengan kereta kuda, di atasnya ada seorang lelaki tua yang mengenakan penutup kepala, dia yang sudah di tunggu oleh mereka,

“Wes, siapno arek-arek iku, tangane juragan wes teko”
(sudah siapkan anak-anak, tangan kanan bos sudah datang)

Lelaki tua itu turun, memandang si sopir tajam sebelum pandangannya beralih pada mobil tua itu, “rongsokan ngene buaken ae” (benda rongsokan gini, buang saja!!) katanya, si sopir hanya mengangguk, sembari menyesap rokok, “Aman kirimane” (kirimannya aman) si sopir mengangguk lagi, tiba-tiba entah ada apa, di tengah hujan turun, si lelaki tua itu seperti mencium sesuatu sebelum memandang tajam si sopir, “aku gak butuh cah lanang goblok!!” (aku tidak butuh anak lelaki bodoh!!)

Si sopir tampak bingung, “maksude piye to mbah?” (maksudnya bagaimana mbah)

Saat itulah mereka menuju tempat si kernet berada, di sana, lelaki tua itu masuk sebelum menarik rambut panjang salah satu anak yang tengah pura-pura tidur, anak lelaki itu merintih kesakitan, “iki opo gak arek lanang?” (apa ini bukan anak lelaki?)

Kedua orang itu bingung,

“Sak iki berarti sing mok gowo mek enem” (ini berarti yg kalian bawa cuma enam)

Dua orang itu saling berbisik, “iku yo opo ceritane arek lanang kok isok mok gowo” (itu gimana ceritanya kok bisa bisanya anak lelaki yg kau bawa)

“Rambute dowo e bos, tak pikir yo wedok”

(Rambutnya panjang bos, ya aku kira perempuan)

Si sopir tampak geram sembari memasang wajah sengit, “teros gak mok perikso nduwe perkutut ta gak?” (terus gak kamu periksa lebih dulu, dia punya perkutut atau tidak?)

si kernet tampak bingung, “ora bos, waktune mepet soale”

“Ngeten mawon mbah” ucap si sopir, “peyan bayar piro ae, kulo purun” (anda bayar berapa saja, saya terima)

Si mbah menatap tajam sebelum tersenyum licik, “teros, cah lanang iki gawe opo?” (lalu, si anak lelaki ini buat apa?)

Si sopir terdiam sebelum mengambil parang di mobil

Si sopir mendekati anak lelaki itu, menjambak rambutnya sebelum menghunus parang tepat di tenggorokan, si kernet membuang muka, dirinya tak tega melihat pemandangan itu sementara si lelaki tua mengamatinya tampak seperti menikmatinya.

Hujan turun semakin deras,

“Hop” (berhenti) ucap si lelaki tua, “Wes tak ramute cah iki, mene bakal dadi ajengku” (sudah biar aku rawat anak ini biar jadi penerusku)

Si sopir mengurungkan niatnya menatap si lelaki tua,

“Gowoen kabeh cah iku nang keretoku, wulan ngarep kudu jangkep, aku moh koyok ngene”

(Bawa semua anak itu ke keretaku, bulan depan harus lengkap tujuh, aku tidak mau seperti ini lagi)

Si sopir mengangguk takut, mereka segera mengangkat satu persatu anak perempuan, sementara anak lelaki itu tertunduk lemas, gemetar, si lelaki mendekati, “Siapa namamu?”

“Agus”

Kereta kuda mulai berjalan di atas tanah berlumpur meningalkan dua lelaki yang hanya diam tak berkomentar, mereka menatap anak lelaki yang kini bersanding di samping lelaki tua itu,

“Sak iki, tak kenalno kowe ambek tuan Codro”
(Sekarang akan ku kenalkan kamu dengan tuan Codro)

Kereta kuda berhenti, si lelaki tua turun sebelum menggandeng Agus kecil tak beberapa lama, orang-orang lain yang mengenakan pakaian putih mendekat mengangkat satu per satu gadis kecil dari kereta kuda, agus kecil hanya bisa mengamatinya tanpa tahu kemana anak-anak itu akan di bawa

“Wes bengi, turu yo le, mene baru tak duduhi cara urip nang omah iki” (sudah malam nak, tidur ya, besok saya ajarin cara hidup di rumah ini)

Pintu tertutup, si lelaki tua itu pergi, sementara Agus menatap seorang wanita berambut panjang tengah mengamatinya dari langit- rumah, pagi sudah datang, si lelaki tua mendatanginya kembali, Agus menceritakan semuanya, namun si lelaki tua itu tertawa, “iku jenenge jagrang, gak popo, mek ngetok tok ora bakal mangan awakmu” (itu namanya jagrang, gak papa, hanya menampakkan diri, gak akan memakanmu)

Lelaki tua itu memperkenalkan dirinya, “Jenengku mbah Ratno, celuk ae mbah kakung, aku iki mek abdi daleme tuan Codro, kerjoku mek ngurus jaran” (namaku mbah Ratno, panggil aja mbah kakung, aku hanya abdi dalam tuan Codro, kerjaku cuma ngurus kuda)

Mbah Ratno tertawa, bercerita banyak hal kepada Agus kecil, tentang rumah ini, tentang siapa saja abdi dalam lain, hingga sampai ke titik terakhir yang membuat Agus kecil penasaran, “nek bengi, ojok metu teko kamar yo le, soale.. onok Rinjani”

(kalau malam, jangan keluar kamar ya nak, karena ada Rinjani)

Agus kecil yang masih sulit untuk bicara tak berani bertanya, wajah mbah Ratno tampak ngeri saat mengatakannya, tiba-tiba terdengar suara tawa anak perempuan, Agus keluar dari kamar, di lihatnya anak-anak itu bermain

Agus ikut berbaur, berlarian kecil bersama anak-anak perempuan lain, namun Agus kecil merasa janggal pasalnya ketika dirinya dan anak lain bermain semua lelaki dewasa yang mengenakan pakaian putih dengan penutup kepala, mengawasi mereka meskipun tersenyum namun Agus tetap merasa aneh, namun Agus perlahan melupakan perasaannya yang janggal ketika melihat seorang perempuan yang ia kenal, Agus mendekatinya,

“la wes tak omongi ojok nangis” (kan sudah ku bilang, jangan nangis) kata Agus, perempuan itu menoleh dirinya berdiri menatap Agus, “Agus” katanya lirih,

Mayang dan Agus bermain hampir seharian, semua berakhir ketika lelaki-lelaki yang menjaga mereka mengatakan hari hampir gelap, Agus di jemput oleh mbah Ratno, tak ada yang aneh di rumah ini sampai-sampai Agus sendiri lupa bila dia punya rumah sendiri, tapi, ketika malam, rumah ini.

Seperti menyimpan kengeriannya sendiri, seperti ada sesuatu yang hidup di kegelapan dan baru keluar ketika malam datang,

Agus meringkuk di dalam selimut, dirinya mendengar suara wanita tertawa cekikikan dari luar ruangan, terkadang mereka ikut masuk, melotot menatap Agus sendirian

Tak hanya satu, namun banyak sekali makhluk seperti itu di sini, mereka melayang, kadang hanya mengintip dari celah almari, dari langit-langit, dan semakin Agus takut, mereka semakin senang, namun, suatu ketika, Agus pernah melihat mereka ketakutan saat suara itu datang,

Suara itu parau, nyaris seperti suara yang tengah sekarat, bila di dengarkan dengan telinga, membuat Agus begidik ngeri namun tak hanya dirinya, semua jagrang lenyap, pergi, sejujurnya Agus pernah hampir keluar dari kamar, sebelum dirinya merasa suara itu begitu dekat, mendekatinya.

Agus mengurungkan niat, dirinya meringkuk di bawah meja, mamandang pintu, dan sosok itu melewati kamarnya, bayangannya begitu hitam, dirinya berjalan seperti seseorang yang pincang, namun satu yang tidak akan pernah Agus lupakan, bayangan itu begitu panjang, seperti tak habis-habis.

Pagi kembali, Agus bermain dengan yang lain lagi, namun aneh, setiap hari terkadang satu persatu perempuan yang datang berkurang, namun anehnya tak ada satupun dari mereka yang merasa kehilangan temannya, kecuali Mayang, dirinya lebih sering murung sendirian.

Hari itu datang, Mayang tak lagi terlihat di antara yang lain, Agus menemui mbah Ratno di kandang kuda, namun lelaki tua itu seperti tak perduli, “Ra usah di reken, gedekno ae manokmu ben siap tak uruki” (gak usah di perdulikan, besarkan aja kemaluanmu biar bisa segera tak ajarin).

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

13 18 19 15 83 89 85 53 58 59

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

31 32 39 38 21 29 28 81 82 89

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

02 07 04 05 42 47 45 52 57 54

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

42 40 47 49 02 07 09 92 90 97

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

67 68 62 65 27 28 25 57 58 52

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

49 40 43 48 09 03 08 39 30 38

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

76 71 70 73 16 10 13 36 31 30

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

38 30 32 36 28 20 26 68 60 62

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

14 15 18 17 84 85 87 74 75 78

SELENGKAPNYA

Namun Agus tak menyerah, malam itu juga dirinya berniat mencari Mayang, mbah Ratno pernah bilang jangan pernah keluar dari kamar karena tak seorangpun berani untuk keluar, itu artinya Agus bisa leluasa mencari di mana Mayang berada, dirinya mendekati pintu saat suara tertawa itu muncul,

Agus melihat sosok Jagrang di depan matanya, kulitnya putih pucat dengan rambut sepinggang, dirinya menggeleng seakan memberitahu agar Agus tidak pergi, namun Agus menolak, dirinya ingin tahu rumah apa ini dan di mana Mayang dan perempuan perempuan lain, Agus keluar, hening.

Setiap Agus melangkah terdengar lantai kayu berderit, Agus tersadar sesuatu, bagaimana sosok itu bisa berjalan tanpa bersuara sepertinya, Agus menyusuri lorong, namun dirinya tak menemukan apapun selain kegelapan di mana-mana, tak ada satupun lampu petromaks di nyalakan.

Tiba-tiba, sekelibat seorang perempuan berlari menatap Agus dari jauh, dirinya tersenyum kepadanya memanggil-manggil, Agus pernah melihatnya, dia salah satu perempuan yang hilang, namun saat Agus mendekat, perempuan kecil itu lari lenyap di balik tembok kayu, Agus terdiam.

Hal itu terjadi terus menerus, mereka muncul dan menghilang kemudian tertawa terbahak-bahak menertawakan Agus, sampai akhirnya, Agus melihat anak itu menunjuk sebuah pintu, dirinya mengangguk sembari tersenyum, sebelum pergi lagi, Agus mendekati pintu itu, ia mencium aroma bangkai.

Agus membuka pintu, di baliknya ada anak tangga, meski ragu namun Agus sudah bertekad untuk mencari di mana keberadaan Mayang, ia menuruni anak tangga, di bawah Agus melihat banyak sekali rumput pakan kuda, Agus tak mengerti tempat macam apa ini, hingga ia melihat pintu lain.

Terdengar suara berkisik di balik pintu, membuat Agus semakin penasaran, dirinya mengamati tempat itu sebelum menemukan lubang di tembok, Agus mengintip dari lubang tersebut, di dalamnya ada seorang wanita tengah duduk di kursi di belakangnya ada seseorang yang tengah menyisir rambutnya.

Hal yang membuat Agus tersentak kaget adalah saat Agus tau ruangan itu di penuhi gumpalan rambut yang begitu banyak, Agus tercekat mundur, dirinya mencoba mencerna apa yang baru saja dia lihat sebelum kembali mengintip saat di depannya wanita itu ikut mengintip dirinya,

Agus sontak berlari dari tempat itu namun pintu terkunci secara tiba-tiba dan dari belakang sosok itu mulai mendekat, Agus berteriak-teriak meminta siapapun membukakan pintu, namun tiba-tiba, sosok itu melotot dengan mulut mengangah terus menerus mengeluarkan darah berwarba hitam kental,

Dirinya menunjuk Agus, sembari berteriak parau, “Sopo koen le?” (siapa kamu nak?)

Entah apa yang terjadi, Agus mulai menangis dan dari bola matanya darah merembas keluar di ikuti hidung sampai mulutnya, dirinya mendekati si wanita sebelum menunduk merengkuh kakinya yang cacat

Rasa nyeri yang Agus rasakan begitu menyiksa, untuk anak sekecil itu Agus hanya bisa meronta-ronta, seperti dirinya di kuliti dalam keadaan sadar, karena dirinya kemudian menggaruk wajahnya terus menrus tak perduli kuku jarinya mulai patah satu persatu, tiba-tiba terdengar suara yang ia kenal

“Niku rencang kulo buk” (dia teman saya ibuk)

Sosok wanita itu berhenti, sementara Agus masih berkutat di kepalanya, dirinya terus menarik kulit wajahnya menariknya hingga ada sentuhan yang dirinya kenal, dirinya terus berbisik, “kamu ngapain Gus, gila kamu! apa gak ada yang kasih tau”

Tak beberapa lama, pintu terbuka dan suara lain yang Agus kenal datang, dirinya mengangkat tubuh Agus sebelum membawanya pergi dari tempat itu, namun Agus masih mengelepar karena kulitnya masih terasa terbakar, Agus tak bisa melihat apapun,

“Koen golek pekoro, lapo cah lanang mok gowo mrene, tuwek goblok”(Kamu cari perkara, ngapain bawa anak lelaki kesini, tua bodoh!!) Agus hanya bisa mendengar perdebadan itu, mbah Retno sepertinya di marahi oleh yang lain, Agus masih terus menahan sakit, dirinya tak tau apa yang terjadi.

Hingga terdengar suara pintu di buka, dan kedatangannya mendatangkan keheningan, tak ada suara lain, Agus melihat bayangan seorang lelaki, aromanya begitu harum yang sejenak membuatnya tak merasakan sakit, mbah Retno lalu bicara, “Tuan Codro” katanya dengan suara yang halus,

“Onok opo toh iki?” (ada apa ini?)

Agus masih meraba, matanya tak begitu jelas menangkap sosok yang ada di depannya, terdengar suara berbisik-bisik yang di jawab dengan “Wes, petnono ae, ra isok urip cah iki, timbang kesikso, ndase isok pendem nang nisor wit ngarep”

“Sudah matikan saja anak ini, dia gak akan bisa hidup, daripada kesiksa, kepalanya kan bisa di pendam di bawah pohon depan”

Agus terkesiap saat mendengarnya, karena kemudian beberapa orang melangkah mendekatinya.

Tiba-tiba seseorang masuk, “ojok di pateni, cah iku isok urip gawe getihku, dee gak salah mergo gak sengojo ngambu ilmuku” (Jangan di bunuh, anak itu masih bisa hidup pakai darahku, dia gak salah karena gak sengaja mencium aroma ilmuku)S

Si lelaki menjawab, “Getihmu ra isok”

“Darahmu gak bisa. dia tetap mati, kecuali dia bisa belajar Aksara kolojiwo dan belum tentu anak ini kuat nanggung akibatnya, lagipula, mati ya mati saja, opo bedone”

“CODRO!! KOEN NGERTI SOPO AKU??”

Agus tercekat, suara itu begitu mengguncang, Agus seketika merasa dingin, tak beberapa lama, mbah Ratno berbisik pada Agus,

“Habis ini kamu akan minum darah yang akan jadi tanggunganmu gus, ini akibatmu kalau ndak nurut sama saya”

Mbah Ratno membantu Agus membuka mulut, dan cairan amis itu masuk ke tenggorokan Agus,

“Cah iki bakal dadi siji Rojot sing bakal melok nang dalane pituh lakon, iling-ilingen omonganku, sak iki gowoen aku adoh tekan omahmu, aku gak isok nang kene maneh”

(Anak ini kelak akan jadi Rojot yang akan ikut jadi orang yang penting, ingat pesanku, sekarang bawa aku pergi)

(Bawa aku pergi jauh dari rumahmu, aku tidak bisa di sini lagi)

Suara lelaki itu menjawab pelan, “iya Rinjani, Padusan pituh wes tak siapno kanggo kowe” (Padusan pituh sudah saya siapkan semuanya)

Si lelaki kemudian berbicara lagi, “No, basi Rinjani nguripi arek iki, aku gak isok nerimo, tapi aku isok nerimo nek cah iki isok urip tekan Benggolo sing tak gowo” (No, biarpun Rinjani sudah memberi kehidupan ke anak ini aku gak bisa terima, jadi aku akan mengujinya apakah dia masih bisa hidup setelah ku buat setengah mati dengan Benggoloku)

Agus masih belum bisa menerima apa yang masuk ke dalam mulutnya, karena setelahnya, dirinya di paksa lagi membuka mulut saat sesuatu di paksa masuk lagi ke dalam perutnya, Agus meronta-meronta.

Mira tersentak sebelum memuntahkan isi perutnya, seorang petugas stasiun mendekatinya, “Kenapa mbak? mimpi buruk lagi?”

Mira menggelengkan kepalanya, dirinya tidak tahu baru saja melihat apa, dirinya melihat seorang anak lelaki, Mira melirik buku di atas mejanya di sana tertulis sesuatu

“Aksara Kolojiwo”

Mira terdiam lama, dirinya harus tahu, apa itu Kolojiwo.

Mira masih menuggu di bangku stasiun saat dua orang lelaki dan satu perempuan mendekatinya

“Mbak Mira ya” kata si lelaki jangkung, Mira berdiri, mengangguk sebelum menyalaminya

“Oh oke, ini Guntur, ini Eka, dan saya Rasyid” kata si lelaki, Mira mengangguk mengerti,

“Saya gak tau darimana anda tau kalau kami mau naik gunung, tiba-tiba anda telephone dan mengatakan kalau mau ikut pendakian, saya kaget, tapi sudahlah, lebih enak kalau naik gunung itu memang bawa orang banyak” ucap Rasyid,

Mira hanya tersenyum, dirinya seakan di tuntun oleh sesuatu

“Jadi hanya kita saja berempat ya yang naik?” tanya Mira,

Rasyid menggeleng lalu menatap sekeliling sampai matanya tertuju pada seorang perempuan berambut panjang yang berjalan mendekati mereka,

“Ada satu lagi mbak Mira, namanya, Mayang” ucap Rasyid”. Cerita Misteri Aksara Kolojiwo

Sumber: Threader

Kisah Nyata! Cerita Misteri Lemah Layat Bagian Ke 2

Cerita Misteri Lemah Layat Bagian Ke 2, Dijamin Lebih Menegangkan

Cerita Misteri Lemah Layat. “kancamu kandanono, nang kene, ilmune gak onok apa-apane, mene nek wes sadar, gowoen nang mbah Pornomo.”
(temanmu kasih tahu, disini, ilmunya gak ada apa-apa nya, kalau sudah sadar, bawa dia ke mbah Pornomo) 
Ruslan mengangguk, “nggih mbah” sahutnya, “eh, nggih mbak” Ruslan mengkoreksi ucapannya, kini dirinya menatap rambut yang masih ada ditangan Lastri, dirinya pergi, menjauh dengan kaki pincang,
Ruslan menggendong Agus kembali ke rumah. Entah apa yang terjadi, Ruslan masih tidak mengerti  ditemani Koco, Agus dibawa ke rumah lelaki tua tersebut, dirin6ya sudah sadar, namun, dirinya seperti orang ling lung, wajahnya pucat, bahkan, Rusalan sudah mengajaknya bicara sejak tadi pagi namun, Agus hanya diam.
Mbah Pornomo hanya duduk memandangnya, dirinya menunjukkan kain kafan putih,  mbah Por, membuka kain kafan putih tersebut, didalamnya, ada segumpal rambut, Ruslan langsung tahu, rambut tersebut adalah rambut Agus,
“Nekat!!” ucap mbah Por, tanpa mengatakan apa-apa lagi, mbah Por langsung menghantam kepala Agus, sebelum menekan hidungnya, tiba-tiba darah hitam keluar darisana,  mbah Por langsung menyesap hidung Agus, Ruslan dan Koco hanya bisa melihat kejadian tersebut, mereka tidak mau berkomentar, setelah selesai, mbah Por mengambil batok kelapa, memuntahkan isi mulutnya,
Disana, ditengah-tengah genangan darah hitam kental, ada segumpal daging yang sudah busuk mbah Por membuang ludah sebelum membersihkan mulutnya dengan sapu tangan, dirinya meletakkan rambut hitam dan kain kafan di batok kelapa, membakarnya, dan tercium aroma yang sangat wangi, wangi sekali sampai Ruslan dan Koco bingung mbah Por kemudian meminumkan air putih, Agus sadar.

“Piye” tanya mbah Por, “Wes ngerti sopo sing nduwe lemah kui” (kamu sudah tahu siapa yang punya tanah tersebut)

Agus hanya diam, keringatnya mengalir deras, bibirnya mulai gemetar,

“Sudah lihat juga, Gundik’colo yang lain?” mbah Por masih bertanya,

Agus mengangguk  mbah Por berdiri, dirinya diam, kemudian mendekati Agus lagi, “boleh aku melihat apa yang kamu lihat”

Agus mengangguk, Ruslan dan Koco masih diam, dirinya melihat mbah Por, mencium tangan Agus seakan dirinya meminta restu, suasana menjadi hening, Cerita Misteri Lemah Layat sangat hening sekali, Ruslan dan Koco, mulai merinding  seperti tersedak, mbah Por melompat mundur, dibibirnya tiba-tiba keluar darah, dirinya merangkak, seolah mau memuntahkan sesuatu, Agus dan yang lain sontak menolong mbah Por, memijat lehernya
Mbah Por terus memukul dadanya, dan keluarlah gumpalan daging yang sama seperti Agus, daging colo’ berlumuran darah

“Artine opo toh mbah?” tanya Ruslan,

“Sing nduwe lemah, kate teko, njupuk opo sing kudu di jupuk” (yang punya tanah sudah mau datang, mengambil apa yang harus dia ambil)

“Nopo niku mbah?” (apa itu mbah)

Mbah Por tampak berpikir, “Lastri”  “co” kata mbah Pur, “awakmu eroh omahe pak RT, budalo mrono, ngomong’o, Balasedo’ne teko” (Kamu tahu rumah pak RT kan, bilang sama dia, Balaseda’ datang)

Ruslan melihat wajah mbah Por, dirinya tidak pernah segelisah ini, sedari tadi, mbah Por hanya mengelus janggutnya 

mbah Por melihat keluar rumah, lalu menutup pintu rumahnya, “melok aku” (ikut saya)

Ruslan dan Agus berdiri, dirinya berjalan di belakang mbah Por yang melangkah masuk ke salah satu kamar, di kamar itu, Ruslan banyak melihat benda-benda yang tidak asing lagi, bawang putih di pasak, cabai di ikat dengan benang, sampai kembang bertebaran di meja, mbah Por langsung mempersilahkan mereka untuk duduk, saat mereka duduk, tiba-tiba mbah Por memukul-mukul kepalanya, seperti orang kebingungan, bahkan, dirinya menghantam rahangnya, dan secara tiba-tiba, menarik paksa giginya..

entah gigi mana yang dia ambil, namun, Ruslan dan Agus merasa ngilu melihat itu di depannya, darah masih mengalir dari bibir mbah Por, namun, bukannya merasa kesakitan, mbah Por seperti tertawa terbahak-bahak melihat giginya sudah tanggal

“Edan” bisik Ruslan, yang ditanggapi agus, dirinya setuju  berpikir bahwa semua itu selesai, adalah kesalahan yang besar, mbah Por lagi-lagi, menekan gigi bawah yang berada tepat di tengah dengan kedua tangannya, matanya tengah menatap Ruslan, dengan nafas tersenggal-senggal, mbah Por menarik paksa, hingga darah mengalir deras dari bibirnya.

Menyaksikan hal gila seperti itu, membuat Agus dan Ruslan tidak kuat, dirinya mendekati mbah Por, namun, mbah Por tak menghiraukan mereka, dirinya seperti orang yang sudah kesetanan, dan benar saja, giginya berjatuhan dengan luka robek yang membuat Ruslan memalingkan wajahnya.

Mbah Por tertawa dengan serampangan, mbah Por mengumpulkan gigi yang berjatuhan tersebut, membungkusnya dengan daun pepaya yang berada di atas meja, cipratan darah masih dapat dilihat oleh Ruslan dan Agus, entah apa yang mau dirinya lakukan, Ruslan tidak mengerti, karena setelahnya, mbah Por menelan daun pepaya itu bulat-bulat.

“ben, nek ajor mesisan ajor” (biar saja, hancur sekalian hancur)

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

90 97 94 93 47 40 43 30 37 34

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

04 03 06 09 34 36 39 94 93 96

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

60 69 63 65 39 30 35 50 59 50

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

37 31 39 36 17 19 16 97 91 96

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

01 04 06 07 61 64 67 71 74 76

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

23 21 29 27 73 71 79 93 91 97

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

10 12 19 16 90 96 92 60 62 69

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

24 26 27 27 64 62 67 74 72 76

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

36 39 38 37 86 89 87 76 79 78

SELENGKAPNYA

Agus dan Ruslan tidak mengerti maksud ucapannya, karena setelahnya, mbah Por mengambil sebilah keris yang di gantung di atas tembok kayu, menyampirkannya di pinggul, sebelum pergi, mbah Por berpesan agar mereka tetap berada di rumah ini.

“Tengah malam saya kembali, saat itu juga, kalian akan saya bawa masuk ke rumah Lastri, agar kalian bisa tahu apa yang ada di dalam sana, dan” mbah Por tampak memandang Agus, “dia datang malam ini nak”Agus pucat, Ruslan bisa melihatnya.

“Onok opo seh asline gus” “bar koen ambek aku wes duluran mbok diceritani, asline opo sing mok wedeni” (ada apa sih sebenarnya gus, kamu sama aku udah saudaraan harusnya kamu cerita sebenarnya apa yang bikin kamu sangat takutan)

“Nang jero omah iku Rus, onok, onok” (di dalam rumah itu ada)

Agus seperti tidak bisa mengatakannya.

“Jancok onok opo seh?” (sialan ada apa sih sebenarnya)

“Nang jero omah iku onok” (di dalam rumah itu ada)

“Ranggon”

Ruslan yang mendengarnya hanya melotot pada Agus, “taek!!” (Tai) kata Ruslan, “pantes ae sing jogo model ngunu” 

“Lastri sing ndudui awakmu opo piye” (Lastri yang ngasih tahu kamu apa gimana) “modelan Ranggon, gak bakal di duduno ambek sing jogo, nyowo gus, taruhane, opo awakmu ndang sing” (model barang seperti itu tidak boleh di perlihatkan sama yang jaga, nyawa itu Gus taruhanya, apa jangan-jangan).

“Aku gak sengojo ndelok Rus” (aku gak sengaja lihat Rus)

Ruslan hanya duduk pasrah, matanya melihat keatas, “kadang aku mikir, awakmu iku pinter wes tak anggep masku dewe, eh, kadang koen goblok tenan koyok wergol, asu!!” (kadang aku mikir kamu itu pinter, sampai tak anggap abang sendiri, tapi kadang kamu bodohnya gak ketulungan, mirip Wergol, anj*ng!!) tidak beberapa lama, terdengar suara ketukan keras sekali, selain keras, suara ketukan itu tanpa jedah, membuat Agus dan Ruslan melihat ke pintu.

“Sopo iku gus?” (siapa itu gus)

Agus dan Ruslan mendekat, ketukan itu tidak berhenti-henti sebelum, “Rus, iki aku Koco!!”

Seketika Ruslan langsung membukanya, “Edan!! suwene mbukake!!” (gila!! lama sekali bukanya) sahut Koco emosi,

“Koen mbalik to” (kamu balik ya)

Belum Koco cerita, Ruslan dan Agus melihat apa yang ada di depan pintu. disana, berdiri pocong tepat di depan rumah, dirinya melihat Ruslan dan Agus, dengan tenang, agus menutup pintu, perlahan, dan sosok itu tidak terlihat lagi.

Koco tidak tahu, namun Ruslan, merasa ada yang salah sama desa ini. Tepatnya, saat ini, Koco duduk sembari merokok, “heran aku Rus, mari tekan omahe pak RT, gak koro-koro, kabeh wong koyok sepakat nutup omah, gak onok omah mbukak lawang, aku muleh nang Mes ae sampek gak di bukakno ambek arek-arek” (heran aku Rus, setelah dari rumah pak RT, semua rumah seakan sepakat-

gak ada yang buka pintu, bahkan waktu aku balik ke mes, pintunya gak di buka sama anak-anak, makanya aku langsung kesini)

Agus dan Ruslan tidak menjawab.

“Opo onok hubungane ambek iku mau yo” (apa ada hubungannya sama itu ya)

“Onok maneh co” (ada lagi gak co) tanya Ruslan,

“Rokok” jawab Koco,

“Gak goblok, onok maneh ta sing aneh” (gak bodoh, ada lagi yang aneh)

Koco heran, ini pertamakalinya Ruslan menolak rokok dan Agus, malah diem aja,

“Ya itu Rus, di depan pintu, aku nemu piring isi bubur, tapi cuma digeletakin aja, gak ada yang makan”

“Mas bukak mas” tiba-tiba terdengar suara bersahutan, Ruslan dan Agus pura-pura tidak mendengarnya, berbeda dengan Koco, dirinya lantas berdiri, “ada orang kayanya di luar”

“Ojok di buka Co, wes talah lungguh ae” (jangan di buka co, sudah duduk aja)

Koco melihat Agus dan Ruslan heran,

“Halah, koen iku, yok opo nek wong sing nasib’e koyo aku mau” (halah, kalian itu, gimana kalau orang ini yang nasibnya kaya aku tadi)

Koco melewati Agus dan Ruslan, suara-suara itu terdengar semakin lama semakin bising, “Mas bukak mas” “Mas bukak mas”

Ruslan dan Agus hanya berdiri, tepat saat Koco membuka pintu, dirinya tidak menemukan siapapun disana, Ruslan dan Agus pun merasa janggal, dirinya tidak melihat apapun di luar pintu,

Koco merasa heran, lantas menatap dua kawannnya, mereka saling memandang satu sama lain, sebelum, terdengar suara barang jatuh dari atas.  Koco berbalik, dirinya mendapati karung putih, dengan perlahan Koco mendekat, lantas melihat ke atas genteng, namun, dirinya tidak menemukan apapun,
Koco menatap karung putih itu, sebelum dirinya berbalik melihat wajahnya hancur berantakan, tanpa pikir panjang, Koco langsung masuk menutup pintu.

“Asu!!” kata Koco menatap Ruslan dan Agus, “Pocongan gus, pocongan Rus!!”

Agus dan Ruslan melihat Koco, lantas mereka kemudian bicara bersamaan, “Rokok’e”

Malam itu di lewati tiga orang itu dengan cerita tentang penghuni tanah layat tersebut, disini, Koco sudah mengerti semuanya 

hampir semalam suntuk, Ruslan, Koco dan Agus menghisap rokok, sementara di luar terus terdengar suara itu yang saling bersahutan, “Bukak mas, bukak”

“Jancok, menengo” kata Ruslan, menggedor-gedor tembok kayu itu, setelah berteriak, tiba-tiba hening, suara itu menghilang, Ruslan pucat pintu terbuka, semua mata langsung memandang ke pintu, bersamaan itu, mbah Por masuk, melihat ke tiga orang yang tengah merokok di ujung ruangan,

Baju mbah Por, sudah di penuhi oleh darah, wajahnya muram berantakan, lantas ia menatap Agus, “Ayok melok, ndang urusane mari” (ayo ikut)

“Agus tok mbah” (cuma Agus mbah) tanya Ruslan, Koco juga merasa harus ikut, lantas kemudian berdiri, mbah Por menatap Koco dan Ruslan bergantian, “tapi kalau kalian ikut gak papa, tapi nyawa kalian tidak bisa aku jamin ya”

Koco duduk lagi,  Ruslan melangkah, mengikuti Agus dan mbah Por, begitu keluar dari pintu, Ruslan baru sadar, suasana desa ini benar-benar lain, tak seorangpun terlihat di sepanjang jalanan desa, bahkan, binatang pun tiba-tiba lenyap semua,

Tak ada makhluk apapun yang hidup kecuali mereka, pintu di tutup

“Itu darah apa mbah?” tanya Agus,

“Halah, awakmu wes eroh iki getih’e opo” (halah, sebenarnya kamu tahu darah apa ini)

Ruslan menatap kesana kemari, dirinya tidak melihat satupun bentuk mengerikan dari wujud putih terbungkus itu, mbah Por menatap Ruslan, “ra usah wedi” melewati kebun Jati, mbah Por mendekati rumah Lastri, disana, sudah ramai layaknya pasar malam, hanya saja, yang berdiri hanya makhluk putih terbungkus itu (pocong), Ruslan melewatinya, dirinya tidak mau melihat wajahnya,

Begitu sampai di ambang pintu, Agus dan Ruslan melihat mbak Lastri duduk 

anehnya, mbak Lastri hanya diam, melamun.

Ruslan dan Agus berhenti tepat di depannya, Lastri hanya duduk dengan kain yang menutupi kakinya.

Mbah Por tiba-tiba memanggil, “mrene gus, iki kan sing kepingin mok delok iku” (kesini gus, ini kan yang mau kau lihat) 

Agus yang pertama masuk ke ruangan itu, sementara Ruslan masih melihat mbak Lastri, dirinya masih diam, duduk, sendirian di ruang tamu, aneh

Ruslan kemudian mendekat, dirinya langsung mencium bau amis nanah, dalam batinnya ia mengatakannya, “bau Ranggon” sembari menutupi hidungnya saat Ruslan melihatnya, tubuhnya menggelinjang, dirinya tidak menyangka apa yang Agus katakan itu benar

Hal seperti ini masih ada, Ruslan melihat, seseorang tengah terlentang di atas pasak kayu, dengan kulit yang dipenuhi borok, tubuhnya merah, tepat di bawahnya ada ember penuh dengan darah  darah itu keluar dari anusnya, Ruslan dan Agus saling menatap satu sama lain,

“Ranggon” kata mbah Por, “sudah lama ada disini, kalau belum di ijinkan mati sama yang punya, dia gak akan bisa mati”Ruslan membuang muka, dirinya tidak sanggup melihat darah yang terus keluar dari anusnya 

Ruslan mendekatinya perlahan, dirinya melihat kulitnya benar-benar tidak rata,

“Setiap ada borok baru yang muncul, dagingnya harus di iris, karena itulah, di beberapa bagian tubuhnya, kamu bisa lihat tulang belulangnya”

Ruslan masih tidak percaya, ini seperti mendengar dongeng kakek tiba-tiba Lastri muncul, dirinya melihat semua orang di kamar.

“Padu wes tekan mas” (dia sudah datang mas)
Mbah Por tampak tegang Cerita Misteri Lemah Layat, namun, Agus dan juga Ruslan melihat kaki Lastri, disana, daging di kakinya banyak yang sudah teriris, seketika Agus tahu, siapa sih Ranggon ini.

Merinding! Cerita Misteri Padusan Pituh Bagian 2

Dijamin Kalian Bakalan Susah Tidur Setelah Baca Cerita Misteri Padusan Pituh

Cerita Misteri Padusan Pituh bagian ke 2. Sudah lebih dari 6 jam Mira duduk di gerbong, sudah puluhan orang datang dan pergi, waktu berlalu begitu cepat, membuat Mira sendiri bertanya-tanya, apa yang dirinya cari selama ini, dan perlahan semua terungkap namun matanya menangkap seorang wanita tua, dirinya duduk sembari mengawasi

sejak tadi, wanita itu tak kunjung pergi, dirinya mengenakan gaun lawas cokelat, dengan belanjaan tas sayur di samping kakinya, Mira berusaha mengabaikannya, namun aneh, Mira merasa wanita tua itu terus melihat dirinya, tak sedetikpun dirinya berpaling, ekspresinya sangat dingin merasa ada yang salah dengan si wanita, Mira berdiri, dirinya berniat untuk pergi, Mira mengangkat tas punggungnya, tapi si wanita ikut berdiri, membuat Mira semakin yakin ada yang salah dengan dirinya.

Mira melangkah pergi, sesekali dirinya melihat si wanita mulai berjalan mengikuti, di gerbong lain, Mira melihat banyak sekali orang menatapnya sangat aneh, Mira berjalan tenang berusaha membaur dengan mereka, dirinya menoleh namun tak di dapati si wanita tersebut, belum, sampai si wanita melangkah masuk mendekatinya, Mira kembali berjalan berusaha menjaga jarak,

Mira memilih berhenti, dirinya duduk di salah satu kursi paling sudut, sesekali dirinya melihat si wanita, aneh sekali, kali ini si wanita hanya berdiri diam, mematung. Mira mencoba tenang, dirinya terus meyakinkan dalam dirinya tak ada yang salah, tak ada yang salah, berulang-ulang kali, di jendela hujan deras sangat turun, langit mendung, sementara kereta mulai memasuki area persawahan, Mira merapalkan jaket, memeluk tas punggung, sembari sesekali mengawasi, si wanita yang masih berdiri tapi anehnya, tak ada satupun orang yang merasa terganggu dengan kehadirannya.

Seorang lelaki yang duduk di depan Mira juga bersikap aneh, saat mata mereka bertemu, dirinya langsung membuang muka seakan melihat sesuatu yang mengerikan, Mira menatapnya lekat-lekat tangannya gemetar hebat sembari mencengkram koran,

“Pak” tanya Mira, si lelaki tersentak kemudian pergi, kepergian lelaki tersebut membuat Mira semakin bingung, dirinya menatap ke tempat di mana wanita tersebut berdiri, ia masih di sana, namun sesuatu mulai terjadi hening, Mira tak bisa mendengar apapun, bahkan suara hujan di luar jendela pun tak bisa dirinya dengar, si wanita mengangkat tangan menunjuk saat itu juga, fenomena tersebut terjadi, semua orang yang ada di dalam kereta berdiri, menatap Mira semuanya.

Mira bersiap, dirinya mengenggam rapat tas punggungnya, si wanita melangkah mendekatinya, semakin dekat, semakin dekat, dan, “Nduk”

Mira menghantam kepala si wanita dengan tas

Mira mendudukinya terus memukul-mukul kepala si wanita, Mira begitu kalap, teriakan si wanita membuyarkan semuanya, dirinya terus meminta-minta tolong dan Mira baru sadar, di sekelilingnya orang-orang berkerumun untuk memisahkannya, yang terjadi berikutnya Mira terguncang bingung

“Ini minumnya mbak” kata seorang lelaki petugas stasiun, Mira duduk di dalam ruangan tersebut di mintai penjelasan “nyapo to, ngantemi ibuk- koyok wong kesurupan” (kenapa sih, anda memukuli ibu- kaya orang kesurupan) kata si lelaki,

“Maaf pak, saya juga tidak tau” kata Mira menunduk.

Si petugas melihat kawannya, dirinya memberikan gestur tangan “STRESS!!” Mira menoleh, si petugas tampak tidak enak hati tersenyum sebelum melihat ke tempat lain

“Saya ndak stress pak”

Si petugas setuju, karena yang seharusnya stres mungkin ibuk yang di pukuli, di siksa di dalam gerbong

“Sebenarnya kamu beruntung, dia gak nuntut, kamu boleh pergi, tapi sebelumnya, buku apa ini?”

Mira menatap buku yang di bawa, buku itu tampak begitu usang bila di perhatikan lagi.

“Itu adalah peninggalan keluarga saya pak”

Si petugas percaya dan mengembalikannya, “kamu mau kemana?”

Mira mengambil buku, dan membuka lembaran di dalamnya, menunjuk kepada si petugas, ketika si petugas melihat gambar itu, dirinya menatap Mira, melotot sebelum memanggil kawannya, wajah mereka tampak begitu sangat panik sebelum mengatakan

“Mbak boleh pergi sekarang!!” kata si petugas tiba-tiba, “monggo”

Hujan masih turun, Mira melangkah menembus jalanan, masih terasa sangat aneh, karena di setiap Mira melangkah, semua orang yang berpapasan dengannya seakan-akan melihat dirinya sangat dingin, begitu membuat Mira tenggelam dalam kengerian yang dirinya ciptakan sendiri.

“Mas, bisa anterin kesini” tanya Mira kepada seseorang yang duduk berteduh, Mira menunjuk tulisan dalam bukunya, namun seperti yang lain, mas-mas tersebut tiba-tiba pergi meninggalkan Mira seorang diri,

“Asu” ucap Mira lirih, sudah lebih dari 10 kali dirinya di perlakukan seperti ini, tanpa dapat satu-pun orang yang mau membantunya, Mira terpaksa tidur di stasiun, saat itu dirinya bertemu lagi dengan si petugas, “Mbak yang tadi toh”

Mira berdiri menatapnya, “Saya ndak dapat tumpangan pak”

Si petugas kemudian duduk, dirinya menatap Mira, “ya sudah, saya antar saja ya”

Hujam sudah reda, namun mendung belum juga pergi, si petugas stasiun memberi Mira helm sebelum mengeluarkan motor buntut tahun lama ini, Mira menaikinya, perlahan motor berjalan pelan sebelum akhirnya menembus jalanan, di sana dirinya bercerita, bercerita tentang desa tersebut.

“Terakhir saya kesana itu sudah lama mbak” dirinya melihat Mira dari kaca spion, “Kalau mbak bingung kenapa banyak orang menolak sebenarnya karena sesuatu mbak”

“Sesuatu?”

“Iya. katanya, di sana” si petugas menelan ludah tampak ragu, “Ada Brangos”

“Brangos itu apa pak?”

Si petugas diam tidak ingin menjawab.

“Saya ndak bisa ngasih tahu lebih jauh, katanya Brangosnya muncul juga baru beberapa tahun ini, saya belum pernah lihat, saya juga penasaran sebenarnya”

“Muncul? maksudnya?”

“Ya muncul mbak”

Motor mulai memasuki area jalanan tanah, di kiri kanan jalan banyak sekali tumbuhan bambu

Belum pernah Mira merasakan perasaan setakut ini, namun, setiap motor melaju, ketakutan tersebut terus menumpuk, pelan, pelan sekali, seperti sesuatu berbisik-bisik di telinganya, Mira mulai melihatnya.

Kerumunan orang berjalan bersama-sama, si petugas menghentikan motornya.

“Mohon maaf mbak, saya pikir saya berani loh tadi, ternyata ciut juga nyali saya” dirinya menunjuk kerumunan orang itu, “Mereka warga desa di sana, mbak ikuti saja mereka, Ngapunten saya harus balik” (minta maaf saya harus kambali).

Meski aneh, Mira melangkah turun, setelah berterimakasih, Mira mendekati kerumunan orang-orang tersenit langsung memandang Mira dari kejauhan,

Meski ragu, Mira berjalan mendekati, di depan gapura desa Mira bisa melihat pohon besar, salah satu dari mereka mendekati Mira, bertanya kedatangannya kesini, Mira menurunkan tasnya bersiap mengambil buku itu, namun, dirinya ingat Bila dirinya menunjukkan buku tersebut, Mira takut mereka akan bereaksi sesuatu yang tidak di inginkan, lantas Mira mengatakannya bahwa dirinya adalah jurnalis yang datang untuk meliput desa ini

Pandangan orang-orang tersebut tampak tidak senang, tak ada satupun yang tersenyum, namun Mira melihat sesuatu di salah satu rumah, Mira menatap banyak sekali anak-anak kecil perempuan, mereka berlarian di depan sebuah rumah, tak beberapa lama, anak-anak perempuan tersebut menatap Mira sebelum tersenyum kepadanya.

Mira merinding melihatnya, karena setelahnya, seseorang mendekatinya, berbicara dengan si lelaki yang mendatangi Mira, “Pak, sampon sedo” (pak, dia sudah meninggal) meski orang itu masih tidak senang dengan kehadiran Mira, namun akhirnya mereka membiarkan Mira begitu saja, anak-anak perempuan tersebut lenyap sesaat kemudian.

Mira baru saja mengetahui setelah dirinya mencuri dengar, bahwa kedatangan orang-orang ini adalah menjenguk salah satu dari mereka yang tengah sakit, dan sekarang orang tersebyt sudah meninggal, mereka berkerumun di rumah duka, Mira masih mengawasi dari jauh, bertanya-tanya kenapa tak seorangpun bersahabat dengan kedatangannya. Mira semakin tidak mengerti bagaimana dirinya mencari semua ini, bila tak ada satupun yang mau membuka mulut, Mira berdiri masih menatap rumah duka, dirinya melihat orang-orang itu yang menggendong mayat sebelum meletakkanya di ruang tengah, orang-orang mulai mengelilinginya.

Mira masih menatap si mayayt, dengan kain kafan putih dirinya berbaring di atas tikar, sesuatu tiba-tiba berbisik di telinga Mira, berbisik lirih sebelum terdengar jelas, sesuatu seperti, “Tangi” (Bangun)

Tiba-tiba, entah bagaimana semua ini terjadi, Mira dan semua orang yang ada di sana menyaksikannya secara langsung, mayit yang sudah di kafani tiba-tiba terbangun, dirinya duduk menatap Mira dari dalam rumah.

“Brangos!!” batin Mira, jantungnya seperti berhenti saat melihatnya.

Orang yang ada di dalam rumah seketika menutup pintu, sedangkan orang-orang yang ada di luar rumah berkerumun mencari tahu apa yang terjadi, dari semua pemandangan tersebut, Mira yg paling penasaran, fenomena apalagi yg ia lihat ini.

“ada apa ini pak?” tanya Mira,

“berangos mbak, mayit sing urip maneh mergo onok pakane Rinjani nang kene!!” (mayat yang hidup lagi karena mencium makanan Rinjani)

“Opo?”

Si bapak geleng kepala, malas menjelaskan, mereka masih berkerumun mencari tahu, Mira semakin merinding

“Wes suwe loh gak kedaden ngene lah kok isok” (sudah lama loh gak kejadian Cerita Misteri Padusan Pituh begini, kok bisa muncul lagi) kata seorang lelaki pada temannya, Mira hanya mendengarkan, sesekali dirinya ingin melihat, namun rumah duka tertutup rapat

Tak beberapa lama, seorang anak kecil laki-laki berjalan mendekat, dirinya mengenakan pakaian serba putih sebelum dirinya masuk, anak lelaki itu berhenti menoleh melihat Mira.

Mira tertegun menatap anak itu, karena saat dirinya mendekat semua orang menunduk kepadanya, anak itu melangkah masuk ke dalam rumah duka, Mira mendekati orang di sampingnya bertanya perihal siapa anak itu,

“Anda tidak tahu beliau siapa?”

Mira menggelengkan kepala, “Beliau adalah Kuncen mbak”

“Kuncen” ucap Mira,

“Kuncen di desa ini”

Pintu terbuka, seseorang melangkah mendekati Mira sebelum memintanya untuk ikut masuk, awalnya Mira ragu namun dirinya akhirnya mengikuti, yang pertama Mira lihat saat melangkah masuk ke dalam rumah itu adalah mayat di depannya berdiri dengan kapas yang masih di hidung, matanya menatap Mira.

anak lelaki tersebut tengah duduk, matanya mengawasi Mira, “wes suwe ket kapan kae, pakane Rinjani mampir nang deso iki” (Sudah lama sejak makanan Rinjani terakhir mampir ke desa ini)

Mira menatap anak lelaki itu, dirinya tahu dia sedang berbicara dengannya,

“Ngapunten, asmone kulo, Ara” (maaf sebelumnya, kenalkan nama saya, Ara)

“Saya Mira” ucap Mira sembari masih mengawasi mayat yang terus berdiri di sampingnya, tak sedikitpun Mira takut, justru dirinya begitu tertarik,

“Bagaimana bisa seperti ini?” tanya Mira,

Ara menunduk sebelum mengatakan kepadanya, “Itu karena kamu menginjak kaki di tanah ini, tanah milik Rinjani”

Mira terdiam, banyak pertanyaan di dalam kepalanya, namun tampaknya anak lelaki itu sedang tidak ingin bicara banyak, yang terjadi selanjutnya, si mayat di ikat,

Sebelum di masukkan paksa ke dalam keranda

“Melok aku Mir, tak duduhno opo sing mok goleki” (kut aku Mir, akan ku tunjukkan apa yang kamu cari)

Mira dan rombongan itu berjalan masuk ke dalam kebun, banyak sekali pohon-pohon besar tinggi di kanan kiri, setelah menempuh jalan yang cukup jauh, mereka berhenti di salah satu rumah tua, Mira mengenal rumah tersebut, itu adalah rumah yang ada di dalam foto,

orang-orang mengeluarkan mayat mengikatnya dengan tali tambang, Mira bingung melihat pemandangan tersebut, karena yang terjadi selanjutnya, tali si mayit di tarik di gantung di atas pohon, di sana Mira tercekat menyaksikannya, tepat di atas sana, Mira bisa melihat ada 7 mayit yang sudah gantung di dahan-dahan pohon tersebut

Mira tak bisa berkomentar, dirinya shock menyaksikan pemandangan gila tersebut,

Belum berhenti sampai di sana, Mira harus melonjak kaget saat satu persatu mayit-mayit yang di gantung tersebut mulai bergerak, menggeliat satu sama lain,

“Mereka hidup” batin Mira,

“Wes ngerti bahayane ilmu-mu”

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

10 18 17 14 70 78 74 40 48 47

SELENGKAPNYA

PASARAN COLOMBO

23 21 26 29 63 61 69 93 91 96

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

37 31 32 38 27 21 28 87 81 82

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

SELASA DAN JUMAT LIBUR

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

36 39 35 38 56 59 58 86 89 85

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

24 21 27 29 74 71 79 91 94 97

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

83 87 81 86 13 17 16 63 67 61

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

67 60 69 61 17 10 19 97 90 91

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

96 94 98 97 46 48 47 86 84 87

SELENGKAPNYA

“Monggo” (silahkan)

Mira melangkah masuk di dalam sebuah ruangan besar, dari luar rumah ini memang begitu megah, terlalu megah untuk di miliki seseorang di desa ini, namun yang bisa Mira nilai dari rumah ini adalah bahwa rumah ini sudah di tinggalkan

Ada hal yang membuat Mira sadar dirinya tidak pernah di sambut di sini, tak seorangpun terlihat senang terutama saat tahu siapa dirinya, namun hanya anak lelaki ini yang tampak begitu tenang, sesekali dirinya tersenyum dengan wajah polosnya namun Mira tahu, ada seseorang di balik raganya ini.

“Wes suwe aku ngenteni kowe, sing ragil sing paling janjeni” (sudah lama saya nunggu kamu, yang paling muda, yang paling menjanjikan)

Ruangan tersebut sangat pengap, tak seorangpun di ijinkan masuk, orang-orang desa menunggu di luar rumah, anak lelaki bernama Ara itu terus berbicara,

“Ragil?” ulang Mira, “tapi saya anak pertama”

“Ora” kata Ara, “Awakmu ragil, aku wes tahu ketemu ambek kabeh pakane Rinjani, koen sing terakhir” (saya sudah pernah bertemu dengan makanannya Rinjani dan kamu adalah yang terakhir)

Mira tak mengerti, anak tersebut masih memandanginya,

Mira menurunkan tas punggungnya, mengeluarkan buku tua, dirinya membuka lembar perlembar sampai di gambar wanita dengan rambut panjang itu, Mira menunjukkan gambar tersebut pada anak lelaki itu dan wajahnya seketika berubah, dirinya memalingkan wajah, “Nduk” katanya seraya berpaling,

“Ojok pisan-pisan kowe wani nduduhno aku Rinjani!!” (Jangan sekali-sekali menunjukkan kepadaku Rinjani!!) ucap Ara,

“Apa itu Rinjani?”

Ara meminta Mira memasukkan kembali bukunya sembari dirinya menata duduknya, sebelum dirinya mulai mengatakannya,

“Rinjani adalah ingon milik Codro!!”

“Aku kenal karo bapakmu nduk” (saya mengenal siapa ayahmu) ucap Ara, “dia orang baik, sekaligus abdi kuncen yang bisa di percaya, dia jaga tempat itu karena memang tidak boleh sembarang orang yang mendekatinya”

“Kuncen Padusan pituh”

“Suatu hari ada dayoh datang ke tempat itu” Ara diam, dirinya mencoba mengingat kembali kejadian itu “dayoh itu adalah poro benggolo, mereka datang menyampaikan pesan bahwa tuan mereka akan datang kesini untuk mengambil sesuatu yang menjadi miliknya. kamu tahu apa itu?”

Mira menggelengkan kepala,

“Rinjani”

Mira tidak mengerti maksud dari Ara, namun Ara seperti bisa membaca pikiran Mira,

“Rinjani dulu manusia, terlalu kuat tapi justru karena kuatnya dia, Codro ingin menjadikannya ingon miliknya”

“Simbol warna dalam budaya jawa hanya ada dua, hitam dan juga putih” Ara menjelaskan, “Untuk menguasai putih seseorang harus benar-benar hitam terlebih dahulu, Rinjani benar-benar hitam, sudah ratusan orang melihat kengerian yang dirinya ciptakan”

“Setiap Rinjani datang ke desa-desa, anak-anak pasti menangis, selusin orang akan mati, Rinjani seperti penyakit, namun suatu hari entah apa yang terjadi dengannya, mungkin karena terlalu kuat atau apa, dirinya mengurung diri di sana, tempat akhirnya bapakmu mau jadi sebagai kuncennya”

“Rinjani ingin menjadi putih, dirinya sudah melalui jalan sehitam itu, namun sayangnya, Codro tak membiarkannya, dirinya ingin Rinjani tetap hitam, malam itu adalah malam yang paling gelap, ternak banyak yang mati, gagal panen di mana-mana, tapi Codro ingin Rinjani”

“Setiap hari, Codro kirim anak-anak ke tempatnya, Rinjani suka anak-anak, terutama anak perempuan, dirinya suka membelai rambut mereka, namun rasa suka itu perlahan menggerogoti isi kepalanya, Rinjani mulai berubah, dirinya mulai mencabut sehelai demi sehelai rambut anak-itu, sampai mati!!”

“Setiap hari, selalu ada anak perempuan yang masuk ke tempatnya dan tidak pernah keluar lagi, Kuncen yang semula menjaganya karena ingin Rinjani berubah, mulai ragu, mereka tidak mau lagi menuruti perintah Codro memberi Rinjani anak lagi”

“Saat itulah untuk pertama kalinya Rinjani menampakkan dirinya, dirinya keluar dari tempatnya bertapa, kulitnya tirus pucat, tangan dan kakinya kurus kering, namun rambutnya begitu panjang, dirinya menatap semua Kuncennya lalu bersumpah, anak pertama dari mereka akan menjadi makanannya”

“Maksudmu makhluk itu ingin saya?” tanya Mira, dirinya tidak begitu percaya dengan ucapan Ara, anak kecil yang di rasuki oleh sesuatu yang seperti ingin menggiringnya,

“Bukan itu yang saya ingin sampaikan” Ara menatap Mira, “Kau tahu, bapakmu benar-benar orang yang hebat!!”

“Paling hebat, karena dari 7 Kuncen yang memiliki anak, hanya bapakmu yang berhasil menangkal kutukan Rinjani untuk mendapatkanmu, setidaknya membiarkanmu hidup sampai sejauh ini. Karena itu, aku manggil kamu Ragil, paling muda di antara mereka”

“Tapi” Ara menatap Mira aneh, “setahun yang lalu, muncul dua orang perempuan yang datang ke desa ini, dia juga bisa menjadikan mayat hidup lagi sama sepertimu, namun aku tidak tahu siapa dirinya, pengetahuanku terbatas, dia hanya bertanya di mana Rinjani sekarang”

“Tapi salah satu dari mereka bukan sembarangan orang aku tahu” kata Ara,

Mira tiba-tiba membuka kembali lembaran-lembaran di bukunya, dirinya menatap Ara sebelum menulis sesuatu di atasnya, dirinya menunjukkan pada Ara saat itu juga,

“Sengarturih dan Bonorogo!!”

“Benar” kata Ara, “Salah satu dari mereka di ikuti oleh makhluk itu, bagaimana kamu bisa tahu?”

“Entahlah” kata Mira “Aku hanya menulis sesuatu yang kau ceritakan!! untuk apa mereka mencari Rinjani?”

“Aku tidak tahu, sepertinya akan terjadi sesuatu yang sangat buruk!!”

“Lantas, aku kesini dengan satu pertanyaan”

Ara mengamati Mira, dirinya tahu apa yang akan di katakan oleh Mira,

“Jangan nduk, bapakmu sudah susah payah ngelepasin kamu dari Rinjani, jangan kau tukar nyawamu dengan darah dagingnya Codro, Kuperingatkan kau!!”

“Aku juga harus mencari Rinjani!!” ucap Mira,

“Bangsat!!” teriak Ara, “kau tahu berapa lama aku nunggu kamu di sini untuk menyampaikan permintaan bapakmu langsung, kalian benar-benar sama, bodoh dan juga nekat!! Rinjani tak akan pernah bisa di ajak bicara, setidaknya itu yang terjadi dengan kepala keluarga Codro terakhir!! dia mati di tangan Rinjani!!”

“Codro mati?!” tanya Mira,

“Benar, sekarang keturunannya lah yang sekarang bersembunyi, dia menunggumu mematahkan sumpah bapakmu sendiri!!”

“Aku tetap harus ke tempat Rinjani, ada yang harus di benarkan” ucap Mira,

Mira menatap Ara, dirinya diam lama, sampai akhirnya anak lelaki itu menyerah, “bila memang kau memaksa dan aku harus melanggar sumpahku juga, akan aku lakukan”

Dua orang lelaki desa melangkah masuk ke ruangan

Satu dari mereka menarik rambut Mira, membuatnya menatap ke langit-langit, sementara yang lain memegang tangan Mira, menahannya, Ara berdiri di atas meja menatap wajah Mira, sebelum memasukkan tangan kecilnya ke dalam mulutnya.

“Ini akan sakit sekali, tahan!!”

Mira tercekat, tubunya mengejang saat anak lelaki itu menarik sesuatu di dalamnya,

“Ini adalah sumpah bapakmu Mir, sumpah yang tidak pernah dia buat dengan yang lain, namun untukmu dia harus mengorbankan nyawanya!!”

Mira menatap rambut di pintal di tarik terus mnerus dari mulut Mira panjang, sangat panjang sekali, Mira terus meronta, isi perutnya seperti di tarik, sementara Ara terus berujar, “ingat sekarang, ingat Mir”

Sekelebat bayangan neneknya muncul, Mira mengingatnya, mengingat saat neneknya merawatnya, piring berisi makanan yang Mira makan selama ini rupanya sepiring rambut panjang yang masuk ke dalam tubuhnya.

MJata Mira berair, rasa sakit itu menyeruak masuk ke dalam tubuhnya, sementara dari tenggorokannya rambut yang di pintal terus keluar, panjang, sangat panjang sekali

Setelah Ara berhasil mengeluarkan rambut panjang itu, Mira memuntahkan isi perutnya, “Sejak kapan!! sejak kapan!! mbahku melakukan itu”

Ara menatap Mira, di tangannya rambut itu tersulur panjang, “ini adalah rambut Rinjani, untuk mendapatkannya, bapakmu sampai harus mati!!”

Seseorang melangkah masuk, Ia berteriak, “Mayite wes mati, mayite wes mati!!” katanya, salah satu dari lelaki di ruangan menatap Ara, “yo mati to, wes dadi mayit!!” (ya iyalah sudah mati namanya juga mayit)

Saat itu, Mira menyadari Cerita Misteri Padusan Pituh, dirinya sudah kembali, namun dari jauh bisikan itu datang, bisikan yang selalu membuat Mira dulu senantiasa di tegur oleh neneknya, suara yang memanggil-manggil namanya. “sepertinya, dia memanggilku” Mira menatap Ara, sebelum menoleh, matanya menerawang jauh ke pemandangan di luar jendela, “Rinjani memanggilku”

Sumber: Threader

Cerita Misteri Lemah Layat, Dijamin Bikin Tegang

Cerita Misteri Lemah Layat, Sebuah Peristiwa Kelam Dan Hitammnya Dunia

Cerita Misteri Lemah Layat. Riuh. Suara motor dan angkot bersahut-sahutan, tidak ada yang mau mengalah, dari kursi penumpang angkot biru laut, dua lelaki paruh baya menatap jalanan, ekspresi wajah mereka khawatir. “jancuk” sahut salah seorang dari mereka, “isok telat iki” (bisa terlambat ini)

Lelaki yang satunya menoleh, dirinya mengkerutkan dahi, menatap kawannya, “mbok pikir koen tok sing gopoh” (kamu kira, cuma kamu seorang yang khawatir)

“Halah” “wes mlayu ae, gak nutut iki nek nuruti ngene iki” (lari saja yuk, gak sempat ini kalau kita nungguin ini)

Mereka sepakat,

Lantas, mereka langsung melompat dari dalam angkot, mulai berlari menuju jalanan stasiunt, berjibaku dengan orang lalu lalang, mereka abaikan keringat didahi, menembus lautan orang yang sangat sibuk dengan urusan mereka masing-masing, satu yang mereka harus tuju, kereta yang akan membawa mereka pergi.

“Goblok koen Gus, mene nek kate onok urusan, ojok tambah ngejak maen gaplek” (bodoh kamu gus, kalau besok ada urusan seharusnya gak kamu ajak aku maen gaplek)

Agus, lelaki gondrong dengan kumis tipis itu tertawa sembari menghela nafas panjang, dirinya merasa geli atas apa yang terjadi

“Halah. nyocot! sing penting kan menang, oleh duwek akeh” (bacot, yang penting kemarin menang kan, dapat duit banyak) ucap Agus, gemas, dirinya jitak kepala Ruslan, kawan yang akan menemaninya

Sebelumnya, Agus dan Ruslan setuju, daripada nganggur, lebih baik mereka ikut kawan, meski hanya sebagai kuli bantuan, tapi setidaknya, dari sana mungkin hidup mereka akan mulai berubah, tidak lagi harus mendengar kiri kanan tetangga yang mengecap mereka sebagai pengangguran yang gak punya masa depan. Kereta melaju, jauh. Meninggalkan kota kelahiran Agus, disini, kehidupan baru bagi Agus dan Ruslan, akan dimulai.

Agus yang pertama turun, diikuti Ruslan, mereka melihat sekeliling, harusnya, kawan mereka akan menjemput di stasiun ini, namun, dirinya hanya melihat orang lalu lalang, tidak ada tanda kawan mereka sama sekali.

“Asu arek iki Gus, dibelani adoh-adoh gak disusul” (anj*ng, anak ini, dibelain jauh2 eh, gak dijemput)

Agus mengangguk setuju, lantas, dirinya duduk, mengeluarkan sebatang rokok yang dirinya simpan di kantung celana, sial. gumamnya, hidupnya sulit, sebatang rokok yang bengkok pun, terpaksa dirinya hisap, kini, jadi kuli terdengar masuk akal baginya, seenggaknya, dirinya bisa makan nasi lagi

Ruslan hanya melihat orang-orang, lebih tepatnya, melihat perempuan-perempuan yang cantik yang lalu lalang, tidak ada rokok untuknya, jadi, daripada melamun, Ruslan tahu bagaimana memaksimalkan kemampuannya untuk menikmati pemandangan

Tak beberapa lama, terdengar suara teriakan familiar, ia datang

“Ayok”

Agus dan Ruslan mengikuti. “Numpak opo iki” (naik apa kita) ucap Ruslan,

“Numpak bis lah, iki jek adoh ambek nggone” (naik bus lah, ini tempatnya masih jauh soalnya)

Agus tidak banyak komentar, dirinya sudah diberitahu, kerjaan mereka tidak jauh dari kuli untuk bendungan, disepanjang perjalanan, Agus hanya melihat jalanan, mereka menaiki Bus antar kota, menjelaskan setidaknya kemana mereka akan pergi.

Koco, kawan yang mereka kenal dari warung kopi memang tidak banyak memberitahu soal pekerjaan ini, kecuali mereka butuh tenaga tambahan, bahkan, Koco tidak memberitahu, bahwa nanti, Agus dan Ruslan, tidak akan tinggal di Mes tempat para kuli resmi tinggal, Agus dan Ruslan, hanya tahu, bahwa ada rumah yang siap menampung mereka, selama mereka bekerja di tempat ini.

“Gratislah” kata Koco, “wes kere mosok jek dijaluki duwik, wes santai ae” (gratislah, masa kalian sudah susah, masih dimintai duit untuk tinggal, santai saja)

Ruslan hanya menatap Agus, bila ada yang gak beres dari suatu pekerjaan, adalah sesuatu yang berbau “gratis”

Agus nyengir, buang air saja bayar, ini, tinggal di rumah orang masa gratis. kalau gak rumah setan, ya rumah orang gak waras. tapi dilain hal, Koco meyakinkan Agus, bahwa rumah itu gratis karena sudah dibayar setahun penuh, dan pekerja sebelumnya sudah pamit pulang.

“Pamit pulang kenapa mas?” tanya Agus.

“Gak eroh” (gak tau) kata Koco, “isterine ngelahirno, jarene” (isterinya melahirkan, katanya) Koco mengangkat bahu, tanpa sadar, Bus memasuki daerah yang semakin malam, semakin sepi, sunyi, Agus masih tidak yakin, “sing liane” (yang lainnya?)

“Muleh pisan” (pulang juga) “gak kerasan” tutur Koco, dan kemudian, dirinya berdiri. “wes totok” (sudah sampai)

Ruslan dan Agus, mengangkat tasnya, mengikuti Koco yang sudah melangkah turun, pertama kali melihat Desa itu, Agus hanya melihat sebuah desa biasa saja, tidak ada yang aneh, kecuali, Koco.

Koco menunjuk sesuatu, sebuah jalanan lurus, setelah memasuki desa, Koco mengatakannya

“Omah sing bakal mok nggoni, lurus ae yo, wes ra usah menggak menggok, gampang kok ancer-ancere, yo” (rumah yang nanti akan kalian tinggali, lurus saja ya, gak perlu belak-belok, mudah kok posisinya) sahut Koco, sebelum menyalakan sebatang rokok, melipir pergi ke sudut desa lain, Agus dan Ruslan hanya saling menatap bingung, sebelum, bersama, mereka pergi.

Agus menelusuri jalan setapak, gelap, tentu saja. Ruslan tetap mengikuti dibelakang, tidak ada bedanya sama jalanan di desa Agus, hanya saja, mungkin karena tempat asing, suasana tersebut, membuat mereka merinding. “Koco Asu” umpat Ruslan, Agus setuju.

Saat mereka sampai diujung jalan, Agus dan Ruslan tidak lagi melihat ada jalan setapak, kecuali, rumput setinggi mata kaki, didepannya, ada kebun pohon jati yang menjulang tinggi, Agus dan Ruslan melihat disana-sini, tidak ada jalan, lelah bila harus kembali, Agus menembus masuk ke kebun jati seorang diri. Tak beberapa lama, Ruslan mengikuti.

Dibawah pohon jati, Agus menahan diri, sejak kecil, dirinya memang biasa dengan tempat seperti ini, namun Ruslan berhati-hati, pekerjaan yang sempat membuatnya bersemangat tiba-tiba seperti mati rasa, perasaannya tidak enak, tapi selama ada Agus, Ruslan merasa semua akan baik-baik saja.

Baik-baik saja, sebelum, Ruslan melihat tempat tinggal mereka, sebuah rumah yang ada dibalik kebun jati. Rumah kayu, berdiri sendiri, dengan petromaks yang sudah menyala, pintunya terbuka, Agus, mendekatinya.

“Gus, Rumah setan pasti gus” ucap Ruslan,

“Iya, rumah siapa lagi yang kaya gini kalau gak rumah setan” Agus menimpali, tapi dirinya, tetap mendekati, di pintu rumah, tercium aroma makanan, Ruslan semakin yakin, sampai, dari dalam, muncul si pemilik rumah

“Wes tekan ya, monggo” (sudah datang ya, silahkan), mata Agus bertemu dengan mata seorang wanita, usianya mungkin lebih tua dari pada Agus, sosoknya ramah, dirinya mengangguk saat Agus berdiri di depan pintu, dirinya melewati Agus, Ruslan melangkah masuk, mengamati makanan yang tersaji di meja, namun, Agus mengatakannya secara tiba-tiba.

“Saya mencium lemah layat dari makanan itu”

Si wanita menoleh, menatap Agus, dirinya tersenyum, mengangguk, sebelum pergi, Agus baru tahu, ada Rumah lebih besar, tidak jauh dari tempat dirinya berdiri.

Agus menutup pintu.

“Gak usah dimakan Rus, biarin aja” ucap Agus, dirinya memandangi rumah besar disebrang dari jendela, Ruslan mendekati. “prosoko gak onok omah iku loh gus mau” (perasaanku tadi, gak ada rumah loh disitu)

“Rumahe demit” kata Agus tertawa, membuat Ruslan kesal

“Goblok” sahut Ruslan, “aku eroh awakmu ngelmu, tapi yo ojok ceplas ceplos ngunu, awakmu nantang iku jeneng’e” (aku tahu kamu dulu suka ngilmu, tapi jangan begitu ngomongnya, itu kaya kamu nantangin dia) sahut Ruslan, khawatir

“Iya, Rus, paham aku, aku cuma mau lihat reaksinya”

“Itu makanannya gimana”

“Biarin aja, besok juga udah dimakan ulat” Agus menutup tirai jendela.

“Berarti temenan gak beres omah iki” (berarti bener rumah ini memang gak beres ya)

Agus duduk, sembari melihat makanan didepannya. Dirinya melihat Ruslan yang masih penasaran.

“Guk omahe sing gak beres, tapi lemahe iki sing gak beres” (bukan rumahnya yang gak beres, tapi tanah tempat rumah ini berdiri yang tidak beres)

“Lemah” (tanah) sahut Ruslan,

“Omah iki ngadek gok ndukure, lemah tapal” (Rumah ini, berdiri diatas tanah Tumbal)

Agus berdiri, dirinya berkeliling rumah, sebenarnya, daripada rumah, tempat ini lebih terlihat seperti gubuk kayu reot, hanya ada 2 kamar dan satu dapur, selebihnya ruang tamu dan pekarangan, namun, ada rumah yang lebih besar persis didepannya, rumah itu, bukan rumah demit, seperti yang Agus katakan, namun, rumah tersebut adalah rumah manusia. Agus pun mengatakannya pada Ruslan agar dirinya tidak bertanya lagi, “Perempuan tadi, itu Gundik’colo”

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

21 23 26 26 61 63 69 91 93 96

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

50 59 56 58 60 69 68 80 89 86

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

34 36 38 32 84 86 82 24 26 28

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

98 92 90 97 08 02 07 78 72 70

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

20 21 29 27 10 19 17 70 71 79

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

23 25 29 26 53 59 56 63 65 69

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

96 91 93 92 16 13 12 21 26 23

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

31 32 34 37 41 42 47 71 72 74

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

08 02 04 07 49 42 47 79 72 74

SELENGKAPNYA

Ruslan kaget bukan main saat mendengarnya. “masa, masih ada perempuan seperti itu”

“Iya” agus mengangguk, “kelihatan”

“Dari aroma dan cara dia berjalan kelihatan sekali dia Gundik’colo”

Ruslan geleng kepala,

“Serem juga ini tempat, pergi gak kita ini” sahut Ruslan,

“Gak usah, yang penting, hati-hati aja sama tuh perempuan” batin Agus, matanya melihat sudut dapur,

“Lihat apa”

“Pocongan”

“Matamu” kata Ruslan,

Agus hanya geleng-geleng kepala,

“Ada berapa?”

Agus menatap Ruslan, “masih 7 sih Rus, kayaknya nanti malam keluar semua” Agus pun menutup pintu dapur, “biarin lah” Agus melipir ke kamar, diikuti Ruslan, “Asu” umpatnya berkali-kali

Malam itu, masih awal dari segalanya. manakala Agus sudah terlelap dalam tidurnya, Ruslan mengintip dari jendela kamarnya, disana, jauh ditempat rumah tempat perempuan tersebut tinggal, dirinya tengah berdiri tepat di jendelanya, tengah menatap tempat Ruslan mengintip.

“Asu koen Gus, gara-gara lambemu, aku gak isok turu” (Anj*ng kamu gus, gara-gara mulutmu, semalam gak tidur aku) sahut Ruslan mengejar Agus yang sudah menyampirkan tasnya, bersiap menemui Koco yang sudah menunggu diluar rumah, beberapa kali Agus melirik Ruslan, senyumannya mengembang.

“Sing ngongkon awakmu gak turu iku sopo” (yang nyuruh kamu gak tidur itu siapa) sahut Agus, cengengesan, sampai didepan, Agus membuka kain yang dirinya gunakan untuk menutupi makanan, ketika kain dibuka, Ruslan melompat, melihat makanan semalam, dipenuhi belatung yang memakan saripatih, bau busuk langsung menusuk hidung Agus dan Ruslan.

“Bosok” (busuk) ucap Agus, “Ayo wes, kawanen” (yasudahlah, kesiangan kita)

Agus dan Ruslan melangkah keluar, tepat di depan rumah, tiba-tiba, mereka berhadapan dengan perempuan itu lagi, dirinya menunduk, mengucap “monggo”

Agus ikut menunduk, kemudian, melewatinya.

Ruslan yang sedari tadi memperhatikan, melihat gelagat mata perempuan itu yang mengikuti sosok Agus yang terus berjalan cepat, di sudut bibirnya, perempuan itu tersenyum, namun, Agus tidak tahu akan hal itu.

“He, gus, wong iku mau ngguyu loh ndelok awakmu, gak wedi ta” (gus, orang tadi senyum loh lihat kamu, gak takut)

“Tresno paling ambek aku” (suka kali sama aku) sahut Agus, tertawa-tawa

“Gak wedi di senengi ambek ngunu iku” (gak takut kamu di sukai yang seperti itu)

“Gak, iku ngunu jek menungso kok” (gak lah, bagaimanapun, dirinya itu masih manusia kok)

Lama mereka berjalan di bawah kebun pohon jati, sampailah mereka di jalanan setapak, menuruni jalan utama, sebelum melihat Koco dan semua teman-temannya, Agus dan Ruslan bertegur sapa sebelum memulai pekerjaannya.

Ruslan masih kepikiran ucapan Agus semalam, semuanya berputar dalam kepalanya, mulai dari tanah layat, pocong sampai Gundik’colo, semua itu, tidak asing baginya, kecuali, masih ada perempuan seperti itu di jaman sekarang.

Seujujurnya, dirinya takut sekali, namun Agus, aneh, hari mulai petang, Agus dan Ruslan kembali, manakala dirinya mau melewati jalan ke pohon jati, kebetulan, mereka berpapasan dengan seorang lelaki tua pencari rumput, lelaki itu, melihat Agus dan Ruslan bergantian.

“Kalian yang tinggal di rumah Lastri”

“Iya” kata Agus,

“Kalian sudah tahu, ada apa disana” ucap lelaki tua itu lagi, dirinya kali ini hanya melihat Agus,

“Iya bapak, saya tahu” sahut Agus,

“Yowes” katanya, “Jangan sembrono yo le” si lelaki tua pergi, melewati Agus,

Dari jauh, siluet hitam perempuan itu terlihat di ujung jalan

Ruslan yang pertama melihatnya, manakala saat Agus melihatnya, perempuan itu berjalan pergi, Agus dan Ruslan hanya berpandangan, lalu melanjutkan perjalanan ke rumah.

“Aneh gak seh” (aneh gak sih) kata Ruslan, “wong iku koyok golek molo” (perempuan itu kaya cari masalah sama kita)

Agus hanya mendengar Ruslan bicara, saat sampai di tanah terbuka, Agus melirik rumah besar itu, meski sama-sama terbuat dari kayu, namun, kesan ngeri saat melihatnya tidak dapat dikesampingkan, hal yang sama, seakan setiap hari, rumah itu menunjukkan tajinya kepada Agus.

Agus membuka pintu, dirinya tidak lagi melihat makanan diatas meja, semua sudah di bersihkan

“Aku adus dilek yo” (aku mandi dulu ya) ucap Agus, dirinya menuju dapur, dibelakangnya ada pintu lagi, disana ada sumur tua, Ruslan, memilih merokok di teras, rokok yang dirinya rampas dari Koco

Manakala ketika Ruslan menikmati kepulan asap rokok di teras rumah, Ruslan melihat sesuatu mengintip dari balik kebun pohon Jati

Ruslan mendelik, dirinya tidak salah lagi, yang mengintip itu pocong,

“Jancok!!” ucap Ruslan, melipir masuk ke rumah, menuju tempat Agus mandi

kebetulan, Agus baru selesai, dirinya melihat Ruslan, rokok dimulutnya mengepul tanpa dirinya sentuh

“Pocongan ya” kata Agus, sembari mengeringkan rambutnya “itu di kamar mandi ada dua”

Ruslan mengikuti Agus, “Pindah ae loh Gus, gak sreg aku nang kene” (pindah aja yuk, gak tenang aku)

Saat itulah, Agus mengintip Rumah besar itu dari jendela, matanya seperti tengah mengawasi,

“Gini, Rus” kata Agus serius, dirinya tidak pernah seserius ini, “Tanah tapal biasanya dipakai oleh orang kaya atau gak orang berpengaruh, sekarang pikir, kira-kira ada apa ya di rumah itu”

“Ya mungkin dulunya tanah ini tanah tapal, tapi belum di bersihkan, ya kali, dikira aku gak tau, ngebersihan tanah kaya gini sih gak sembarangan dan jarang orang mau, bahkan orang ngilmu kaya kamu, gak bakal mau bersihin kan” jelas Ruslan, dirinya masih melihat Agus yang masih mengawasi.

“Tau aku maksudmu Rus” jelas Agus, sekarang dirinya duduk, “Gunanya perempuan itu apa coba” “udah di tanah tumbal, eh di jaga sama Gundik’colo lagi, aku penasaran, yang punya siapa ya, aku jadi pengen tahu” Agus mengedipkan mata melihat Ruslan, saat itu Ruslan menyadarinya..

“Cok” kata Ruslan yang baru sadar arah pembicaraan Agus, “Koen kate nyolong opo sing gok jeroh omah iku ya” (kamu mau mencuri barang yang ada di dalam rumah itu kan) “Gila kau, itu perempuan gak sembarangan ya, cari mati kamu” Ruslan tak sanggup bicara lagi,

“Bukan aku, kita”

“Matamu gus” “awakmu dewe ae, pantes, ket pertama wes disuguhi barang gak bener ambek sing nduwe omah” (Matamu, kamu aja, pantas, dari awal, sudah dikasih sesuatu yang gak masuk akal sama yang punya rumah)

“Halah” Agus tertawa, “Gak lah, aku yo gak gendeng” (aku juga gak segila itu)

“Aku itu cuma penasaran aja, kerjaan itu perempuan jagain apa, atau gak, ngapain dia, kalau pocongan yang dibelakang kamu kan, cuma bisa ngelihatin kita, gak bakalan ngapa-ngapain, nah, masalahnya tuh perempuan juga ngawasi kita, pasti ada sesuatu” sahut Agus,

Ruslan, diam.

“Gus boleh tanya” Ruslan mencoba untuk tenang, Agus mengangguk, “Kata orang, tanah tumbal kalau dijaga pocong, tanahnya, ditanami kain kafan dari orang anyg meninggal, itu betul?”

Agus mengangguk,

“Dan kain kafan yang meninggal’pun gak sembarangan, harus jumat kliwon, betul?”

Agus mengangguk lagi,

“Berarti, berapa banyak, kain kafan yang ditanam di dalam tanah ini?” Ruslan menunggu Agus bicara

Agus tampak berpikir, “seratus kayanya”

Ruslan menelan ludah, “ada seratus pocong disini gus”

“Iya” kata Agus, “di luar, masih banyak yang berdiri lihatin kita”

Ruslan berdiri, dirinya menyesap rokok, tinggal 2 batang lagi, saat Agus meminta sebatang, Ruslan menolak, “Matamu, aku yo penasaran dadine, opo yo sing onok gok jeroh omah iku” (Matamu, aku kok jadi penasaran juga, apa ya yg disembunyikan disana)

“Mau lihat gak” sahut Agus,

“Oke”

Agus membuka pintu, diikuti Ruslan, “Loh loh, kok sak iki, gak engkok rodok bengi tah” (Loh loh, kok sakarang, gak nanti lebih malam tah)

Agus tetap berjalan, Ruslan kebingungan, mereka sampai di depan pintu, Agus mengetuknya, dan perempuan itu muncul, melihat Agus dan Ruslan

“Daripada saya penasaran, saya mau tanya sama kalian, kalian ini jaga apa sebenarnya?” kata Agus, Ruslan hanya melongo melihat kawan baiknya yang sudah hilang otak,

Perempuan itu tersenyum, mengangguk, lalu berujar lirih, “mongg mas,” (silahkan masuk mas)

Agus, melangkah masuk

Ruslan mengikuti dibelakang, dirinya melihat perempuan itu yang masih menunduk, memberi hormat pada mereka, setelah Agus dan Ruslan duduk, dirinya menutup pintu, menguncinya

“Saya kebelakang dulu untuk mengambil makanan, terima kasih, saya tidak perlu melakukan hal buruk pada kalian”

“Goblok” ucap Ruslan, “kamu gak bilang maksudnya lihat itu begini, aku kira nanti malam kita sembunyi buat lihat sendiri”

Agus hanya diam, dirinya tidak menggubris mulut Ruslan, tiba-tiba, perempuan itu muncul, “mas Agus benar, bila kalian datang sembunyi-sembunyi, kalian bisa celaka!!”

“Mbaknya tahu namanya Agus darimana?” tanya Ruslan,

“Saya pun tahu, nama anda Ruslan” perempuan itu meletakkan dua gelas kopi, tangannya begitu telaten, termasuk saat menghidangkan jajanan pasar itu, Ruslan tidak lagi bicara, dirinya fokus pada ekspresi perempuan itu yang datar.

“Saya sudah sering melihat petaka dimulai dari ketidaktahuan dan rasa penasaran, sejujurnya, hal itu memang bersifat lumrah dan dimiliki oleh setiap orang, termasuk anda, jadi, apakah semua sudah jelas mas Agus”

Aagus hanya diam, keningnya berkeringat, Ruslan baru menyadarinya

Agus tidak banyak bicara, dirinya meraih segelas kopi, menyesapnya perlahan, kemudian melirik Ruslan, “Kopinya aman Rus, diminum saja”

Ruslan pun merasa canggung, dirinya tidak mengerti, perempuan itu duduk, dan tidak memandang mereka, matanya kosong melihat tempat lain dengan perlahan, perempuan itu menengok pada Agus dan Ruslan, “kalian masih ingin tahu ada apa disini?”
Agus dan Ruslan diam saja, tidak ada pembicaraan lagi, saat Agus kemudian mengatakannya, “terimakasih suguhannya, saya pamit mbak Lastri” Agus berdiri, perempuan itu mengangguk.

Ruslan merasa aneh, dirinya tahu, Agus tiba-tiba berubah semenjak dirinya melewati pintu, seperti ada sesuatu yang tidak dapat dirinya katakan, manakala mbak Lastri sudah membuka pintu, Agus dan Ruslan melangkah pergi, ketika tiba-tiba, Ruslan tercekat, di luar rumah mbak Lastri, berjejer pocong

Agus dan Ruslan bergegas pergi, dirinya mencium aroma busuk yang membuat Ruslan menutup hidung, meski Agus berjalan biasa saja, dirinya seperti melamun, matanya kosong, Ruslan segera menutup pintu, dirinya melihat pocong-pocong itu menatap rumahnya, disana, perempuan itu masih berdiri di pintu

“Ada apa gus sebenarnya?” tanya Ruslan, Agus hanya bengong, matanya benar-benar kosong

Karena lelah menunggu Agus menjawab, Ruslan memberikan sebatang rokok dimulut Agus, beberapa saat kemudian Agus seperti baru sadar, “Cok, minggat yok” (pergi yuk)

Ruslan, heran

Agus masuk ke kamar, memasukkan semua bajunya ke tas secara serampangan, Ruslan yang masih kebingungan lantas, mendorong Agus bertanya dengan kesal “Onok apa sakjane” (ada apa sih sebenarnya) “Koen mau loh gak ngene, opo gara-gara kopi mau” (kamu tadi loh gak papa, apa karena kopi)

Agus menggeleng, “kopinya gak papa Rus, tapi” Agus menelan ludah, seperti lidahnya keluh,

“Kamu sih bodoh, ngapain nyamperin ke rumahnya, jadi gini kan sekarang” Ruslan menatap Agus kesal, “Itu pocong pasti sengaja biar aku lihat kan, sialan si Lastri”

“Aku kasih tahu ya Rus” kata Agus, “ini adalah tanah tumbal, kamu dengar sendiri kan, gimana ucapannya kalau kita sembunyi-sembunyi cari tahu, dia ngancam itu sebenarnya, satu yang harus kamu ingat dalam kepalamu, kalau kamu niat buruk ke tanah tumbal, nasibmu bisa tragis”

“Jadi karena itu, kamu datangin dia langsung” tanya Ruslan,

“Iya, buat minta ijin, kalau dia ngasih tahu”

“Trus, dia sudah ngasih tahu apa yang dia lakukan” Ruslan melihat gelagat Agus berubah, Agus membelakangi Ruslan, “dia perempuan yang gila rus, aku, mencium aroma darah disana”

“Darah apaan?” “darah pocong kali yang kita lihat tadi” sahut Ruslan

“Gak gak gak!!” sahut Agus” aku pernah cium aroma kaya gini, ini bukan darah karena luka, ini darah, apa ya” Agus tampak berpikir,

“Darah yang baunya amis sekali, darah perjanjian” Agus langsung sadar, “perjanjian”

“Tumbal maksudmu, pocong tadi” Ruslan masih bingung,

“Goblok kamu ya Rus,” “Tumbal itu gak harus manusia” kata Agus mulai kacau, “tanah Tumbal, itu maksudku, tanah ini di tanami bermacam-macam tumbal, ada kain pocong, rambut yang punya rumah pun bisa jadi tumbal, tumbal binatang”

“Orang dulu, terutama mereka yang punya nama, menggunakan bermacam-macam tumbal, agar tidak ada yang punya niat buruk bisa mencelakainya, tumbal pocong untuk menakut-nakuti saja, sama halnya dengan tumbal rambut si pemilik rumah, siapapun yang punya niat buruk, dirinya akan lihat si pemilik rumah terus menerus, tumbal binatang, bahkan, tumbal rempah-rempah, seperti cabai, bawang merah dan putih, semua itu bisa jadi tumbal, asal, ada mantra perjanjiannya, tumbal manusia jarang digunakan untuk menjaga rumah, tapi, saat aku masuk ke rumah itu.

“Ada sesuatu yang gak beres, sesuatu, yang gak bisa aku lihat, hanya tercium aroma amis darah itu, menyengat sekali, sampai membuatku ketakutan, ini gak biasa, ini, diluar apa yang aku tahu, perempuan ini, dirinya sesuatu yang sangat hitam, ancuk lah” sahut Agus, dirinya semakin kacau, tiba-tiba, terdengar suara pintu di ketok dengan keras,

“Tok!! Tok!! Tok!!”

Agus dan Ruslan, berpandangan satu sama lain.

Agus berjalan keluar kamar, Ruslan memandang dari dalam, dirinya mengintip, siapa yang mengetuk pintu, saat Agus membuka pintu, Ruslan melihat mbak Lastri, dirinya membawa piring dengan jajanan pasar, terdengar dirinya berbicara dengan Agus,

“Makanannya tadi belum dimakan mas”

Lastri, melirik..

“Tenang saja, makanannya saya beli dari pasar, jadi, gak ada lemah layatnya”

Agus hanya mengangguk, sementara Ruslan masih mengawasi, terjadi percakapan antara Agus dan mbak Lastri, namun, Ruslan tidak bisa mendengarnya,

“Saya tunggu jawabannya mas”

Mbak Lastri pergi.

Agus meletakkan begitu saja piring itu lantas menatap Ruslan,

“Ada apa gus?”

“COK!!” ucap Agus, dirinya kemudian duduk, dan menutupi wajahnya, tidak ada yang mau dirinya bicarakan sama Ruslan, namun, Ruslan tahu sesuatu, mereka belum boleh pergi.

Agus benar-benar tidak mau bicara lagi, lantas dirinya masuk ke kamar lalu tidur, Ruslan pun mengikuti, meski seranjang, Ruslan merasa pasti mbak Lastri mengatakan sesuatu, apa itu, entahlah,

Malam kian larut, baru saja Ruslan memejamkan mata, dirinya mendengar lagi, suara pintu di ketok

Anehnya, suara pintu diketuk tidak terdengar dari pintu depan, melainkan, dari pintu belakang, Ruslan beranjak dari ranjang, ia ingin membangunkan Agus namun, dirinya merasa tidak enak,

Keluar dari kamar, Ruslan, berjalan menuju pintu belakang, dirinya terdiam, di depan pintu. ragu untuk membuka semakin lama, ketukan pintu semakin intens, Ruslan akhirnya membuka pintu, saat dirinya melihat, seorang anak muda, anak muda yang usianya masih 20’an, anak itu menatapnya, ekspresinya ketakutan dengan keringat di bajunya,

“Mas tolong, mas, ijinkan saya masuk, tolong”

Ruslan, diam

“Ngapain malam-malam kamu kesini” tanya Ruslan, si anak lelaki sempat bingung, bibirnya gemetar, namun, kembali dirinya meminta tolong, dan meminta Ruslan mengijinkannya masuk,

“sopo Rus?” (siapa Rus?) tanya Agus tiba-tiba muncul, dirinya menatap anak muda itu, ekspresi wajahnya berubah

Agus mendekat dengan cepat, mencengkram baju anak itu, menariknya masuk, kemudian menutup pintu, wajah Agus terlihat panik

“GOBLOK!! kamu maling di tanah tumbal? cari mati kau!!”

Ruslan baru sadar apa yang terjadi, dirinya menatap anak lelaki itu yang kini ketakutan, Ruslan ikut panik belum selesai pembicaraan Agus, tiba-tiba, pintu depan di ketuk,

“Tok tok tok”

Ruslan dan Agus, menatap pintu, mereka terhenyak, Agus mendorong masuk anak itu ke kamar, menyembunyikannya di bawah ranjang,

Ruslan membuka pintu, dirinya melihat mbak Lastri, berdiri dengan parang, wajah mbak Lastri, melotot, dengan senyuman segaris nyaris seperti menahan luapan amarah, di tangannya, mbak Lastri mengenggam parang

“Ada apa lagi ya mbak” kata Ruslan, dirinya melihat gelagat mbak Lastri yang kemudian matanya menyapu isi dalam rumah, meski kakinya belum beranjak

“Ndelok Tekos kebon gak” (kamu lihat tikus kebun), mata mbak Lastri masih mencoba melihat-lihat isi rumah, namun, Ruslan menghalangi, wajah mbak Lastri semakin tidak enak untuk dilihat,

“Minggir, ben tak pedote sikile” (minggir, biar ku potong kakinya) sahut mbak Lastri

Mbak Lastri mendorong Ruslan, dengan langkah kaki cepat dirinya menyibak tirai kamar tempat dimana Agus dan Ruslan biasa tidur,

Jantung Ruslan rasanya mau copot, terutama, ketika sorot mata mbak Lastri menatap tajam Ruslan setelah dirinya melihat isi kamar,

“Mati aku” batin Ruslan

Mbak Lastri berbalik, tapi sebelum melewati Ruslan, dirinya mengingatkan, “Kancamu asline wes eroh, nek iku bakal mati kok, cuma sampekno, ojok jeru-jeru nek melu urusan sing gak dingerteni” (sebenarnya temanmu sudah tahu, dia akan mati kok, cuma sampaikan jangan terlalu ikut campur)

Ruslan mondar-mandir sepanjang malam, jantungnya terus berdegup kencang, tidak ada Agus dan bocah itu dalam kamar, rokok pun habis, kepala Ruslan seperti ditusuk-tusuk, dirinya gelisah, berjam-jam, Agus dan bocah itu hilang, “kucur” (sensor)(kemana manusia-manusia itu)

Pintu terbuka, Agus melangkah masuk, nafasnya tersenggal, badannya bermandikan keringat, dirinya langsung meneguk air dalam ceret sampai habis sebelum membantingnya

“GOBLOK!!” umpatnya saat melihat Ruslan, “Mati arek iku” (pasti mati anak itu)

Ruslan teringat ucapan mbak Lastri, ada apa sebenarnya

Ruslan mendekati Agus, ucapan mbak Lastri dan Agus nyaris sama persis, namun, hanya dia yang belum memahami situasi, dirinya tampak berpikir, namun isi kepalanya sudah mentok, dengan pelan, Ruslan mengatakannya kepada Agus,

“,aksudmu opo” (maksudmu apa)

Agus, mendelik menatap Ruslan,

“Aku bar ngekekno cah iku gok Lastri, ben arek iku isok urip” (aku mau memberikan anak itu kepada Lastri, biar dia bisa hidup), “Tapi cah kui, malah mencolot gok jendelo” (tapi anak itu malah melompat lewat jendela), “langsung ae tak kejar, ben uripe jek dowo, kan eman”-

(langsung saja, aku kejar, sayang hidupnya masih panjang)

Ruslan yang mendengarnya langsung bereaksi, “Stress koen Gus, sing onok, cah iku bakal di bacok ambek Lastri” (gila kamu ya, yang ada, anak itu bisa di potong sama Lastri)

“Justru iku” “paling derijine tok sing dipedot”

(Justru itu, paling hanya jari-jemarinya yang dipotong)

Ruslan, semakin bingung. namun Agus mengerti, Ruslan belum mengerti, lantas, dirinya mengulangi ucapan yang pernah dia katakan itu lagi, agar, Ruslan ingat.

“Jangan membuat masalah, diatas Tanah Tumbal, apalagi, untuk mencuri”

“Gimana gimana” kepala Ruslan seperti dibenturkan ke tembok, ucapan Agus terlalu berbelit

Lantas, Agus duduk, dirinya memandang Ruslan, wajahnya tidak bisa dibaca, bahkan oleh Ruslan sekalipun, yang sudah mengenal Agus luar dalam

“Nduwe rokok gak?”(punya rokok gak)

“gak” ucap Ruslan

“Aku tadi ngejar anak itu, kenceng banget larinya udah kaya kijang, dari situ aku jadi yakin, pasti ada apa-apa dari anak ini” Agus diam “Anak ini disuruh oleh orang untuk melakukan sesuatu disini, hal yang paling bangs*t! adalah, anak itu tidak tahu, tanah apa yang sebenarnya ada disini”

“Dia ada yang nyuruh” sahut Ruslan, Agus mengangguk,

“Anak itu sudah ketahuan, pantas saja, itu pocong sampe ngumpul kaya tadi, ternyata, mereka nungguin anak ini” “Masuk ke tanah tumbal, gak bisa seenaknya kaya gitu, harus dapat ijin yang punya, sedangkan, yang punya bukan Lastri”

“Lalu, hubungannya Lastri bawa parang apa?!” ucap Ruslan,

“Dia mau nolong anak itu, kalau anak itu mau selamat, dia harus minta ijin sama yang punya tanah ini, tapi itu kan gak mungkin, jadi, Lastri akan ambil apa yang harus di ambil dari anak itu, yaitu, jari-tangannya”

“Kalau Lastri gak melakukan itu” Ruslan menatap Agus, dirinya melihat Agus menatap kosong apa yang ada didepannya, lantas dirinya berdiri, lalu masuk ke kamar

Ruslan langsung sadar, dirinya teringat dengan maksud kedatangan Lastri tadi, sekarang dirinya tahu, alasan kenapa mereka belum boleh pergi, pagi itu, berjalan seperti biasanya.

Agus tidak banyak bicara seperti sebelumnya, dirinya sudah bersiap menuju tempat kerja, Ruslan hanya mengawasi, dirinya tidak mau membahas kejadian semalam.

Agus melihat sebungkus nasi di meja “Aku yang bungkusin makanan itu subuh tadi gus” kata Ruslan,

Setelah mendengar kata Ruslan, Agus baru mau membuka makanan itu, aneh. Agus yang sekarang dilihat Ruslan, seperti bukan Agus yang biasanya

“Kenapa tadi diam, takut makanannya dari mbak Lastri, biasanya kan, langsung tau dari aromanya” canda Ruslan, yang tidak ditanggapi sama Agus

Seusai Agus makan, mereka bersiap berangkat bersama, Agus masih tidak banyak bicara, namun, seperti tersentak, manakala baru keluar dari pintu, Mbak Lastri berdiri di teras rumah, di tangannya, dirinya tengah memegang gagang sapu.

Dirinya berdiri, tersenyum, menyapa mereka

“Ngeri” batin Ruslan, dilihat darimanapun, wajah mbak Lastri tidak memiliki emosi, matanya besar, hidungnya mancung, kulitnya sawo matang, dengan rambut disanggul, karismanya, membuat Ruslan sadar, Gundik’colo rupannya memang gila seperti cerita-cerita yang tersebar.

Ruslan menunduk baru juga Ruslan melewati mbak Lastri, Agus tiba-tiba diam berdiri di depan mbak Lastri, Ruslan ikut berhenti, dirinya menatap mbak Lastri yang memberikan sesuatu kepada Agus, namun, Agus buru-buru memasukkannya kedalam saku, seakan menyembunyikannya dari Ruslan, sorot mata Agus kaget

“Dia ngasih apa Gus” tanya Ruslan,
Agus hanya menggeleng, dirinya tetap berjalan, seakan mengabaikan Ruslan, kesal, Ruslan menarik tangan Agus, memintanya bercerita, terpaksa Agus mengambilnya dari saku celananya, dirinya, mengeluarkan setangkai bunga kamboja, Ruslan melotot menatap Agus

Koco sudah menunggu bersama yang lainnya, dirinya membagikan jatah rokok hari ini kepada Agus dan Ruslan, namun, Koco merasa hari ini ada yang berbeda dengan dua kawannya

“Onok opo toh iki, raine gak mbois blas” (ada apa sih ini, kok mukanya pada gak enak)

Ruslan melewati Koco “Nyocot”

Agus dan yang lainnya segera naik ke mobil pick up yang akan mengantarkan mereka ke tempat kerja, melewati rumah-rumah warga dari semua orang yang ada disana, hanya Koco yang juga merasa Agus jadi aneh, dirinya melihat Ruslan, memberi isyarat

“Kenapa sih Agus” namun Ruslan tidak perduli.

Jalan menuju lokasi kerja harus melewati jalan setapak yang hanya cukup dilalui satu mobil, disamping kiri ada perkebunan warga, disamping kanan tebing rumput, dengan sungai beraliran deras,

Ruslan merokok sambil melirik Agus, pikirannya kosong, disenggol beberapa kalipun, Agus tidak peduli, tiba-tiba, terdengar ramai orang tengah berkumpul disana, semua orang lantas berdiri di atas mobil pick up, mencari tahu ada apa, termasuk Agus dan Ruslan, mereka melihat warga menuruni tebing,

Koco yang saat itu dekat dengan satu warga yang mendekat langsung bertanya

“Onok opo cak” (ada apa pak)

“Onok cah mati nang pinggir kali mas” (ada anak kecil meninggal di sungai)

Ruslan menatap Agus, lantas, mereka semua langsung ikut turun untuk melihat.

Warga sudah ramai. “anak kecil dia bilang gus” kata Ruslan, “yang semalam kan anak gajah, sudah gak masuk anak-anak itu” bukannya tertawa, Agus justru ikut turun, melewati kerumunan warga, Ruslan yang merasa harus lihat juga terpaksa ikut Agus, ketika Ruslan berhasil, Agus mematung

“Cok” Ruslan tertunduk, menyaksikan sosok yang ditarik itu adalah pemuda semalam

Dirinya menarik Agus namun, Agus menolak, Koco rupannya dari tadi memperhatikan, dirinya ikut menarik Agus, dan akhirnya mereka pergi.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kalian” kata Koco, “Harus tak sampein kayanya”

Baru pertama kali, muka Koco tampak serius, sepanjang perjalanan, Koco tampak seperti mau bicara namun dirinya menahan semuanya, Ruslan dan Agus apalagi, mereka, sepanjang perjalanan tidak ingin bicara, pikiran mereka berdua, melayang-layang teringat wajah pemuda itu.

Turun di lokasi kerja, Agus tidak perduli dengan apa yang mau disampaikan Koco, dirinya memilih untuk mulai mengaduk semen bersama yang lainnya, hanya Ruslan yang mendengar Koco,

“Ngene, koyok’e omah sing mok panggoni angker yo” (gini, kayanya, rumah yang kamu tempati itu angker ya)

Ruslan, diam. dirinya tidak tahu harus menanggapi apa yang baru Koco ucapkan.

“Orang yg sebelumnya tinggal disana, itu mereka cerita kalau setiap malam, ada yang suka ngelihatin mereka” Koco tampak berpikir,

“Pocong sih katanya”

Ruslan masih diam.

“Mah, sebelum mereka pergi, satu dari empat orang yang tinggal, dia kaya si Agus begitu, diem aja” jelas Koco

“Terus” Koco tampak berpikir, lalu meminta Ruslan mendekat, saat Koco berbisik, Ruslan melotot menatap Koco, “Goblok. Wes eroh koyok ngunu, aku ambek Agus ber mok kongokon nang kunu, Edan koen cok!!”

(bodoh, sudah tahu kaya gitu, aku sama Agus malah disuruh tinggal disitu, gila!)

“Loh aku juga cuma ngikutin peraturan, udah gak ada kamar di mes, rumah itu sudah dibayar setahun penuh” Koco mencoba membela.

“Ya tapi, kamu gak bilang kalau ada kejadian begitu, tau tidak, perempuan depan rumah itu, Gundik’colo” sahut Ruslan,

Koco langsung diam.

“Jangan ngawur kamu Rus” kata Koco “mana ada perempuan begitu jaman sekarang!! fitnah Rus, fitnah!!”

“Agus yang bilang, kalau kamu gak percaya, tinggal sama aku saja, masih ada satu kamar” kata Ruslan,

“Matamu!! gak mau aku” Koco menolak, “yakin, dia Gundik’colo, sakti dong!!”

“Iya. sakti” kata Ruslan, “kalau dia mau, dia bisa gorok lehermu dari rumah”

Koco tidak bicara, ia seperti ingat sesuatu, tapi enggan mengatakannya, “Gini Rus, si Agus, awasi dia ya, kalau ada aneh-aneh, bilang sama aku, aku kenalin sama seseorang” kata Koco,

“Asu koen cok!!”

Semenjak Ruslan tahu sesuatu, setiap diriinya sampai di rumah, Ruslan mengunci pintu, dirinya sering melihat ke jendela, matanya mengawasi rumah itu.

“Gus, kapan yang punya ini tanah datang”

“Nanti Lastri ngasih tahu” ucap Agus,

“Kamu sih nantangin perempuan itu” kata Ruslan,

“Rus, aku mau ngomong, kalau aku pergi, kamu di rumah aja, jangan kemana-mana ya” jelas Agus

“Piye gus” tanya Ruslan, saat itu juga, suara pintu diketuk, Ruslan terhenyak sesaat menatap pintu

Agus, berdiri, dirinya membuka pintu, tepat disana, ada mbak Lastri, Agus menutup pintu

Ruslan hanya bisa diam, ketika Agus melangkah lebih dulu, dibelakang, mbak Lastri menunduk memberi salam pada Ruslan, tepat di tangannya, dirinya mengenggam pisau kecil yang biasa digunakan untuk memotong ari-ari,

“Saya dulu, mas Ruslan” ucap Lastri, dirinya mengikuti Agus masuk rumah

Ruslan langsung lari, dirinya menembus kebun Jati, dirinya harus mencari Koco, menyampaikan apa yang dirinya lihat, tepat seperti apa yang Koco ceritakan siang tadi,

Manakala, Ruslan berlari, dirinya mencium aroma kentang, sekeliling kebun Jati, dipenuhi pocong

“Mas, tolong, bukake tali kulo” (mas, tolong, bukakan tali saya)

Satu diantara mereka mendekati Ruslan, dirinya melayang hanya beberapa senti dari atas tanah, Ruslan gemetar, dirinya tidak mau melihat muka yang hancur dan berbau kentang itu,

Ruslan, lanjut lari. Syukur, Ruslan tahu dimana biasa anak-anak nongkrong, Koco sedang main kartu, saat Ruslan menceritakan Agus, Koco menelan ludah, dirinya buru-buru pinjam motor, mengajak Ruslan menemui seseorang,

Selama diperjalanan, Ruslan hanya kepikiran dengan sorot mata Lastri, licik,

“Agus iku ngilmu tapi loro” (Agus itu ngilmu tapi sakit) “Kalau tahu ada Gundik’colo, ya mending ngalah, gak usah ngelawan gitu to, wong pintar aja pikir-pikir kalau adu ilmu sama yang model begituan” sahut Koco, dirinya menambah kecepatan motor, menembus rumah warga

Sesampainya disana, Koco buru-buru mengetuk pintu, namun, si pemilik rumah sepertinya tidak ada, rumah kayu itu ditutup rapat, Ruslan menatap kesana kemari, kepalanya sakit sekali, Agus seperti dipelet terang-terangan sama mbak Lastri, tapi apa ya bisa, Agus kepelet semudah itu

Koco terus memanggil, namun, tetap tidak ada jawaban, Ruslan yang sudah tidak sabar ikut mengetok pintu, saat, dibelakangnya, terdengar seseorang “Cari siapa le” (mencari siapa dek)

Koco dan Ruslan berbalik, dirinya melihat lelaki tua dengan sak berisikan rumput, menatap mereka Ruslan ingat dengan lelaki tua itu, dirinya suka mencari rumput di kebun jati, tapi, bila di ingat lagi, cari rumput kenapa harus malam seperti ini, apalagi, rumput yang dia ambil dari kebun jati tempat Ruslan melihat.

“Malam pak” Koco memberi salam, mencium tangannya, Ruslan, diam

Koco menceritakan semuanya, lelaki tua itu hanya berdiri di ambang pintu, dirinya mengintip ke jendela, “pirang atus pocong iki sing ngejar awakmu le” (ini berapa ratus pocong yang ngejar kamu nak)

Koco ikut melihat jendela namun dirinya tidak melihat apapun, namun Ruslan, melihatnya..

“Kamu pulang saja, teman kamu sudah gak bisa ditolong” sahut lelaki tua itu kepada Ruslan, namun, Koco mencoba bilang, “Tapi mbah, yang dulu juga mbah kan yang nolongin”

“Beda kasus itu le” kata si lelaki tua, “kalau yang ini, temanmu sejak awal disukai sama cah gendeng iku”

“Cah gendeng mbah?” tanya Koco,

“Apalagi kalau gak gendeng tuh bocah, aku tau perjalanan hidupnya sampai dia jadi begitu, saya sih bisa kalau adu ilmu, tapi ya, Gundik’colo ini” lelaki tua itu tertawa, dirinya melempar pocong yang Ruslan lihat dengan tulang ayam, “saya bisa mati”

“Lalu bagaimana mbah?” tanya Koco,

“Temanmu itu ilmunya juga lumayan, dia pasti ada alasan kenapa mau, kalau dipelet sih, gak yakin aku, pasti ada yang dia sembunyikan” kata si mbah, sekarang, dirinya melempar apapun kearah pocong diluar rumah, Ruslan bingung, seperti dirinya sengaja. Koco sudah tidak bicara lagi, namun kemudian, Ruslan mengatakan apa yang seharusnya dirinya katakan dari tadi.

“Mbah bilang tadi tahu perjalanan hidupnya, mbah kenal sama mbak Lastri?”

Setelah Ruslan mengatakan itu, lelaki tua itu berhenti bermain sama pocong di depannya, dirinya diam.

“Ia saya kenal dia” lelaki tua itu kini duduk, dirinya menutup pintu setelah meludahi pocong yang mau masuk ke rumah, “Guru saya yang membantunya menjadi Gundik’colo seperti sekarang, namun hal tersebut semua, atas dasar keinginannya sendiri”

“Lastri, sebenarnya, seusia sama saya”

“Kalian ada rokok” sahut lelaki tua tersebut,

Ruslan memberi tanda pada Koco, Koco langsung tahu maksud Ruslan, dirinya meraba saku celana, mengeluarkan sebatang rokok, memberikannya pada lelaki tua itu, dirinya menghisap rokok sebelum mengatakannya

“Lastri bukan yang pertama di kampung ini”

“Maksudnya mbah” tanya Ruslan,

“Lastri bukan Gundik’colo pertama di sini, karena, dulu, sudah ada Gundik’colo juga sebelum Lastri”

Koco beringsut mundur, Ruslan apalagi, lehernya meremang, merinding, satu Gundik’colo saja sudah gak waras, ini, malah sudah ada sebelumnya

“Lalu, bagaimana akhir Gundik’colo sebelumnya mbah?” Tanya Ruslan, Koco hanya bisa menelan ludah, di rumah kayu itu, mendadak, hening, sepi sekali, bahkan, api petromax bergoyang tidak normal, lelaki tua itu tampak berpikir sebelum

“Lastri ada di depan, sebaiknya kalian kembali”

Lelaki tua itu berdiri, dirinya membuka pintu, jauh di sana, mbak Lastri berdiri di teras rumah, matanya kosong melihat kearah pintu, lelaki tua itu menatap Ruslan dan Koco,

“Saya tidak bisa membantu banyak, temanmu, dia sudah ada di rumah, masalah ini, coba selesaikan dengannya”

Ruslan melirik ketika dirinya berpapasan dengan Lastri yang kemudian masuk ke rumah lelaki tua itu, dirinya mendengar Lastri menggumamkan sebuah nama, “Pornomo”, jadi, nama lelaki tua itu adalah Pornomo, untuk apa, Lastri masuk ke rumahnya, apakah ada sesuatu yang mau mereka bicarakan,

“Edan!! aku jek gak percoyo, Gundik’colo jek onok, mese onok 2 pisan nang deso iki, gendeng” (Parah!! aku masih gak percaya, Gundikcolo masih ada, malah ada 2 lagi di desa ini, Gila) kata Koco di atas motor,

Ruslan, hanya berucap “nyocot!!”

Koco diam,

setelah Koco mengantar Ruslan, ia kembali ke rumah itu, melewati kebun jati sendirian, dari jauh, rumah itu sudah bisa dilihat, pintunya terbuka, tepat ketika Ruslan melewati pintu, ia melihat Agus, tengah duduk seperti menunggunya..

“tekan ndi?” (darimana?)

“cari rokok gus”

Agus hanya mengangguk, seakan tidak mau mendebad Ruslan, ia masuk ke kamar, sebelum masuk, Agus mengatakannya, “awakmu turu nang sebelah yo, aku kepingin turu ijen” (kamu nanti tidur di kamar sebelah ya, aku ingin sendirian)

Ruslan tidak menjawab, Agus berbeda,

berjam-jam sudah berlalu, Ruslan masih belum bisa memejamkan matanya, lantas, ia tiba-tiba merasa harus tahu, apa yg ada di dalam rumah itu, apa yg di jaga sampai yg jaga harus perempuan seperti itu,

Ruslan beranjak dari ranjang, lantas, ia berpikir untuk memeriksanya saja,

ia melewati kamar Agus, berjalan pelan-pelan, saat, Ruslan merasa ada yg salah, ia kembali, membuka gorden yg menutupi kamar Agus, disana, Ruslan terhenyak, melihat Agus duduk bersila di atas ranjang, di depannya, darah berceceran,

Agus memuntahkan darah dengan mata terpejam

“he cok koen lapo cok” Ruslan mendekati Agus, menepuk2 pipinya, namun, Agus seperti tidak sadarkan diri,

Ruslan kebingungan, lantas ia buru-buru mengambil segelas air ke dapur, meminumkannya pada Agus, namun, ia terus memuntahkannya, tiba2, terdengar suara Lastri berteriak,

Agus belum juga sadar, namun diluar, pintu depan digedor-gedor dengan keras, suara Lastri berteriak seperti orang tengah marah

Ruslan mendekati pintu,

“BUKAK!!” “BUKAK GOBLOK!!”

Ruslan pun membuka pintu, Lastri langsung masuk, ia berjalan pincang, dengan tangan menyeret parang

Ruslan langsung menyusul Lastri, namun, Lastri keluara dari kamar dengan sendirinya, menyeret Agus, ia menjambak rambutnya yg panjang, Agus masih muntah darah, Ruslan mencoba menahan Lastri, namun, tatapan matanya, membuat Ruslan ngeri sendiri, “Mundur koen!!” (mundur kau!!)

“mbah isok diomongno apik apik mbah, gak usah gowo parang nggih” (mbah bisa dibicarakan baik baik mbah, tidak perlu pakai parang ya) ucap Ruslan,

Lastri berhenti, ia menatap Ruslan, menghunuskan parangnya, “mbah”

“mbak maksud kulo, mbak” (maksud saya mbak)

Lastri menyeret lagi

sampai di pintu rumah, Lastri melemparkan Agus, menyeret kakinya sampai ke perkarangan antara rumah Lastri dan rumah tempat tinggal mereka

Ruslan yg tidak tahu harus apa dengan situasi ini, lari masuk rumah, ia mengambil pisau di dapur, ia kembali, melihat Lastri sudah menghunus

parang yg Lastri pegang, terhunus di leher Agus,

Ruslan sudah gemetar, kalau sampai Agus di gorok, ia akan buat perhitungan, namun, rupannya, Lastri menjambak rambut gondrong Agus, lalu memotongnya dengan parang, Agus terjerembab jatuh ke tanah, ia berhenti muntah darah

Ruslan mendekati Lastri, menatap segumpal rambut yang dirinya pegang.

Sumber: ChirpStory

Bikin Tegang! Cerita Misteri Padusan Pituh Bagian 1

Jangan Baca Sendirian, Cerita Misteri Padusan Pituh, Dijamin Bikin Tegang

Cerita Misteri Padusan Pituh. Saya inget, malam itu, saya lagi mau tidur. lampu kamar udah saya matikan, di luar turun hujan gede” “tiba-tiba.. saya denger suara pintu kamar di buka, karena saya penasaran, saya turun dari tempat tidur, saya jalan sampe pintu kamar, pas saya intip, ternyata ada nyokap saya, wajahnya.. kaya orang bingung gitu.

“Saya udah mau buka pintu kamar, tapi.. tiba-tiba, nyokap saya masuk ke kamar itu” “awalnya saya pikir selesai, toh dia berdiri di kamar adik saya, namanya.. Lindu” “pas saya mau balik ke tempat tidur, tiba-tiba, saya denger suara Lindu teriak kenceng!!” “nyokap mau bunuh anaknya sendiri!!”

“Saya lari, di ikuti orang serumah” “lo tau apa yang terjadi disana?” wanita itu menatap semua orang yang melihatnya bercerita.

“Nyokap cekik anaknya, iya, anaknya yang masih umur 7 tahun!!” wanita itu tertawa sembari bercerita, membuat semua yang mendengarnya merasa tidak nyaman.

“Nyokap saya sakit!! SAKIT BANGET!! padahal, dulu dia gak pernah begitu, sebelum kedatangan yang kata nenek saya, rumah saya kedatangan Dayoh Rencang!!” wanita tersebut menunggu, dirinya melihat ekspresi semua orang, namun, tampaknya tidak ada yang mengerti maksud ucapannya. Dirinya masih menunggu. Cerita Misteri Padusan Pituh

Seorang lelaki berewok lantas bertanya pada wanita yang masih tenang duduk tersebut, senyumnya ganjil. “Dayoh rencang itu apa? bahasa jawa ya?”

Wanita itu tersenyum “saya dari jawa, tapi saya gak bisa bahasa jawa, tapi.. kata teman jawa saya, itu istilah kuno, bukan bahasanya namun”

Wanita itu seperti tidak mau melanjutkan ucapannya, namun ekspresi penasaran semua orang yang menunggu cerita itu di lanjutkan masih bertanya-tanya, “Dayoh Rencang memiliki makna simbolis yang sudah lama tidak pernah disebut lagi, makna filosofis dari datangnya, hantu anak-anak!”

“Hantu anak-anak, maksudnya?!” tanya salah satu pendengar,

“Nyokap saya mendapat pesan dari hantu anak-anak itu, dia bilang, Lindu itu” “ANAK SETAN!!” “mereka datang, buat jemput Lindu”

“Sekarang bayangin ekspresi nyokap lu ngatain SETAN sambil nyekik darah dagingnya sendiri”

“Tapi satu yang saya inget!!” “nenek saya pernah mengatakan sesuatu yang bener-bener ganggu pikiran saya sampe saat ini”

“Apaan?” tanya lelaki berewok itu lagi.

“PADUSAN PITUH” “karena selepas kejadian tersebut, nyokap saya langsung di pasung, sampe akhirnya mati karena gigit lidahnya sendiri”

“Diakhir hidupnya, dia menulis sebuah nama. CODRO BENGGOLO dan ANGGODO kudu nerimo ROGOT NYOWO!!”

“Cuk!!” bisik seorang lelaki, “ngedongeng teros, ibuk mateni anak lah, ibuk mati bunuh diri lah, pancen seneng nggarai wong keweden!! Mir, Mira” (dongeng terus, ibu bunuh anaknya lah, ibu bunuh diri lah, memang paling suka bikin orang takut ya kamu!! Mir, Mira)

Mira, nama itu memang sudah hampir terkenal di kalangan anak-anak yang bekerja di kantor ini, salah satu dari pencerita paling ngawur namun memberi esensi horror lain yang membuat semua temannya tidak bosan mendengar ceritanya, Mira menatap Riko, lelaki di depannya, dirinya tersenyum.

“Gak semua ceritaku karangan!! ada beberapa yang nyata, dan kalau aku ngasih tau kamu mana yang asli, kamu bakal lupa caranya kencing di kamar mandi!!”

Riko tidak peduli. ” nama terakhir itu, apa.. ROGOT NYOWO!! aku kayak pernah dengar, tapi apa ya? itu ngarang juga?”

Mira, diam. “Mir, saya minta file kasus orang bunuh diri itu, kirim ke email ya!!” teriak seorang perempuan dari seberang meja, Riko langsung menanggapi, “Gak usah ikutan ngomong saya lo, kamu orang jawa, pakai aku aja, dulu pertama kesini malah pake saya kamu!!”

“Iya” jawab Mira
Riko yang entah karena memang senggang, tiba-tiba melihat sebuah jurnal di atas meja Mira.

Mira yang kembali menatap layar monitornya membuat Riko secara sembunyi-sembunyi mengambilnya, disana, Riko membuka jurnal tersebut, didalamnya banyak sekali sobekan dari koran-koran tua untuk apa Mira menyimpan potongan koran tua tersebut, Riko membuka lembar per lembar, semua tidak ada yang dimengerti oleh Riko, sampai Riko terhenti di salah satu halaman dengan headline “satu keluarga kaya tewas satu persatu akibat Santet kuno” Riko menatap Mira yang belum menyadari di samping potongan koran ada kertas kosong, tertulis disana sebuah tulisana yang di coret-coret dengan pena, Riko menatap tulisan itu yang terbaca, “JANUR IRENG!!” sebelum Mira sadar dan menatap sengit Riko dan merebut jurnal tersebut.

“ASU KOEN, MINGGAT!! usir Mira,

Riko pergi. Jam makan siang, seseorang memanggil Mira, dirinya mendekat lalu duduk, di hadapannya ada Riko dan Stella, salah satu atasannya.

“Riko cerita, kamu masih nyelidiki kasus itu? kasus lama yang bahkan sampe jadi semacam cerita legenda gitu, apa itu?” Stella menatap Riko.

“JANUR IRENG”

“yes. JANUR IRENG!!” kata Stella, “Gak ada gitu sesuatu yang bikin kamu tertarik, ya maksudku bukannya ngelarang, tapi kasus itu sampe sekarang gak ada yang tahu, bahkan apa yang terjadi saja gak ada buktinya, lagian dapat nama JANUR IRENG darimana?” anya Stella.

“Lindu” jawab Mira, Stella tampak berpikir, dirinya menatap Riko dan Mira bergantian sebelum, “ada 3 orang yang pernah terlibat dalam koran di jurnalmu!!” Stella mengamati sekeliling, “satu orang mati!! satunya gila!! dan satunya” Stella menyesap rokok, “jadi kaya melintir!!”

“itu kasus paling aneh Mir!!”

Mira membuka pintu rumah, dirinya berjalan menelusuri ruang tamu, dari salah satu pintu kamar, Mira membukanya, di dalam sana, dirinya melihat ibunya tengah sholat

Mira kembali menutup pintu, namun tiba-tiba, dirinya melihat Lindu berdiri di depannya “ibuk gak boleh sholat!!” Mira diam,
Mira melihat tangan Lindu, jemarinya berdarah-darah, “sudah pulang nak” sahut ibunya membuka pintu kamar, “anak itu sudah keluar, tadi ibu kunci dia di gudang bawah”

“Anak sekecil ini kenapa di perlakukan seperti itu buk” jelas Mira,

“Karena anak ini adalah Benggolo!!” sahut ibu \

Sudah ratusan kali Mira mendengar nama “Benggolo” entah dari almarhumah neneknya sampai ibunya, seakan nama tersebut adalah hal terburuk, namun setiap di tanya apa itu Benggolo tak ada satupun yang ingin menjawabnya.

Mira menggandeng Lindu masuk ke kamarnya, sejak awal, hidup Mira hanya melihat ibuk dan juga anak seolah-olah ingin saling bunuh membunuh.

Rumah ini terasa seperti neraka. Mira membantu adiknya membersihkan luka di tangannya, “kamu nyakarin pintu lagi” tanya Mira,

“Iyo mbak” Lindu tersenyum, “Mbak, ibuk ojok oleh sembayang maneh, engkok, dayohe teko maneh” (kak, ibu jangan dibolehin sholat nanti tamunya datang lagi)

“Dayoh sopo seh Ndu, sembahyang kan kewajiban” (tamu siapa yang datang, sholat itu kewajiban)

Lindu lantas berbisik lirih, “Umur’e ibuk wes gak dowo mbak, aku mau ndelok onok Dayoh teko” (umur ibuk gak panjang, tadi aku lihat tamunya sudah datang)

Mira menatap adiknya ngeri, Lindu menarik tangan Mira, membawanya ke jendela kamar, menyibak tirai itu, lantas Mira bisa melihat halaman rumahnya, namun, tidak ada siapapun disana.

“Iku mbak, onok sitok sing longgoh nang nisor wet pencit” (itu kak, ada satu yg lagi duduk dibawah pohon mangga)

Mira bingung, Lindu melambai, membuat Mira akhirnya menutup tirai, dirinya memeluk adiknya.

Hening, sunyi, sebelum, “MIRAAAA!!” teriakan ibunya membuat Mira tercekat dan pergi menuju kamar ibunya, disana, ibunya mencakar kelopak matanya sendiri, menariknya seakan dirinya ingin merobek wajahnya, Mira menjerit. Butuh waktu bagi Mira untuk sadar sebelum dirinya mengkekal tangan ibunya agar berhenti melakukan hal itu, darah keluar dari kelopak matanya, “onok opo buk!!” (ada apa buk)

Ibu Mira menunjuk jendela, Mira perlahan-lahan, mengintip jendela ibunya saat dengan mata kepala sendiri, Mira-
melihat, seorang anak perempuan, tidak, lebih dari ratusan anak perempuan dengan pakaian lusuh, mereka bertelanjang kaki berdiri memenuhi halaman rumah Mira.. mereka serempak mengatakannya, “Balekno Benggoloku!!” (kembalikan Benggoloku!!)
Mira kembali menutup tirai, saat itu dirinya melihat ibunya kembali.

“Onok opo asline buk!!” (ada apa sebenarnya buk)

Ibu Mira tampak diam, namun Mira terus mencoba membuat ibunya bicara, sampai, Lindu masuk ke kamar dan melihat Mira dan ibunya..

“Anak itu milik seseorang”
“Anak orang gimana buk, aku lihat ibuk yang melahirkannya!!”

Ibu Mira menatapnya” dia bukan saudaramu!! CODRO, ingat nama itu nduk, nama yang pernah disebut nenekmu. Lindu anaknya”

“Kenapa dengan Codro? dan siapa dia?”

Lindu tiba-tiba mengatakannya, “ROGOT NYOWO mbak”
“Iya, Rogot nyowo” kata ibu Mira, “Dia butuh Lindu, untuk melindunginya dari Rogot nyowo”

“Aku gak ngerti buk.. Lindu bukan saudaraku bagaimana, jelas-jelas ibuk yang melahirkannya?”

“Codro meniduri setiap janda, saat bapakmu mati, ibuk..” ibu Mira mulai menangis,
Lindu mendekati Mira dan ibu, “nek aku metu, Dayohe bakalan ngaleh” (kalau aku keluar, tamu yang datang akan pergi)

Mira menatap adiknya, mencengkram tangannya, “jangan!! ibuk belum menjelaskan semuanya” “apa itu Rogot nyowo dan apa hubungannya?”

“Rogot Nyowo iku sumpah wong pitu nang persekutuan keluarga, ben keluarga nduwe ingon lan kutukane dewe-dewe, sak iki, onok balak sing nggarai getih pituh kepecah, kabeh keluarga podo masang awak kanggo ngindari sumpah Rogote dewe-dewe”

(Rogot nyowo adalah sebuah sumpah dari 7 orang yang bersekutu, keluarga besar, yang semuanya punya peliharaan dan kutukannya sendiri-sendiri, sekarang, bencana yang membuat 7 darah terpecah, membuat semua keluarga pasang badan untuk menghindari sumpahnya mereka sendiri-sendiri).

Mendengar penjelasan itu dari ibunya, Mira lantas memeluk Lindu, “tetap saja, dia ini anakmu, gak seharusnya di serahkan” saat Mira mengatakan itu, dirinya ingat, anak-anak perempuan di luar rumahnya, jangan-jangan, Lindu menatap Mira, dirinya mengangguk “mereka milik Codro mbak”

Mira memeluk ibu dan adiknya, menjaga mereka dari teriakan yang terus menerus memanggil “Benggolo!!” sampai tiba-tiba suara mereka hilang, lenyap.. semuanya, menjadi hening, sunyi. Sebelum, Lindu menggigit lengan Mira hingga robek, dan mencengkram kepala ibunya yang masih mengenakan mukenah, membenturkannya ke meja sembari berteriak keras-keras, “Wedokan goblok!!” (perempuan bodoh!!)

Mira meringis, melihat adiknya terus menerus menghantamkan kepala ibunya suara Lindu terdengar berat layaknya suara seorang lelaki tua, dirinya terus menerus menghantamkan kepala ibunya sebelum Mira menarik kerah bajunya, menghantamkannya ke lantai dan mencekik leher Lindu, dirinya melihat adiknya meronta-ronta, namun Mira terus mencekiknya
butuh waktu sebelum Mira benar-benar sadar atas apa yang dirinya perbuat, dirinya melepas Lindu, berlari keluar rumah dan berteriak keras sampai tetangganya berkumpul dan menyaksikan semua itu..

Mira beruntung, malam itu, tidak ada yang meninggal meski ibunya tidak sadarkan diri..
“Aku gak percaya sih sama cerita begitu” kata Riko, dirinya datang setelah Mira menelponnya

“Codro!!” “itu nama samaran atau bagaimana? banyak orang yang punya nama itu?” sahut Riko mengingatkannya,

Mira hanya diam, dirinya masih terbayang adiknya.. sampai Riko mengatakannya,
“Adikmu sejak dulu aneh kan” “gimana, kalau adikmu di ruqiah saja. Aku kenal orang yang bisa bantu, itu kalau kamu mau, sekaligus, menghindarkan adikmu dari ibumu?”

Mira menatap Riko, sebelum mengangguk, esok hari, saat semuanya kembali normal, Lindu harus dibawa
sebelum Mira pergi dan melihat kondisi rumahnya yabg penuh dengan tetangga yang membantu, Riko kembali memanggilnya, “Mir, Rogot nyowo yang kemarin aku tanyakan, aku sudah ingat”

Mira berhenti untuk mendengarkan, dirinya melihat Riko,

“Dulu aku punya kenalan yang pernah sebut Rogot nyowo”
Riko menatap Mira, “namanya, Dela Atmojo, tapi sudah lama aku gak pernah melihatnya lagi. nanti kalau ketemu dia, aku akan tanyakan maksud kalimat itu”

Mira diam, dirinya mengulangi nama itu “Dela Atmojo” darah di lengan Mira masih mengalir, dirinya menutupnya dengan potongan kain yang dia temukan, rumah masih ramai dengan tetangga yang berkumpul. Mira menatap ke sekeliling, menemukan Lindu yang di ikat seperti pencuri di pasar-pasar, “buk” kata Mira menatap ibunya, “Lindu biar ku bawa”
Mira melepas ikatan Lindu, menggendongnya paksa, semua tetangga menatap khawatir anak itu, “gak papa” kata Mira menenangkan semua tetangganya, tatapan mereka khawatir, ibuk hanya mengawasinya, dirinya tahu apa yang akan di lakukan anaknya

“Nduk” katanya, saat Mira mulai pergi,
“Koen bakal nyesel gowo iblis iki” (kau akan menyesal kalau membawa iblis ini)

Semua tetangga menatap Mira dan Lindu, “lalu gimana, mau di bunuh saja, ambilkan parang di dapur biar ku gorok di sini darah dagingmu!!” ancam Mira, tak ada yang berani berkomentar, sebelum Riko masuk
“Sudah Mir, ndak enak didelok wong akeh” (sudah Mir, gak enak di lihat orang banyak) bujuk Riko meraih Lindu dari tangan Mira, “Buk, biar tak bawa Lindu, mungkin ada cara biar dia tidak seperti ini” bujuk Riko yang hanya di tanggapi sinis oleh ibuk

“Terserah” sahut ibuk tak peduli Riko sudah pergi, ketika Mira berbalik berniat pergi, ibuk merengkuh anaknya, memeluknya sembari berbisik lirih, “Iki bapakmu nduk sing salah sak jane, ibuk melakukan ini biar kamu hidup” (ini semua salah ayahmu aku melakukan ini biar kamu bisa hidup)

Mira terlihat bingung,
“Maksudnya apa buk?” tanya Mira,

“Ibuk ndak bisa ngomong, Ibuk sudah janji sama mbah-mu, katanya kelahiranmu itu pertanda akan terjadinya Rogot nyowo!! ibuk takut Mir, takut kalau apa yang di bilang mbahmu kejadian”

“Rogot nyowo” Mira masih bingung, dirinya tak mengerti apapun itu
“Rogot nyowo itu apa buk”

“Ndak, ndak bisa, ibuk ndak mau bicara, ibuk sudah janji, kamu istimewa Mir, rogot nyowo di tentukan oleh tanganmu sendiri, ibuk tidak boleh mengobrak abrik takdir, kamu sudah di ikat oleh”

“oleh siapa buk?” paksa Mira,

namun, ibuk memilih diam,
“Terserah buk, Mira sudah besar tahu apa yang terbaik untuk Mira sendiri” Mira pergi,

Malam itu adalah malam terakhir Mira melihat ibunya, setidaknya itu mungkin menjadi yang terakhir kali, karena setelah itu, semua di mulai dari titik ini, Padusan pituh sudah menunggu Mira. Malam itu dingin, Mira duduk di depan di samping Riko yang tengah menyetir, dirinya menatap perempuan itu tampak muram, Lindu tengah tidur, malam ini begitu berat bagi mereka, hening, sebelum Mira berbicara, “Ibuk bilang lagi, dia nyebut Rogot nyowo lagi, aneh kan?”

Riko hanya diam,  “kadang orang tua memang begitu Mir, mungkin karena ibukmu dulu kejawen seperti ceritamu, mbahmu juga gitu kan, dan bapakmu?” Riko melirik Mira menunggu reaksinya, Mira selalu sensitif mendengar bapak,
“Aku gak pernah lihat bapak, udah lama mati sejak masih kecil
“Gak satupun aku ingat tentang bapak, seharusnya untuk anak seusiaku, pasti ada ingatan tentang bapak walaupun samar, tapi semakin keras aku coba inget tentang bapak semakin aku gak tau” Mira tersenyum sinis, menertawai hidupnya, “mungkin keluargaku ini di kutuk kali”. Mobil Riko terus melaju, malam semakin larut, Mira tak tahu kemana Riko akan membawanya, yang dirinya ingat Riko akan mengantarkannya menemui seseorang,
Seseorang yang bisa merawat Lindu, setidaknya melihat apa yang sebenarnya terjadi pada anak itu, anak yang selalu di sebut iblis oleh ibuk tanpa terasa, 8 jam mereka sudah berkendara, setelah berhenti di beberapa titik, Riko masuk ke dalam sebuah desa, desa yang masih terlihat sangat kuno, dengan beberapa wanita yang masih mengenakan jarik, Riko berhenti di salah satu rumah berbentuk Joglo dengan banyak pohon pisang, “kita sampe Mir” ucap Riko mengangguk, dirinya lantas membangunkan Lindu, anak itu terbangun dari tidurnya namun ekspresi wajahnya tampak tidak senang,
“Kamu kenapa ndu?” tanya Mira khawatir,
“Lindu gak mau turun, ini tempat apa? tempat ini gelap sekali”

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

27 23 26 29 37 36 39 37 36 39

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

01 03 08 31 30 33 38 81 80 83

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

79 73 72 75 29 23 25 59 53 52

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

37 31 36 35 17 16 15 57 51 56

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

10 12 19 15 90 92 95 50 52 59

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

23 24 26 29 43 46 49 93 94 96

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

83 82 84 87 23 24 27 43 42 47

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

93 98 97 73 78 79 28 23 29 27

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

34 32 39 38 94 92 98 84 82 89

SELENGKAPNYA

“gelap?” batin Mira, dirinya menatap Riko yang menggeleng bingung, tak beberapa lama, seorang ibuk mendekati mobil mereka, dirinya membawa tali di tangannya, Riko melangkah keluar, “wes teko le,” (sudah datang nak)

Riko mengangguk,

“Bawa kesini anaknya, biar kami urus”

“Urus bagaimana maksudnya buk?” tanya Riko dirinya bingung, sebelumnya bahkan dirinya belum memberitahu apapun kepada mereka semua, tapi seakan-akan mereka tahu bahwa Riko akan datang membawa sesuatu,

Terlalu lama, si ibuk itu mendekati mobil, menarik kaki Lindu dari kursi belakang, 

wanita itu tampak sangat murka, beberapa kali dirinya menyebut “penyakit” dan hal itu membuat Mira marah, Mira mencoba menghentikan perlakuan kasar wanita itu, namun, dirinya menatap Mira sengit lalu berujar, “nyowo adekmu, opo nyowomu?” (nyawa adikmu apa nyawamu?)

Mira baru sadar, di sekeliling mobil sudah di penuhi wanita yang menatapnya marah, Riko hanya menggeleng pada Mira, dirinya tidak tahu apa yang terjadi di tempat ini,

“Koen wes di enteni ambek Baduh, mbak Mira” (kamu sudah di tunggu Baduh di dalam, mbak Mira) 
Mira melangkah turun, semua wanita mendekati mobil memaksa Lindu keluar dari sana, sedangkan Mira mengikuti satu di antaranya, dirinya berbicara kepada Mira “Semalam Baduh mimpi, katanya yang akan membawa bagebluk akan mampir ke rumah ini” ucap si wanita, “namanya Mira”
“Bagebluk?” tanya Mira, dirinya mengangguk mengkoreksi kalimatnya “bencana mbak maksudnya”
Mira menatap pintu joglo dan saat itu juga dirinya merasakan perasaan paling tidak enak, ada sesuatu yang benar-benar gelap di sana, dada Mira terasa sangat sesak, “ini baru pembukaan mbak, kamu lebih sakti”
“Aku? sakti?” wanita itu mengangguk, “nanti baduh yang akan jelaskan semua, alasan kenapa mbahmu sampai melakukan ini, tapi sudah waktunya, dari timur angin sudah gelap, ada yang akan terjadi, saya saja sudah gak tidur selama berhari-hari, darah sudah di teteskan di timur” ucap si wanita
 
Mira mengikuti si wanita, masuk ke dalam rumah, aroma lumpur tercium dari setiap sudut, banyak pintu kayu terlihat di depan Mira, si wanita menuntun sementara Mira semakin merasa nyeri, kepalanya seperti di tekan dengan keras, “sedikit lagi, di tahan mbak” katanya.
 

Mira menelusuri lorong rumah, dirinya di tuntun perlahan- namun Mira selalu mendengar jeritan dari setiap kamar, suara memekikkan mereka membuat Mira semakin merasa terbebani, “Ndak usah di dengar” kata si wanita,

“Tempat apa ini”

“Omah Ruwut” (rumah tenung) Mira berhenti di salah satu kamar, dirinya penasaran dengan apa yang terjadi di dalamnya, tak ada apapun di sana kecuali sebuah ranjang kosong dengan seorang lelaki yang tengah duduk membelakangi pintu, Mira tertuju pada sosok lelaki itu, dirinya hanya diam, diam, sebelum perlahan tubuh lelaki itu bergerak, dirinya memutar tubuhnya perlahan-lahan, Mira memekik ngeri menatap tubuh lelaki itu berputar, menatapnya kosong, seketika pintu di tutup si wanita melihat Mira, “sudah tak bilang, ini omah ruwut mbak”

Mira mengangguk, wajah lelaki itu masih terbayang jelas di dalam kepalanya. “di sini mbak tempatnya”
Mira menatap sepasang pintu, guratan kayu di pintu tampak begitu usang, berbeda dengan pintu-pintu yang lain di dalam rumah ini, tidak hanya itu, pintu ini sengaja di rantai seakan tidak sembarang orang bisa memasukinya,”Baduh” katanya sembari menyeringai 

“Monggo” katanya seraya menunduk mempersilahkan, Mira melangkah masuk, yang dirinya dapati di dalam ruangan itu adalah sebuah kamar tertutup dengan alas tanah, di setiap sudut Mira melihat gabah padi tergantung, tak hanya itu, Mira juga melihat tebu yang saling di ikat, ruangan ini lebih terlihat seperti gudang pangan di bandingkan sebuah kamar, wanita tersebut menutup pintu sebelum merantainya, Mira hanya menatap kesana-kemari sebelum matanya melihat sesuatu di balik tembok lusuh, ada ruangan lain dengan ranjang bertirai transparan, di dalam ranjang bertirai itu, Mira melihat, seseorang di dalamnya.
“Ayok mbak” ucap si wanita, menuntun agar Mira mendekati ranjang misterius itu, “Sudah waktunya kamu tahu semuanya” 

ruangan tersebut sangat pengap, sejauh mata memandang Mira hanya melihat tumpukan hasil bumi yang seperti tidak pernah di sentuh, di letakkan begitu saja memenuhi ruangan ini,

“Ini semua ucapan terima kasih dari orang-orang” kata si wanita, “Ndak usah di perdulikan” 

Mira berdiri menatap sosok di balik tirai tersebut, dirinya berselimut karung gabah, seakan sedang bersembunyi membuat Mira begitu penasaran dengan sosok di baliknya

“Silahkan duduk mbak” ucap wanita itu, meletakkan kursi kayu di depan ranjang sebelum mendekatinya seperti tengah menguping 

“Beliau bilang, selamat datang nduk” kata si wanita seakan menerjemahkan sosok misterius itu, “Wes wayahe awakmu menuhi janji bapakmu ambek padusan pituh” (sudah waktunya kamu memenuhi janji bapakmu dulu pada pemandian ketujuh)

ia kembali berbisik, dan wanita itu mengangguk,  “wes suwe mbahmu matusono nggarahi awakmu lali, sak iki, aku takon, awakmu purun ngelakoni Sirat nang kene” (sudah lama nenekmu membisiki dirimu membuatmu lupa dengan semuanya, sekarang aku tanya, kamu mau saya membuka ingatanmu)

Mira menggelengkan kepala, bingung  “nenekmu” kata si wanita, “Dia yang membuatmu lupa semuanya, dia melakukan itu dengan alasan yang hanya dia sendiri yang tahu, sekarang Baduh mau bantu kamu kembalikan sowok yang di tanam” “pertanyaanya, kamu mau atau tidak?”
“Saya di sowok oleh nenek saya sendiri?”Ia mengangguk  Mira menggelengkan kepala tidak percaya dengan apa yang dia dengar, “Nenek saya sudah lama meninggal, sejak saya masih kuliah”

“Begitu” si wanita tersenyum, “Jadi karena itu, sebenarnya, aku akan memberitahumu sesuatu dan mungkin ini menganggumu, ingat di mana kamu tinggal dulu?”  tiba-tiba Mira tersadar, dirinya melupakan sesuatu, benar, rumah, dirinya tidak ingat apapun tentang rumah
“Kenapa?” wanita itu mendekati, “Kamu lupa?”Mira menatap si wanita, “Bahkan kamu tidak akan bisa menjawab pertanyaanku yang ini,” “Alasan apa kamu tetap membayar kost-” 

“Tempatmu tinggal dulu, padahal, kamu sudah lama tidak tinggal di sana?”

Mira teringat dengan tempat itu, “kost?”

“Iya, kenapa?”

“Entahlah, karena aku suka tempat itu” jawab Mira,  si wanita tersenyum, dirinya mendekati sosok bernama Baduh tersebut, mendengar saat dia kembali berbisik, “kata Baduh, kamu menyembunyikan sesuatu di sana, sesuatu yang teramat penting, sehingga nenekmu sampai melakukan itu”

Mira menatap sengit mereka, “Apa tujuan kalian sebenarnya?”  “menuntunmu nak, menuntunmu menuju takdir besarmu, takdir di mana kamu akan bertemu dua dari mereka, Codro dan..” Sebelum wanita itu bicara, sosok itu tiba-tiba berteriak sangat keras,
“OJOK SEBUT JENENGE IBLIS-IBLIS IKU” (JANGAN MENYEBUT NAMA IBLIS-IBLIS ITU) si wanita diam.
“Uripmu bakal abot nduk” (hidupmu akan sangat berat) kata sosok itu, dirinya mengulurkan tangan melambai meminta Mira mendekat, Mira tercekat menatap tangan sosok itu begitu kecil, begitu kurus, begitu pucat, makhluk apa yang ada di depan Mira ini, Mira belum bisa melihat wajahnyanya “mreneo nduk, mrene” (kesini nak, kesini)
Mira menatap si wanita, dirinya mengangguk seakan mengatakan kepada Mira tidak akan ada yang terjadi, Mira pun mendekat, dirinya merasakan tangan mungil itu membelai rambutnya, Mira bisa melihat satu bola mata kecil di wajahnya, 

“ngelawan siji ae sewu nyowo gak cukup, opo maneh koen nduk, sing bakalan ngadepi loro menungso rai iblis model ngunu” (melawan satu saja seribu nyawa gak cukup, apalagi kamu nak, yang akan melawan dua dari mereka, manusia berwajah iblis seperti mereka)

Mira hanya diam mendengarkan, Rasanya dingin, saat tangan kecil itu menyentuhnya Mira gemetar, sesuatu perlahan-lahan kembali, dirinya ingat dia pernah menulis sesuatu, tidak hanya satu namun berlembar-lembar kertas, sesuatu yang perlahan menyeruak naik,

“Wes iling?” (sudah ingat?) tanya sosok itu, 

“Di bawah ubin Kost saya, di sana semua di tanam” ucap Mira,

Di bantu si wanita sosok itu perlahan membuka karung gabah, dan Mira melihatnya, wajahnya hancur seperti korban kebakaran, kakinya jauh lebih kecil di bandingkan badan dan kedua tangannya yang semuaya kurus kering, 

dia menatap Mira iba,

“Hitam?” kata si wanita, “inilah akibat bila manusia kalap dengan warna hitam”

“Beliau dulu adalah satu dari orang yang pernah menjaga padusan pituh, meskipun ia tidak mengenal bapakmu karena memang setiap tahun beregenerasi, tapi satu yang beliau tahu” 

“bapakmu tidak memenuhi janjinya sebagai seorang Kuncen”

“Kuncen?”

“Setelah ini, hidupmu akan semakin berat nak, sangat-sangat berat sampai kamu ada di titik ingin mati, dan saat hari itu datang, pilihan itu akan muncul dan di sana takdir kami di pertaruhkan”  “tinggalkan adikmu di sini, kami yang akan menjaganya, pergilah ke tempatmu tinggal, cari apa yang harus kamu cari, lalu pergi” kata si wanita,

“Tak jogone adikmu nduk, tujuanmu siji, golekono Rinjani””Rinjani?” tanya Mira,

“Pergi” sahut si wanita, Mira meninggalkan tempat itu, 

Mira menemukan Riko tengah duduk, saat dirinya melihat Mira dia mendekatinya, “Lindu gak papa, dia ada di kamar sedang tidur”

“Antarkan aku” kata Mira,
“Kemana?”
“Ke tempat kost’ku, aku mau ambil sesuatu di sana”

“Apa?” Riko tampak penasaran,

“Takdirku” jawab Mira, Malam itu, mobil Riko menembus kabut, belum pernah Mira memaksa dirinya sampai seperti ini, tak ada yang tahu apa saja yang Mira dengar karena setiap kali Riko bertanya, Mira seakan tidak ingin membahas semua itu, dirinya hanya bilang ada sesuatu yang harus dirinya pastikan di tempat kost itu.

“Kenapa gak nunggu besok aja, lagian butuh waktu buat sampe di sana” kata Riko setengah hati, Mira hanya diam dirinya lebih banyak melamun, “Mir, denger gak sih omonganku!!” sahut Riko namun Mira tetap diam, dirinya tertunduk sebelum, “Rinjani sudah mulai” ucap Mira seperti berbisik,
“Rinjani” kata Riko mengulangi, “kamu gak papa Mir” sahut Riko menyentuh bahu Mira, mobil melaju tenang, jalanan tampak sepi namun ada sesuatu yang membuat Riko merasa ganjil saat mendengar nama itu, Mira tetap tak menjawab, dirinya masih menunduk sembari terus bergumam aneh, gumaman Mira terdengar mengganggu, Riko terus menggoyang badan Mira, namun gadis itu tetap menunduk.
Dirinya terus menerus bergumam sebelum, hening, hening sekali hingga Riko bisa mendengar nafasnya sendiri, Riko tampak merasa aneh, sesuatu telah terjadi, dan itu benar-benar mengerikan tak beberapa lama Riko melihatnya, sekelebat bayangan putih sebelum menjalar membuat Riko tersadar, di sepanjang jalan tepat di samping ketika mobil melaju, berbaris anak-anak perempuan berambut panjang, berdiri mematung sejauh mobil terus melaju, Riko menoleh pada Mira, namun, Mira sudah melotot menatapnya, tersenyum menyeringai layaknya bukan Mira yang dirinya kenal.
Dirinya mencengkram tangan Riko, membanting setir sebelum mobil terpelanting hebat, Mira berteriak dengan suara paling memekikkan, “OJOK GOWO CUCUKU!!” (jangan bawa cucuku!!) 

Untungnya Riko masih mampu mengendalikan mobil, dirinya menghantam kepala Mira dengan sikunya, meski mobil sempat keluar jalan Riko berhasil menginjak rem kuat-kuat, dirinya menatap Mira pingsan dengan darah di kening,

“Asu!! meh mati aku!!” (Anj*ng!! hampir saja aku mati!!)

Riko melangkah keluar dari dalam mobil, dirinya menatap ke sekeliling, tak di temui lagi sosok anak kecil yang menatapnya di tepian jalan, Riko tampak bingung, kejadian yang baru menimpanya benar-benar kacau, dirinya mendekati kursi Mira, membuka pintunya, mencoba memastikan keadaannya,
“Mir, Mir” panggil Riko, namun perempuan itu tak menggubrisnya, Riko semakin bingung, tiba-tiba Mira membuka matanya mencekik leher Riko, Riko tercekat kaget sebelum memukul wajah Mira hingga perempuan itu benar-benar tak sadarkan diri, “Mati arek iki” (sial, mati anak ini) batinnya, saat itu juga Riko masuk lagi ke dalam mobil, tanpa membuang waktu dirinya meninggalkan tempat itu
dirinya tahu ada yang tidak beres dengan sahabatnya, dan itu semua sepertinya berhubungan dengan tempat yang akan dirinya tuju, apapun itu, Riko harus mencari tahu ada apa di sana.
 
Pagi sudah datang, sepanjang malam Riko tak beristirahat, meski pertanyaan itu masih berputar di dalam kepalanya dirinya berusaha sesekali melirik Mira yang masih terlelap dalam tidurnya, ketika jalanan sudah mulai ramai, Mira membuka mata, hidung dan keningnya nyeri, dirinya menatap Riko, “kenapa?” tanya Mira, dirinya mengelap darah di hidung dan keningnya, “ada yang terjadi sama aku?”
Riko menatapnya sesekali sebelum tersenyum kembali memandang jalanan, “gak ada kok. semua aman”Mira mengangguk,  “ini tempatnya” kata Riko setelah memasuki sebuah gang,

Mira mengangguk, mobil perlahan mendekat, Mira bisa melihat pagar besi yang dulu sering ia lewati saat malam ketika ia belum selesai menyelesaikan tugas di kampus, dirinya masih ingat tempat ini namun dirinya tidak ingat ada apa disini Mira melangka4h turun dari dalam mobil, Riko mengikuti, perlahan mereka berjalan mendekati tempat itu, sesekali Riko menatap ke sekeliling, tidak ada yang aneh dari tempat ini, Mira menyalakan lonceng, seorang ibu-ibu mengamatinya dari jauh, “neng Mira ya” katanya seraya mendekat,

Mira tersenyum menatapnya, dirinya membuka pagar, pandangan Mira langsung tertuju di kamar mana tempat dulu dirinya tinggal, tiba-tiba perlahan ingatannya kembali, namun samar-samar

“Saya kira kamu ndak akan kesini, ibu itu bingung, kenapa kamu masih bayar kost padahal sudah ndak di sini” 

Mira hanya tersenyum, bingung harus menjawab apa, dirinya melewati ibu itu yang masih menatap Mira heran,

“Mungkin Mira suka dengan tempat ini buk, jadi dia gak rela kamar bersejarahnya di tempati orang” sahut Riko, si ibuk tampak tidak puas,

“Kuncinya mana buk?” tanya Mira tiba-tiba  “oh iya” sahut si ibuk, dirinya memberikan kunci pada Mira dan perempuan itu langsung menuju ke sana, Riko segera menyusul, meski si ibuk masih mengawasi namun Mira tak peduli, harga sewa di sini setidaknya cukup untuk membayar ganti rugi ingatannya, “di sini tempatnya” kata Riko, hal pertama yang dirinya rasakan saat masuk ke dalam kamar kecil ini adalah aroma debu yang menusuk, tak hanya itu, tempat ini benar-benar buruk untuk jadi tempat tinggal, Mira melihat Riko lantas dirinya bertanya “linggisnya mana?”

Riko menatap heran, “Linggis” 

Riko kembali dengan 2 linggis di tangan, dirinya cepat-cepat mengunci pintu, “mau hancurin lantainya, kalau ketahuan, bisa di polisikan kita”

Mira tak menggubris, dirinya sedang asyik memeriksa lantai keramik, seakan sedang mencari sesuatu Riko menatap ke sekeliling tiba-tiba dirinya tertuju pada papan tulis di tembok. aneh, pikir Riko, untuk apa papan tulis itu di balik, Riko tersadar saat Mira memanggilnya, dirinya sudah ada di dapur, meminta Riko memberikan Linggis sebelum dirinya menghantamkannya di lantai, Riko pucat sudah lebih dari setengah jam Mira menghantam lantai-lantai keramik, Riko terus mengawasi pintu, bukan tidak mau membantu, sejak tadi di luar ibu kost mondar-mandir membuat Riko yang semakin pucat, dan semua terbayar saat Mira mengatakannya, “di sini!!” Riko mendekat,  “Ini apaan?” hal pertama yang Riko katakan saat melihat sebuah kotak kayu di simpan di dalam lantai berkeramik,

“Gak tau” kata Mira,”Lamu yang tanam!! hebat betul nanam beginian di sini, yang ngeramik kamu juga”

Mira tak peduli, dirinya membuka kotak itu, dan di sana ia menemukannya lembaran foto-foto tua saat Mira masih kecil, di belakangnya ada seorang lelaki berkumis yang di tenggarai adalah bapak, Mira membuka lembar-per lembar, bapak mengenakan pakaian adat putih seakan menasbihkan dirinya benar-benar seorang kuncen, Mira terus mengamati sampai, dirinya berhenti di sebuah foto, bapak bersama 6 orang lain dengan pakaian yang sama berpose di sebuah tempat dengan rumah tua di belakangnya, di depannya ada seorang lelaki mengenakan pakaian hitam duduk di depan sendirian, foto orang itu di coret dengan spidol hitam,

“Siapa Mir?” Riko merebutnya namun Mira hanya diam,

Riko mengamati foto itu sebelum menaruhnya lagi, “Untuk apa kamu ngubur ini semua”

Mira terus menggeleng, ia tidak tahu harus menjawab apa, semuanya masih samar. 

Riko mengambil sebuah buku tua dari kotak itu, namun Mira justru berdiri, matanya tertuju pada papan tulis terbalik di tembok, “Bantu aku angkat papan ini” katanya, Riko tidak mengerti namun ia setuju membantu Mira,

saat mereka membalik papan itu, Riko tercengang melihatnya, 

“Sejak kapan kamu buat ini?” kata Riko mengamati setiap detail yang ada di dalam papan,

Mira mencoba mengingat-ingat, samar -samar semuanya kembali, setiap malam Mira mengerjakan ini, namun dirinya sendiri tidak tahu menahu kenapa mengerjakan hal-hal seperti ini, Riko mendekati, dirinya masih takjub mengamati setiap coretan dan kertas-kertas yang tertempel, ada banyak sekali tulisan yang Riko tidak mengerti, salah satunya adalah Padusan pituh dan, “Rinjani”

“Apa itu Rinjani?”Mira menoleh menatap buku, mengambilnya, membuka lembar per-lembar, sebelum sampai di satu titik halaman, Mira menunjukkan pada Riko, di sana dirinya melihat coretan gambar dari tangan, seorang wanita berambut sangat panjang tengah duduk meringkuk di kelilingi gambar gadis kecil, di atasnya tertulis jelas “RINJANI” meski hanya sebatas coretan, Riko bisa merasakan sensasi tidak mengenakan saat menatap gambar itu, dirinya merasa merinding, Mira menatap papan lagi, menunjuk satu persatu titik yang di hubungkan dengan benang-benang itu, lalu berbicara pada Riko, “Istilah ini semua apa ya artinya?”

Riko menoleh ikut mengamati, banyak istilah yang di tulis dengan aksara jawa di bawahnya Riko hanya membaca beberapa hal yang tidak dirinya mengerti seperti,

“Gundik-colo” “lemah layat” “sewu dino” “janur ireng” namun anehnya, semua benang mengarah pada satu titik,
titik terakhir, ROGOT NYOWO?

“Mir, aku ngerasa gak enak sama semua ini, kayanya kamu harus berhenti”

“Sebentar” Mira merobek salah satu sobekan kertas di papan, dirinya menatap Riko sembari menunjukkan, “satu keluarga di bantai di malam pernikahan, inget gak sih ini tentang apa?”

“Janur ireng?”

Mira mengangguk 

“Sepertinya aku mengumpulkan sesuatu, tapi aku lupa ini apa!!” Mira tampak berpikir keras namun semakin keras dirinya mencoba mengingat, rasa nyeri itu kembali, “mungkin gak sih semua ini pernah terjadi? maksudku di belahan lain ada hal ini, koran ini misalnya, untuk apa ku robek?”  Mira mengambil buku itu lagi, melihat lembar per lembar, hingga terdengar suara pintu di ketuk, Riko dan Mira tercekat,
“Tunggu di sini” kata Riko, dirinya mendekati jendela, mengintip siapa yang sudah datang, rupanya ibu kost, Riko bersiap membuka pintu tapi tiba-tiba Mira menariknya dirnya menyeringai lagi, melotot menatap Riko, “Ojok di bukak” (jangan di buka) katanya,
Riko terdiam, pintu terus menerus di ketuk, sementara Riko tidak mengerti apa yg terjadi, “nduk bukak nduk” (nak buka nak) teriak ibu kost,Mira hanya diam berdiri melotot menatap pintu, 

Riko bergerak mundur, sementara pintu terus menerus di ketuk, dirinya tak pernah merasa ada kejadian sejanggal ini, sebelum, hening

Riko menelan ludah, dan pintu di buka perlahan, hal pertama yang Mira lakukan adalah menerjang wanita itu, dirinya mencengkram lehernya, berusaha membunuhnya 

“Putuku ra melok urusan iki, culno ben aku ikhlas ra onok nang dunyo iki!!” (cucuku tidak ikut urusan ini, lepaskan biar aku ikhlas tidak di dunia ini lagi)

Namun wanita itu tertawa, tawanya begitu aneh, suaranya seperti seorang lelaki, “Ra isok, aku butuh putumu” (tidak bisa) 

(aku membutuhkan cucumu)

Mira berteriak keras sekali, namun wanita itu tertawa semakin keras, Mira mencengkram terus menerus lehernya, Riko yang awalnya diam, menarik Mira mencoba melepaskan cengkraman itu, “Edan!!” (gila) “bisa-bisa mati nih orang” 

namun Mira terus melawan, semua kejadian gila itu membuat semua orang berkerumun sebelum memisahkan mereka,

“Mari iki, suwe ta gak, putumu bakal marani aku dewe, ben dek ne sing milih” (sebentar lagi, lama atau tidak cucumu sendiri yang akan mendatangiku, biar dia yang pilih) 

wanita itu tersadar, dirinya menatap semua orang sebelum bertanya apa yang terjadi, Mira pun sama, dirinya tidak tahu kenapa semua orang berkerumun di sini, hari itu juga Riko membawa Mira pergi,

“Nanti ku jelasin apa yang terjadi” kata Riko, 

Riko sudah meletakkan papan itu di dalam rumahnya, dirinya masih tidak dapat berkomentar bagaimana Mira bisa mengumpulkan semua ini, “Pantas kamu di terima jadi jurnalis, lha wong ngumpulin ini saja kamu bisa”

Mira tak perduli, dirinya terus menerus membaca buku tua itu, 

“Dulu ibuk pernah bilang, ada ilmu yang namanya rogo sukmo, dan nenekku katanya bisa itu” jelas Mira,

“lha tapi nenekmu sudah lama mati kan?” kata Riko “Dia sudah gak butuh ilmu itu lagi, dia bisa masuk sewaktu-waktu”

“Bukan nenekku, tapi yang merasuki ibuk itu, dia pasti bisa” 

“Kadang aku mikir” kata Riko, “Ini semua ilmu kejawen ya”

“kayaknya iya”

“Bagaimana kamu bisa mengumpulkan ini semua?”

“Entahlah” ucap Mira, lembar perlembar sudah Mira baca, semua itu menceritakan Rinjani yang tinggal di sebuah gunung di jawa, namun bukan gunung Rinjani Mira berdiri mengangkat tas’nya, “Kayanya aku harus pulang ke kampungku, ada yang mau aku cari”

“Eh goblok” sahut Riko, “Gak dengerin aku tadi ngomong apa?”Mira hanya diam, “Dia bilang nanti kamu sendiri yang akan mencari dia, lebih baik jangan Mir, firasatku gak enak” 

Mira tidak perduli, dirinya mendekati sahabatnya itu “Aku titip Lindu, sampein ke mbak Stela juga, Aku cuti”

Riko tetap tidak setuju, dirinya mencengkram tangan Mira, namun perempuan itu menatapnya sengit, “Ini penting, lepasin”

“Aku ikut” kata Riko,

Mira menggeleng menjawab “Gak!!”  “Kalau ada apa-apa kabarin saja” kata Mira, dirinya melangkah ke luar rumah, sudah lama Riko tidak melihat mata Mira seserius ini, Mira memang perempuan yang keras namun justru hal itu yang membuatnya berbeda di antara yang lain, Riko mencoba mengerti, dirinya melihat bayangan perempuan itu pergi stasiun sangat ramai, sembari menunggu kereta datang Mira duduk sembari beberapa kali dirinya membolak balik lembaran dalam buku itu, mencoba mengingat detail yang dirinya lupakan, namun sayangnya tak ada yang bisa di ingat, Mira tersadar saat ada seorang lelaki mendekatinya, bertanya kepadanya,

“Mbak punya korek ndak?” kata lelaki itu, “buat ngerokok”

Mira melihat lelaki itu sengit, tak menjawab pertanyaanya,
Si lelaki beringsut mundur takut, dari jauh lelaki lain berambut gondrong memanggilnya, “Rus, ayok, bis e wes tekan” (Rus, bisnya sudah datang) si lelaki menatap kawannya sebelum dirinya menatap perempuan itu lagi “Jangan galak-galak mbak, ndak dapat jodoh nanti”

“Ruslan asu!! telat kene” (Ruslan Anj*ng!! nanti telat kita)”Iyo Agus Asu!!” kata lelaki itu, dua orang aneh itu perlahan pergi, Mira menatap kereta sudah datang, 

Mira melangkah masuk ke gerbong, dirirnya menatap pemandangan itu untuk terakhir kalinya, ia siap dengan semua yang sudah menunggunya, dirinya harus mencari tahu siapa Lindu dan dia di kampung halamannya. Cerita Misteri Padusan Pituh
Sumber: Threadreader

Jangan Baca Sendirian Inilah Cerita Makam Kemangi Kendal

Cerita Makam Kemangi Kendal Yang Sangat Terkenal Dan Juga Sangat Angker

Cerita Makam Kemangi Kendal. Kulangkahkan kaki selangkah demi selangkah sampai di kota Weleri Jawa Tengah tepat nya di tempat wisata sekucing, telisik punya telisik banyak masyarakat sekitar menceritakan tentang kejadian aneh di wilayah pantura, selain di Selamaran Pekalongan hingga batang, yang terkenal yaitu Dewi Lanjar sang pengusa pantai laut utara, tapi di sini saya posisi dalam perjalanan berpetualang di wilayah Weleri, dan cerita ini tidak kalah angker nya dengan cerita misterinya Dewi lanjar, yaitu di Kemangi, maka ku ayunkan kaki ku menyusuri pantai utara dari sekucing Weleri hingga sampai tiba di Desa Jungsemi kecamatan Kangkung, tidak sengaja saya berhenti di pemakaman umum dan termenung sendirian di makam umum ini, dalam hati saya bergumam mana makam yang angker itu…..? dan dalam ketermenungan tiba2 saya di kejutkan kedatangan salah seorang Bapak, dan menegor ku, Mas dari mana……? jawaban saya dari semarang Pak……..?

Bapak itu bertanya lagi kenapa sampai di sini Mas….? lalu kujawab lagi…saya adalah se orang pengelana Pak, dan dengar tentang misteri-misteri makam kemangi, lalu Bapak itu mengernyitkan alisnya, dan memandangi dengan tajam, lalu kami berkenalan, berjabatan tangan Bapak itu menyebutkan nama nya Saturi atau dengan sebutan Kyai Saturi, juru kunci makam Kemangi, lalu aku memperkenalkan nama ku Gustaaf Adolf Akiaar, Bapak Saturi terkejut dengan nama ku yang kelihatan asing, dan tidak umum di jawa lalu aku ceritakan tentang geografi saya, bahwa saya kakek dari Ambon sedang Nenek saya dari keturunan cina, dari Kudus jawa tengah, lalu Bapak saya nikah sama orang jawa solo Pak.

Baru Bapak tersebut memahami nya, kemudian saya bergantian Bertanya Pak di mana letak makam Kemangi….? Bapak juru kunci tersebut menjawab dengan tenang nya, ini Mas di sini lah Makam yang Mas cari lalu aku begumam dalam hati apa yang angker…..? lalu Bapak tersebut menceritakan kejadian-kejadian nyata yaitu salah se orang sopir Daeler Mobil mengantarkan pesanan Mobil, di Desa Kemangi aneh nya sopir tersebut tidak pernah kembali, lalu menanyakan pada sang kepala desa, dan ditunjukan rumah kepala desa dan kisah anak kepala desa, tapi dengan heran dan terkejut kepala desa tersebut.

Menceritakan bahwa anak nya telah meninggal sudah beberapa tahun yang lalu, dengan bantuan masyarakat serta juru kunci, memohon pada sang penguasa makam kemangi dengan adat kejawen nya, serta tak ketinggalan dengan mantera-matera atau doa-doa secara islami, dan beberapa lama sopir tersebut kembali ke alam nyata atau alam manusia, lalu sopir tersebut menceritakan bahwa di alam goib hampir sama dengan alam nyata bahkan lebih mewah dan enak di alam goib, kata nya di sana semua serba mewah, lalu sang juru kunci menceritakan lagi lebih terperinci lagi tentang sejarah-sejarah Kemangi pada masa kerajaan di tanah jawa. Cerita Makam Kemangi Kendal

Jika kita telisik lebih awal, asal nama Kendal merupakan berasal dari nama sebuah pohon, yakni pohon kendal. Di masa Kerajaan Demak atau pada 1500 – 1546 Masehi.

Tepatnya disaat Sultan Trenggono berkuasa, Pohon kendal ini  sudah sangat di kenal di kalangan masyarakat. Pohon ini memiliki ciri yaitu berdaun lebat dan rimbun. Atas keindahan dan kerindangan pohon kendal, membuat Sunan Katong terpana melihatnya.

Sejarah Kendalsari
Alkisah, atas keterpanaanya melihat pohon kendal nan “Sari” itu, beliau berkata sambil memandangi pohon tersebut bahwa nantinya daerah itu akan di sebut sebagai “Kendalsari”.

Pohon raksasa itu juga di sebut Kendal Growong. Yang mana jika di perhatikan pohon tersebut memiliki batang yang berlubang. Atau jika orang jawa mengatakan Growong (Berlubang).

Selain sejarah pohon kendal tersebut, juga ada peninggalan lain di kendal yang kisah sejarahnya tak kalah mengesankan, Petilasan ini di kenal oleh Masyarakat sebagai Petilasan Makam Kemangi yang mana berada di wilayah Weleri, Kendal.
Saat di temui, Kyai Saturi, yang merupakan Juru Kunci Makam Kemangi menuturkan, dahulu sebelum menjadi kuburan, di sana memiliki nilai sejarah yang kental dengan Serangan Sultan Agung ke Batavia. Sultan Agung merupakan Raja Mataram Islam.

Kyai Saturi bercerita bahwa dulunya tempat tersebut merupakan lokasi pertemuan antar tokoh-tokoh, yang mana para tokoh ini rapat untuk mengatur strategi yang mana di tujukan untuk penyerangan ke Batavia.

Kemudian Kyai Saturi melanjutkan bahwa pada waktu itu sesaat setelah Sultan Agung membuat keputusan untuk berperang melawan Belanda di Batavia, Sultan memimpin dan memanggil semua para pembesar seperti tumenggung, adipati dan tokoh-tokoh dalam kerajaan Mataram.
Hasil rapat dan masukan dari para adipati menghasilkan keputusan Final yaitu Perang melawan Belanda harus di laksanakan.

“Pimpinan perang pun diputuskan, dan juga panglima perangnya, yaitu Tumenggung Bahurekso, Adipati Kendal, dan Gubernur Pesisir Laut Jawa,” cerita kyai saturi.

PASARAN

PREDIKSI MBAH JITU TOP 2D

KLIK

PASARAN SYDNEY

41 74 72 76 47 42 46 61 67 62

SELENGKANYA

PASARAN COLOMBO

92 91 97 94 72 74 71 42 41 47

SELENGKAPNYA

PASARAN SCOTLAND

89 84 81 87 19 14 17 79 74 71

SELENGKAPNYA

PASARAN SINGAPORE

69 67 64 62 49 47 42 29 27 24

SELENGKAPNYA

PASARAN JAMAICA

30 39 37 34 70 79 74 40 49 47

SELENGKAPNYA

PASARAN UGANDA

04 08 02 05 24 28 25 54 58 52

SELENGKAPNYA

PASARAN HONGKONG

93 95 91 98 51 53 58 81 83 85

SELENGKAPNYA

PASARAN KENYA

28 26 25 24 68 65 64 48 46 45

SELENGKAPNYA

PASARAN SLOVAKIA

04 06 05 08 54 56 58 84 86 85

SELENGKAPNYA

Pada waktu itu, Bahurekso mengambil keputusan bahwa segala macam persiapan pertempuran melawan Belanda tidak di laksanakan di pendopo kabupaten. melainkan di suatu tempat yang mana tempat tersebut dekat dengan Pantai.

Peserta rapatpun bersepakat untuk merahasiakan tempat pertemuan tersebut. Yang mana akhirnya hasil kesepakatan tersebut memilih lokasi di tengah hutan, di bawah pohon nan rimbun, yang mana saat ini di kenal oleh masyarakat sebagai Pohon Kemangi.

Pohon tersebut saat ini berada di pemakaman atau di tengah tengah persawahan. Hingga pada akhirnya pemakaman ini terkenal akan kekeramatanya yang terletak di wilayah Desa Jungsemi Kecamatan Kangkung

Kisah Nyata Mistis
Berbagai macam hal mistis dan ganjil banyak di temukan di sini, yaitu di petilasan kemuning. Hal ini yang membuat pasangan suami istri dari desa lain penasaran.

Pasangan suami istri ini akan membuktikanya sendiri keangkeran Makam Kemangi. Mereka belum tahu lokasi makam tersebut namun mereka tetap bersemangat untuk mencari lokasi tersebut.

Ia sesekali bertanya kepada warga sekitar sontak saja orang-orang yang mereka tanyai kaget bukan kepalang. Mereka menjawab dengan kata-kata saja dan tidak berani menunjukan jari atas arah lokasi tersebut.

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan atas arahan warga. 100 Meter sebelum jalan mengarah makam tersebut mereka bertemu dengan 3 anak kecil. Anak kecil tersebut menanyakan apakah mereka akan kekuburan kemangi ? sontak saja mereka menjawab Iya.

Pada akhirnya 3 anak tersebut mengantar pasangan suami istri ini ke kuburan kemangi, setelah smpai di makam mereka menoleh kebelakang, berharap akan mengucapkan terima kasih, namun sangat mengagetkan dan membuat mereka merinding ke tiga anak tadi menghilang tak berbekas.

Banyak keganjilan di sana. Sering sekali anak kecil hilang di sana yang kemudian di temukan berada di tengah sawah di sekitar kuburan kemangi. Anak-anak tadi bercerita bahwa mereka berada di sebuah kota yang bangunanya indah banget.

Dan bahkan ada juga kejadian yang sangat mencengangkan, yang mana ada kiriman semen yang katanya akan di pakai untuk membangun Masjid. Semen tersebut 1 tronton penuh.

Namun setelah di terima dan di lihat pengirimanya, ternyata penerimanya tadi adalah orang yang pernah hilang di sekitar kuburan kemangi dan sudah dianggap meninggal dunia,…….inilah Realita cerita Bapak Saturi sebagai Kyai/juru kunci Makam yang angker ini yaitu Kemangi……..anda suka dengan mistik dan misteri2 silah kan mencoba di sini dan buktikan, kira nya cukup sekian, Wabilahhi walaitofiq walhidayah Wasalam Mualaikum Warahmatullahhi wabarakatuhu……….#sonrove colection……putrakelana…….
foto2 ini makam kemangi dan Pak Juru kunci. Cerita Makam Kemangi Kendal

Sumber: SonRove